
Hiro dan Jiro serta Utama memandang kearah Yamakoto yang juga memandang kearah mereka, sekitar lima belas meter jarak yang memisahkan mereka.
"apa yang dia rencanakan? sepertinya aku harus berhati-hati.. " batin Yamakoto sambil memandang Hiro.
Hiro menatap datar Yamakoto, kemudian melirik Jiro, "Jiro.. aku akan membuat celah.. disaat aku mulai bergerak, kau hanya perlu mengatur jarak.. kau tidak perlu menyerangnya.. jika ada kesempatan, kau jangan menyia-nyiakan kesempatan itu.. " ucapnya datar.
Jiro menoleh Hiro, "baiklah kalau begitu.. tapi, apa sebenarnya rencana m? "
"aku tidak memiliki rencana apapun.. bertekad membunuh seseorang yang telah membunuh orang terdekat kita adalah suatu hal yang lumrah.. sebelum mengetahui kebenaran ini kita juga sudah bertekad membunuhnya.. sudah terlalu jauh kita melangkah.. aku yakin tidak akan ada kesempatan kedua dilain waktu, jadi.. kita harus membunuhnya walau ada nyawa dari kita yang harus dikorbankan.. " jawab Hiro serius, "Jiro, apapun yang terjadi.. tetaplah hidup.. gapailah mimpi yang bahkan kita berdua tidak bisa mencapainya.. "
Jiro tertegun, "Hiro... kau..?! " ucapnya.
"Jiro, jika ada kesempatan..arahkan pedangmu ke jantungnya.." Hiro mulai bersiap, sesaat kemudian dia melesat kearah Yamakoto walau dengan langkah berat.
"Jiro, ayo maju! aku akan mencari kesempatan untuk mu..! " teriak Hiro.
Jiro berlari menyusul, "apa sebenarnya yang kau rencanakan..? jika kau berniat meninggalkan ku.. aku juga ikut dengan mu.. kemanapun kau pergi.. " batinnya sambil memandangi punggung Hiro, perlahan matanya mulai berkaca-kaca.
"mereka datang! " Yamakoto mulai bersiap menyambut Hiro.
Hiro terus berlari sambil menatap Yamakoto, "aku tidak sepenuhnya yakin tentang ini.. tapi setidaknya.. ini yang bisa ku lakukan.." batinnya. " dia bergerak cepat dalam jangka waktu yang lama.. dia juga tidak terlihat kelelahan.. tidak bernafas untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatan.. aku yakin jantungnya bukan lagi jantung yang normal.. lalu.. darah di lukanya tidak mengalir seperti yang seharusnya.. jika tidak, dengan luka sebanyak itu seharusnya dia sudah tewas.. "
Hiro sudah berada di depan Yamakoto, saat dia hendak mengayunkan pedangnya, Yamakoto lebih dulu melepaskan tebasan kearah Hiro yang langsung menahan dengan pedang.
Traang..
kedua pedang itu saling berbenturan, pedang Hiro terlepas dari tangannya dan melayang jauh kebelakang, lalu menancap di tanah.
"apa ini?! jika hanya seperti itu.. seharusnya Hiro masih bisa menahannya.. " Jiro terkejut, saat ini dia sudah mengambil posisi di belakang Yamakoto, namun juga tidak terlalu dekat.
Yamakoto tersenyum jahat, "Hiro.. apa kau tidak akan mengucapkan salam perpisahan pada gurumu ini? " dia menatap Hiro dengan tatapan meremehkan.
Hiro tidak menjawab, dia menatap tajam kearah Yamakoto, sepertinya dia tidak takut dengan kematian.
"baiklah kalau begitu.. " Yamakoto mengarahkan tusukan kearah jantung Hiro, "matilah! " teriaknya.
"Hiro..! " Jiro berteriak dengan sangat keras, matanya menatap Hiro yang masih diam ditempat.
Crakh..
Hiro tidak bergerak sedikitpun, pedang Yamakoto menembus tubuhnya tepat di bagian jantung, cipratan darah membasahi wajah Yamakoto, sementara dari tusukan itu mengalir darah segar.
Tes..
tanpa basa-basi, tanpa ada satupun kata yang terucap, air mata Jiro mengalir, tangisan itu tidak ada mengundang suara, tapi air matanya saat ini jelas lambang dari kesedihan yang mendalam.
Utama memandang kejadian itu, tapi ekspresinya tetap datar, tatapan kosong yang jelas tidak ada pikiran sama sekali.
