Tokoh Utama

Tokoh Utama
Kebencian Dari Kebenaran


__ADS_3

"apakah berhasil?! " Hajime memandang kearah debu mengepul yang menutupi tubuh Yamakoto.


Utama masih tergeletak, namun dia kembali berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya yang penuh sobekan, debu pun berterbangan.


setelah itu, Utama dan Hajime mendekati Hiro dan Jiro, mereka berbaris memandang kearah Yamakoto, semakin lama debu semakin menipis.


Hiro mengatupkan giginya bersama kedua alisnya yang hampir bertemu, matanya memandang kearah Yamakoto yang sudah terlihat walau samar-samar.


"cih, sepertinya dia masih bisa bertahan. " ucapnya kesal.


Yamakoto sudah terlihat jelas, tubuhnya berada diantara puing-puing dan menghancurkan dinding hingga berlubang, saat ini dia berada dalam posisi terduduk.


"hehehe.. lumayan juga.. aku sampai terpojok seperti ini.. " Yamakoto tertawa kecil dengan senyuman kematiannya, rambut panjangnya menutupi sorot matanya.


Braak..


Yamakoto kembali berdiri, kemudian berjalan perlahan kearah musuhnya dengan tatapan serta senyum mengerikan.


Utama memandang datar kearah Yamakoto yang semakin mendekat, " Hajime.. ayo kita selesaikan ini! " ucapnya datar tanpa menoleh Hajime.


Jiro melirik kearah Utama, kemudian mengayunkan pedangnya kearah leher Utama, namun hampir menyentuh leher Utama dia menghentikannya.


"kau tidak perlu ikut campur! ini bukan urusan mu! kami yang akan menghabisinya!" setelah cukup lama diam, Jiro akhirnya berbicara, dia terlihat penuh dendam dengan kedua mata yang melotot.


Utama melirik, kemudian memandang pedang Jiro yang hampir menyentuh lehernya, senjata itu terlihat sangat mengancam karena sebagian kecil tertimpa cahaya dan itu cukup menyilaukan mata.


Hajime melirik Jiro, "jika kau berani menyentuhnya.. aku pastikan akan membunuhmu beberapa detik setelahnya.. " ucapnya sambil tersenyum jahat, sepertinya rasa lelah sama sekali tidak menciutkan mental berbicaranya.


Jiro melirik kearah Hajime yang juga meliriknya, kedua mata tajam itu bertemu dan saling bergesekan. namun setelah itu Jiro menjauhkan pedangnya dari leher Utama.


"aku tidak punya waktu untuk melayani mu.." ucap Jiro dingin.


Utama menatap datar Jiro, "jika kau yang berkata seperti itu.. kami berdua juga tidak bisa berbuat apa-apa.. "


Hiro melirik Utama, "baguslah kau mengerti.. bisa menonton pertarungan ini.. seharusnya kalian sudah cukup beruntung.. "


"memangnya siapa yang ingin melihat pertarungan rendahan seperti itu?! kalian tidak pernah menggunakan tinju kalian sendiri.. " Hajime menyambut.


"sudahlah.. kita selesaikan urusan kita nanti.. ada orang yang harus kami habisi terlebih dahulu.. " Hiro melihat Jiro yang mulai geram, kemudian menghela nafas dan memenangkan.


Tap.. Tap..


Yamakoto terus melangkah perlahan. sekitar lima belas meter dari para lawannya, dia menghentikan langkah dan menatap dengan senyuman menakutkan.


Hiro dan Jiro menatap Yamakoto tajam, kemudian bersiap menyerang, sementara Utama dan Hajime menjauh dan hanya menonton.


"Hiro.. Jiro.. jadi kalian memang berniat membunuh ku, ya.. " ucap Yamakoto, " kalian bukan lagi orang yang bisa ku gunakan sebagai alat.. jadi tidak perlu menyimpan kebenaran ini.. " dia tersenyum jahat.

__ADS_1


"kebenaran?! apa maksud mu?!" Hiro dan Jiro yang awalnya bersiap, kini penasaran.


