
"kenapa? kenapa kau membunuhku..? " Keki terlihat sangat kesakitan.
dibelakangnya, Yamakoto berdiri dengan pedang yang menusuk Keki, "kenapa katamu? karena kau adalah alat ku.. aku yang mengatur pola pikir mu.. " dia tersenyum jahat.
Randa yang awalnya gemetar, berteriak lalu melompat kearah Yamakoto sambil melepaskan tinju.
Baamm..
sebelum tinju Randa menyentuh Yamakoto, dia terpental, ternyata telapak kaki Yamakoto lebih dulu mendarat di perut Randa.
Randa terkapar di tanah, dia memegangi perutnya yang tidak mengenakan pakaian, matanya menoleh kearah Keki dan Yamakoto.
"sial.. sakit sekali..! " batin Randa kesakitan.
Yamakoto memandang Randa, "cih, dasar lemah! " ucapnya remeh.
Keki melirik Yamakoto, "kau yang mengatur pola pikir ku? " tanyanya, tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi terkejut, "jangan-jangan... kau..?! "
Yamakoto tersenyum jahat, "memangnya kau pikir dokter waktu itu siapa? apa kau lupa tentang aku yang sangat menguasai teknik penyamaran..? " ucapnya. "aku memang tidak memiliki talenta seperti mu.. tapi setidaknya aku bisa mengendalikan orang-orang bertalenta untuk rencana ku.. lagipula aku bertarung bukan untuk membuat kehancuran.. aku akan menguasai segalanya.. "
"jadi.. jadi kau dokter waktu itu.. sial.. " Keki terlihat geram, "kalau sudah seperti ini.. sepertinya aku akan membawa mu bersama ku.. " dia mencoba tersenyum.
"memangnya apa yang bisa kau lakukan? " Yamakoto tersenyum, "aku akan merampas batu kristal itu.. pecundang seperti mu tidak pantas mendapatkannya.. "
Crakh..
Yamakoto menekan pedangnya masuk ke perut Keki sampai kandas, kemudian mencabutnya perlahan, darah segar muncrat dengan deras.
"akh...!" Keki memuntahkan seteguk darah, kemudian kedua lututnya jatuh ke tanah.
"paman.! " teriak Randa, wajahnya terlihat sangat sedih.
Utama dan yang lain terkejut, "apa? apa yang terjadi? kenapa mereka saling membunuh? " mereka bertanya-tanya.
Keki sudah tidak berdiri, tapi dia juga tidak tergeletak, dia mengarahkan ujung jarinya kearah Yamakoto.
"matilah.! " ucap Keki sambil tersenyum.
"apa!? " Yamakoto terkejut.
detik selanjutnya, sinar merah melayang lalu menyentuh pedang Yamakoto yang langsung terpotong menjadi dua, kemudian sinar itu mengikis tangan kanannya tepat di bagian otot sampai setengah terpotong, setelah itu Yamakoto melompat menjauh untuk menghindar.
Tap..
Yamakoto mendarat, saat ini dia sudah cukup berjarak dengan Keki, dia memegangi otot tangan kanannya yang penuh dengan darah.
"aku ceroboh.. aku lupa kalau dia belum menggunakan senjata mematikan itu di tiga puluh menit terakhir.. " batin Yamakoto memandang Keki kesal.
__ADS_1
Keki melirik Yamakoto, "padahal sedikit lagi.." batinnya.
Bruuk..
tubuh Keki terjatuh dan tergeletak di tanah dengan tubuh menghadap tanah.
Randa berlari kearah Keki, "paman..! " dia memangku kepala Keki, air matanya kembali menetes. "paman.. kita baru saja bertemu.. kau tidak boleh meninggalkanku.. "
Keki menatap Randa dengan mata berkaca-kaca, "maafkan paman Randa.. aku menyesal... seharusnya sebelum memilih jalan ini.. aku harus melihat hatiku dalam-dalam terlebih dahulu.. aku harus bisa memahami tentang diriku sendiri.. aku..menyesal.. "
Randa terus menangis, "paman.. jangan katakan kau menyesal.. itu tidak ada gunanya.. itu tidak akan merubah apapun.. aku sangat membenci kata itu.. sekarang... tetaplah hidup dan anggap semua ini sebagai pelajaran.. "
Keki mencoba tersenyum, "maaf, Randa.. sepertinya sudah saatnya aku meninggalkan dunia ini.. sekarang menjauhlah..! " dia memegangi luka tusuk di perutnya.
