
"aku yang akan menghadapinya! " Arya berucap dengan wajah serius, matanya menatap Artan tanpa sedikitpun keraguan.
"hahaha.. kau akan menghadapi ku!? memangnya kau bisa apa!? " Artan tertawa mengejek.
Hajime menatap Arya, "apa kau serius dengan ucapan mu, paman? apa yang akan kau lakukan? "
Arya tersenyum, "tenang saja! aku punya rencana untuk membereskan mereka. "
Arya mengeluarkan enam buah cairan berwarna hitam pekat seperti tinta dari sakunya, cairan kental itu dilapisi wadah berbentuk seperti jarum transparan.
Arya menatap Hajime serta Hiro dan Jiro, "kalian! suntikan cairan ini ke tubuh semua anggota Black Rose! jangan sampai mereka mengetahui rencana kalian! " ucapnya datar.
Hajime, Hiro dan Jiro saling menatap, kemudian menoleh Arya.
"ini.. apa yang akan paman lakukan dengan ini? " tanya Hajime.
"lakukan saja! kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. " jawab Arya. "dan kau Utama, tetaplah disini.. ada yang ingin ku katakan padamu. " dia menoleh Utama.
"baiklah kalau begitu.. " Hajime, Hiro dan Jiro mengambil cairan hitam itu, mereka mengambil dua jarum seorang.
Hajime, Hiro dan Jiro menatap Artan, sepertinya mereka akan melakukan pergerakan.
Hiro melirik Hajime, "aku tidak bisa mendekatinya, kau saja yang menyuntikkan cairan ini padanya! " ucapnya.
Hajime tersenyum, "aku yang akan mencari celah, disaat itu kalian hanya perlu melemparkan benda ini dari belakang. "
"ayo! " Jiro berlari namun cukup jauh dari arah Artan berada.
Artan terlihat terkejut, "apa.. yang akan mereka lakukan? " dia melirik pergerakan tiga musuh yang mulai bergerak.
Hajime melesat kearah Artan dari depan, namun senjata Artan datang menyambut.
Baamm..
Hajime menghindar mundur, tanah tempat dia berpijak luluh lantak terkena senjata Artan.
Artan melirik kearah Hiro dan Jiro yang sudah melewati dirinya, "aku tidak tahu rencana apa yang sedang kalian mainkan! tapi itu tetap tidak akan berguna! " dia tersenyum.
Hajime kembali melesat kearah Artan yang langsung menyerang, Hajime terus menghindar dan menghindar.
Cep..
disaat itu tiba-tiba Artan tersentak, dia merasa sesuatu menancap di lehernya walau tidak terasa sakit.
Artan memegang lehernya yang ternyata menancap sebuah jarum, "ini.. apa!? " kemudian menoleh kearah Hiro dan Jiro yang saat ini berada di belakangnya namun cukup jauh.
tanpa menjawab, Jiro kembali melesatkan jarum yang ada disela-sela jarinya kearah Artan.
Cep..
jarum itu tidak terlalu terlihat, sekali lagi leher Artan menjadi sasaran.
"apa yang kalian lakukan dasar sialan! " Artan terlihat sangat marah dan geram.
entah kapan Hajime berpindah, tiba-tiba dia sudah berada di samping Hiro dan Jiro.
Hajime menatap Jiro, "siapa yang menyuruh mu menancapkan dua jarum itu padanya!? " dia terlihat kesal.
__ADS_1
Hiro melirik Jiro, "dasar bodoh! jumlah jarum ini hanya enam, tidak seharusnya kau melemparnya lagi! "
Jiro tidak merasa bersalah, "satu sudah selesai.. ayo! " kemudian bergerak menjauhi Artan.
Hajime, Hiro dan Jiro berlari kearah Miyu dan Felisa, sementara Artan hanya memandangi mereka.
"apa sebenarnya yang mereka rencanakan!? " dia terlihat bingung.
Hajime, dengan mudah menancapkan satu jarum ke tubuh Miyu yang hanya bisa terheran, sementara Hiro dan Jiro sudah berhasil menancapkan satu jarum pada Felisa yang cukup memberikan perlawanan.
Miyu mencabut jarum itu, "ini.. jika ini racun, itu sama sekali tidak berarti. " dia tersenyum.
