
Randa dan Utama mengelilingi ruangan, Utama hanya mengikuti dari belakang.
"jangan terlalu terkejut! bukankah dulu kau sudah pernah masuk kesini. " ucap Randa penuh percaya diri.
Utama melirik, "siapa yang terkejut? dasar aneh! " batinnya.
Randa duduk di sebuah kursi, didepannya terdapat sebuah laptop yang berada di atas meja.
"Utama, kemari! aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. aku yakin kau pasti suka " Randa terlihat sangat serius.
Utama mendekati, "apakah itu sesuatu yang menarik.? " Utama sedikit serius.
"diam dan lihat saja! " Randa menghidupkan laptop tersebut. dan...
"apa ini? siapa bilang kalau aku menyukai ini!? " Utama berteriak.
"hey, bukannya kau sangat suka anime ini. " jawab Randa datar, matanya terus menoleh laptop.
saat ini Randa dan Utama sedang menonton anime, anime tentang Shinobi yang berjudul Naruto, siapa yang tidak tahu betapa populernya animasi dari negri sakura yang satu ini.
"kau lihat! Sasuke sangat keren! " Randa bersemangat.
Utama juga menonton, "aku juga ingin menjadi tokoh utama seperti Naruto.. tapi sepertinya mustahil.. " batinnya.
*******
Yana duduk di sofa dengan wajah cuek, menaikan kaki kanannya keatas kaki kirinya, tangannya juga terlipat, matanya terpejam bersama wajahnya yang memerah. sepertinya dia sangat marah.
di samping Yana berdiri Yoro dan Yara, di wajah mereka terselip rasa bersalah, sepertinya mereka berniat meminta maaf pada Yana.
Yoro maju selangkah, "Nona, tolong maafkan kami, kami sadar kalau kami salah. " mohon nya penuh kelembutan.
"baguslah kalau begitu. " Yana menjawab ketus, dia bahkan tidak membuka matanya.
"Nona jangan marah-marah! nanti cantiknya luntur. " Yara sempat-sempatnya merayu.
"apa katamu!? " Yana semakin marah.
Yoro memukul kepala Yara, "tutup mulutmu bodoh! kau membuat Nona semakin marah! " sambil berteriak.
setelah beberapa saat hening, Yoro kembali meminta maaf, "Nona, maafkan kami. kami tidak akan mengulanginya. " ucapnya.
Yana tidak menjawab, dia seperti berpura-pura tuli.
__ADS_1
"Nona, tolong maafkan kami, kami akan melakukan apa yang Nona perintahkan! " Yoro sedikit tegas.
Yana membuka matanya sebelah, "benarkah? " tanyanya. Yoro mengangguk sambil tersenyum.
Yana berdiri sambil tersenyum, "baiklah, mulai sekarang kalian harus membantuku untuk mendapatkan Utama! mengerti? " dia seperti baru saja kehilangan beban hidup.
"baiklah.. " Yoro dan Yara agak lama menjawab.
Yoro terlihat berpikir,kemudian berbisik ditelinga Yara, "tidak ku sangka selera Nona serendah itu. " bisiknya. "kau benar! ternyata Nona tidak pandai memilih pria. " sambung Yara kemudian keduanya tertawa pelan.
"apa yang sedang kalian bicarakan, hah!? " tiba-tiba tubuh Yana terlihat sangat besar.
keesokan harinya di SMA Harapan Bangsa..
Utama dan Randa duduk dipinggir lapangan Voli, mereka sedang memperhatikan orang-orang yang sedang bermain disitu. sekitar lima meter dari mereka, seorang wanita sedang duduk memandangi para pemain, angin sepoi-sepoi menghembus rambut ke wajahnya yang saat ini terlihat sedih. dia biasa dipanggil Sella.
"jadi mereka bersiap untuk pertandingan melawan SMA sebelah, ya? " Utama membuka pembicaraan.
"ya, begitulah. " Randa sambil mengangguk. "pertandingan persahabatan seperti ini memang sudah rutin dilakukan. tapi.. " Randa menahan ucapannya.
"tapi apa? " Utama menyambut.
Randa terdiam cukup lama, "aku takut akan berakhir ricuh. mungkin bagi pihak sekolah pertandingan ini untuk mempererat persahabatan. tapi bagi kebanyakan siswa ini hanya akan menambah perseteruan.. " jelasnya.
"Randa! lihat orang itu, kenapa dia berjalan seperti itu? " Utama bertanya.
Randa mengikuti arah mata Utama, "entahlah, tapi sepertinya dia kurang baik. " Randa juga heran.
saat Utama dan Randa memperhatikan orang itu, tiba-tiba orang itu berteriak kesakitan sesaat setelah melompat, pemain lainnya pun mendekat untuk membantunya.
