Tokoh Utama

Tokoh Utama
Informasi Lawan


__ADS_3

untuk sementara waktu, suasana menjadi hening, tidak ada yang berbicara selain menatap Utama yang saat ini terlempar dan cukup berjarak dengan mereka, sementara Artan yang tergeletak sudah mencoba untuk berdiri.


Artan melirik kearah Utama yang berada lumayan jauh dibelakangnya, "pukulan Toyo memang hebat! tapi sepertinya itu belum cukup untuk membunuh anak itu. " batinnya.


Felisa dan Miyu mendekati Toyo, "apakah berhasil? " tanya Felisa dengan mata yang memandang Utama dari kejauhan.


"sejauh ini.. belum ada yang selamat dari pukulan ku. " ucap Toyo datar.


Miyu tersenyum, "jangan besar kepala! seharusnya kalian tidak lupa anak itu masih hidup walau terkena serangan ketua berkali-kali. " ucapnya.


Jiro menoleh ke suatu arah, disitu terlihat pasukan tiger white sudah berhasil mengalahkan semua monster, namun mereka juga kehabisan energi dan merebahkan diri ke tanah.


Jiro menoleh Hiro dan Hajime, "sekarang.. apa yang akan kita lakukan!? " tanyanya.


"entahlah, mereka sangat kuat.. aku juga tidak yakin bisa mengalahkan mereka. " jawab Hiro datar.


Hajime tersenyum, "jangan berpikir kita bisa lari dari mereka! mereka tidak akan melepaskan kita. "


setelah beberapa saat tergeletak,Utama kembali mencoba bangkit, "jangan pernah berpikir kalian telah mengalahkan ku! " ucapnya sambil menyingkirkan puing-puing yang mengganggunya.


Utama berjalan pelan kearah Artan yang berada di depannya, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Yamakoto berdiri jauh dari yang lain, dia memandang Utama yang berjalan dengan wajah serius, "anak ini.. apa yang membuat dirinya sekuat ini!? " batinnya.


"kekuatannya benar-benar berbeda dari kami.. dia terlihat begitu alami. " batin Keki yang masih melayang di udara.


Artan melirik Utama dengan wajah ketakutan, kemudian menoleh Toyo, "hey, Toyo! kau urus anak ini! sisanya biar aku yang membereskan! " dia sedikit berteriak.


Toyo menatap Utama datar, "anak itu memang kuat.. tapi yang lebih menarik.. wajahnya juga datar. " kemudian mulai tersenyum.


Artan mulai bergerak, dia melangkah maju mengarah Hajime, Hiro dan Jiro sambil tersenyum jahat.


Hajime tersenyum, "orang ini memiliki senjata yang lumayan panjang.. sebaiknya kalian jangan melompat saat menyerang. "


Jiro melirik, "kau memang menolongku, tapi kau juga memukul ku. " dia terlihat kesal.


Hiro mulai bersiap, "satu lagi.. aku merasakan sesuatu yang aneh dari senjata itu.. senjata itu seperti magnet.. "


"hah, magnet!? " Jiro terkejut.


"jangan banyak bicara! ayo maju! " teriak Hajime lalu melangkah maju.


Hajime, Hiro dan Jiro melesat cepat kearah Artan, namun mereka dari arah yang sama.


Artan tersenyum jahat, "sepertinya aku akan mulai bermain serius. "


Artan mengeluarkan dua senjata hitamnya dari lengan pakaiannya yang kedodoran, senjata mematikan itu melesat cepat kearah tiga musuhnya.


Hajime melompat mundur, senjata Artan tidak mampu menjangkaunya, kemudian kembali maju menyerang.


Hiro direpotkan dengan senjata Artan sebelah kanan, Jiro menghindari serangan senjata Artan yang kiri dengan berlari ke kiri dan kanan, sesekali mereka juga menepis dengan senjata mereka.


Hajime sudah berada di depan Artan, dia mengarahkan cakaran kearah wajah Artan.


disaat bersamaan, Artan menarik senjatanya yang menyerang Jiro, kemudian mengarahkan ujungnya yang runcing untuk menyambut cakar Hajime.


"apa!? " Hajime terkejut, dia mencoba menahan serangannya namun tidak bisa.


Craaakh..


ujung senjata Artan menusuk telapak tangan Hajime hingga tembus,kemudian darah kental membasahi senjata Artan.

__ADS_1


"akh..! " Hajime meringis kesakitan, kemudian mencabut tangannya dari senjata lawan dan mundur sejauh mungkin.


"hahaha, apa hanya ini yang kalian punya!? ayo buat aku terhibur! " Artan tertawa sambil memperlihatkan wajah bengisnya.


