Tokoh Utama

Tokoh Utama
Kematian Toyo Dan Miyu


__ADS_3

"setelah kehilangan orang yang paling ku sayang.. seketika harapan ku menjadi sirna.. dia meninggalkan ku disaat aku belum bisa membahagiakannya.. " Toyo tersenyum, "jika dipikir-pikir lagi.. aku hanyalah seseorang yang gagal dan menyedihkan.. aku sendirian.. aku kesepian.. aku selalu mendapatkan penghinaan.. "


Utama, Hajime serta Hiro dan Jiro berdiri berdekatan, mereka menatap kearah Toyo dengan ekspresi rumit.


"lalu.. " tiba-tiba Hajime tersenyum, "apa alasan kau melakukan semua ini? seharusnya kau tahu kalau kau akan mati.. "


Toyo tersenyum, "aku tidak butuh alasan yang kuat.. tubuhku sangat kurus dan kecil dibanding dengan kebanyakan orang.. aku selalu di hina, aku juga sering dipukuli.. semenjak itu, aku bertekad untuk menjadi kuat dan kuat.. aku mencari kekuatan untuk merubah tubuhku.. dan sekarang.. aku bahkan mampu melawan rasa sakit di tubuh ku.." ucapnya. "sekuat apa pun orang memukul ku.. rasa sakit itu hanya terasa sedikit dan.. aku sangat menikmati itu. "


Hajime tersenyum, "jadi begitu, ya.. kau hanyalah orang yang kehilangan kasih sayang dan hatimu telah dibutakan oleh kebencian.. kehilangan satu orang berharga seharusnya tidak membuat mu kehilangan arah.. "


"diam kau..! anak-anak seperti mu tidak mengerti apa-apa! " teriak Toyo dengan wajah marah.


"jika kalian berbicara panjang lebar tentang benar atau salah, baik atau buruk..dan pada akhirnya tertuju ke hati.. " tiba-tiba Utama berucap, "maaf! aku tidak bisa mendengarkan ini.. aku hanyalah manusia bernyawa palsu yang tidak memiliki apa-apa.. aku tidak tahu didalam tubuhku ini ada hati atau tidak.. tapi jika itu ada, aku juga tidak tahu kegunaannya.. aku ini benar-benar kosong.."


mata semua orang memandang Utama, sepertinya mereka tertegun.


"disini.. " Utama memejamkan matanya, "aku hanya bisa memainkan peran ku.. aku akan menikmati peran ku.. dan hanya memainkan peran ku.. " dia membuka mata.


"hehehe, kau memang menarik.. " Toyo tertawa kecil, "kau tidak mengerti apa-apa tapi berlagak menjadi pahlawan..bagaimana jika kau bergabung dengan ku.. kita akan menikmati semua ini.. kita akan menghancurkan semuanya.. "


Utama menatap datar, "sebanyak apapun kau berbicara padaku.. itu tidak akan tersampaikan.. selain bertarung, aku tidak mengerti apa-apa.. ya, karena bertarung adalah peran yang harus kumainkan. "


Hiro dan Jiro melirik kearah Utama, "mereka bicara apa? " bisik Jiro.


"entahlah.. " bisik Hiro.


"jika memang benar kau tidak mengerti apa-apa.. " ucap Toyo, "kenapa kau bertarung..? kenapa kau bertarung jika tidak memiliki alasan.? "


Utama menatap datar, "sepertinya kau masih belum mengerti juga, ya.. anggap saja kau tokoh antagonis disini.. dan aku adalah tokoh utamanya.. apapun yang aku lakukan, itu akan terlihat benar.." dia melotot kearah Toyo, "walaupun... walaupun aku tidak tahu apa arti benar atau salah di kehidupan ilusi ini.. "


Hajime melirik Utama, "dia berbicara seolah dia terbebani dengan posisinya sekarang.. aku juga ingin menjadi tokoh utama.. " batinnya.


Toyo terlihat kesal, "sial, berbicara dengan anak ini seperti tidak ada gunanya.. dia memang sangat aneh.. apa yang sebenarnya dilakukan Arya pada tubuh anak ini? dia sangat berbeda dengan manusia normal.dia sangat gila..apa maksudnya dengan tokoh utama..?!" batinnya.


angin sepoi-sepoi datang berhembus mengacak-acak rambut Utama, namun itu membuatnya terlihat lebih keren dari sebelumnya.


"jika sudah selesai.. ayo kita mulai..! " ucap Utama datar.


