
Utama berdiri kokoh menatap Keki, saat ini dia masih berada di atas sebuah gedung yang sebagiannya roboh.
Keki menatap Utama dengan tajam, "anak ini sangat gesit! " batinnya.
"tapi.. bagaimana dengan yang ini? " Keki tersenyum jahat, kemudian mengarahkan telunjuknya kearah Utama.
"hanya telunjuk!? apa yang akan dilakukannya!? " Hajime, Jiro dan Hiro bingung melihat tingkah Keki.
Miyu tersenyum, "jadi Keki berniat menggunakan itu, ya. " ucapnya.
Utama menatap jari telunjuk Keki yang kearahnya, dia melihat sinar merah yang sangat kecil melintas cepat kearahnya.
"apa itu!? " Utama terkejut.
Ccsss..
sinar merah itu menyentuh dan mengikis seragam Utama di bagian perut, seketika pakaiannya itu hangus dan berasap.
Utama menoleh kearah pakaiannya yang hangus, "sinar itu..!? " Utama langsung melompat menghindari cahaya itu tanpa berpikir panjang, sepertinya hanya seragamnya yang terkikis dan tidak menyentuh perutnya.
Utama kembali menoleh kearah gedung tempat dia berpijak sebelumnya, ternyata gedung itu sudah terpotong-potong terkena sinar merah yang ternyata memiliki daya hancur sangat dahsyat.
Braak..
Bruuk..
gedung itu seperti dicincang, lalu roboh dan saling menindih.
"apa!? jadi sinar merah itu laser penghancur! " Hajime terkejut.
Jiro juga terkejut, "laser itu dengan mudah memotong dinding gedung yang tebal itu.. aku yakin suhu laser itu setara dengan lahar gunung meletus! " dia terlihat sangat serius.
"suhu lahar hanya seribu derajat celcius, aku rasa ini jauh lebih dari itu." sahut Hiro datar, namun giginya juga beradu.
Jiro melirik Hiro, "hanya katamu!? kau berbicara seolah kau sudah pernah memasukkan tanganmu kedalam lahar. " batinnya terlihat kesal.
Tim Black Rose juga terkejut melihat itu, tapi mereka lebih terkejut melihat Utama yang bisa menghindarinya.
"padahal ketua sampai menggunakan itu, tapi masih bisa dihindari bocah sialan itu. " Miyu terlihat kesal.
Toyo melirik Miyu, "laser itu memang sangat mematikan, tapi tetap saja ada batas penggunaannya.. Keki terlalu meremehkan anak itu! "
"kau benar, aku rasa membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit dari laser itu ditembakkan baru bisa digunakan kembali. " sahut Felisa datar.
Keki menatap Utama tajam dari udara, "cih, bisa-bisanya serangan ku tidak tepat sasaran! sepertinya aku memang terlalu meremehkan anak ini! " dia mendengus kesal.
Utama menatap Keki, "dia bisa melayang di udara.. dan aku rasa itu yang menjadi bagian tersulitnya! " gumamnya.
Hiro menatap Utama dari kejauhan, kemudian menoleh Keki, "jujur saja.. aku merasa beruntung karena tidak menjadi target utama mereka.. Black Rose memang gila! " batinnya dengan kedua alis yang hampir bertemu.
Artan melangkah maju, "aku sudah muak dengan semua ini, aku yang akan menghabisi bocah itu! " dia tersenyum jahat dengan wajah bengis yang memamerkan kekejaman.
Keki melirik Artan, "aku yang akan mengurus anak itu, kau habisi yang lainnya saja. " ucapnya datar.
Artan menatap tajam kearah Keki, "kau memang ketua Black Rose, tapi bukan berarti kau bisa menentukan siapa yang akan menjadi lawan kami. " kemudian tersenyum jahat.
Keki terdiam, namun dia terlihat sangat kesal.
Artan menatap Utama sambil tersenyum jahat, "anak itu hanya cepat.. tapi dia sama sekali tidak kuat. " sepertinya dia sangat meremehkan.
"orang yang kuat belum tentu cepat.. tapi orang cepat sudah pasti kuat! " tiba-tiba Toyo berjalan ke depan dan menepuk bahu Artan sebelah kanan.
Toyo memejamkan matanya, "aku yang akan menghadapinya! " ucapnya sambil membuka matanya lebar menatap Utama, kemudian melemparkan jubahnya yang menutupi tubuhnya, seketika tubuh super kekarnya terlihat jelas karena dia tidak memakai pakaian selain jubah hitam tersebut.
