Tokoh Utama

Tokoh Utama
Duo terhebat


__ADS_3

Utama berdiri dengan tenang, ekspresi wajahnya mulai datar kembali, dia menatap si kembar Jiro dan Hiro yang saat ini ada dihadapan.


di samping Utama, Hajime setengah berdiri menatap Jiro dan Hiro,"mereka adalah orang yang pernah melukaiku! " dia menggertakkan giginya.


Hiro menatap Hajime dingin, dia sama sekali tidak tertarik dengan Utama, mungkin dia belum tahu siapa tokoh utamanya, "cih, dia orang yang waktu itu, aku harus berhati-hati! " dia mendengus.


disisi lain, Jiro menatap Utama dan Hajime yang berseragam SMA, "tidak ku sangka anak-anak seperti mereka membuat kekacauan seperti ini. " dia terlihat kesal.


Jiro memainkan katana yang ada ditangannya, kemudian melesat cepat dengan tebasan yang siap memotong dua lawan yang ada dihadapan.


Utama dan Hajime bersiap, "dia datang! " keduanya menghindari serangan itu dengan melompat ke arah berlawanan.


Hajime baru saja menyentuh tanah, tiba-tiba serangan kejutan datang dari belakang, Hiro melesat dengan tebasan yang siap membelah.


"matilah! " teriak Hiro sambil mengayunkan senjata andalannya, gerakannya sangat cepat hingga tidak terlihat.


Baamm


saat katana Hiro nyaris menyentuh Hajime, Utama datang dan memukul tubuh Hiro dari samping.


tubuh Hiro terpental jauh dan menabrak puing-puing yang berserakan, kemudian tergeletak lemah.


Hiro kembali berdiri, "sial! ternyata anak itu juga tidak bisa dianggap remeh! pukulannya sangat mematikan. " dia memandang Utama.


Utama menoleh Hajime, "mereka sangat cepat! kau tidak boleh lengah, Hajime! " ucapnya datar.


Hajime tersenyum, "cih, kenapa kau jadi hitung-hitungan begini? " dia terdengar bercanda.


sesaat setelah itu, Jiro kembali bergerak, dia berlari ke arah Utama dan Hajime, "matilah! " dia melompat sambil mengayunkan pedangnya .


dengan sangat tenang, Utama dan Hajime dapat menghindari serangan itu dengan lompatan tinggi.


disaat tubuh Utama dan Hajime masih melayang di udara, sekali lagi Jiro memburu dengan tebasan, dia tersenyum seperti akan mendapat kemenangan.


"kali ini kalian tidak akan bisa menghindar! " batinnya sambil melompat ke arah tubuh kedua orang itu.


"gawat! " Hajime merasa terdesak, "aku tidak punya pijakan untuk menggerakkan tubuh ku! "


"tenanglah! " Utama yang juga masih di udara tersenyum.


detik selanjutnya, Utama mencengkram tangan Hajime, lalu mereka saling mengayunkan tubuh di udara, tubuh mereka bergerak dan terhindar dari serangan Jiro.


Jiro terlihat kesal bersama giginya yang ikut beradu, "sial! mereka sangat gesit, baru ini aku menghadapi lawan sehebat mereka! " diam-diam dia memuji lawannya.


Utama dan Hajime baru saja mendarat, mereka menatap Jiro yang juga menatap mereka.


"kau berhutang budi padaku. " ucap Utama datar.

__ADS_1


Hajime tersenyum, "kau tidak perlu khawatir, aku pasti mengingatnya. "


mata kedua orang itu fokus pada Jiro, sampai-sampai mereka melupakan kembaran Jiro yang saat ini sudah bergerak.


Hiro berlari cepat, "ini kesempatan ku! " dia memburu Utama dan Hajime dari belakang.


"Utama! dibelakang! " tiba-tiba Hajime berteriak tanpa menoleh kebelakang, sepertinya dia asal menduga.


disaat bersamaan, Utama dan Hajime menoleh kebelakang,mereka melihat Hiro yang sudah siap dengan tebasan.


Hiro tersenyum, "kalian lengah! " dia mengangkat katana lalu mengayunkan ke arah dua lawannya.


"ini buruk! " Hajime bersiap, dia mencoba menahan tebasan Hiro dengan semua kekuatan ditangannya.


laju katana Hiro tertahan, dibawahnya terlihat tangan Hajime mengeluarkan darah yang mengalir deras, antara jari jempol dan telunjuk Hajime koyak cukup lebar termakan katana Hiro yang tajam.


Hajime tersenyum menatap Hiro, "jangan berpikir semudah itu untuk mengalahkan kami. "


Hiro melihat Hajime tidak percaya, " dia menahan tebasan ku!? dan lukanya hanya seringan itu!? " batinnya.


Utama masih diam ditempat, dia melihat darah Hajime yang bercucuran, kemudian menatap Hajime, "aku memang tidak bisa merasakan sakit... tapi aku cukup tahu sesakit apa luka itu sehingga darah bercucuran. " batinnya.


Hiro mencoba mengangkat pedangnya, namun Hajime terus mencengkram pedang tersebut.


Baaamm


namun, kurang setengah detik setelah itu,tiba-tiba Jiro melompat ke arah Utama, dia mengangkat senjatanya, sepertinya dia berniat memotong kaki Utama yang baru saja menendang Hiro.


Utama menatap Jiro, tidak, lebih tepatnya dia menatap katana Jiro yang sepertinya haus darah.


Ting..


setelah itu, terdengar suara kedua senjata yang beradu, tapi masih belum jelas apa yang terjadi.