Toyo tersenyum, "baiklah.. ayo kita lihat siapa yang pantas menjadi tokoh utama disini.. anggap saja kita berada di sebuah cerita.. " ucapnya,


"anggap saja?! kau berbicara seolah-olah kita berada di dunia nyata. " batin Hajime.


Miyu yang berada di samping mulai kesal, "sudah cukup omong kosongnya! aku sudah muak dengan semua ini! " dia mulai bersiap. sepertinya dia sudah cukup istirahat.


Miyu mengeluarkan dua pistol dari pinggangnya secara tiba-tiba, kemudian mengarahkannya kearah Utama dan yang lain.


"semuanya, bersiaplah! " Hajime memberi komando.


detik berikutnya, peluru mengguyur Utama dan yang lain, mereka bergerak ke sana kemari.


Ting.. Tang..


Hiro dan Jiro menangkis dan menepis menggunakan pedang, sesekali mereka juga berhasil membelah peluru itu.

__ADS_1


Hiro terkejut, "ini.. Jiro, hati-hatilah! diantara peluru ini ada jarum yang mengandung cairan itu! " sepertinya dia menyadari sesuatu.


"maksudmu.. cairan yang bisa mengubah kita menjadi monster.. " Jiro berucap sambil menghindar dan menangkis.


Utama dan Hajime juga bergerak mundur, tapi tiba-tiba..


Cep..


Hajime terkena salah satu jarum dan itu tepat di lehernya.


Hajime menunduk, dia memandang kebawah dan tidak bersuara.


"Hajime!? " Utama mendekati Hajime.


Miyu sudah tidak mengguyur musuhnya dengan tembakan, dia tersenyum puas melihat salah satu musuh akan berakhir menyedihkan.


"hahaha, aku sengaja menyerang kalian dengan dua senjata karena aku tahu akan berakhir seperti ini.. " Miyu tertawa sebelum berkata, sepertinya salah satu pistol miliknya tadi adalah alat yang menembakkan jarum jarum beracun.


Hiro dan Jiro mendekati Hajime, mereka juga terlihat bingung dengan kondisi ini.


"gawat! apa yang harus kita lakukan sekarang?! tidak lama lagi dia akan berubah menjadi monster. ! " ucap Jiro.


"entahlah, aku juga tidak tahu.. setelah berjuang bersama sejauh ini.. aku juga tidak berniat membunuhnya.. " jawab Hiro.


"selagi dia tidak menyerang..kita tidak perlu membunuhnya.." ucap Utama datar.


Hajime mulai bereaksi, dia mulai berteriak kesakitan, perlahan tubuhnya menimbulkan bulu, sesaat kemudian dia sudah menjadi monster. namun, ini sangat berbeda dengan monster buatan Miyu, ini seperti serigala alami, lebih tepatnya manusia setengah serigala.


Hiro memandang Hajime dengan tubuh monster, "ayo menjauh! " teriaknya lalu menjaga jarak dengan Hajime, begitu juga dengan Jiro.


"aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan.. tapi sebaiknya aku mengikuti alurnya saja. " Utama mundur mengikuti Hiro dan Jiro.


Toyo yang berada di samping Miyu terkejut, "apa kau melakukan kesalahan Miyu? monster ini sangat berbeda dengan monster-monster buatan mu.. ini terlihat sangat alami. " ucapnya.


"ya, aku juga berpikir begitu. " Miyu juga bingung, "tapi, selagi dia tidak menyerang kita.. itu tidak jadi masalah.. " kemudian tersenyum.


Grooo...


Hajime berteriak dan itu terdengar sangat mengerikan, sesaat berikutnya dia melompat dan menjauh entah kemana.


"dia sangat mengerikan! " Jiro terlihat ketakutan.


"kau benar.. dia berbeda dengan monster-monster yang telah kita tebas.. " sahut Hiro.


Utama kembali berjalan kearah Toyo dan Miyu, "baiklah, ayo kita lanjutkan pertarungan.. "


Toyo dan Miyu berdiam diri ditempat, mereka menunggu kedatangan Utama.


"kau kehilangan teman mu.. tapi kau tidak terlihat bersedih sama sekali.. sepertinya kau memang tidak memiliki arti hidup. " Toyo tersenyum.


Craaakhh...


tiba-tiba terdengar suara daging yang tertusuk dari tubuh Toyo dan Miyu, suara itu benar-benar sangat menyayat telinga.

__ADS_1


"akh..! " Toyo dan Miyu memuntahkan darah.


"apa ini?! " Miyu terkejut.


Utama menatap kedua lawannya, "aku tidak bersedih.. karena aku tahu kalian yang akan mati.! " ucapnya datar.


