
Utama dan lainnya kembali mengalihkan perhatian ke Keki yang saat ini juga memandang mereka dengan ekspresi gelap, mereka pun saling tatap.
Randa memperhatikan Keki dengan seksama, dia terlihat sangat serius.
"ada apa? apa kau mengenalnya? " Hajime menoleh Randa dan bertanya.
Randa sedikit kaget dan menoleh, "tidak! aku hanya berpikir dia mirip dengan orang yang kukenal.. hanya saja dia tidak berambut putih. " jawabnya agak lama, "lagipula.. orang itu tidak mungkin melakukan kekacauan seperti ini. "
Keki menatap Randa yang wajahnya tidak jelas terlihat, "aku tidak tahu siapa kau.. kalau sudah berani menyerang ku.. itu artinya kau sudah bosan hidup! " dia berteriak dengan wajah mencekam.
Keki mengarahkan telapak tangannya kearah Randa, seketika sebuah rudal melesat cepat.
"matilah! " Keki berteriak.
rudal itu memang melesat kearah Randa, namun itu cukup memaksa Utama dan yang lain untuk bergerak menghindar.
"Randa! menghindar! " teriak Hajime.
Boommm...
ledakan terjadi, namun skalanya semakin kecil, tapi itu cukup untuk membuat kehancuran dan asap mengepul yang menutupi pandangan.
Utama dan Hajime serta Hiro, Jiro memandang bekas ledakan itu sambil menutupi wajah mereka dari debu yang menerpa mata.
"Randa?! apa dia terkena ledakan itu?! " Hajime terlihat sangat cemas.
"entahlah, aku juga tidak melihat kapan dia bergerak. " jawab Utama datar.
"sepertinya dia memang terkena ledakan itu. " sahut Hiro.
"salah dia karena terlalu lambat.! " lanjut Jiro meremehkan.
Utama dan yang lain terus menatap bekas ledakan itu namun asap dan debu masih menutupi pandangan mereka, sepertinya mereka semua berpikir bahwa Randa sudah tewas dan terkapar di balik kepulan asap itu.
Tap..
tepat di saat itu, tiba-tiba Randa mendarat di belakang Utama dan yang lain berpijak, dia berjongkok dengan wajah menatap tanah.
semua orang tersentak, mereka menoleh kebelakang secara perlahan.
"cepatnya..?! " batin Utama.
Hajime juga terkejut, "kau.. sejak kapan?! " ucapnya.
"dia memang sangat cepat.. aku bahkan tidak melihat kapan dia bergerak.! " batin Hiro memandang Randa tidak percaya.
"cih, sepertinya dia memang berbeda dari yang sebelumnya. " batin Jiro terlihat kesal.
Keki memandang Randa, "cih, jadi anak itu bisa melayang seperti ku, ya..sepertinya Arya yang sudah memberikan kemampuan ini pada anak itu..tapi sepertinya dia juga belum terlalu terbiasa. " dia tersenyum.
"hey, anak berjaket hitam! aku akan terlebih dahulu membunuhmu! kemampuan mu itu hanyalah tiruan, akulah yang menciptakan itu! " Keki berteriak sambil menunjuk Randa.
Randa masih berjongkok dan memandang bawah, wajahnya tidak terlihat dan tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang.
"baiklah.. karena orang itu ingin membunuh ku lebih dulu.. aku yang akan menghabisinya.. ini untuk paman Arya. " ucap Randa terdengar dalam.
Hajime tertegun, "apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan? dia adalah ketua Black Rose dan tentunya sangat kuat. " ucapnya datar.
"aku tahu itu.! " jawab Randa cepat, namun kepalanya masih tertunduk, "selama ini aku berpikir ingin bertarung bersama dengan kalian berdua.. tapi hari ini aku belajar.. pertarungan yang kalian lakukan sangat gila, jika tidak memiliki kekuatan.. aku hanya akan jadi pengganggu! aku tidak sebanding dengan kalian! sekarang.. aku sudah mempunyai kekuatan walau itu masih belum sebanding dengan kalian.. aku akan bertarung dan terus bertarung! " Randa berteriak diujung perkataannya.