Tap
Yamakoto kembali mendekat, "sebelum kau mati.. serahkan batu kristal itu.. aku berjanji akan menggunakannya lebih hebat dari mu.. " dia tersenyum jahat.
Keki menatap Yamakoto, "cih, aku lebih baik mati daripada harus menuruti penghianat seperti mu.. " kemudian menatap Randa, "Randa, menjauhlah..! "
"tidak! aku tidak akan meninggalkan mu.. " Randa tetap diam ditempat.
Yamakoto tersenyum jahat, "memangnya apa yang bisa kau lakukan? apa kau akan menyuruh ku untuk menunggu selama tiga puluh menit? atau kau akan mengeluarkan rudal-rudal mu itu?" ucapnya,"itu tidak akan berguna.. lagipula ledakannya juga semakin lemah.. benarkan, ketua? " dia sangat meremehkan.
Keki tersenyum tipis, "mungkin aku memang sudah tidak bisa bertahan lagi.. tapi aku tidak akan memberikan kristal ini padamu.. aku akan membawanya mati bersama ku.. " kemudian menekan salah satu tombol di dadanya.
setelah itu, tiba-tiba asap tipis mulai muncul dan menutupi tubuh Keki bersama hawa panas.
Yamakoto terkejut, "apa... apa yang kau lakukan dasar sialan..? apa kau akan meledakkan tubuhmu dan menghancurkan batu kristal itu! " teriaknya geram.
"hehehe.. " Keki tertawa kecil, "ucapan mu sedikit salah.. aku yang paling tahu tentang batu kristal ini... selain bisa membuat orang melayang seperti burung.. dia memiliki daya ledak cukup dahsyat.. aku akan meledakkannya walaupun tubuhku hancur tidak tersisa.. hahaha...! " kemudian tertawa.
Yamakoto semakin terlihat geram, "sialan kau.. berani-beraninya kau mempermainkan ku.. " dia mengeluarkan pedangnya.
"sudah terlambat.. aku sudah menduga bahwa suatu saat kau akan menusukku dari belakang... untuk jaga jaga aku sudah mempersiapkan semua ini. " Keki tersenyum, kemudian menoleh Randa, "Randa.. pergilah..biarkan paman pergi dengan tenang.. jika kau tetap disini.. hidup mu akan berakhir.. bukankah masih ada orang yang ingin kau lindungi.. " ucapnya pelan.
"kenapa paman? kenapa.? " tangis Randa semakin menjadi, "baiklah paman.. aku masih ingin bertahan hidup.. aku berjanji akan melindungi semua orang dengan kekuatan ku.. " ucapnya, sementara Keki membalas dengan senyuman.
Randa melepas Keki dari pangkuannya, kemudian berlari mengambil baju besinya, "aku masih membutuhkan ini.. ya, ini membuat ku sedikit tidak pecundang.. " setelah itu menuju Utama dan yang lain.
Yamakoto mencoba mendekati Keki, sepertinya dia sangat geram dan ingin menebas tubuh Keki berkali-kali, "sial.. asap ini.. gawat! sepertinya sudah tidak ada waktu lagi.. " tiba-tiba dia berbalik arah dan menjauh.
Keki tersenyum, "ada apa? teruslah mendekat.. " asap semakin tebal menutupinya.
"ada apa Randa? apa yang terjadi? kenapa banyak sekali asap? " begitu Randa mendekat, Hajime langsung menyambut dengan pertanyaan.
"sudah tidak ada waktu untuk menjawab itu, sekarang.. " jawab Randa, "ayo pergi..! " teriaknya kemudian berlari.
__ADS_1
Utama dan Hajime serta Hiro dan Jiro mengikuti langkah Randa, sepertinya mereka sudah mengerti apa yang terjadi.
Randa terus berlari, "kita harus segera menjauh.. tempat ini akan meledak.. " ucapnya.