Hajime tertegun memandang Hiro yang tertusuk, tubuhnya masih tergeletak dengan dagu menempel di tanah, "dia.. tertusuk..?! " gumamnya.
pedang Yamakoto masih menancap di tubuh Hiro yang saat ini menunduk sehingga wajahnya tidak terlihat, tapi dari mulutnya terlihat darah menetes.
Yamakoto tersenyum jahat, "jika kau tidak ingin mengucapkan salam perpisahan, biar aku yang mengucapkannya.. " dia semakin menekankan pedangnya ke tubuh Hiro. "selamat tinggal.. selamat berjumpa dengan ibumu.. "
"tidak perlu repot-repot berbicara seperti itu.. " Hiro mengangkat kepalanya dan menatap Yamakoto sambil tersenyum, "karena kau akan ikut bersama ku.. "
"eh?! kau..? " Yamakoto terkejut.
Greb..
Hiro mencengkram tangan Yamakoto yang menggenggam pedang, cengkraman itu terlihat sangat erat, semua urat tangan Hiro terlihat jelas.
"hehehe... " Hiro tertawa kecil, "aku tahu inilah nafas nafas terakhir ku..tapi.. selagi jantung ini masih berdetak.. aku akan melakukan apa yang ku bisa.. "
Yamakoto menarik tangannya mencoba terlepas dari cengkraman Hiro, tapi dia tidak bisa, tangannya yang tidak sebelah membuatnya kesulitan.
"sial..! " teriak Yamakoto.
__ADS_1
"gawat..!" tepat di saat itu, Yamakoto mendengar suara langkah kaki dari belakangnya, dia menoleh kebelakang dan melihat Jiro sudah dibelakangnya.
Tap.. Tap..
Jiro berlari cepat kearah Yamakoto dari belakang, bulir air matanya pecah dan beterbangan di udara.
Yamakoto kembali menatap Hiro, "dasar sialan! jadi ini rencana mu! " teriaknya.
Hiro tersenyum, "sudah terlambat.. " dia semakin mempererat cengkeramannya.
Yamakoto kembali menarik tangannya, "hanya ini pedang yang tersisa.. gawat! " batinnya.
BUAAKK..
Yamakoto menendang Hiro, cengkraman Hiro terlepas, tubuh Hiro terpental lumayan jauh, sementara pedang yang menancap di tubuh Hiro tetap berada di tangan Yamakoto.
Yamakoto berputar untuk menghadapi Jiro yang ternyata sudah didekatnya, "cepat sekali.. " batinnya mulai mengayunkan pedangnya.
"matilah...! hiiaaa..! " Jiro berteriak sambil melepaskan sebuah tusukan dari ujung pedangnya.
Hiro tergeletak dengan tubuh menghadap tanah, dia memandang pertarungan yang sepertinya sudah mencapai ujungnya.
"sial... sepertinya aku gagal.. " batin Hiro.
Yamakoto mengarahkan tebasan kearah tubuh Jiro dari sebelah kanan, sementara Jiro melepaskan sebuah tusukan dari depan.
"apa?! dia berniat menusuk ku? kenapa dia tidak menahan tebasan ku? apa dia tidak takut mati..? " batin Yamakoto terkejut, dia juga terlihat ketakutan.
"Hiro sudah mengorbankan nyawanya.. aku tidak boleh gagal.. " batin Jiro, "kena kau..! " kemudian berteriak.
Crakhh..
Zrashh...
tidak sampai sedetik ke depan, terdengar suara tusukan. disaat bersamaan juga terdengar suara tubuh yang terkena tebasan.
"kenapa..? kenapa kau melakukan ini..? " walaupun sudah diambang kematian, air mata Hiro masih sempat menetes.
"apa mereka saling membunuh? " Hajime tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
"sepertinya memang begitu.. " jawab Utama datar.
saat ini, Yamakoto dan Jiro masih berdiri tanpa jarak yang memisahkan, di tanah tempat mereka berpijak terdapat tangan yang terpotong dengan cairan darah. pedang Jiro sudah tertancap di jantung Yamakoto, tapi tangan kanannya sudah terpotong sampai bahu, bekas tebasan itu juga membelah perutnya hingga hampir terpotong. keduanya dipenuhi dengan darah sehingga tubuh basah.
"akh..! " Yamakoto memuntahkan darah, bibir dan dagunya pun basah.
Trang..
pedang Yamakoto terlepas dan jatuh ke tanah, dia terlihat sangat kesakitan.