Hajime menggenggam pergelangan tangan kanannya yang terluka dan mengeluarkan darah, "sial! aku terluka hanya karena menghadapi makhluk rendahan! " batinnya, dia terlihat sangat kesakitan.


Jiro sudah berada di depan Artan, "berhenti meremehkan kami dasar sialan! " dia mengarahkan tebasan kearah lawan.


Traang..


Artan menahan tebasan Jiro dengan senjata yang masih dibasahi darah Hajime, pedang Jiro berbenturan dengan senjata besi milik Artan.


Artan tersenyum jahat, "matilah! " kemudian mengayunkan senjatanya untuk membalas Jiro.


Tang..


Jiro menahan serangan Artan dengan pedangnya, namun dia tetap terdorong kebelakang walau masih dalam posisi berdiri.


di samping Jiro, Hiro masih berusaha maju, namun senjata Artan sebelah kanan terus menghalaunya.


"hosh.. hosh..! " Hiro mulai kelelahan, tubuhnya kembali dibasahi keringat. "sial! benda ini sangat merepotkan! " dia terlihat kesal.


Baamm...


disisi lain, Utama sedang menghadapi Toyo, keduanya saling serang dan menahan, mereka terus bertarung dan banyak menyita tempat, kehancuran tempat itu semakin lama semakin parah.


Artan menatap Hiro dan Jiro sambil tersenyum jahat, "ternyata kalian cukup gigih.. aku ingin lihat sampai kapan kalian bisa bertahan! " dia berteriak diujung perkataannya.


disaat itu, tiba-tiba tubuh Hiro dan Jiro seperti ditarik oleh senjata hitam milik Artan.


Jiro terkejut, "ini.. apa yang terjadi!? kenapa tubuh kita seperti ditarik!? " kemudian menancapkan pedangnya untuk menahan.


"bukan tubuh kita yang ditarik, tapi pedang kita! " sahut Hiro sambil menahan pedangnya yang semakin dekat dengan senjata Artan.


Traang..


pedang Hiro dan Jiro terlepas dan menempel di senjata Artan, di samping itu tubuh mereka juga berhenti di tarik.


"sial! ternyata benda itu magnet! " Jiro terlihat kesal.


"sepertinya bukan itu penjelasannya.. jika benda itu magnet, seharusnya dari awal pedang kita tertarik. " jawab Hiro datar.


"ayo mundur! " teriak Hiro sambil melangkah mundur, dibelakangnya Jiro menyusul, sepertinya mereka menyadari sesuatu.


Artan mengayunkan senjatanya mundur, lalu mengayunkannya lagi ke depan, kedua pedang yang menempel di benda itu terlepas dan melesat kearah Hiro dan Jiro.


Cep..


karena jarak yang lumayan jauh, Hiro dan Jiro dengan mudah menghindari kedua pedang itu yang langsung meleset dan menusuk tanah.


Hiro dan Jiro mengambil pedang mereka, kemudian mundur menjauh dari Artan, sepertinya mereka tidak berniat melanjutkan pertempuran.


Hajime memandang kearah saudara kembar itu yang mendekatinya, "kenapa!? apa kalian tidak sanggup menghadapinya? " dia tersenyum seperti mengejek.


Hiro menatap Artan dari kejauhan, "kami berdua adalah tipe petarung yang menggunakan pedang.. sepertinya orang itu tidak pantas menjadi lawan kami. " ucapnya datar.


"itu benar! menghadapinya sama saja dengan mengantar nyawa. " sahut Jiro dengan keringat yang membasahi wajahnya, sepertinya dia sangat kelelahan.


Hajime tersenyum, "begitu, ya.. aku juga melihatnya, benda itu seperti magnet. " dia melihat senjata Artan.


di samping itu, Yamakoto terlihat bosan, dia menoleh kearah Keki yang masih melayang di udara, namun tidak terlalu jauh dengannya.

__ADS_1


"aku sudah bosan melihat tontonan ini! aku yang akan mencari Arya dan menangkapnya! " teriak Yamakoto.


Keki melirik Yamakoto dengan tajam, "tidak! aku yang akan mengurusnya! " jawabnya.


Yamakoto menatap Keki dengan wajah kesal, "sialan!.. sepertinya dia sudah mengetahui rencana ku. " batinnya.


Yamakoto mengalihkan pandangannya dari Keki, "Arya.. aku akan merebut semua barang berharga yang saat ini berada di tanganmu! " batinnya.


"kalian tidak perlu repot-repot mencari ku! aku sendiri yang akan menghadapi kalian! " disaat itu, tiba-tiba Arya muncul dan langsung berteriak.


Tim Black Rose terkejut dan menoleh kearah Arya, "sepertinya pecundang ini sudah memiliki sedikit keberanian. " mereka tersenyum mengejek.