"jadi..dia berniat meledakkan diri, ya.. " ucap Hajime, setelah itu dia melihat Yamakoto yang sedang berlari menjauh, namun berbeda arah, "lalu.. apa kita akan membiarkan dia bebas..? "
semua orang menghentikan langkah, "kita harus membunuhnya.. dia yang terakhir.. " ucap Hiro lalu mengejar Yamakoto dari belakang, yang lainnya pun ikut menyusul.
Zuuuoooorr...
tepat di saat itu, ledakan dahsyat pun terjadi, ledakan itu semakin memperluas kehancuran, gedung-gedung yang cukup jauh pun ikut remuk dan menyisakan puing-puing. walaupun jaraknya cukup jauh, tapi Utama dan yang lain tetap terhempas terkena gelombang ledakan itu, mereka terjatuh dan tergeletak, setelah itu debu dan asap datang menutupi pandangan bersama hawa panas yang sedih menyiksa.
Randa tergeletak menatap langit, tapi pandangannya tertutup asap dan debu, dia memejamkan matanya, "maafkan aku paman.. aku tidak bisa menyelamatkan mu.." batinnya, bulir air mata kembali menetes dari sudut matanya.
setelah cukup lama dalam situasi seperti itu, semuanya kembali normal, asap dan debu mulai menipis, semua orang bisa saling melihat walau tidak sejelas biasanya.
"uhuk.. uhuk..! " Hajime terbatuk, dia mencoba bangkit kembali.
beberapa saat kemudian, Utama dan yang lain sudah berdiri, didepan mereka terlihat Yamakoto juga baru bangkit dari jatuhnya, dia menoleh kearah Utama dan lainnya yang berada di belakangnya.
Yamakoto tersenyum jahat, "hehehe.. ternyata dia lebih memilih mati, ya.. padahal aku sangat membutuhkan batu kristal itu..mungkin baginya ini adalah jalan yang terbaik.. "
Utama, Hajime, Randa, Hiro dan Jiro menyusun barisan, mereka menatap Yamakoto dan mulai bersiap.
Randa melangkah, "kau yang menyebabkan paman ku tewas.. kau harus membayarnya.! " dia berteriak, saat ini dia sudah mengenakan baju besinya.
Hiro melirik Randa, "kau! hati-hatilah.. dia sangat hebat menggunakan pedang..aku yakin dibalik jubahnya banyak senjata mematikan.. " ucapnya datar.
Randa tidak perduli, dia melesat kearah Yamakoto dengan tubuh melayang, "akan ku habisi kau, dasar sialan! " sambil berteriak.
Yamakoto tersenyum jahat, "mendekat dan tunjukkan kekuatan mu! " dia berteriak penuh semangat.
Randa sudah berada di depan Yamakoto, dia mengepal tinjunya dengan sangat erat, kemudian mengarahkan pukulan kearah wajah lawan sambil berteriak keras.
Yamakoto terlihat sangat tenang, dia hanya melirik tinju Randa, "lambat sekali.. "
saat tinju Randa sudah sangat dekat dengan pipinya, Yamakoto mengayunkan kakinya dengan cepat.
Baamm...
tendangan keras Yamakoto menghantam perut Randa yang langsung memuntahkan darah, matanya melotot sampai bola matanya hampir keluar, tubuhnya seperti hampir putus dibagian perut.
Braakk..
setelah itu, tubuh Randa terhempas jauh, berguling-guling dan menghantam puing-puing, lalu tergeletak lemah.
Randa mencoba mengangkat tubuhnya namun tidak bisa, dia menoleh kearah Yamakoto yang sudah berjarak dengannya, "sial.. sakit sekali.." batinnya sambil memegangi perutnya, "akh..! " dia kembali memuntahkan darah, setelah itu kesadarannya mulai menghilang dan akhirnya pingsan.
__ADS_1
Utama dan yang lainnya terkejut melihat itu, mereka semakin waspada dengan kondisi tubuh yang ikut memasang kuda-kuda.
Yamakoto berjalan perlahan kearah Utama dan yang lainnya, "satu sudah selesai.. apa ada lagi yang berani maju? " dia tersenyum jahat, kemudian menoleh kearah Randa, "seandainya batu kristal milik anak itu berwarna merah.. cih, sayangnya itu berwarna putih.. lemah sekali.. "