
"hosh.. hosh.. " Miyu mulai ngos-ngosan, dia menatap Utama yang ada di hadapannya, sepertinya dia sangat waspada terhadap remaja satu itu, dia tidak mengalihkan perhatiannya dari Utama.
saat ini, Miyu sudah dikelilingi, Utama di depan, Hajime sebelah kanan, Jiro dibelakang dan Hiro kiri. namun tidak hanya Miyu yang kelelahan, Hajime, Jiro dan Hiro juga terlihat sedang mengatur nafas, sekujur tubuh mereka penuh dengan keringat yang membasahi.
Utama menatap Miyu datar, "menyerah lah! kau akan kami berikan sedikit penawaran. " ucapnya datar tapi seperti mengejek.
Hiro tersenyum, "ya, kami akan membunuhmu dengan cara yang halus. " ucapnya disela-sela nafasnya.
"dengan cara yang halus, tapi dengan sedikit siksaan. " sahut Hajime sambil tersenyum.
"hey, hey, hey, tidak perlu menyiksanya! aku akan membunuhnya dengan sekali tebas! " lanjut Jiro dengan wajah bengisnya.
keempat remaja itu terus menyudutkan Miyu dengan kata-kata mereka yang penuh hinaan, mereka yang biasanya bermusuhan menjadi akur demi menyudutkan seorang wanita.
Miyu terlihat kesal, "cih, mereka sangat menjengkelkan!" batinnya.
*Tap
"ayo maju*! " teriak Jiro lalu bergerak, setelah itu Hajime dan Hiro juga bergerak.
Jiro dan Hiro mengayunkan pedangnya secara bersamaan, keduanya mengarahkan tebasan kearah Miyu.
disaat bersamaan Hajime juga melesat kearah Miyu, dia mempersiapkan cakaran untuk merobek tubuh Miyu.
Miyu bersiap, dia menoleh kearah tiga musuh yang melaju kearahnya.
"siapa yang menyuruh mu untuk mengalihkan pandangan!? " tiba-tiba Utama berteriak dengan posisi yang sangat dekat dengan Miyu.
"apa!? " Miyu terkejut, dia menoleh kearah Utama yang ternyata sudah berada di sampingnya.
"apa!? dia cepat sekali!? " Hajime, Jiro dan Hiro terkejut, mereka menghentikan gerakan dan melihat Utama dan Miyu, sepertinya mereka menantikan detik-detik berikutnya yang menegangkan.
Utama mengarahkan tinju ke wajah Miyu yang langsung menghindar, namun dia juga merasakan hembusan dari kecepatan tinju Utama.
Miyu mengadu giginya, "anak ini sangat kuat.. aku harus lebih waspada terhadapnya. " batinnya.
Miyu melesatkan tendangan keras kearah Utama yang langsung menahan dengan tangan kanannya, kemudian mencengkram pergelangan kaki Miyu.
"sial..! " Miyu berteriak kesal, sambil menarik kakinya.
"berusahalah lebih keras! " ucap Utama datar.
Miyu kembali mengayunkan tinjunya bersama perasaan kesalnya, namun tiba-tiba..
Baaamm..
kaki Utama lebih dulu mendarat di perut Miyu, matanya melotot karena menahan rasa sakit, darah keluar dari mulutnya yang menganga, detik selanjutnya tubuh wanita itu terlempar sejauh-jauhnya dan tergeletak di atas puing-puing yang berserakan.
Jiro, Hiro serta Hajime menatap Utama dengan tatapan rumit, sepertinya mereka semakin mengakui Utama.
Hajime tersenyum, "Utama sialan! dia mendahului kami bertiga.. padahal aku juga ingin mendaratkan satu serangan ke tubuh wanita sialan itu. " batinnya.
Jiro dan Hiro saling pandang, "selain kuat, dia juga cepat, sebaiknya kita tidak mencari masalah terhadap orang itu. " ucap Hiro, namun Jiro terlihat acuh tak acuh.
Miyu mencoba berdiri dengan susah payah, "sial, beraninya kalian. " suaranya terdengar geram dan tertahan.
__ADS_1
Randa dan Arya memandang Miyu yang saat ini berjarak cukup dekat, "wanita ini.. padahal sudah dipukul seperti itu tapi dia masih bisa berdiri.. " ucap Randa.
"sudah aku katakan, semua anggota Black Rose sangat kuat, tubuh mereka sudah diperkuat, selain itu.. pada dasarnya mereka memang ahli beladiri.. " sahut Arya.
"mereka semakin membuatku penasaran. " ucap Randa.
Arya melirik, "berbicara tentang penasaran, aku hanya penasaran dengan Utama, kenapa dia bisa sekuat ini? "
Randa menghela nafas, "entahlah, dulu dia hanya seorang pecundang yang periang, sekarang dia menjadi kuat, tapi sikapnya juga berubah menjadi pendiam. " ucapnya pelan.
Utama, Hajime serta Jiro dan Hiro melangkah, kemudian menatap Miyu.
"apa kau yakin masih ingin melanjutkan pertarungan? " ucap Utama datar dengan ekspresi mata yang menyebalkan.
"kau.. tutup mulut mu! akan ku buat kau menyesal karena telah menghina ku! " Miyu terlihat sangat marah, benci tapi tidak bisa melupakannya.
Hajime tersenyum, "*belajarlah untuk melihat situasi sebelum berucap sombong! "
"hey, tidak baik menghina wanita seperti itu*. " sahut Jiro dengan wajah serius, namun setelahnya dia tertawa terbahak-bahak.
Miyu menatap Jiro dengan ekspresi wajah datar,"hahaha, nikmatilah selagi kalian bisa!" tiba-tiba Miyu tertawa sambil tersenyum jahat, "sebentar lagi.. sebentar lagi kalian semua akan hancur berkeping-keping.. " wajah Miyu terlihat sangat menakutkan, tangannya didepan dengan gaya mencengkram.