"hosh.. hosh.. " nafas Jiro tidak beraturan, dia tetap mencoba berdiri walau luka ditubuhnya sangat parah.
"hehehe.. " Jiro tertawa kecil, "aku berhasil menusuk jantung mu.. aku berhasil membunuh mu.. " Jiro menekan pedangnya ke jantung Yamakoto sampai kandas, setelah itu mencabutnya dengan kasar, aliran darah mengucur dari lubang tusukan tersebut.
Yamakoto menatap kesal Jiro, "si.. sial..! " ucapnya kesulitan.
Yamakoto mulai kehilangan keseimbangan, tubuhnya condong dan menatap bahu kanan Jiro yang dipenuhi darah, sepertinya dia sudah tidak sanggup berdiri.
"mengatasnamakan keadilan untuk melakukan kehancuran.. perdamaian tanpa keadilan.. hehehe.. kau sangat lucu.. " Jiro tertawa kecil, "perdamaian yang saat ini sudah tercipta masih kau katakan tanpa keadilan.. kau berkata seperti itu karena kau tidak pernah berpikir seberapa sulitnya mencapai kedamaian itu.. dan aku rasa sekalipun perdamaian itu bisa diraih.. tetap mustahil selamanya bisa bertahan.. sebagai manusia, sudah seharusnya kita bersyukur.. manusia selalu melihat dari sisi yang berbeda-beda.. memiliki pemikirannya masing-masing.. dan itulah awal permasalahan yang suatu saat menjadi konflik.. " ucapnya penuh keseriusan.
Braak..
Jiro bergeser ke kiri, Yamakoto yang bertumpu di bahu Jiro pun terjatuh dan membentur tanah, kemudian tergeletak lemah.
"sial.. kenapa jadi seperti ini? kenapa aku harus berakhir menyedihkan seperti ini..? " batin Yamakoto sambil menatap tanah yang berada di depan matanya.
Jiro melangkah ke arah Hiro yang menatapnya dalam tubuh tergeletak, Jiro terus melangkah sekalipun tubuhnya sempoyongan, sepertinya dia tidak perduli dengan bagian dalam perutnya yang terlihat.
__ADS_1
Braak..
setelah dekat dengan Hiro, Jiro menjatuhkan tubuhnya, dia terbaring didekat Hiro, kepala keduanya berdekatan, tapi tubuhnya diarah berlawanan.
Hiro memutar tubuhnya dan menatap langit, " bodoh, kenapa kau tidak menahan tebasan dia? kenapa kau melakukan ini? sudah aku katakan kau harus tetap hidup. " dia terlihat sangat bersedih.
Jiro juga menatap langit, "aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan mu.. " jawabnya santai.
"walaupun aku tidak tertusuk.. dengan luka sebanyak ini.. aku tidak bisa bertahan hidup...lagipula sudah kewajiban ku sebagai kakak untuk berkorban.." ucap Hiro.
"hehehe..kakak katamu? kau membuatku tertawa.." Jiro tertawa kecil, "aku tahu itu.. aku hanya ingin mati bersamamu.. walaupun kita selalu berbeda pendapat.. tapi kita tetaplah duo yang paling ditakuti.. rasanya tidak mungkin aku bisa bertahan tanpa dirimu.. lagipula aku takut kau mengadukan kejahatan ku pada ibu jika bertemu dengannya nanti.. " dia tersenyum.
"tanpa aku beritahu sekalipun.. dia sudah melihat tingkah kita di dunia yang kejam ini.." ucap Hiro, "lahir dihari yang sama... aku tidak pernah berpikir kita akan mati dihari yang sama juga.. hehehe.. benar-benar lucu.. padahal masih banyak mimpi yang ingin kita gapai.. " dia tertawa, namun di tawa itu terselip kekecewaan yang sepertinya menyakitkan.
"berhenti berbicara mimpi.. saat ini kita tidak sedang tidur.. sudah saatnya menerima kenyataan.. kenyataan kita yang akan meninggalkan dunia ini.. " ucap Jiro.
Hiro tertegun dan menoleh Jiro, setelah itu dia tersenyum, "kau benar.. aku terlalu ingin mencapai mimpi-mimpi yang selama ini kubayangkan.. aku bahkan melupakan tentang kenyataan yang tidak bisa kita hindari.. mimpi-mimpi ini.. akan sirna bersama kematian kita.. " ucap Hiro, "kalau begitu ayo tersenyum.. dengan begitu semua penyesalan yang saat ini masih tersimpan bisa di sembunyikan.. "
"memangnya dari siapa kita sembunyikan.. lagipula penyesalan hanya diri sendiri yang merasakannya.. " sahut Jiro, "tapi bagiku.. senyuman memang bisa menutupi semua luka di hati.. itulah sebabnya aku akan tetap tersenyum.. walaupun..walaupun sebenarnya aku sangat ingin menangis dan berteriak.."