Utama memandang Randa yang tidak memperlihatkan wajahnya, "Randa.. kau.. "
"orewa.. " Randa masih tertunduk, "orewa... " kemudian mulai berdiri, "orewa ninja dattebayo! " akhirnya dia memperlihatkan wajahnya yang ternyata tersenyum lepas dan penuh semangat.
Hiro menghela nafas, "aku pikir dia tadi bersedih, ternyata.. membuat kecewa saja.! " ucapnya dengan nada kesal.
Hajime melirik Randa, "dia bicara apa? " dia terlihat kesal.
"sepertinya dia hanya asal bicara. " jawab Utama datar.
Randa berjalan beberapa langkah, kemudian berdiri di barisan terdepan, sementara yang lainnya berada di belakangnya.
Randa menatap Keki dan bersiap, "ikuzo..! " kemudian berlari.
"ganbare ganbare, Randa! " tiba-tiba Utama dan Hajime berteriak bersamaan sambil mengangkat tangannya.
"nani..?! " Utama terkejut dan menoleh kearah Utama dan Hajime, langkah kakinya juga terhenti.
"Utama, Hajime! diam-diam ternyata kalian wibu.. " ucap Randa.
"tidak! kami tidak wibu. " jawab Hajime.
"bukankah kalian juga menonton naruto? " tanya Randa terlihat mengejek.
__ADS_1
"hanya beberapa episode saja." jawab Utama datar.
"itu tetap saja. " ucap Randa, "oi, Kiyomasha.?! "
"nande, nande? " sahut Utama dan Hajime bersamaan.
"hahaha, ternyata memang benar.! " Randa tertawa lepas.
Hiro dan Jiro terbodoh melihat itu, mereka saling pandang dengan ekspresi rumit.
"ternyata mereka memang bodoh. " bisik Jiro.
"kau benar! mereka sangat kekanak-kanakan. " sahut Hiro juga berbisik.
Randa kembali menatap Keki, "baiklah, aku datang! " kemudian melesat cepat.
Keki tersenyum jahat, "aku memang sudah menunggu mu! " teriaknya.
Randa dan Keki saling serang, mereka beradu cepat dan kuat, namun saat ini mereka melayang dan bertarung di udara.
"hebat! dia mampu mengimbangi orang itu! " Jiro terkejut dengan pandangan keatas.
"tidak! Randa masih kalah cepat! kita harus membantunya! " ucap Hajime.
di suatu kesempatan, Keki berhasil melepaskan sebuah pukulan yang mendarat di perut Randa, detik selanjutnya Randa terlempar mengarah bumi.
saat hampir menyentuh tanah, Randa berhasil mengembalikan keseimbangannya, kemudian kembali menyerang lawannya.
"dasar keras kepala! " Keki kembali menerjang Randa.
"matilah, dasar sialan! " Randa berteriak sambil mempersiapkan tinjunya yang dilapisi sarung tangan besi.
Baamm..
telapak kaki Keki beradu dengan tinju Randa, keduanya dilapisi dengan besi, sesaat kemudian Randa terhempas kearah bumi, sepertinya dia kalah kekuatan.
Baamm..
walaupun Randa sudah berusaha mengembalikan keseimbangannya, dia tetap membentur bumi, namun itu tidak terlalu keras.
Randa tergeletak di tanah, "sial.. sakit sekali.. jika tubuh ku tidak dilapisi dengan baju besi.. mungkin tulang ku sudah patah patah.. " dia mencoba bangkit sambil menahan rasa sakit, "jadi ini... rasa sakit saat bertarung.. jadi ini sakit yang selama ini dirasakan Utama dan Hajime.. " batinnya.
Utama dan yang lain mendekati Randa, "bagaimana, apa kau butuh bantuan?" tanya Utama datar.
Hajime melirik Randa kesal, "seserius ini?! memangnya kau pernah bertarung selain ini? " ucapnya cepat.
"hehehe, kenapa kau melirik ku seperti itu? " Randa cengengesan.
Hiro menatap Randa, "kau bisa melayang seperti dia, seharusnya kau tahu apa kelemahannya. " ucapnya datar.
"aku bisa melayang karena sebuah batu kristal..paman Arya mengatakan orang itu juga menggunakan batu itu.. ya, setidaknya memang itu kebenarannya. " jawab Randa serius.