Toyo dan Miyu memandang kearah perut mereka, disitu terlihat tangan yang menusuk dari belakang dengan cakar runcing, tangan itu tepat di bagian jantung dan sangat merah karena dipenuhi dengan cucuran darah.


Toyo tidak percaya, "kenapa..?..bagaimana bisa..?! "


"karena kalian terlalu meremehkan orang yang menjadi lawan kalian.. dan itulah sebabnya kalian berakhir menyedihkan seperti ini." jawab seseorang, suara itu berasal dari belakang Toyo dan Miyu yang saat ini diambang kematian.


Miyu melirik kebelakang, dia melihat Hajime yang masih dalam tubuh monster, "kau.. bukankah kau..!? "


Hajime tersenyum, "aku bukanlah orang yang bisa kau jadikan mainan mu.. senjata seperti itu.. tidak akan mempan terhadap ku. "


Toyo melirik kebelakang dan melihat Hajime berdiri tegak, "ternyata kau.. " dia menoleh Miyu, "sialan kau Miyu.. kau yang menyebabkan aku berakhir seperti ini.. "


saat ini, Hajime berdiri di belakang Toyo dan Miyu, kedua tangannya menusuk jantung kedua lawannya itu tanpa ampun. darah terus menetes dan menetes, pemandangan ini benar-benar sangat mengerikan.


Craakhh..


Hajime mencabut jantung Miyu dengan paksa, seketika jantung Miyu sudah berada di genggamannya.


"akh..! " Miyu tidak bisa bernafas, kehilangan keseimbangan dan pada akhirnya terjatuh terkapar dengan tubuh bersimpuh darah, di bagian dadanya bolong karena bekas di cabik cakar Hajime. sampai mati pun wajahnya melukiskan rasa penyesalan.


Toyo melirik kearah Miyu, "kau benar-benar sangat kejam.. membunuh wanita dengan cara yang mengenaskan. " dia tetap tersenyum.


Hajime tersenyum, "jika aku tidak mengambil jantungnya.. aku tidak yakin dia akan mati.. aku tidak mau mengambil resiko.. "


"hehehe, sepertinya aku membuat mu sedikit takut, ya. " Toyo tertawa kecil, "jadi. apa kau akan mengambil jantungku juga..?! "


"tentu.. " Hajime mengepal jantung Miyu tepat didepan mata Toyo, "kau sendiri yang mengatakan kau akan mati jika kehilangan jantung.. " dia tersenyum.


"kau memang hebat! kau bisa mengendalikan dirimu padahal sudah menjadi monster.. " Toyo tetap tenang.


"biar aku beri tahu sedikit. " Hajime tersenyum, "aku sedang memainkan peran ku.. aku adalah manusia serigala yang tidak mungkin bisa dikendalikan oleh orang lain hanya karena cairan seperti itu.. kita hanya hidup di dunia novel dan sayangnya kau adalah tokoh jahat. "


"apa.. maks.. "


Craakhh..


belum selesai Toyo berbicara, Hajime menarik jantungnya keluar bersama cipratan darah, setelah itu tubuhnya tumbang perlahan.


Hajime memandang Toyo, "maaf kawan! aku tidak ingin membunuh mu dengan cara seperti ini.. tapi aku juga tidak punya cara yang lebih halus.. " dia tersenyum.


Toyo menatap tanah didepan matanya yang masih terbuka, mungkin inilah kehidupannya tanpa nafas, "sial.. sekuat apapun aku.. pada akhirnya tetap dikalahkan oleh anak-anak ini.. apa bedanya dengan aku yang bertubuh kurus seperti dulu?..cih, dasar pecundang.! " batinnya. "tidak, setidaknya aku memiliki sisi baik dari kematian ku.. ibu.. aku datang..! "


Hajime memandang mata Toyo yang terbuka, "jika kau bahagia karena akan bertemu dengan orang yang kau rindukan.. itu salah.. kau sangat kacau saat ini.. kau harus mempunyai alasan yang tepat untuk menjelaskan semua ini.. aku tahu apa yang ingin kau katakan.. kau menganggap semua orang lebih bahagia dari dirimu.. maaf sobat! jika kau tidak segera pergi.. akan terlalu panjang untuk menceritakan jalan kehidupan ku yang penuh dengan hinaan ini. " Hajime mengoceh lalu mengusap kedua mata Toyo agar terpejam.


Utama mendekati Hajime, "mungkin ini yang dikatakan dengan, sekali tepuk dua nyamuk terbunuh.. "


Hajime melirik, "aku tidak yakin apakah kata-kata mu barusan sudah benar. "

__ADS_1


__ADS_2