Jiro tersentak, dia membuka matanya lebar-lebar, "dia.. menangkis serangan ku!? " batinnya menatap pedangnya yang baru saja berbenturan dengan pedang lain.


Utama berhasil selamat, dia menatap Hajime yang sudah melindungi kakinya dari tebasan Jiro, ditangan Hajime terlihat pedang milik Hiro yang sepertinya baru beradu dengan pedang Jiro.


Jiro menatap Hajime kesal, "sepertinya kau yang lebih dulu harus ku bunuh! " dia menyerang Hajime dengan tebasan beruntun.


Hajime tidak mundur, dia menghadapi tebasan Jiro dengan pedang ditangannya, mereka berdua beradu tebasan dengan kecepatan yang menggila.


Ting.. Tang.. Ctang..


kedua katana itu bergesekan, dentingan yang memekakkan terus terdengar.


sesaat kemudian, pedang ditangan Hajime terlepas, sepertinya dia memang bukan tandingan Jiro jika bertarung menggunakan senjata.

__ADS_1


Jiro tersenyum jahat, "matilah! " dia berteriak sambil melesatkan tebasan.


Hajime bergerak untuk menghindar, namun dia tidak sepenuhnya berhasil, pipinya tergores ujung pedang milik Jiro.


Hajime dan Jiro sudah berjarak, keduanya saling tatap dengan tatapan yang mengundang kematian.


Hajime melotot sambil membersihkan darah di pipinya, "akan ku bunuh kau! " entah kenapa dia terlihat sangat marah, mungkin dia takut ketampanannya hilang.


Utama mendekati Hajime, "kau kenapa terlihat begitu marah!? bukankah hanya pipi mu saja yang tergores. " ucapnya datar.


Hajime tidak menoleh, "kau tidak mengerti! Shinta bahkan belum menerima cintaku, kalau dia melihat wajahku seperti ini.. dia akan semakin menolak. "


"kau tidak perlu menolongku! biarpun aku terkena tebasan mereka, aku juga tidak merasakan sakit. " ucap Utama datar.


Hajime menoleh, "kau memang benar! tapi aku tidak pernah membayangkan kakimu terpotong.. kita juga tidak tahu apa kakimu akan menyatu lagi. lagipula aku hanya ingin membalas budi saja." ucapnya datar. "yang benar saja seorang tokoh utama berjalan pincang. " dia seperti menghina dengan suara pelan.


Jiro dan Hiro sudah berdekatan, mereka menatap Utama dan Hajime yang sepertinya mengabaikan mereka.


"aku tidak menyangka, selain anak kembar seperti kita, ternyata masih ada Duo hebat seperti mereka." ucap Jiro.


"kau benar! kita tidak bisa menghadapi mereka secara bersamaan, kita harus memisahkan mereka! " ucapnya, dia menatap Utama, "anak itu.. dia sangat berbahaya.. dua pukulannya saja membuat tulang ku seakan patah semua! " batinnya.


"Utama..!.. Hajime..!. " tiba-tiba terdengar suara jeritan, jeritan itu terdengar pelan namun sepertinya jauh sekali.


Utama menoleh arah suara itu, kemudian saling memandang, suara itu sangat tidak asing di telinga mereka, sampai-sampai mereka bosan mendengarnya.


Hajime menoleh Utama, "sialan! mereka sangat terlambat. "


"jika mereka sampai kesini, hanya akan menjadi beban. " ucap Utama datar. "kita harus menjauh dari tempat ini! "


Utama dan Hajime memandang ke arah musuh, kemudian melompat untuk menjauh.


Jiro menatap mereka, "jangan harap bisa lolos! " dia mulai melangkah untuk mengejar.


"Jiro! biarkan saja mereka! " Hiro menahan, "mereka lawan yang sangat merepotkan, belum tentu kita bisa mengalahkan mereka tanpa memikirkan strategi terlebih dahulu. "


Jiro menghentikan langkah, kemudian menundukkan kepala, sepertinya dia tidak puas dengan usulan kembarannya.


Randa dan Arya sudah semakin dekat, mereka berjalan menuju Utama dan Hajime.


tiba-tiba Arya tersentak, dia dikejutkan dengan pemandangan yang sangat tidak ingin dia lihat, ya, dia melihat tubuh Jimmy yang sudah tidak bernyawa lagi, tubuh anak laki-laki pertama yang di waktu lalu dia perjuangkan untuk kembali menjadi manusia, perlahan air matanya menetes tanpa sepatah kata pun yang terucap.


Randa juga terkejut, "ini... jadi kami gagal, ya.. " dia juga meneteskan air mata, dia menundukkan kepalanya.


Utama menatap Randa, "ini salah kalian yang terlalu lama.. tapi kalian tidak boleh menyalahkan diri sendiri. " ucapnya datar, didalamnya seperti menyelip kekecewaan. tidak, orang seperti dia tidak akan pernah merasa kecewa.


Arya memangku kepala Jimmy, dia menangis tersedu-sedu, air matanya terus membasahi wajah Jimmy yang mulai membeku, "Jimmy.. maafkan ayah! " rintihannya cukup membuat telinga orang yang mendengar ikut bersedih.

__ADS_1


Randa menjatuhkan lututnya ke tanah, "ini memang salah ku.. aku tidak bisa membawa ayahmu dengan cepat.. terlalu banyak masalah yang kami hadapi. " dia masih menangis, sepertinya dia sangat kehilangan, ya, biar bagaimanapun, kenangannya bersama Jimmy sudah cukup banyak, ingatan itu melebihi ingatan Utama yang merupakan adik Jimmy sendiri, karena Utama sudah melupakan semuanya semenjak dia memulai kehidupannya di cerita ini.


__ADS_2