"batu kristal.?! " Utama dan yang bertanya bersamaan.
"ya, batu kristal. " jawab Randa, "awalnya aku juga tidak percaya dan tidak tahu kegunaannya.. tapi setelah batu itu ku simpan di tubuhku dan tidak terkena udara maupun cahaya.. tubuh ku mulai melayang. "
Hajime terkejut, "jadi, maksudmu.. batu itu bisa menyerap massa ditubuh kita ketika tidak terkena cahaya maupun udara..? "
"itu kemungkinan pertamanya. " sahut Utama, "tapi sepertinya batu itu menolak gravitasi bumi... jika batu itu mampu membuat tubuh mu melayang.. lalu bagaimana cara kau bergerak kesana-kemari.? " dia menatap Randa.
Randa menatap Utama, "kau benar! seperti seseorang yang sedang berada di laut tenang.. orang itu membutuhkan pelampung untuk tetap mengapung, tapi dia juga membutuhkan sebuah dorongan untuk bergerak bebas dan akhirnya menggunakan tangannya sebagai pendayung.. aku menggunakan ini untuk mendorong tubuhku.. " Randa memperlihatkan telapak tangannya yang dilapisi besi, disitu terlihat sebuah lubang kecil yang menghembuskan angin kencang.
"ini..?! " semua orang terkejut.
"hey, kenapa kalian lama sekali? aku sudah bosan menunggu.! " tiba-tiba Keki berteriak, "apa kalian terlalu takut untuk berhadapan dengan ku?"
Utama dan yang lain menoleh kearah Keki, "jadi dia juga menggunakan dorongan angin itu untuk bergerak, ya. " ucap Utama datar.
"tapi.. bukankah dari telapak tangannya itu biasanya rudal melesat? bagaimana mungkin keduanya berasal dari tempat bersamaan? " tanya Hajime.
"itu artinya.. " Randa tersenyum, "dia tidak bisa menyerang dengan rudal ketika bergerak.. " dia terlihat bersemangat, "tidak! tidak! dia memiliki dua tangan.. kita harus memikirkan cara lain! " wajahnya terlihat suram.
"satu-satunya cara.. " Utama memandang Keki, "kita harus menghancurkan batu kristal ditubuhnya.. jika dia tidak melayang lagi.. aku pastikan bisa mengalahkannya dengan mudah. " ucapnya datar.
"yosh.. kalau begitu kita hancurkan kristal itu! aku yakin itu berada di balik baju besinya itu! " Randa mulai bersiap.
Hajime tersenyum, "hehe, akhirnya kita bisa bertarung bersama, ya.. kalau begitu, ayo kita selesaikan semua ini! " dia penuh semangat.
Hiro dan Jiro terdiam sejenak, mereka terus memandang Utama, Hajime dan Randa dari belakang.
"maaf, kami tidak bisa membantu, kami tidak bisa menjangkaunya. " ucap Hiro.
"kau tidak perlu berkata seperti itu! kalah atau menang kita juga tidak mendapat untung. " Jiro tetap cuek.
__ADS_1
Utama masih memandang Keki yang berada di atasnya, "Randa, buat pengalihan, jika ada kesempatan kau boleh menyerangnya! " Utama melirik Hajime, "kau, Hajime! lindungi Randa setiap kali dalam bahaya, untuk saat ini dia belum terlalu terbiasa dengan kemampuannya. "
"lalu kau.. apa kau akan mengatur saja?! " Hajime terlihat kesal, sepertinya dia tidak terima diatur oleh Utama.
Utama tidak menoleh, "aku, ya.. aku akan menghancurkannya jika ada kesempatan. "
Utama mulai bersiap, saat ini dia berada di tengah, sementara Hajime dan Randa berada di sisi kiri dan kanannya.
"ayo maju! " mereka mulai bergerak.
"jadi kalian pikir bisa mengalahkan ku hanya karena menambah jumlah, ya.. " Keki tersenyum jahat, "ayo mulai! "
pertarungan kembali dimulai, Randa terus menjadi pengalihan, sementara Hajime selalu melindungi Randa saat terdesak, disisi lain Utama selalu menyerang dari arah yang tidak terduga, untuk sesaat pertarungan terlihat seimbang.
sesaat kemudian, Utama dan Hajime mengambil posisi tinggi, mereka berdiri di atas sebuah gedung, mereka menatap Keki dari jarak cukup dekat, sementara Randa tetap melayang di udara.
