
ledakan itu membuat tempat itu gelap, pandangan semua orang tertutup debu dan asap yang mengepul.
Miyu yang berada cukup jauh sedikit aman, dia hanya merasakan angin menghembus kencang tubuhnya bersama debu yang mencoba menyelinap masuk ke matanya.
Miyu melompat mundur dan mendekati anggota Black Rose yang lain.
Artan menatap Miyu, "hey, Miyu! kau bersusah payah menghadapi anak itu dan Keki mengalahkannya dengan mudah, kau sangat menyedihkan! " dia tersenyum mengejek.
"tutup mulut mu! kau meremehkannya karena kau belum melihat kekuatan anak itu! " Miyu terlihat kesal.
Felisa tersenyum, "aku sangat ingin melihat kekuatan anak itu yang mungkin tidak seberapa, tapi sayangnya dia sudah tewas. " dia seperti mengejek.
Miyu terlihat kesal, "*kau.. "
"bisakah kalian diam*!?" Toyo mulai bicara, dia terlihat tenang dengan wajah datarnya.
kepulan asap dan debu mulai menipis, terlihat samar-samar lubang yang cukup luas bersama retakan retakan dalam, namun tubuh Utama masih belum terlihat karena masih tertutup asap. dibandingkan dengan ledakan yang menghancurkan rumah sakit, kehancuran ini masih belum ada apa-apanya, sepertinya Keki memiliki banyak jenis rudal.
Keki masih melayang di udara, dia terus menatap kebawah, sepertinya dia masih belum yakin telah membunuh Utama.
Hajime yang tergeletak kembali berdiri, dia berjalan menuju lubang tempat Utama berada, "hehehe, lagi-lagi berakhir seperti ini, tokoh utama novel ini sudah kalah, apa artinya aku berada di sini, novel ini sudah berakhir padahal masih ditengah jalan. " Hajime tertawa kecil, namun itu terdengar seperti rengekan. "sial! lagi-lagi aku berperan di sebuah cerita yang tidak selesai! " dia terus berjalan menuju Utama.
"uhuk.. uhuk..! " Jiro dan Hiro terbatuk batuk, mereka juga merasakan dampak dari ledakan itu.
setelah beberapa saat kemudian, tempat itu kembali jernih, asap dan debu sudah menghilang, kini tidak ada lagi yang menutupi pandangan semua orang.
didalam sebuah lubang yang tidak dalam, terlihat Utama tergeletak dan telentang menyatu dengan bumi, kepalanya menghadap samping, sebagian tubuhnya tertimpa dengan tanah yang menggumpal, pakaiannya kusam dan robek sana sini layaknya gembel yang menyedihkan, dari sekujur tubuhnya terlihat asap tipis terbang dan menghilang di udara pertanda hawa panas.
semua orang yang berada di tempat itu memandang kearah Utama, sepertinya mereka penasaran dengan apa yang terjadi pada anak itu.
"apa!? dia sudah terkena ledakan seperti itu dan tubuhnya masih tetap menyatu!? " ucap Miyu terkejut.
"tubuhnya memang masih menyatu, tapi tetap saja dia sudah tewas. " ucap Artan sambil tersenyum.
Hajime sudah berada di tepi lubang itu dan menghentikan langkah, dia menatap Utama sambil tersenyum dengan kesedihan yang menyelip didalamnya, sepertinya dia tidak berniat untuk mendekati sahabatnya itu.
Hajime menjatuhkan kedua lututnya, kemudian menundukkan kepalanya, "sial, sial, sial! seharusnya aku yang lebih dulu mati daripada kau! " dia meninju tanah berkali-kali.
Jiro dan Hiro berjalan mendekati Hajime, kemudian menatap Utama yang tergeletak dari tepi lubang tersebut, sepertinya mereka juga tidak berniat mendekati Utama.
"Sekuat-kuatnya dia.. tidak mungkin selamat dari ledakan seperti itu. " Hiro berucap datar.
"dia sudah pasti mati, sekarang lebih baik kita mundur.! " sahut Jiro.
diantara anggota Black Rose yang sedang berbaris, Yamakoto tetap diam, dia memandangi Jiro dan Hiro dari kejauhan seolah mengenali kedua pemuda itu.
