Tokoh Utama

Tokoh Utama
Hajime yang kelelahan


__ADS_3

pertarungan masih belum berujung, entah sudah berapa banyak darah yang tumpah, tapi sepertinya itu masih belum cukup untuk membasahi tanah.


langit yang semula gelap karena malam, sekarang sudah mulai mengalami perubahan. awan masih tetap gelap, tapi yang jelas ini sudah bukan malam lagi, ini adalah pagi hari tanpa sedikitpun sinar matahari, yang ada hanyalah angin kencang yang terus memperkeruh medan pertempuran.


dilihat dari atas, masih banyak bangunan kota yang dihiasi oleh si jago merah, awalnya kebakaran sudah mulai mereda karena upaya pemerintah, tapi angin kencang datang seolah tidak terima, angin dan api terus berkolaborasi sehingga sulit dituntaskan.


diantara bangunan kota yang sudah hancur, tepatnya di sebuah lapangan yang dipenuhi dengan puing-puing, terlihat beberapa orang sedang berkumpul, mereka semua terlihat penuh luka, pertempuran mereka terus memperluas kehancuran kota.


Yamakoto memandang Hiro dan Jiro dengan datar, saat ini saudara kembar itu sudah cukup berjarak dengannya.


dibelakang Yamakoto, Utama berjalan santai kearah lawannya. seperti biasanya, dia selalu memperlihatkan wajah datar, tatapan kosong yang seperti tidak semangat hidup dan tidak melihat apa-apa.


Yamakoto melirik kebelakang, "cih, anak ini lagi.. padahal dari awal dia sudah banyak terkena serangan.. tapi sampai sekarang pun aku belum melihat setetes darah keluar dari tubuhnya.. " batinnya terlihat kesal, kemudian membalikkan badan dan menatap Utama.


Utama terus berjalan santai kearah Yamakoto yang juga terlihat tenang, setelah berjarak sekitar dua meter, Utama menghentikan langkah dan menatap Yamakoto datar.


Yamakoto tidak terlihat bersiap, matanya juga menatap Utama dengan datar, "ada yang salah dengan anak ini.. dia seperti manusia yang tidak bernyawa.. dia seperti robot yang paling sempurna.." batinnya, "sebenarnya apa yang dilakukan Arya pada anak ini..?! "


disaat keduanya saling tatap, secara tiba-tiba Yamakoto bereaksi dengan mengayunkan pedangnya kearah wajah Utama.


Sriing..


Utama menunduk, tapi rambut hitamnya tetap terpangkas sedikit, helaian rambut itu jatuh ke tanah.


Utama kembali mengangkat kepalanya dan menatap Yamakoto yang juga menatapnya, sekali lagi mereka tidak melakukan pergerakan selain saling menatap.


Yamakoto terlihat kesal, "cih, anak ini sangat membingungkan.. sekarang gerakannya begitu cepat.. sebelumnya aku bisa memukulnya dengan mudah.. " batinnya.


Utama menatap datar Yamakoto, "sepertinya kau memang sangat lemah jika tanpa pedang mu itu.." ucapnya datar.


Yamakoto terlihat kesal, saat dia hendak berbicara, dia melihat Utama mengayunkan kaki kanannya dengan cara tiba-tiba.


"baiklah, akan ku tunjukkan kekuatan ku! " Yamakoto berteriak sambil mengayunkan kaki kanannya dengan cepat.


BuaAKKK...


Utama dan Yamakoto melesatkan tendangan keras, tidak sampai sedetik ke depan, kedua kaki itu bertemu dan saling menghantam, tepatnya di bagian tulang kering keduanya.


"akh..! " Yamakoto kesakitan, namun dia mencoba untuk tenang dan menatap Utama kesal, "sial.. rasanya sakit sekali.. seperti tulang ku akan hancur.. tapi kenapa anak ini terlihat biasa saja..?! " batinnya.


"pasti rasanya sakit, ya.. untung saja aku tidak merasakan apa-apa.. " ucap Utama datar.


Yamakoto menatap tajam Utama, "sialan! sepertinya kau memang bukan manusia! akan ku hancurkan tubuh mainan mu itu! " teriaknya lalu melesatkan tebasan kearah Utama.


Tap.. Tap...


dengan gesit Utama menghindari tebasan pertama Yamakoto, setelah itu lawannya terus menghujani dengan tebasan ataupun tusukan, dengan melompat dan berputar kesana-kemari Utama terus menghindari semua itu, namun dia juga tidak memiliki kesempatan untuk menyerang balik.


di suatu kesempatan, disaat Utama menghindari tebasan Yamakoto namun sedikit kehilangan keseimbangan dan terjatuh, Yamakoto langsung mengambil kesempatan dengan melompat kearah Utama.


"matilah! " teriak Yamakoto sambil mengayunkan pedang.


