
"paman! " Hajime mendekati lalu memangku kepala Arya.
Utama menatap Artan, "menyerang saat lawan sedang berbicara, ya.. sepertinya kau tidak memiliki keberanian untuk menghadapi ku secara terang-terangan. " ucapnya datar.
Artan tersenyum jahat, "aku hanya membalas perlakuan mu tadi. "
Utama menoleh Arya yang dalam pangkuan Hajime, "seharusnya kau tidak perlu memikirkan ku.. serangan seperti itu tidak akan berguna padaku. " ucapnya datar, dia tidak terlihat bersedih.
Hajime melirik Utama, "apa-apaan wajahnya itu? padahal orang ini mengorbankan diri untuknya, tapi dia malah bersikap menjengkelkan. " batinnya dengan wajah kesal.
"uhuk.. uhuk! " Arya memuntahkan darah, sepertinya luka tusuk itu berakibat fatal.
"bertahanlah paman! aku akan membawa mu pergi dari sini! " teriak Hajime.
Arya mencoba tersenyum, "tenang saja.. aku tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini. "
disisi lain, Black Rose yang memandang dari kejauhan mulai tersenyum, sepertinya mereka menikmati pemandangan ini.
berbeda dengan Yamakoto, wajahnya terlihat kesal, "sialan, Artan membunuhnya terlalu cepat.. aku harus bergerak sekarang! " batinnya.
Yamakoto berjalan kearah Utama dan yang lain, sementara Keki dan yang lain melirik Yamakoto dengan mata tajam.
Tap
Yamakoto berjalan melewati Artan, kemudian berhenti dengan jarak cukup dekat dengan Utama dan yang lain.
Yamakoto menatap Arya, "penghianat seperti mu memang pantas mendapatkan ini.. sebelum kau mati.. serahkan semua barang berharga yang ada padamu.. termasuk kristal putih itu. " walaupun matanya tertutup kacamata, tapi dengan jarak sedekat ini cukup untuk melihat jelas sorot mata tajamnya.
Arya tersenyum, "hehehe.. jangan berharap kau bisa mendapatkannya!" dia berucap sambil tertawa.
Artan melirik Yamakoto, " dia mengetahui banyak tentang Arya.. tapi dia malah merahasiakannya.. dasar sialan! " batinnya terlihat kesal.
Arya memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, "aku..sebelum aku membunuh sebagian dari kalian.. aku tidak akan mati dengan tenang. " dia tersenyum walau sambil menahan rasa sakit.
sesaat kemudian, ditangan Arya terdapat cairan berwarna biru tua, semua orang terkejut melihatnya.
"apa.. apa paman akan merubah diri menjadi monster!? " Hiro terkejut.
Yamakoto terkejut, "itu.. Jangan-jangan!? " dia kemudian berlari mendekati Arya.
"terlambat! " Arya menyuntikkan cairan itu di pahanya sambil tersenyum.
Yamakoto menghentikan langkah, "gawat.. aku tidak tahu jenis formula itu.. tapi sepertinya ini akan merepotkan! " batinnya.
Arya menatap Hajime yang masih memangku kepalanya, "minggirlah..!"
"paman.. kenapa paman menyuntikkan cairan itu!? apa yang akan terjadi!? " Hajime berteriak panik.
Arya tersenyum, "tenang saja.. aku tidak akan melukai kalian. "
sesaat setelah itu, Arya bereaksi kesakitan, dia berteriak, perlahan tubuhnya mulai berubah menjadi monster, asap tipis keluar dari sekujur tubuhnya pertanda hawa panas. hanya saja ini sedikit lebih lama.
"aakh..! " Arya terus berteriak.
Arya melirik kearah Utama dan yang lain, "menjauhlah!" sepertinya dia masih setengah sadar.
Utama dan yang lain saling pandang, kemudian mundur beberapa langkah.
Yamakoto melihat perubahan tubuh Arya yang cukup menakutkan, kemudian melirik Artan, "Artan! serang dia sekarang! " teriaknya.
"baiklah! " Artan terlihat serius.
Artan melesatkan senjatanya kearah Arya yang terus berteriak kesakitan.
__ADS_1
Baamm..
tubuh Arya terkena serangan Artan, ujung senjata itu menancap di pinggang Arya.