Hiro dan Jiro mendekati Yamakoto yang juga menatap mereka, namun keduanya terlihat sangat waspada.
Hiro melirik Jiro, "Jiro, buat dirinya sibuk! aku yang akan menancapkan jarum terakhir ini. " ucapnya.
Jiro mengangguk, kemudian melesat kearah Yamakoto sambil mengayunkan pedangnya.
Jiro terus menerus menyerang Yamakoto dengan pedangnya, namun Yamakoto dengan mudah menghindar ke segala arah.
di suatu kesempatan, Hiro melemparkan jarum terakhir itu dan sepertinya Yamakoto tidak menyadari itu.
"bagus! " Hiro tersenyum.
disaat jarum itu hampir menyentuh tubuh Yamakoto, tiba-tiba jarum itu terpotong menjadi dua. entah kapan Yamakoto mengeluarkan pedangnya tapi saat ini dia sudah menggenggam pedang.
"apa!? dia cepat sekali! " Hiro terkejut.
Jiro juga terkejut, sesaat kemudian dia tersenyum, "dia biasa saja.. aku bahkan bisa membelah peluru. " ucapnya sambil bersiap menyerang Yamakoto.
"tunggu Jiro! " Hiro menahan dan Jiro berhenti, "sepertinya orang ini bukan orang sembarangan, aku yakin dia pengguna pedang yang hebat! " lanjut Hiro.
"lebih baik kita mundur saja dulu! kita butuh informasi tentang orang ini, aku merasakan firasat buruk tentangnya. " ucap Hiro.
"baiklah kalau begitu! " ucap Jiro dan keduanya pergi menjauh.
Yamakoto memandangi Hiro dan Jiro, dibalik kacamata hijaunya terlihat matanya begitu tajam, "tidak salah lagi.. mereka adalah Hiro dan Jiro.. mereka sudah dewasa dan itu yang membuatku sulit mengenali mereka. " batinnya sambil tersenyum.
Hajime melirik kearah Keki yang masih melayang di udara, "aku tidak mungkin bisa menjangkau orang itu. " batinnya dengan wajah serius.
Hajime menatap Toyo, kemudian memandang jarum yang terselip disela jarinya, "aku tidak tahu apa kegunaan dari jarum ini.. tapi ini jarum terakhir dan aku harus berhasil. " dia kembali menatap Toyo.
sebelum Hajime bergerak, Toyo yang dari tadi sudah menunggu Hajime, langsung melesat sambil mengarahkan tinju.
"terlalu lama! " teriak Toyo, saat ini dia sudah berada di depan Hajime.
"apa!? " Hajime terkejut lalu bersiap menyambut pukulan Toyo.
Baamm..
tinju Toyo berbenturan dengan kedua tangan Hajime yang tetap terlempar jauh dan tergeletak di tanah.
sesaat setelah itu, Hajime kembali berdiri dan menatap Toyo, "orang macam apa dia? pukulannya sama kuatnya dengan pukulan Utama saat kami bertarung. " gumamnya.
Toyo menatap Hajime, "anak ini masih bisa berdiri, ya.. dia sama kuatnya dengan anak yang satunya lagi. " kemudian tersenyum.
"baiklah, aku akan menyelesaikan ini secepat mungkin! " Hajime kembali berlari kearah Toyo.
__ADS_1
"eh!? " tiba-tiba Hajime menghentikan langkah, kemudian menoleh kearah tangan kanannya.
"gawat, gawat, gawat! aku menghilangkan jarum itu. " dia bertingkah aneh dan melihat ke sekeliling, "sepertinya aku menjatuhkannya saat terkena pukulan orang itu. "
Toyo menatap Hajime dengan raut wajah bingung, "dia kenapa!? "
"kalau sudah seperti ini.. sebaiknya aku mundur saja. " Hajime meninggalkan Toyo dan menuju Utama dan Arya.
Utama menatap Arya dengan datar, "apa yang ingin kau katakan? kita tidak punya banyak waktu. " ucapnya datar.