Utama tetap diam ditempat, matanya memandang pedang lawan yang terlihat sedikit menyilaukan seakan haus darah, dia terlihat tenang tanpa sedikitpun rasa takut.


"gawat..! " ucap Hajime yang menyaksikan itu, dia yang awalnya duduk kembali mencoba berdiri, "sudah tidak ada waktu lagi.. sudah tidak sempat.. " batinnya memandang Yamakoto yang sudah melepaskan tebasan.


Traang..


cukup jauh pedang tersebut dari tubuh Utama, Randa muncul dan langsung mengambil posisi di depan Utama, dia menyilangkan tangannya yang dibalut baju besi untuk menahan tebasan pedang tersebut.


Yamakoto terkejut, dia menatap Randa yang juga menatapnya, "dasar keras kepala! menyerahlah! sekuat apapun kalian berusaha, kalian akan tetap kalah! " kemudian berucap dengan nada kesal.

__ADS_1


Randa tidak perduli, dia menoleh kebelakang dan menatap Utama, "ternyata sudah pagi.. kita harus menyelesaikan ini dan berangkat ke sekolah.. " ucapnya polos sambil tersenyum.


"bodoh.." ucap Utama datar sambil berdiri.


Hajime tercengang dan terbodoh, "hah?! sekolah katanya?! bisa-bisanya dia berpikir seperti itu disaat seperti ini! ternyata pikiran anak bodoh itu hanya sampai disitu.. benar-benar bodoh! " dia setengah berteriak.


Yamakoto geram melihat tingkah Randa, "beraninya kau mengabaikan ku.. " ucapnya tertahan sambil mengangkat pedang yang masih menempel di tangan Randa.


Randa kembali menoleh Yamakoto, dia baru sadar kalau pedang lawannya sudah berada di atas, setelah itu melesat cepat kebawah mengarah ke wajahnya.


"mati, mati, mati! " Randa ketakutan dan panik, jika bereaksi sekarang pun dia sudah terlambat.


Baamm...


disaat pedang Yamakoto hampir membelah wajah Randa, tiba-tiba Hajime menyerang dari samping sehingga Yamakoto terhempas dan sekali lagi pedangnya tidak mendarat di sasaran. bukan tendangan atau tinju, tapi Hajime menabrakkan tubuhnya ke tubuh Yamakoto, sepertinya dia memang benar-benar kehabisan tenaga.


Yamakoto terhempas tidak terlalu jauh, namun kurang persiapan membuatnya terjatuh dan tergeletak.


Yamakoto kembali bangkit dengan bantuan pedangnya, "sial.. sial.. sial..! " sepertinya dia sangat geram, raut wajahnya juga tidak terlihat.


"hosh.. hosh..! " nafas Hajime ngos-ngosan, tubuhnya juga bergetar, dia menoleh kearah Randa dan Utama yang berbaris serta menoleh kearahnya, "bisakah kalian berdua tidak merepotkan ku? " tanya Hajime dengan nada kesal.


"merepotkan mu?! " ucap Randa, "kenapa kau jadi hitung-hitungan begini? " ucapnya biasa saja.


"aku tidak hitung-hitungan, aku hanya berharap kalian mengucapkan terimakasih padaku.. " jawab Hajime.


"didalam persahabatan.. " Randa tersenyum lebar, "tidak ada kata terimakasih ataupun maaf! " ucapnya penuh keyakinan sambil mengarahkan tinjunya kearah Hajime.


Hajime tertegun, dia terus menatap Randa, namun beberapa saat ekspresi wajahnya kembali terlihat kesal, "cih, anak jaman sekarang benar-benar sudah kehilangan sopan santun.. " batinnya.


Yamakoto berlari kearah Hajime, "sudah ku putuskan untuk membunuh mu lebih dulu! " teriaknya.


Hajime menoleh kearah Yamakoto, "gawat! aku sudah kehabisan tenaga.. tubuhku sangat sulit untuk digerakkan. " batinnya sambil mencoba bergerak.


*Tap..


Cheep*..


walau nyaris tertusuk, Hajime berhasil menghindari dengan melangkah mundur. pedang Yamakoto menancap di tanah, tangan kirinya masih menggenggam erat gagang senjatanya.


"masih belum..! " Yamakoto berteriak lalu berputar dengan tangan menggenggam pedang yang tertancap di tanah.


"apa?! " Hajime terkejut, sepertinya dia tidak menduga akan hal ini.


BUAAK...


telapak kaki Yamakoto mendarat tepat di wajah Hajime yang langsung terpental sekitar dua puluh meter.


Hajime tergeletak lemah memandang langit, "Akh..! sakit sekali.. " hidungnya banyak mengeluarkan darah.


Hajime memutarkan tubuhnya sehingga menghadap tanah, lalu mencoba bangkit kembali.


Braak..


belum setengah berdiri, Hajime kembali tergeletak, dagunya yang dipenuhi darah membentur tanah, sepasang mata yang terlihat begitu lelah memandang Utama dan lainnya.