Artan menatap wajah datar Toyo yang jauh lebih tinggi darinya, kemudian menatap tubuh Toyo yang dipenuhi otot-otot menakutkan.
Artan menelan ludahnya, "sial, apa aku membuat orang gila ini marah? " dia terlihat sangat ketakutan.
__ADS_1
"ayo maju! " Hiro mulai bergerak, dia berlari kearah Artan dan Toyo dengan cepat, sementara Jiro menyusul dari belakang.
Artan tersenyum jahat, "aku yang akan mengurus mereka! " dia terlihat sangat tenang.
Hiro terus berlari kearah Artan, saat jaraknya dengan Artan sekitar dua puluh meter, tiba-tiba dari dalam jubah Artan melesat sebuah benda seperti pedang namun berwarna hitam dan panjang dengan lebar setengah meter. benda itu terlihat menyatu dan berasal dari pakaian lengan panjang Artan yang kedodoran.
"apa!? " Hiro terkejut dan mengayunkan pedangnya.
Ting.. Tang..
Hiro menangkis serangan Artan dengan pedangnya, sesekali dia juga menghindari ujung senjata Artan yang runcing.
disaat itu, tiba-tiba Hiro merasa tubuhnya ditarik oleh sesuatu namun tidak terlihat.
"apa ini!? " Hiro terlihat kesulitan.
Trang..
pedang Hiro terlepas dan menempel di senjata Artan, namun dia merasa tubuhnya sudah tidak ditarik oleh sesuatu lagi.
Hiro menatap pedangnya yang menempel di senjata Artan, "apa-apaan ini!? jika benda itu magnet kenapa tidak dari awal pedangku ditarik!? " dia kebingungan.
Artan tersenyum jahat sambil menatap Hiro,"ini yang pantas disebut dengan senjata dasar lemah!" teriaknya, dimatanya Hiro sangat menyedihkan.
senjata Artan mulai mengayun, sesaat kemudian pedang Hiro yang menempel terlepas dan melesat kearah Hiro.
"gawat! " Hiro mencoba mundur untuk menghindar, namun dia tersandung sesuatu dan terduduk.
Zraass...
ujung pedang itu mengarah ke wajah Hiro yang mencoba menghindar. pipi Hiro tergores lumayan dalam dan mengeluarkan darah cukup banyak.
Cep..
pedang Hiro menancap di tanah dengan posisi sedikit miring, darahnya masih mengalir dan terlihat sangat kental di pedang itu.
Hiro menatap pedang dan pasir dibawah matanya, "aku.. dilukai pedang ku sendiri.. " gumamnya seperti tidak terima.
Jiro melesat kearah Artan, kemudian melompat sambil mempersiapkan tebasan.
Artan tersenyum, "sekarang giliran mu! " teriaknya.
Jiro masih melayang di udara karena baru saja melompat, dia mengarahkan tebasan kearah Artan.
disaat itu, tiba-tiba keluar dari jubah Artan sebuah senjata hitam panjang seperti yang menyerang Hiro tadi. namun senjata mematikan itu tidak jelas dari tangan sebelah mana karena tertutup oleh jubah hitam Artan, tapi sepertinya ini dari tangan sebelah kiri.
senjata itu melesat kearah Jiro, sesaat kemudian ujung senjata itu yang runcing sudah berada di depan Jiro.
Jiro tidak bisa menghindar, saat ini tubuhnya masih di udara. jika menangkis dengan pedangnya sepertinya juga tidak berguna, senjata Artan jauh lebih besar dan memiliki bobot yang cukup berat.
"gawat! " Jiro kesulitan, matanya memandang ujung senjata lawan yang semakin mendekat ke tubuhnya.
Tap
disaat situasi genting itu, tiba-tiba Hajime muncul dan melompat lalu memukul tubuh Jiro agar terhindar dari serangan Artan.
Baamm..
tubuh Jiro terhindar dari serangan maut, namun dia terlempar dan membentur tanah. sementara ujung senjata Artan menusuk sesuatu yang ada namun tidak ada yaitu udara.
"akh.. sialan kau! " Jiro kesakitan.
Hajime menginjak permukaan senjata Artan yang cukup lebar, kemudian berjalan diatasnya mencoba memburu Artan.
Artan terlihat kesal, "sial! anak ini lumayan juga! " gumamnya.
Hajime sudah berada di depan Artan, dia melesatkan tendangan kearah kepala Artan yang memang berada di dekat kakinya.
__ADS_1
"rasakan ini dasar sialan! " teriak Hajime.
