Tokoh Utama

Tokoh Utama
Pertemuan Murid Dan Guru


__ADS_3

Tap Tap


suasana menjadi hening, hanya suara langkah kaki Yamakoto yang terdengar, dia terus berjalan kearah dengan santai.


Jiro menarik pedangnya, "ayo kita mulai! " kemudian berlari kearah Yamakoto.


"baiklah..! " Hiro menyusul dari belakang.


Yamakoto menghentikan langkah, "Jiro, Hiro! aku tidak akan menyerang kalian.. apa kalian sebegitu lupa terhadap ku sampai-sampai ingin membunuh ku.?! " ucapnya datar.


cukup dekat dengan Yamakoto, Hiro dan Jiro menghentikan langkah, mereka saling pandang dengan wajah kebingungan.


Hiro dan Jiro menatap Yamakoto, "kau.. siapa?" keduanya bertanya bersamaan.


Yamakoto tersenyum sambil memejamkan matanya, "hehehe, aku lupa.. pantas saja kalian tidak mengenali ku.. "


Greeb..


Yamakoto melepas jubah hitamnya, dia mengenakan pakaian serba hitam yang dipenuhi dengan senjata api, disitu juga terdapat tiga sarung pedang, namun tinggal dua yang masih dihuni pedang.


setelah itu, Yamakoto membuka kacamata hijaunya yang selama ini menutup sorot matanya, kemudian menarik kulit wajahnya yang ternyata bisa terlepas sampai rambut rambutnya.


kini, wajah asli Yamakoto terlihat jelas, dia berambut hitam panjang dan terbelah dua dengan ikatan dibelakang, matanya tajam dan sangat tajam, dia juga terlihat masih muda. sepertinya dia menggunakan wajah palsu sebelumnya.


Hiro dan Jiro terkejut, mereka terus menatap Yamakoto dengan seksama, "Yamakoto..S**ensei!? " keduanya berucap ragu.


Yamakoto tersenyum, "ya, aku adalah guru kalian.. "


Hiro dan Jiro menatap Yamakoto dengan mata berkaca-kaca, kemudian berlari kearah Yamakoto, "guru.. kami sangat merindukan mu.. "


Jiro memeluk erat Yamakoto, "guru.. kau terlihat sangat muda.. apa kau abadi..? " tanyanya lembut dan berat, dia terlihat hampir menangis.


"tidak! tidak ada yang abadi di dunia ini.. " jawab Yamakoto tersenyum tipis.


disisi lain, Hiro yang awalnya berlari kearah Yamakoto, menghentikan langkahnya, dia menundukkan kepalanya sehingga raut wajahnya tidak terlihat.


"guru..aku... " Hiro berucap dengan tertahan.

__ADS_1


"eh..?! " Jiro menoleh kebelakang, sepertinya dia baru sadar Hiro masih dibelakang.


Yamakoto tersenyum, "hey, Hiro!.. apa kau tidak berniat bergabung? apa kau tidak merindukan ku? " dia masih memeluk Jiro.


Utama dan Hajime saling pandang, "apalagi ini? apa mereka saling kenal? " ucap Utama malas.


"sepertinya begitu.. siapa yang menyangka ternyata sebagian dari mereka adalah orang-orang terdekat kalian.. " jawab Hajime.


"kalian..?! " Utama melirik Hajime.


"hehe.. maaf, maaf! aku lupa ayahmu berada di pihak kita.. " Hajime cengengesan.


Jiro menatap Hiro, dia sudah melepaskan pelukannya dengan Yamakoto, "hey, Hiro! ada apa denganmu? sampai kapan kau berdiam diri seperti itu? kau tidak merindukan guru? "


Hiro masih menunduk, "guru.. apa maksud dari semua ini? kenapa kau membuat kehancuran? apa sebenarnya tujuan mu? " Hiro berucap dengan serius, tapi wajahnya masih belum terlihat.