Arya berjalan mendekati Hajime serta Hiro dan Jiro, "apa aku terlambat!? " dia tersenyum.


Hajime menatap Arya, "bukankah seharusnya Randa bersama paman!? dimana dia? "


"aku memberikannya sedikit kepercayaan, aku yakin dia bisa menyelesaikannya." jawab Arya.


Jiro melirik kearah Arya, "orang ini.. memangnya apa yang bisa kita harapkan dari dia? " ucapnya merendahkan.


Hajime menoleh Jiro, "setidaknya kita bisa mengetahui sedikit informasi dari lawan. "


Arya menatap Jiro sambil tersenyum, "jadi aku memang terlihat sangat menyedihkan, ya. "


Utama menyadari kehadiran Arya dan menoleh, kemudian menatap Toyo yang masih berdiri dihadapannya, "padahal sudah berulang kali aku memukulnya.. tapi dia masih tetap bertahan.. sepertinya aku membutuhkan informasi tentang kelemahan orang ini. " batinnya lalu meninggalkan Toyo dan menuju tempat Arya dan yang lain.


Arya memandang Artan yang berada cukup jauh dari mereka, "jadi ini, orang yang membuat kalian kewalahan. " dia tersenyum sambil membenarkan kacamatanya.


Artan mendengar itu, "hey, dasar sialan! berani sekali kau menatap ku seperti itu! " teriaknya.


Hiro memandang Artan, "orang sangat kuat, senjatanya memiliki daya tarik seperti magnet.. tapi sepertinya hanya di waktu tertentu. " ucapnya.


"senjata itu bukanlah magnet! " Arya tersenyum, "namun.. didalam jubahnya itu ada sebuah alat yang mampu menciptakan energi seperti magnet.. jika energi itu diaktifkan, bisa membuat senjatanya memiliki daya tarik seperti magnet dan menarik semua benda yang mengandung besi..jika off semua besi yang menempel akan terlepas. " jelasnya.


Hiro menoleh Arya, "jadi begitu, ya.. pantas saja aku merasa pedang ku seperti ditarik.. lalu dia mengayunkan senjatanya dan seketika pedang kami yang menempel terlepas dan melesat kearah kami dengan arah tidak akurat. " dia mulai tersenyum.


Hajime menatap Hiro, "jadi maksud mu.. dia menonaktifkan energi tersebut saat akan melepaskan pedang itu? "


"aku rasa itu penjelasan yang paling sempurna. " jawab Hiro.


Jiro menatap Arya, "lalu.. kenapa senjatanya bisa melesat dengan mudah?.. aku berpikir tidak mungkin tangannya yang mengendalikan itu! " ucapnya penasaran.


Arya tersenyum, "baiklah, akan ku jelaskan! " sekali lagi dia membenarkan kacamatanya, " benda itu memang panjang.. namun batas jangkauannya hanya sekitar dua puluh meter, selain itu dia bisa melebar dan melipat, terkadang bentuknya seperti pedang dengan ukuran besar, terkadang menjadi perisai berbentuk petak. "


"sepertinya tadi aku menanyakan tentang apa yang mengendalikan benda itu? " Jiro memotong.


"benda itu tidak bisa meliuk-liuk selain hanya lurus, dan.. mesin lah yang mengendalikan senjata itu sehingga dengan mudah menarik ulur benda tersebut.. aku yakin benda itu memiliki berat yang lumayan. " lanjut Arya.


Hiro terdiam sejenak, "dua puluh meter, ya.. aku rasa akan sulit jika dibatasi dengan jarak sejauh itu. " ucapnya.


Artan yang mendengar semua itu, hanya bisa tersenyum, "sepertinya kau sudah mengetahui banyak tentangku.. "


Arya tersenyum, "begitulah.. beberapa tahun di Black Rose memberikan ku cukup informasi. "


"hahaha, kau membuatku tertawa! " Artan tertawa lepas, "memangnya kenapa kalau kau tahu tentang diriku?! apa yang bisa kau lakukan untuk mengalahkan ku!? " teriaknya.


Arya dan yang lain terdiam sejenak, mereka saling pandang dengan pikiran masing-masing.


"aku pikir kau tidak akan datang lagi ke tempat ini! " Utama sudah bergabung dan menatap Arya, namun semua orang mengacuhkannya.


"ya, ampun.. sepertinya mereka mengacuhkan ku. " batin Utama.

__ADS_1


Hiro menoleh Arya, "dia benar.. walaupun kita tahu tentang kemampuannya, kita tetap tidak memiliki rencana untuk menghadapinya. "


"aku yang akan menghadapinya!" ucap Arya penuh semangat, dia terlihat sangat serius.


__ADS_2