Randa dan Arya yang berada di situ, mendengar dan terlihat ketakutan.
"gawat! sepertinya Black Rose akan ketempat ini. " Arya menelan ludahnya, "sesuatu yang buruk akan terjadi. "
Randa menoleh, "sesuatu yang buruk!? maksud paman lebih buruk dari yang sekarang. " dia terkejut.
Utama mendengar dan menoleh, "daripada kalian berdiam diri seperti itu dan hanya menonton, lebih baik kalian melakukan sesuatu yang berguna." ucapnya datar, sepertinya dia menyadari akan ada pertempuran yang sangat merepotkan.
"aku!? jangan katakan kau akan memberikan uang yang banyak! " Randa bersemangat.
Arya berdiri, "akan ku beritahu nanti saat kita sudah di rumahmu. "
"apa!? di rumahku!? kita akan ketempat itu lagi! " Randa sepertinya patah semangat.
Arya tersenyum, "di rumah mu ada ruangan yang membuat ku nyaman, peralatan-peralatan disitu juga sangat canggih. " dia mulai melangkah.
Randa berdiri lalu mengikuti Arya, "baiklah, sepertinya paman sengaja membuatku penasaran. " dia tersenyum.
Miyu memandang Arya dan Randa, "dasar penghianat! siapa yang menyuruh mu pergi!? " teriaknya.
Miyu melesat kearah Arya, namun tiba-tiba Jiro menghadangnya.
Jiro tersenyum, "matilah! " dia mengarahkan tebasan untuk memotong tubuh Miyu.
Miyu menghindari tebasan Jiro dan melewatinya, "tidak berguna! "
Miyu memandang Arya yang semakin jauh, kemudian mengeluarkan senjatanya lalu mengguyur Arya dan Randa dengan jarum jarum berbahaya miliknya.
Tap
saat itu Hiro muncul dan mencincang semua jarum itu dengan kecepatan ayunan pedangnya.
Hiro melirik Arya dan Randa, "pergilah! akan kami selesaikan wanita ini! "
__ADS_1
Arya dan Randa menoleh, "baiklah! " kemudian berlari dengan cepat.
Hajime menoleh kearah Hiro, "hey, tidak perlu berlagak sok baik, kami akan tetap menganggap mu musuh! " dia tersenyum seperti biasa.
"aku juga tidak pernah berfikir untuk menjadi sahabat mu." Jiro memotong dengan ekspresi dingin.
Miyu mengikuti kepergian Arya dan semakin kesal, dia mengepalkan tinjunya sekuat-kuatnya, "anak-anak kurang ajar.. kalian membuatku semakin marah! " ucapnya dengan gigi yang berlaga.
disaat itu, tiba-tiba sebuah Drone muncul dan melayang di udara, diatasnya terlihat tiga pria dan satu wanita dengan pakaian serba hitam dan tertutup, sebuah jubah serta kacamata hijau yang membuat orang sulit untuk mengenali mereka.
Tap
keempat orang itu melompat dan mendarat di tanah, mereka memandang kearah Miyu dan yang lainnya.
"hey, Miyu! dimana Arya? jangan katakan kau sudah membunuhnya! " ucap salah seorang pria, dia adalah Artan.
Miyu tidak memperdulikan, dia tersenyum seolah akan mendapatkan kemenangan dengan mata yang memandang ke atas.
Jiro dan Hiro menatap keempat orang yang baru tiba, seketika wajah mereka berubah menjadi serius.
"Jiro, waspadalah! " ucap Hiro.
Utama dan Hajime masih berdekatan, mereka menatap kearah keempat orang yang berjubah hitam itu.
"jadi ini..anggota Black Rose. " ucap Utama datar, namun kedua alisnya juga hampir menyatu sehingga matanya menyipit.
Hajime terlihat serius, "Utama, bukankah ayahmu mengatakan semua anggota utama Black Rose ada tujuh orang termasuk ayahmu! "
Utama terdiam, "benar.. seharusnya mereka ada lima orang lagi.. " batinnya.
"dimana? " Utama menoleh ke kanan dan kiri.
Utama melihat Miyu yang tersenyum menatap langit, "ketua memang hebat!" gumam Miyu.
Utama menatap keatas seakan menyadari sesuatu, dia melihat seseorang sedang melayang di udara, Utama membuka matanya lebar-lebar seolah masih belum yakin.
orang yang melayang di udara itu adalah Keki, ketua Black Rose yang sangat berbahaya.
Keki menatap kearah Utama dan Hajime yang berada di bawahnya, kemudian mengarahkan tangannya dan seketika sebuah rudal melesat cepat.
"matilah! " seringai Keki.
Utama masih menatap keatas, kemudian menoleh Hajime, "Hajime, awas! " teriaknya.
"apa!? " Hajime tidak mengerti.
"dasar bodoh! " Utama mendorong tubuh Hajime dengan keras sehingga Hajime terhempas cukup jauh.
Utama kembali menoleh keatas, tapi rudal sudah berjarak sangat dekat dan mustahil untuk dihindari.
"Utama..! " teriak Hajime membuat telinga semua orang menjadi sakit.
Zooaarrr..
ledakan dahsyat menghancurkan tempat itu, tanah hancur dan menghempas ke segala arah bersama angin yang berhembus kencang, api melebar dan hawa panas mulai terasa, asap mengepul dan menutupi pandangan mata, tidak tahu apa yang terjadi pada Utama.
__ADS_1
Hajime tergeletak karena terhempas ledakan itu,"uhuk.. uhuk..Utama..jangan mati.. novel ini masih belum berakhir.. "