Arya tersenyum menatap Utama, "sebenarnya banyak sekali yang ingin ku katakan padamu. " dia menghela nafas, "aku senang melihat kau tumbuh seperti ini.. kau sangat hebat, kau juga kuat.. tapi aku juga ingin melihat tawamu lagi.. ayah memang memiliki banyak kesalahan padamu.. Jimmy.. Yanti.. juga ibumu. sepertinya ibumu berhasil mendidik dirimu menjadi laki-laki yang kuat dan bertanggung jawab, dia sengaja menempatkan mu jauh dari keluarga dan hidup dengan penuh keterbatasan.. jika dibandingkan dengan ayah.. " dia menghentikan ucapannya.
"saat seusia mu, aku hidup dengan penuh kemewahan.. aku hidup terus mengandalkan orang tua.. ayah terlalu lemah tanpa keluarga, jika diluar rumah aku hanyalah seorang pecundang.. sampai sekarang pun.. sampai sekarang pun.. aku selalu menunjukkan bagian terpayah ku didepan kalian.. ayah ingin melihat reaksi ibumu saat tahu kita sedang berjuang. " lanjut Arya.
"sekarang bukan saat yang tepat untuk menceritakan masa lalu mu. " potong Utama datar.
"sekarang memang bukan waktu yang tepat, tapi ini adalah waktu terakhir untuk kita bisa bersama. " Arya terlihat sedih.
Arya mendekati Utama yang tetap berekspresi datar, "ibumu memang berhasil mendidik mu menjadi laki-laki yang kuat, tapi.. sepertinya sikap dingin mu itu adalah efek sampingnya.. jika kau terus seperti ini kau bisa kehilangan semua teman mu. " dia tersenyum.
disaat itu, Hajime, Hiro dan Jiro datang bersamaan dan saling memandang.
"bagaimana? apa kalian berhasil? " tanya Hajime pada Hiro.
"tidak, bagaimana dengan mu? apa kau berhasil menancapkan jarum itu pada orang bertubuh kekar itu? " dia bertanya namun dengan nada mengejek, sepertinya dia sudah tahu kalau Hajime gagal.
Hajime tidak menjawab, dia hanya menatap Hiro dengan wajah kesal.
"jadi hanya tiga orang, ya.. aku rasa itu sudah cukup. " sahut Arya, "aku yakin kalian bisa membereskan sisanya. "
"sisanya!? " Hajime dan yang lain terkejut kecuali Utama.
Yamakoto berjalan mendekati Miyu dan Felisa untuk bergabung, begitu juga dengan Toyo yang mundur, Keki yang melayang juga turun namun kakinya tetap memiliki jarak dengan tanah, sementara Artan tetap berada di posisinya yang cukup dekat dengan Utama dan yang lain.
Artan melirik Utama yang tidak menoleh, "ini kesempatan ku.. anak itu sangat kuat, aku harus membunuhnya sekarang! " batinnya sambil tersenyum jahat.
Hiro menatap Arya, "paman, aku sedikit penasaran dengan orang itu! apakah dia seorang ahli pedang!? " dia sambil menunjuk Yamakoto.
Arya mengikuti arah jari Hiro, "selain dia dari Jepang.. aku tidak tahu apa-apa tentang dia. aku juga baru tahu kalau dibalik jubahnya itu terselip sebuah pedang. "
"lalu bagaimana dengan orang itu!? dia sangat kuat, apa paman mengetahui sedikit kelemahannya? " Hajime bertanya sambil menunjuk Toyo.
"hampir semua diantara mereka memiliki kisah hidup yang pahit, kalau masalah kelemahannya akan kuberi tahu.. " Arya belum selesai berbicara namun dia melihat sesuatu yang melesat kearah Utama. "gawat! " batinnya.
"matilah! " Artan tersenyum jahat sambil mengayunkan senjatanya kearah Utama, saat ini dia sudah berjarak cukup dekat.
"awas Utama! " teriak Arya kemudian mendorong Utama yang masih tetap diam.
Chrraakh..
terdengar suara daging yang tertusuk bersama darah darah kental yang langsung berserakan. disitu terlihat perut Arya sudah menyatu dengan ujung senjata Artan yang tembus sampai belakang.
Artan menarik senjatanya hingga terlepas dari tubuh Arya, "cih, sialan itu mengorbankan dirinya. " dia terlihat kesal.
Bruukk..
Arya kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh ke tanah dengan wajah memperlihatkan rasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
"sial, padahal masih banyak yang ingin ku bicarakan. " Arya masih bisa berbicara.
"paman! " Hajime dan yang terkejut.