Baamm..
tiba-tiba sebuah besi tipis berbentuk petak menutupi kepala Artan seperti perisai, sepertinya benda itu keluar dari tangan kanan Artan yang tidak terlihat karena pakaiannya kedodoran. kaki Hajime pun menghantam benda itu dengan sangat keras.
"apa!? " Hajime terkejut, kemudian melirik kearah tangan Artan yang tetap tidak terlihat selain hanya ada besi petak yang berwarna hitam itu.
"sial! apa-apaan ini!? senjata itu terus bermunculan dengan sangat cepat! " batin Hajime.
Artan tersenyum jahat, "apa hanya ini yang kau punya!? " dia terlihat sangat bengis.
setelah itu, besi hitam yang menutupi wajah Artan perlahan melipat lipat, sesaat berikutnya benda itu sudah berubah menjadi senjata tajam seperti yang menyerang Hiro dan Jiro tadi.
Hajime terkejut, "jadi.. benda itu bisa berubah bentuk dengan cara melipat! kalau begitu.. aku yakin didalam tubuh orang ini pasti ada sebuah mesin.! " batinnya.
Artan tersenyum jahat, kemudian melesatkan senjatanya kearah Hajime yang langsung menghindar dengan melompat.
"ayo, buat aku lebih senang lagi! " Artan memperlihatkan wajah bengisnya.
Artan mengarahkan ujung senjata runcingnya kearah Hajime yang saat ini sudah berdiri di tanah, tapi kali ini Artan menggunakan tangan yang lainnya.
dengan sangat gesit, Hajime melompat menghindari serangan itu yang langsung meluluhlantakan tanah.
Hajime melirik tanah yang hancur itu, kemudian menoleh Artan, " orang ini.. bisa gawat jika terkena serangannya.. " batinnya dengan gigi yang beradu.
"hahaha.. teruslah seperti itu! teruslah menghindar sampai kau benar-benar lelah! " Artan tertawa meremehkan.
disaat itu, disaat Artan merasa senang karena bisa meremehkan lawannya, tiba-tiba Utama sudah berada di samping belakangnya.
"jadi begitu, ya.. benda itu menjadi senjata sekaligus perisai mu..maaf aku terpaksa menyerang mu dari titik buta. " ucap Utama datar.
Artan terkejut mendengar suara itu, bulu lehernya berdiri, "se-sejak kapan kau..!? " dia menoleh dengan gerakan leher yang berat.
Baamm...
tanpa basa-basi, Utama melesatkan tendangan keras sambil melompat kearah wajah Artan yang baru saja menoleh. sesaat kemudian Artan terpental jauh, berguling-guling dan menghantam puing-puing.
"sialan, padahal Toyo berada di samping ku.. kenapa dia tidak menyadari keberadaan bocah itu!? " batin Artan sambil mengelap darah diwajahnya.
Utama menatap Artan dengan datar, dia seperti tidak perduli dengan Tim Black Rose yang ada disekelilingnya.
"Untuk, awas! " Hajime berteriak sambil menatap Utama.
Toyo sudah berada di belakang Utama, "anak ini sangat kuat.. selain itu dia sangat cepat! " dia s
mempersiapkan kepalan tinjunya yang sangat besar.
"awas!? " Utama langsung mengerti lalu menoleh kebelakang, dan...
Baamm..
tinju dahsyat Toyo menyambut dan mendarat di pipi Utama. sesaat kemudian tubuh Utama terlempar sangat jauh melewati Artan yang hanya bisa terdiam.
Baaamm..
tubuh Utama terus terhempas, berulang kali menghantam puing-puing tapi tubuhnya tidak kunjung terhenti hingga pada akhirnya berguling-guling menggesek tanah dan berhenti membentur sebuah runtuhan dinding gedung yang roboh.
tidak kawan maupun lawan terkejut melihat itu, tubuh Utama saat ini sudah sangat jauh dari mereka.
Keki tersenyum, "dia benar-benar kuat! " dia memandang Toyo dari atas.
"aku tidak boleh membuatnya marah! jangan sampai aku terkena pukulan itu! " batin Artan ketakutan.
Hajime, Jiro dan Hiro memandang Utama dari kejauhan, kemudian menoleh Toyo dengan wajah sangat terkejut.
"kekuatan yang sangat luas biasa. " ucap Jiro.
__ADS_1
"ini gawat! sejauh ini mereka masih terlihat bermain-main dan kita sudah kewalahan seperti ini.. " Hajime terlihat kesal.
Hiro melirik Hajime, "kau benar! sejauh ini mereka hanya maju satu persatu.. aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika mereka menyerang secara bersamaan. " dia terlihat serius.