Artan tersenyum, "aku tidak tahu kau ini jenis monster apa! tapi aku akan bersenang-senang! " dia berteriak.
Artan mencabut senjatanya dari tubuh Arya, namun dia melihat sesuatu yang tidak terduga.
Cssss...
saat itu juga, tubuh Arya kembali membaik, setiap bagian daging yang hilang kembali tumbuh dan menyatu dengan hiasan asap putih tipis.
"apa!? regenerasi!? " Yamakoto terkejut.
Utama dan yang lain juga terkejut, "gawat! jika monster ini tidak terkendali, kita juga akan kerepotan! " ucap Hiro.
Arya terus berteriak sambil meronta, semakin lama tubuhnya tidak terlihat karena tertutup debu yang mulai berterbangan.
sesaat setelah itu, debu dan asap mulai menghilang dari tubuh Arya, disitu terlihat sosok monster berwarna merah kehitaman yang sangat mengerikan dengan cakar dan taring panjang, tingginya sekitar tiga meter dengan gaya berdiri seperti manusia namun dengan tangan yang panjang.
"hosh..! " dari hidung dan mulut monster mengerikan itu keluar asap putih yang tipis, dia menatap Yamakoto dan Artan.
"ayo menjauh! " Hajime berteriak, sepertinya dia juga takut melihat monster ini.
Wuushh...
belum sempat Hajime dan yang lain bergerak, tiba-tiba monster itu melesat dan tidak terlihat, di tempat monster itu berpijak sebelumnya terlihat debu beterbangan dengan bentuk melingkar.
"apa!? " Yamakoto juga terkejut, jubahnya beterbangan tertiup angin yang sangat kencang, "apa itu tadi!? " sepertinya dia merasakan sesuatu yang baru saja melewatinya namun tidak menyentuhnya.
Tap
tiba-tiba monster itu sudah berdiri didepan Artan, dia siap menyambar dengan cakaran.
"apa!? cepat sekali!? " Artan terkejut dengan wajah ketakutan, dia mulai bersiap menyerang.
Baamm...
Yamakoto terkejut dan menoleh kebelakang, "sial! monster ini cepat sekali! " dia melihat Artan yang masih melayang karena terkena serangan monster itu.
Artan masih terhempas di udara, "sial, padahal Yamakoto berada di depan ku.. kenapa aku yang diserang? dan juga anak-anak itu.. " batinnya, di dagunya terdapat bekas cakaran monster itu dan mengucur darah.
Utama memandang monster Arya, "kenapa dia tidak menyerang kita? apa mungkin dia masih terkendali.? " tanyanya datar.
"entahlah, tapi sepertinya itu mustahil! " jawab Hajime.
Yamakoto memandang Arya yang sudah menjadi monster, "Arya sialan! selama ini aku terlalu meremehkannya.. lagipula siapa yang menyangka pecundang seperti dia mampu melakukan hal gila ini? " batinnya.
Arya memandang kearah Keki dan yang lain, kemudian melesat cepat dan siap menghancurkan.
"dia datang! " Keki berteriak dan yang lain mulai bersiap.
"akan ku urus dia!" Toyo melesat mencoba menghalau Arya.
dengan sangat cepat, monster itu melewati Toyo, dia terus melesat kearah Keki dan yang lain.
Toyo terkejut, "dia.. melewati ku..? tapi kenapa dia tidak menyerang ku? "
"cepatnya.. " Miyu juga tersentak, dia melompat jauh untuk menghindar.
"Felisa! cepat menjauh! " Keki berteriak sambil melayangkan tubuhnya ke udara.
Felisa melesat mundur, "sial, aku tidak menyangka Arya mampu menciptakan hal gila ini. " gumamnya dengan gigi atas dan bawah yang beradu.
__ADS_1
Baamm...
tempat Felisa berpijak sebelumnya hancur berantakan, serangan dari monster itu cukup menakutkan.
mata monster itu mengarah ke Felisa, kemudian berteriak memperlihatkan keganasan, lalu kembali melesat dengan cepat.
Felisa menggertakkan giginya, "apa ini!? kenapa monster ini hanya mengincar ku? " dia terlihat kesal.
Felisa terus menghindari serangan monster itu, namun monster itu seperti tidak ingin memberi jarak, dia terus menyambar dan terus menyambar.