"hehehe.. aku tidak yakin kalian bisa menerima ini.. tapi itu sudah tidak berguna sekarang.. " Yamakoto tertawa kecil, "aku.. adalah orang yang membunuh ibumu.. tunjukkan semua kekuatan kalian.. aku yakin kenyataan ini semakin memperkuat nafsu membunuh kalian.. "


Hiro dan Jiro tersentak, mereka terdiam dengan mata melotot yang memandang tanah, nafas keduanya tidak beraturan, keringat juga bercucuran, sepertinya mereka tidak bisa menerima kenyataan yang benar-benar pahit ini.


Yamakoto tersenyum jahat, "maaf, aku baru bisa mengatakan ini sekarang.. sebenarnya aku tidak ingin membunuhnya.. tapi dia selalu melarang ku untuk mengajarkan kalian tentang berpedang.. itu memang wajar, tidak akan ada orang tua yang ingin anak-anaknya mempelajari hal seperti itu di masa damai ini.. dia takut kalian terlibat kekerasan.. "


Hiro dan Jiro masih terdiam, air mata mulai menetes disudut mata mereka, sepertinya mereka sangat sedih mengenang kehidupan masa lalu.


"tapi.. " Yamakoto memasang wajah mencekam, "bagiku dunia yang damai ini.. sama sekali tidak ada keadilan.. itu tidak berarti dan akan ku ubah segalanya.. akan ku tundukkan dunia ini.. aku akan menggapai keadilan itu.. semua orang yang berada di atas maupun di bawah.. semuanya akan memiliki hak setara. " ucapnya serius. "hahaha.. hahaha.. " kemudian tertawa terbahak-bahak.


Hiro mengusap air matanya, kemudian berjalan kearah Yamakoto dengan kepala tertunduk, "disaat dulu..setiap kata-katamu begitu berarti bagi kami.. melihat dirimu yang sekarang dengan semua kebohongan mu.. " dia mengangkat kepala dan menatap tajam Yamakoto, "benar-benar membuat ku merasa jijik! " tatapannya terlihat penuh kebencian.


Hiro mempercepat langkahnya dan mulai mengayunkan pedangnya, "akan ku bunuh kau sialan..! " dia berteriak keras.


"majulah dan tunjukkan semua kemampuan mu! " Yamakoto menarik pedangnya dan bersiap menyambut Hiro.


dengan begitu lincah, Hiro melesatkan tebasan secara membabi buta dari depan, dia terlihat sangat geram dan penuh dendam.


Ctang.. Ting.. Tang...


Yamakoto berhasil menangkis semua serangan Hiro, namun kecepatan Hiro membuatnya terlihat kerepotan. kedua senjata mereka terus beradu, setiap gesekan menghasilkan percikan api yang indah.


disisi lain, Jiro masih menangis, dia mencoba menghentikan itu dan mengusap air matanya. "ibu.. maafkan kami.. " gumamnya masih terisak, kemudian berteriak keras dan berlari ke arah Yamakoto dengan wajah menakutkan.


Hiro dan Yamakoto masih beradu pedang. di suatu kesempatan, Hiro melompat keatas dan bersiap melesatkan tebasan, sementara Jiro secara tiba-tiba sudah mengambil posisi didepan Yamakoto, tepatnya dibawah Hiro.


Trang..


Tap..


Hiro mendarat dan berpijak di bahu Jiro, kemudian kembali melompat ke depan untuk menyerang Yamakoto.


di samping itu, Jiro tetap berdiri kokoh, lalu melesat maju menyerbu lawannya dengan tebasan yang menggila.


Trang... Ting.. Ctang...


sekali lagi, Yamakoto berhasil menepis semua serangan Jiro, tapi dia tidak lupa kalau Hiro masih melayang di atasnya dan siap membelahnya.


Hiro melayang dengan gaya salto depan, dia mengayunkan pedangnya untuk menyerang.


Zrashh..


Yamakoto mencoba menghindar dengan menunduk, tapi ujung pedang Hiro berhasil menjangkaunya dan mengoyak tubuh bagian belakangnya, darah pun mengalir.


Trang...

__ADS_1


Jiro mengeluarkan tebasan untuk membunuh, namun sekali lagi Yamakoto berhasil menahan walau terdorong beberapa langkah.