Hiro dan Jiro terus berbincang, sepertinya mereka ingin menikmati waktu di nafas nafas terakhir mereka.
Utama memandang Hiro dan Jiro, kemudian melangkah, sepertinya dia berniat mendekati saudara kembar itu.
"tunggu..! " tiba-tiba Hajime menahan, tapi dia masih tetap tergeletak.
Utama menoleh kearah Hajime, "memangnya kenapa? " tanya Utama malas.
"biarkan mereka! kau tidak boleh mengganggu waktu mereka.. aku rasa banyak yang ingin mereka perbincangkan.." jawab Hajime.
"jadi mereka memang tidak bisa diselamatkan lagi, ya.. " ucap Utama datar, dia memandang Hiro dan Jiro.
Yamakoto masih sadarkan diri, tapi tubuhnya sudah sangat lemah dan tergeletak.
"menyedihkan.. menyedihkan.. menyedihkan.. " batin Yamakoto, "kenapa aku berakhir menyedihkan seperti ini? "
"tidak! aku tidak boleh berakhir seperti ini..! " Yamakoto mencoba menggerakkan tangannya untuk mengambil sesuatu dari pakaiannya, sesaat kemudian terlihat di genggamannya cairan berwarna oranye.
"Sikiniky... " Yamakoto menatap cairan di genggamannya, "Formula ini belum sempurna.. ini akan merebut akal sehat ku.. otak ku tidak akan sanggup mengendalikan ini.. aku akan kehilangan kesadaran.. " dia terlihat penuh keraguan.
"itu..?! " walau berjarak cukup jauh, Hajime bisa melihat apa yang ada di tangan Yamakoto, "Utama! cepat hentikan dia! mungkin cairan itu yang dikatakan ayahmu.." teriak Hajime sambil menunjuk Yamakoto.
Utama menoleh kearah Yamakoto, "tidak salah lagi.. sepertinya itu memang Sikiniky.. " ucap Utama lalu berlari kearah Yamakoto.
Yamakoto menoleh kearah Utama yang berlari kearahnya, "tidak ada waktu lagi.. aku tidak punya waktu untuk berpikir.. mungkin aku memang kehilangan kesadaran, tapi setidaknya aku tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini.. " ucapnya lalu bersiap menyuntikkan cairan itu.
BUAAK..
saat cairan itu hampir menyentuh tubuh Yamakoto, kaki Utama terlebih dahulu menabrak tangan Yamakoto yang menggenggam cairan itu, cairan itu terlepas dan terlempar jauh.
Hajime menghembuskan nafas kasar, "hampir saja.. " dia tersenyum lega.
Tling.. Ting..
Sikiniky jatuh dan menggelinding di atas permukaan tanah sehingga terdengar suara dentingan, dan akhirnya menabrak sepatu seseorang hingga lajunya terhenti.
"eh?! " semua orang terkejut.
Utama, Hajime dan Yamakoto memandang orang itu yang ternyata seorang remaja laki-laki, pakaiannya sama dengan yang dikenakan Utama dan Hajime, rambutnya berwarna merah dan terlihat cupu, saat ini dia tersenyum jahat menatap Utama, entah dendam apa yang bisa mengukir senyum begitu menakutkan seperti itu.
"dia.. anak yang waktu itu.. " gumam Utama.
"anak itu.. tidak salah lagi.. anak itu adalah anak yang mencoba bunuh diri diwaktu itu.. " gumam Hajime, "Yobi.. Randa pernah berkata nama anak itu adalah Yobi.. anak dengan IQ tertinggi di kelas sepuluh.. insting ku mengatakan akan ada pertarungan yang lebih mematikan lagi dari yang sebelumnya.. gawat, ini gawat! " dia memandang kearah pria berambut merah itu.
Utama menatap Yobi yang juga menatapnya, "angin apa yang membuatnya sampai kesini? bukankah dia sangat pengecut.. mungkin dia ingin bunuh diri lagi.. kali ini aku tidak akan melarangnya.. " gumamnya.
Yobi mengambil Sikiniky, kemudian menatap Utama dengan senyum kematian, "hari ini aku beruntung.. Utama, ayo kita bertarung satu lawan satu..! "
__ADS_1