Keki memandang dari atas, kemudian mengarahkan rudal kearah monster itu dari titik buta.
Baamm..
monster itu tidak menyadari, rudal itu meledak tepat ditubuhnya dan asap tebal muncul dan menutupi pandangan semua orang.
sesaat kemudian, saat asap itu mulai menipis, terlihat samar-samar sosok monster yang masih berdiri kokoh, sebagian tubuhnya hancur, namun langsung kembali seperti semula.
Keki menurunkan kedua alisnya, "regenerasi, ya.. aku tidak menyangka dia mampu menciptakan hal semacam ini. " gumamnya.
monster Arya kembali menatap Felisa, lalu melesat cepat sambil mengeluarkan cakaran.
Felisa terus menghindar, kali ini dia mendekati Miyu, tapi monster itu terus menyerangnya.
Traang...
tiba-tiba Artan muncul dari atas dan langsung menyerang monster itu, namun meleset dan senjatanya menancap di tanah.
monster itu menoleh Artan sambil berteriak, lalu menyambar Artan yang langsung menahan dengan senjatanya yang lain.
berkali-kali Artan mendaratkan serangan ditubuh monster itu dengan menusuk, namun tubuh monster itu kembali seperti semula, sementara serangan monster itu cukup banyak melukainya, semakin lama dia semakin lelah.
"sial! aku tidak tahu harus bagaimana?! " dia terlihat kesal.
Felisa mendekati Miyu, "sial, sebenarnya Arya punya dendam apa padaku? " dia masih terengah-engah.
Miyu tersenyum, "aku sudah mengerti kenapa kalian berdua yang terus diserang.. jarum yang disuntikkan di tubuhmu dan Artan tadi mengandung cairan pemikat khusus untuk monster itu.. sepertinya Arya sudah mempersiapkan semuanya. "
Felisa terkejut, "maksudmu jarum yang disuntikkan oleh anak-anak itu!?..jika benar begitu.. bukankah seharusnya kau juga terkena suntikan itu? "
Miyu tersenyum, "kau benar! tapi sebelum itu tubuhku sudah disuntikkan cairan penangkal agar monster yang ku ciptakan tidak menyerang ku. "
"lalu.. apa kau masih punya cairan penangkal itu.? " tanya Felisa.
"aku tidak memilikinya lagi, aku tidak tahu akan ada kejadian seperti ini.. lagipula seharusnya hanya dengan mendekati ku saja semua jenis monster itu akan menjauh. " ucap Miyu, "tapi sepertinya cairan milik Arya sudah menetralisir cairan penangkal yang ada ditubuh ku.. tidak! itu juga belum pasti..aku menyuntikkan cairan penangkal dengan dosis tinggi."
Toyo menguping pembicaraan Miyu dan Felisa, "jadi begitu, ya.. untung saja aku tidak terkena jarum itu. "
Utama dan yang lain memandangi pertempuran yang terjadi, mereka juga terlihat sangat serius.
Hajime melirik Hiro, "apa kau juga menyadarinya? "
"ya, yang diserang monster tersebut hanyalah orang yang terkena jarum tadi." jawabnya.
Hajime tersenyum, "jadi begitu, ya.. monster paman Arya tidak akan menyerang selain orang yang sudah disuntikkan cairan tadi.. ternyata dia tidak ingin membuat kita repot.."
Hiro tersenyum, "kau benar! dia sangat pintar! "
"lalu bagaimana dengan wanita itu? bukankah dia juga terkena jarum tadi. " tanya Jiro sambil menunjuk Miyu.
Hajime tersenyum, "sepertinya dia memiliki sedikit keberuntungan. "
Jiro bersemangat, "kalau begitu.. ini adalah saat yang tepat untuk kita menyerang balik. " dia tersenyum.
__ADS_1
Utama menoleh Hajime, "dan satu lagi.. sepertinya monster itu memiliki kemampuan regenerasi.. dan menurutku itu adalah bagian terhebatnya.. "
disisi lain, Yamakoto masih berada cukup dekat dengan Utama dan yang lain, "Arya memang cerdas..dia sengaja menciptakan formula itu untuk menghadapi kami tanpa harus menanggung resiko karena tidak terkendali..jika seandainya aku bisa mengendalikan pola pikirnya.. mungkin aku sudah mencapai tujuanku.. " batinnya.