"hahaha..untuk apa katamu?..hahaha..!" tiba-tiba Yamakoto tertawa lepas, "tentu saja untuk menguasai semuanya.. tentu saja untuk menunjukkan kekuatan.. apa kau tidak ingin menguasai dunia ini? " dia menatap Hiro sambil tersenyum.


"aku memang ingin menguasai kota ini. " Hiro mengangkat kepalanya dan menatap Yamakoto tajam, "tapi bukan berarti dengan cara seperti ini.. aku tidak ingin menghancurkan kota kelahiran ku ini..! " dia berteriak.


Yamakoto menarik nafas lalu membuangnya perlahan, kemudian mengubah ekspresinya menjadi datar, "Hiro.. jika kita ingin menguasai suatu wilayah.. kita harus mempunyai kekuatan.. kita harus memberi kehancuran dan rasa sakit.. jika tidak seperti itu.. mustahil mencapai tujuan itu.." ucapnya datar.


Tap Tap


Utama dan Hajime mendekati Hiro yang terdiam, mereka berdiri seiringan.


Hajime melirik Hiro, "apa kau mengenal dia? " dia bertanya datar.


"dia adalah guruku.. orang yang mengajarkan cara berpedang.. " jawab Hiro terlihat bersedih, "aku lahir di kota ini.. ayah ku seorang polisi, dia meninggal saat kami berusia enam tahun.. setelah itu kami kembali ke negeri kelahiran ibu ku, Jepang.. di sana kami bertemu guru Yamakoto dan diangkatnya menjadi murid.. dia mengajarkan banyak hal pada kami.. "


"jadi kau orang Jepang, ya..? " Hajime memotong.


"tidak juga, hanya ibuku yang orang Jepang.. " jawab Hiro, "setelah cukup lama menjadi muridnya.. dia menghilang.. tapi sebelum dia menghilang, dia berpesan pada kami untuk kembali ke kota ini dan menguasainya.. saat itu aku juga belum begitu mengerti.. aku dan Jiro kembali ke kota ini, lalu perlahan membangun sebuah geng yang kami beri nama serigala putih.."


"serigala putih?! aku belum pernah mendengarnya.. " potong Utama.


Hiro melirik Utama, "nama itu sudah menghilang beberapa tahun yang lalu.. tepatnya saat kami bentrok dengan tiger white...serigala putih kalah jumlah dan akhirnya kalah dengan tiger white yang saat itu memang sudah diakui sebagai organisasi Hitam terkuat.. walaupun seperti itu, walaupun hanya aku dan Jiro yang tersisa.. seluruh anggota tiger white tidak ada yang berani menyerang, sepertinya mereka sadar akan mati jika mencoba menyerang.. termasuk para petingginya.. setelah itu mereka memberikan penawaran untuk bergabung di tiger white.. kami menerima itu dan mencoba menjadi pemimpin.. seperti yang kalian lihat, kami sekarang sudah berhasil mencapai itu.. "

__ADS_1


"begitu, ya.. " ucap Hajime, "tapi.. memangnya siapa yang meminta mu untuk bercerita? " lanjutnya tersenyum meledek.


Hiro melirik Hajime, "maaf aku terlalu banyak bicara, tapi aku juga tidak meminta mu untuk mendengar.. " ucapnya datar.


Jiro dan Yamakoto memandang Hiro, "hey, Hiro!.. jangan terlalu banyak berpikir! ayo bergabunglah dengan kami..! " teriak Jiro.


"Hiro.. apa kau berniat bergabung? kita bisa menguasai semua ini..! tentukan lah pilihan mu! " sahut Yamakoto.


Hiro terdiam sejenak, dia memandang kebawah, "maaf guru.. jika tujuan mu menghancurkan kota ini.. aku menolaknya dengan berat hati.. " ucapnya sambil mengangkat wajahnya.