"hosh.. hosh..! " disitu terlihat Hajime dan Randa terengah-engah, Hajime memang sudah kehabisan tenaga, sementara Randa belum terbiasa dengan pertarungan.
"sial, aku sangat lelah.. kita bertarung sudah terlalu lama. " Hajime terlihat kesal.
Utama melirik Hajime, "benar.. saat aku bertarung dengan dia.. setelah berubah menjadi serigala.. dia akan kehabisan tenaga.. " batinnya.
Utama menoleh Randa, "bagaimana dengan kau? " tanyanya datar.
Randa mencoba tersenyum, "aku tidak apa-apa..aku masih bisa bertarung.." ucapnya terlihat memaksa.
"begitu, ya.. " ucap Utama datar, "baiklah teman-teman.. kita lakukan sekali lagi, aku yakin kali ini pasti berhasil. "
Keki memandang Utama dan yang lain, "hahaha, kalian terlalu gigih.. tapi itu malah membuat ku tertawa. " dia tertawa.
Randa melesat kearah Keki, "tutup mulut mu! " dia sambil mengarahkan tinju.
tinju Randa hampir menyentuh Keki, namun Keki menghindar dan Randa melewati Keki kebelakang.
"matilah! " Keki mengarahkan telapak tangannya.
"gawat! " Randa mencoba bergerak namun sepertinya terlambat.
disaat bersamaan, Hajime melompat mencoba menjangkau Randa, dia berhasil menangkap Randa dan terus menjauh. detik selanjutnya,sebuah rudal melesat kearah Randa berada sebelumnya, dan itu berada tepat dibelakang Hajime dan Randa yang saat ini masih berada di udara.
Hajime melirik kebelakang, "cih, hampir saja! " batinnya.
Tap
Hajime kembali mendarat di gedung, saat ini Randa sedang di papahnya.
"sialan, padahal wanita selain Shinta, aku saja malas mengangkatnya seperti ini.. kenapa sekarang malah kau yang laki-laki?! " Hajime terlihat kesal lalu melemparkan Randa ke permukaan gedung.
"aduh..! " Randa berteriak, "kenapa kau melempar ku?! "
Keki menatap Hajime dan Randa, "sial, padahal tinggal sedikit lagi. " dia terlihat kesal.
"apa yang kau lihat?! " tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari atas Keki, itu terdengar sangat dekat dan tidak asing.
Keki tersentak, "jangan-jangan.. anak yang satu lagi.?! " kemudian menoleh keatas.
"matilah! "
Baaammm...
pukulan dahsyat Utama langsung menyambut, pukulan itu mendarat di punggung Keki yang langsung terpental kearah bumi dengan tubuh menghadap tanah.
"akh..! sial..! " Keki mencoba mengembalikan keseimbangannya namun tidak bisa, tapi itu sedikit mengurangi kecepatan terhempasnya.
"masih belum! " belum lagi Keki menyentuh tanah, Randa menunggu dibawah dengan tinjunya.
"sial.. ! " Keki semakin terdesak, dia mencoba menghindar dari tinju Randa.
Baaammm..
tinju Randa menghantam pelipis Keki, seketika kacamata hijau Keki hancur berkeping-keping. setelah itu, tubuhnya membentur tanah, namun tidak terlalu keras karena sempat dihalau tinju Randa.
"akh..! " Randa berteriak kesakitan dan terpental, sepertinya Keki juga berhasil mendaratkan suatu serangan.
setelah cukup lama terbaring, Randa dan Keki kembali berdiri, mereka saling pandang dan...
Randa tersentak, "paman..?! " sepertinya dia mengenali orang yang menjadi lawannya.
Keki terkejut, "kau..?! "
Randa menarik tutup kepala dari jaketnya keatas,kepala dan rambutnya terlihat jelas, kemudian menurunkan masker hitamnya yang membuat orang semakin sulit untuk mengenalnya, kini tidak ada lagi yang menutupi wajahnya.
"Randa...?! " Keki semakin terkejut, sepertinya mereka saling kenal.
__ADS_1