Keki menatap Utama dari atas, dia tersenyum tipis, "aku belum melihat sedikitpun kemampuan anak itu tapi dia sudah tewas. " ucapnya.
disaat itu, disaat semua orang berpikir ini sudah berakhir, disaat mereka yakin bahwa Utama sudah mati, terjadi sesuatu yang tidak terduga.
__ADS_1
Kraak..
tiba-tiba Utama menggerakkan lehernya, dia yang awalnya menoleh kesamping, kini menatap langit walau masih dengan mata tertutup. detik selanjutnya, mata Utama terbuka lebar menatap tajam kearah Keki yang berada diatasnya.
"apa!? " Keki terkejut. sementara yang lainnya mungkin belum menyadari itu.
tidak terlalu jelas apa yang terjadi, entah kapan waktu Utama bangkit dari terbaringnya, tiba-tiba dia melompat kearah Keki dengan sangat cepat sehingga angin berhembus kencang.
"apa!? " Hajime sangat terkejut, dia baru menyadari kalau Utama sudah tidak ada di tempat semulanya, "cih, seharusnya aku tidak perlu cemas, dia adalah tokoh utama disini. " dia tersenyum sambil memandang keatas yang ternyata ada Utama.
"dia masih hidup!?.. mustahil.. " Jiro dan Hiro juga terkejut, pandangan mereka mengikuti kearah mana Utama bergerak.
"bahkan serangan seperti itupun tidak mampu untuk membunuhnya.!? " Miyu terkejut bercampur kesal, sementara yang lainnya hanya terdiam dalam terkejutnya.
Utama melompat tinggi menuju Keki, saat sudah dekat dia mengarahkan tinju keras sambil berteriak.
walau hampir terlambat, Keki masih sempat menghindar, tubuh serta tinju Utama melewati Keki dan semakin menjauh keatas.
Utama melirik Keki yang saat ini berada di bawahnya, "ibarat seekor burung, dia bisa menggerakkan tubuhnya di udara dengan mudah.. sial! "
Keki tersenyum jahat menatap Utama, "matilah! " dia mengarahkan telapak tangannya, seketika sebuah rudal melesat kearah Utama.
Utama tidak bisa bergerak menghindar saat masih di udara, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang menyilang untuk menahan.
"sial, aku lengah..! " batin Utama.
*Ciiittt..
sekali lagi tubuh Utama menjadi korban ledakan, api melebar dan menghiasi udara seperti kembang api hanya saja ini lebih cenderung ke menakutkan daripada indah, langit yang gelap menjadi terang, sesaat setelah itu asap mengepul di atas.
Keki tersenyum memandang kepulan asap yang berada di depan atasnya, "aku yakin kali ini pasti berhasil. "
disaat asap itu masih tebal, tubuh Utama keluar dari gumpalan asap itu, tubuhnya menukik kearah bumi, di pakaiannya masih melekat api, dia terlihat seperti sudah tidak bernyawa.
Hajime tersenyum, "selama tubuhmu masih ada, aku pikir kau tidak mungkin mati.." batinnya.
Utama menoleh ke bawah yang sudah semakin dekat dengan bumi, kemudian melirik Keki, "aku memang tidak mengerti tentang rasa sakit.. tapi satu kata untuk semua ini.. merepotkan! " batinnya.
saat kepala Utama hampir membentur tanah, dia berputar sekali dan mendarat dengan cantik, menepuk-nepuk api kecil di seragam SMA-nya yang sudah tidak layak pakai, lalu berjongkok sembari menatap Keki dengan tajam.
"lagi-lagi dia masih bisa bertahan! " anggota Black Rose semakin terkejut.
Yamakoto menatap Utama dari kejauhan, "sepertinya anak ini akan menjadi penghalang yang cukup tangguh. " batinnya dengan wajah dingin.
"dia pantas untuk dijuluki sang pemilik nyawa seribu. " ucap Hiro sambil menggelengkan kepalanya.
"tidak! dia terlihat seperti abadi. " sahut Jiro.
Keki menatap Utama yang berada di bawahnya, dia mulai terlihat kesal.
__ADS_1
"kau memiliki kekuatan yang hebat, aku tidak akan bertanya darimana kau mendapatkan itu. aku hanya ingin mengajak kau bergabung, bagaimana? apa kau tertarik!? " Keki tersenyum.
tanpa menjawab, Utama kembali melompat, tubuhnya melesat cepat kearah Keki, dia mengepalkan tinjunya dan siap menghancurkan musuhnya.