"Utama.. Randa.. sisanya ku serahkan pada kalian.. " ucap Hajime pelan.


Utama dan Randa memandang Hajime yang sepertinya mustahil untuk kembali bertarung, kemudian menatap Yamakoto yang ternyata sudah melesat cepat kearah Randa dari belakang.


"apa!? " Randa terkejut dan memutarkan tubuhnya kearah Yamakoto, namun reaksinya sepertinya terlambat.

__ADS_1


"berikutnya kau! " Yamakoto berteriak lalu mengarahkan tusukan kearah Randa.


ujung pedang Yamakoto mengarah ke leher Randa yang tidak terlapisi baju besi, sampai saat ini Randa belum bergerak menghindar.


"*bodoh! "


Greeb*..


Utama berteriak lalu mencengkram tangan Randa, kemudian menariknya mundur kebelakang, Randa pun terbebas dari maut yang hampir membunuhnya.


Yamakoto menatap tajam Utama, "dasar keras kepala! " dia terlihat kesal.


Yamakoto sedikit berputar, dia mengarahkan tebasan menyamping kearah Utama yang langsung menghindari dengan mundur selangkah, namun Utama juga menabrak Randa yang ada di belakangnya.


Utama melirik kearah Randa yang juga menatapnya, "kau hanya menyusahkan saja. " ucapnya datar.


Utama kembali menoleh ke depan, kaki kanan Yamakoto langsung datang untuk menyambut.


Greeb..


saat ujung sepatu Yamakoto hampir menghantam pipi Utama, Randa mencengkram tangan Utama dan menariknya mundur, saat ini Utama berada di belakang Randa.


Randa melirik kearah Utama, "aku harap kau tidak keberatan untuk menarik kata-katamu barusan. " ucapnya sambil tersenyum.


"lihat ke depan, bodoh." ucap Utama datar.


Randa menatap ke depan, dia dikejutkan dengan tebasan Yamakoto yang datang dari samping, pedang itu melesat kearah leher Randa.


disaat leher Randa hampir terpenggal, Utama menarik tubuh Randa bagian atas kebelakang, tubuh Randa condong kebelakang namun dia juga terhindar dari serangan lawan.


"huh, hampir saja.. " Randa memandangi pedang yang melesat diatasnya.


disaat Randa berpikir sudah selamat, Yamakoto berputar melepaskan tendangan dengan kaki kanan dan kiri, gerakan kakinya juga diiringi dengan tebasan pedang yang mematikan.


BUAAK..


walaupun beberapa saat serangan bertubi-tubi itu dapat dihindari Randa dengan bantuan Utama, namun suatu kesempatan telapak kaki kanan Yamakoto berhasil mendarat di perut Randa.


"Akhh! " Randa berteriak kesakitan, tendangan Yamakoto memang tidak menembus baju besinya, namun itu cukup menghasilkan dorongan yang dahsyat.


detik berikutnya, Randa terhempas menabrak tubuh Utama yang berada di belakangnya, keduanya pun terlempar jauh menghantam puing-puing, lalu tergeletak di atas tanah.


Utama kembali berdiri, seperti biasa, dia tidak terlihat menahan sakit sedikitpun, wajahnya masih tetap datar.


Utama menoleh kearah Randa yang tergeletak tidak sadarkan diri, "dia pingsan lagi, ya.. " gumamnya.


Utama mengalihkan pandangannya kearah Yamakoto, "ternyata kau benar-benar lawan yang merepotkan.. aku sampai malas melihat wajah jelek mu itu. " ucapnya datar.


Yamakoto memandang Utama dengan ekspresi geram, "tutup mulut mu dasar sialan! kau tidak memiliki hak untuk berbicara seperti itu! " teriaknya.


Yamakoto berjalan perlahan kearah Utama, dia mulai bersiap maju dengan pedangnya, "ayo kita akhiri semua ini.. sebuah penghinaan bagiku menghadapi sekumpulan anak-anak seperti kalian.. " dia tersenyum jahat.


Utama tetap diam ditempat, "terserah kau saja.. " ucapnya datar, lalu mulai bersiap.


Tap..


tepat di saat itu, tiba-tiba Hiro dan Jiro muncul, mereka berdua berdiri di samping Utama.


Hiro meletakkan tangannya di bahu Utama yang langsung melirik, "serahkan saja pada kami! kau duduk dan menonton saja..! " ucap Hiro datar.


Jiro melirik Hiro, "memangnya kau punya rencana apa? " dia terlihat serius.

__ADS_1


Hiro tidak menjawab, matanya menatap tajam kearah Yamakoto, "aku tidak punya rencana apapun.. tapi aku tidak akan mati sebelum membunuhnya.. " jawabnya.


"aku memang mempunyai rencana.. tapi aku tidak mungkin memberitahu mu, Jiro.. " batin Hiro terlihat serius.


__ADS_2