"*feri, apa kau tidak apa-apa? "
"kau terlalu memaksakan diri, kami pasti bisa mengalahkan mereka walaupun tanpa mu. "
"sebaiknya kau sembuhkan dulu kakimu, jika terus seperti ini akan bahaya*. "
ucap pemain lainnya.
"ternyata kakinya sakit,ya." Utama berucap.
"dia terlalu memaksa, kalau begitu kan' malah jadi beban. " sambung Randa sambil tersenyum.
"kalian salah! " tiba-tiba Sella, wanita yang berada di samping Utama dan Randa membantah.
__ADS_1
"eh!? " Utama dan Randa menoleh, "ternyata ada orang yang mendengarkan pembicaraan kita. " Randa tersenyum.
"dia bukanlah beban, jika saja kakinya tidak seperti itu, dia adalah pemain voli putra terhebat. " Sella berucap dengan pandangan lurus.
"benarkah? jika saja kakinya tidak seperti itu? sebaiknya kau meminta dia untuk cepat menerima kenyataan pahit ini! " Randa tersenyum, dia seperti sengaja menggoda wanita dihadapannya.
"benar! apakah dia sesedih itu kehilangan gelar pemain terhebat.? " sambung Utama.
Sella menoleh dengan mata yang tajam,kemudian menghela nafas panjang, sepertinya dia mencoba untuk bersabar, "ternyata berbicara dengan adik kelas itu lebih sulit dari yang aku bayangkan. tapi baiklah, akan ku beri tahu sedikit tentang dia. " ucapnya.
"namanya feri, beberapa hari yang lalu ia terjatuh,dan akhirnya kakinya begitu. dia sudah mencoba meminta pada pihak sekolah untuk menunda pertandingan sampai kakinya sembuh. tapi pihak sekolah tidak mendengarkannya. " lanjutnya.
"menurutku itu memang mustahil" sahut Randa.
Sella terdiam, raut wajahnya menggambarkan kesedihan, "tapi sebenarnya.. dia hanya ingin membanggakan sekolah ini, dia hanya ingin memenangkan pertandingan voli kali ini, sekalipun... dia tidak berada di tim.. " ucapnya.
"jadi begitu, ya. " Utama berwajah serius. "baiklah, akan ku bantu. " ucapnya.
Utama melangkah pergi, dia tidak sadar Randa masih diam di tempat.
Randa menatap Sella dengan wajah serius, "kenapa kau begitu perduli pada orang itu? apa kau pacar dari orang itu? " tanya Randa sambil menunjuk feri.
"tidak! aku hanya teman dekatnya, aku perduli karena aku mengerti perasaannya. " jawab Sella juga serius.
Randa mendekatkan wajahnya pada Sella, "apa kau tertarik padaku? " Randa memasang wajah yang bisa dibilang mesum.
"apa yang kau bicarakan? " berhenti menatapku seperti itu! " Sella menjaga jarak. "aku baru melihat orang dengan tingkat kepercayaan diri setinggi kau! " lanjutnya.
Randa membalikkan badannya, "baiklah kalau kau tidak tertarik. tapi jika kau berubah pikiran.. kau harus berusaha keras, masih banyak wanita yang menjadi saingan mu.. " Randa penuh percaya diri, kemudian pergi meninggalkan Sella yang tidak bisa menahan tawa.
Utama berjalan santai, tiba-tiba bola basket mengarahkan ke wajahnya, dia pun menangkap dengan sigap.
"maaf, aku tidak sengaja. " seorang pria datang mendekat sambil tersenyum licik yang ia coba tutupi dengan keramahan , dia adalah Excel, pria paling populer di kalangan wanita, sepertinya dia sudah mendengar tentang perubahan Utama yang dulu culun.
"tidak masalah! " Utama agak cuek. tanpa mengembalikan bola tersebut, Utama kembali berjalan.
"bukankah aku sudah minta maaf? kenapa kau tidak mengembalikan bola itu? " Excel bersikap manis, sepertinya ia ingin terlihat baik dimata para wanita yang saat ini memperhatikannya.
Utama berbalik badan, "maaf, aku lupa. " kemudian melempar bola itu.
"maukah kau bermain bersama ku? " Excel tersenyum, "beraninya kau bersikap sombong dihadapan ku. sekarang.. akan ku permalukan kau di hadapan orang banyak. " batinnya.
Utama kembali berjalan, "maaf! aku tidak punya banyak waktu, lagipula aku jadi tidak tertarik. " dengan gaya sombongnya.
__ADS_1
"cih, beraninya dia menolak ku, dia sengaja membuatku terlihat rendah didepan semua wanita.. lihat saja, akan ku balas kau.! " batin Excel penuh dendam.