"majulah! " teriak Keki, dia mengepalkan tinjunya lalu melesat cepat kearah Utama yang semakin dekat dengannya, sepertinya dia ingin mengadu tinjunya dengan tinju Utama.
Baaamm..
kedua tinju itu bertemu dan berbenturan dengan iringan teriakkan, seketika angin kencang menambah keseruan suasana.
sesaat selanjutnya, tubuh Utama terlempar kebawah dan menghantam bumi, seketika tanah hancur dan berlubang serta menutupi sebagian tubuh Utama.
disisi lain, Keki terhempas jauh, tubuhnya melayang jauh keatas, namun sesaat kemudian dia berhasil mengembalikan keseimbangan.
"ketua sampai terhempas?! " sekali lagi Miyu dan yang lain terkejut.
"dasar sialan!" Utama menyingkirkan semua yang menindihnya dan mencoba bangkit, kemudian menoleh kearah Hajime, Jiro dan Hiro, "apakah kalian tidak berniat menolongku? " ucapnya.
Hajime tersenyum, lalu melompat mendekati Utama, "aku pikir seorang tokoh utama tidak membutuhkan bantuan. " ucapnya.
Utama menatap Hajime datar, "mereka cukup kuat, aku rasa ini akan menjadi hari yang sangat panjang. "
Jiro dan Hiro mendekati Utama, kemudian mereka berempat menatap Keki yang sudah bergabung dengan timnya, namun dia masih melayang di udara, sekitar satu meter jarak tanah dari kakinya.
Keki menatap Utama dari kejauhan, "super hero, ya.. aku tidak menyangka di kota ini ada pahlawan seperti dia. "
"super hero!? siapa yang percaya dengan lelucon seperti itu!? " sahut Artan dengan wajah bengisnya.
Miyu menatap Keki, "ketua, sepertinya Arya sudah melakukan sesuatu pada tubuh anak-anak itu, mustahil mereka bisa sekuat itu. "
Keki menoleh, "Arya!? dimana penghianat itu? dia sudah sangat banyak menggagalkan rencana ku, dia sangat pantas untuk di cincang. "
Felisa tersenyum, "jika berbicara tentang Arya, anak itu sangat mirip dengan penghianat itu! " dia menunjuk Utama.
"hah!? kau benar! hanya berbeda warna rambutnya saja.. kenapa aku baru menyadari itu? " Miyu terkejut.
"itu karena kau bodoh! " ucap Felisa mengejek.
Toyo terlihat tenang, "mengorbankan anaknya sendiri, ya.. ternyata pecundang tetaplah pecundang! " ucapnya datar.
Utama, Hajime, Jiro dan Hiro berbaris, mereka menatap anggota Black Rose yang berada cukup jauh di hadapan mereka.
Hajime tersenyum, "bertekad untuk menghancurkan sebuah negara, aku rasa itu membutuhkan cukup keberanian! " dia sedikit berteriak.
"apa tujuan kalian!? apa kalian ingin menguasai negara ini? dengan jumlah kalian yang sekarang sepertinya itu sangat mustahil! " sahut Utama.
Keki tersenyum, "kami tidak ingin menguasai negara ini, tapi kami akan menghancurkannya!" lalu tertawa.
Hiro menatap Keki datar, "jika aku boleh berpendapat, kalian terlalu meremehkan negara ini! "
__ADS_1
Keki tersenyum, "kami tidak meremehkan, hanya saja ini memang kenyataan, sampai sekarang kota ini masih dipenuhi dengan ribuan monster-monster, belum lagi kehancuran dimana-mana, masih banyak api yang menyala, kota ini akan benar-benar hancur.. dan hingga saat ini mereka hanya mencoba mengamankan penduduk tanpa mengetahui siapa orang dibalik semua ini. " ucapnya. "dunia ini.. akan mengerti arti rasa sakit.. apa arti kehidupan yang sebenarnya kata lain dari penderitaan! " dia memasang wajah menakutkan.
Utama menatap Keki, "sepertinya rasa sakit dimasa lalu yang membuatnya seperti ini. " batinnya.