Jiro terkejut, "Hiro.. kau..!? " dia terlihat kesal, "ada apa dengan mu?! kenapa kau menolak?! bukankah kau sangat ingin bertemu dengan guru?! " teriaknya kesal.


"maaf Jiro, aku memang sangat menghargai guru.. tapi aku tidak mungkin menghancurkan kota kelahiran ku sendiri..seharusnya kau juga berpikir seperti itu, Jiro..setidaknya kau berpikir dua kali untuk melakukan hal bodoh ini.." jawab Hiro.


"hehehe.. sejak kapan kau begitu perduli pada kota ini? memangnya kenangan apa yang bisa kita ingat dari kota ini? kau sangat menyedihkan.. Hiro.. " Jiro tertawa kecil dengan ekspresi wajah menakutkan.


Hiro menatap Jiro yang juga menatapnya, keduanya saling pandang dengan ekspresi wajah yang rumit, sepertinya keduanya memiliki pikiran yang berlawanan.


"baiklah, Hiro.. jika kau tidak ingin bergabung, setidaknya kau jangan menghalangi.! " Yamakoto memecah keheningan, kemudian menoleh Jiro, "Jiro, kau tidak perlu memaksanya.. kita akan menguasai dunia ini.. kita akan menunjukkan kekuatan kita pada semua orang..! " ucapnya dengan ekspresi mencekam.


"menguasai dunia ini?! " Jiro menoleh Yamakoto, "apa yang bisa kita lakukan? bagaimana cara kita menundukkan negara-negara di dunia yang sangat kuat?! "


Yamakoto tersenyum, "kita masih memiliki orang-orang yang menjadi rekan kita.. Black Rose.. kita masih memiliki banyak anggota.. lagipula penyerangan ini sedikit terlalu cepat..masih banyak persiapan yang masih belum selesai.. kita akan mundur lalu kembali menyerang setelah semuanya benar-benar siap..saat itu kita akan menguasai negara ini... hahaha.. " dia tertawa lepas.


Jiro menatap Yamakoto, "begitu, ya.. menguasai dunia ini.. " kemudian tersenyum.


"maaf guru.. " tiba-tiba Hiro berucap.


Yamakoto menghentikan tawanya dan kembali menatap Hiro dengan tajam, "anak ini.. sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya? " batinnya.


Hiro menatap Yamakoto, "selain tidak akan bergabung dengan mu.. jika kau tetap bertekad menghancurkan kota ini.. aku.. aku... aku akan menghalangi mu walau harus saling membunuh.. sekali lagi maafkan aku, guru.. " dia terlihat bersedih.


Yamakoto terlihat sangat marah, "jadi kau berniat menghalangi ku, ya.. " kemudian menoleh Jiro yang masih terdiam menatap Hiro, "Jiro.. habisi dia..! "


Jiro tersentak, kemudian menoleh kearah Yamakoto, "habisi dia?! aku harus menghabisi saudara ku sendiri..? " gumamnya pelan kemudian menoleh Hiro, "aku.. harus.. menghadapi saudara ku sendiri.. aku harus membunuh saudara ku sendiri.. apakah ini masih wajar.. " batinnya bimbang.


Hiro juga terkejut, "Jiro, jangan dengarkan dia! kita adalah saudara dan akan selamanya seperti itu! " teriaknya.

__ADS_1


Jiro menatap pedangnya yang saat ini di genggamannya, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya mulai dibasahi dengan keringat dingin, nafasnya juga tidak beraturan, sepertinya dia berada di dalam sebuah keraguan.


Yamakoto tersenyum jahat, "mereka berdua adalah dua saudara pengguna pedang terhebat yang pernah kutemukan.. jika mereka terus bersama, aku yakin nama mereka akan melegenda dimasa depan.. tapi jika keduanya saling membunuh.. aku juga tidak tahu pertarungan mematikan seperti apa yang akan terjadi.. "


__ADS_2