Tap..


disaat bersamaan, Hiro mendarat di belakang Yamakoto, namun mereka saling membelakangi dengan jarak cukup dekat. dengan tanpa membalikkan badan, Hiro mengayunkan senjatanya kebelakang.


Baaam..


sebelum benda tajam itu menyentuh Yamakoto, dia lebih dulu melesatkan tendangan, telapak kakinya mendarat di punggung Hiro yang langsung terpental. sementara pedangnya terus beradu dengan pedang Jiro.


Sraak...


Hiro terhempas dan terseret di pasir sehingga debu beterbangan, dia mencoba mengembalikan keseimbangan dengan menancapkan pedangnya ke tanah, laju tubuhnya terhenti dan posisinya pun kini berjongkok.


"kebencian yang membuat mereka bisa sekuat ini.. kecepatan mereka jauh meningkat dari yang sebelumnya.. tapi aku yakin ini tidak akan bertahan lama.. " ucap Hajime memandang pertempuran di depannya, di sampingnya Utama berdiri dengan wajah datarnya.


Tang.. Ting.. Trang..


Jiro dan Yamakoto masih beradu pedang, keduanya saling serang dan menahan dengan gerakan menggila, sesekali keduanya melompat dan saling tebas di udara, mereka terus bergeser dari satu tempat ketempat lainnya.


Hiro masih berjongkok, matanya memandang kearah Yamakoto dengan tatapan ingin membunuh. rambut depannya yang panjang tertiup angin kencang sehingga tidak beraturan, sepertinya alam ikut bergejolak, suasana semakin lama semakin memanas saja.


Hiro kembali bangkit, mencabut pedangnya yang menancap di tanah, kemudian melangkah maju memburu musuh, kecepatan langkahnya membuat debu beterbangan.


Trang...


Jiro dan Yamakoto mengayunkan pedang secara bersamaan, pedang keduanya berbenturan dan saling menahan hingga terlihat berbentuk menyilang.


Yamakoto tersenyum jahat, "hey, Jiro.. apa hanya ini kemampuan mu? sangat mengecewakan.. jika tangan kanan ku masih ada mungkin kau sudah terbunuh.. " keduanya masih saling menahan, Yamakoto mendorong pedang Jiro dengan pedangnya yang saat ini hanya digenggam dengan tangan kirinya.


Tap.. Tap..


Jiro terdorong kebelakang beberapa langkah, dia yang saat ini menggenggam senjatanya dengan kedua tangan, mempererat genggaman dan kembali mendorong balik Yamakoto sambil berteriak.


Yamakoto terdorong beberapa meter kebelakang, keduanya pun kembali berjarak dan saling menatap.


"cih.. kekuatan anak ini... memang tidak bisa disepelekan.. " batin Yamakoto terlihat kesal, "tapi..masalah kecepatan..dia belum sebanding dengan Hiro.. " lanjutnya kemudian menoleh ke suatu arah dengan ekspresi terkejut, "*dia datang?! gawat! cepat sekali..! "


Wushhh*...


Hiro melesat cepat dari samping sambil melayangkan tebasan kearah leher Yamakoto. walau nyaris mengenainya, sekali lagi Yamakoto berhasil menghindari maut yang datang silih berganti, dia berhasil menghindar dengan mundur kebelakang.


Sreek..


detik selanjutnya, rambut depan Yamakoto melayang dan berjatuhan ke tanah, sepertinya ujung pedang Hiro berhasil menjangkau dan memotong rambut Yamakoto.


Hiro melirik kearah Yamakoto dan kembali melesat, Jiro kembali bergerak dengan diawali teriakan keras, sementara Yamakoto bersiap menyambut serangan kedua musuhnya.

__ADS_1


Trang... Ting... Tang...


pertarungan dua lawan satu antara pengguna pedang kembali berlanjut, ketiganya terlihat sangat cepat, tapi saat ini terlihat Hiro dan Jiro lebih unggul, kolaborasi keduanya berhasil menekan dan membuat Yamakoto terdesak dengan luka-luka yang terus bertambah.


__ADS_2