
pertarungan masih terus berlanjut, sejauh ini belum ada yang berhasil mencabut nyawa musuh dari kedua belah pihak.
Miyu terus menghalau Arya yang sudah menjadi monster, sementara monster itu dengan mudah melewatinya.
monster itu melesat kearah Felisa yang sudah dikeroyok oleh Hiro dan Jiro, pertarungan tiga lawan satupun terjadi.
Keki memandang Felisa yang sudah terkepung, kemudian mengarahkan telapak tangannya yang diikuti dengan lesatan rudal.
Hiro dan Jiro menyadari itu, keduanya menjauh untuk menghindari ledakan itu.
Boomm...
ledakan dahsyat terjadi dan menghempas tempat sekeliling, api melebar dan asap menutupi tempat itu, sepertinya monster itu dan Felisa terkena ledakan itu.
whusshh...
ledakan itu menciptakan angin kencang yang menerpa sekeliling, Hiro dan Jiro menutupi wajahnya dari debu yang beterbangan.
Tap
"uhuk.. uhuk! " tiba-tiba Felisa mendarat dan terbatuk batuk, dia berhasil selamat namun sepertinya reaksinya sedikit terlambat.
Hiro menatap Felisa yang berjarak cukup dekat dengan Jiro, namun debu sedikit menutupi pandangan mereka.
"Jiro, sekarang! " Hiro berteriak.
Jiro menoleh ke sekeliling, dia melihat Felisa berjarak cukup dekat dengannya, namun sepertinya Felisa belum melihatnya selain menutupi debu dari matanya.
Jiro tersenyum jahat, "baiklah! " dia melesat kearah Felisa. sepertinya dia tidak ingin membuang kesempatan.
gerakan Jiro sangat cepat, seketika dia sudah berada di depan Felisa. dia mengayunkan pedangnya, tapi bukan untuk tebasan, melainkan tusukan yang tertuju ke perut Felisa.
"apa!? " Felisa terkejut melihat Jiro sudah berada di depannya, dia berniat bergerak namun tetap terlambat.
"terlambat! " teriak Jiro.
Ting...
Jiro menusuk perut Felisa dengan sangat ganas, namun hal tidak terduga terjadi, ujung pedang Jiro tidak mampu menembus perut lawannya, yang terdengar hanyalah dentingan besi yang beradu. sepertinya perut Felisa dilapisi dengan besi.
walaupun tusukan itu tidak mampu melukai Felisa, tubuhnya tetap terdorong beberapa meter kebelakang, tapi dia tetap dalam posisi berdiri. seandainya perutnya tidak dilapisi dengan besi, mungkin pedang Jiro menembus perut Felisa sampai pangkal.
"apa!? " Jiro terkejut dan melihat ujung pedangnya yang ternyata tumpul.
Jiro kembali memburu Felisa, "aku tidak perduli dengan baju besi itu! " teriaknya.
Jiro melompat sambil melesatkan tebasan.
Greeb..
tiba-tiba sebuah tangan mencengkram leher Jiro dengan sangat erat, laju tubuhnya terhenti dan menetap di udara.
Jiro tersentak, "apa.. ini!? " dia terlihat ketakutan.
"hahaha, aku akan memperlihatkan kekuatan ku! " Felisa tertawa jahat.
Jiro melirik tangan yang terus mencengkram lehernya, dia melihat ada tali-tali yang cukup besar, tangan itu terhubung dengan lengan Felisa sebelah kanan yang saat ini tidak memiliki tangan.
"jadi ini kemampuan mu, ya.. kau membuat ku takut saja. " Jiro tersenyum, sepertinya sebelumnya dia berpikir tangan tersebut adalah tangan hantu.
tanpa basa-basi, Jiro memotong tali-tali itu dengan pedangnya, seketika tubuhnya terjatuh dan terduduk di tanah.
"uhuk.. uhuk..! " Jiro terbatuk batuk, sepertinya dia tersiksa karena tidak bisa bernafas.
"sial, aku hampir mati karena mainan seperti itu. " Jiro masih memegangi lehernya.
__ADS_1
Felisa menatap tangannya yang sudah terpotong, dia tidak terlihat merasakan sakit, sepertinya tubuhnya sudah banyak dimodifikasi.
dengan mudahnya dan tanpa rasa sakit sedikitpun, Felisa mencabut lengannya sampai batas persendian engsel dan tidak ada darah yang menetes.
"hahaha.. matilah! " Felisa mengarahkan ujung lengannya yang terpotong kearah Jiro yang masih terduduk, sesaat kemudian dari ujung lengannya itu keluar cahaya putih yang sangat menyilaukan. sepertinya benda itu akan mengeluarkan ledakan yang memiliki daya hancur cukup dahsyat.
Jiro ketakutan dan berkeringat dingin, "gawat! " dia mencoba berdiri.
"hahaha! " Felisa terus tertawa.
Zraashh..
"aaakhh..! " tiba-tiba tawa Felisa berubah menjadi jeritan, cahaya putih ditangannya juga menghilang.
Braak..
tubuh Felisa terjatuh dan terkapar dengan wajah menatap tanah, lengannya yang mengeluarkan cahaya putih itu terpisah dengan tubuhnya,tapi kali ini darah muncrat dari pangkal lengannya. mungkin itu penyebab gagalnya serangan yang akan dilancarkannya.
tidak hanya itu, di tubuh bagian belakang Felisa terlihat bekas tebasan menyilang yang terus mengeluarkan darah.
sangat tepat dengan tempat Felisa berdiri sebelumnya, terlihat Hiro berdiri kokoh
menatap tubuh lawannya yang sudah terkapar, di pedangnya masih melekat darah segar yang menetes, sepertinya dia yang baru saja menebas Felisa.
Hiro tersenyum "ternyata benar! besi itu hanya melapisi tubuh depan mu saja. " ucapnya.
Jiro berjalan mendekati Hiro, dia menatap Felisa yang dipikiran mereka sudah menjadi mayat.
"kau memang hebat, Hiro! " puji Jiro.
Hiro membalikkan badannya, "ayo Jiro! " dia mulai melangkah pergi.
disaat itu, Felisa menggerakkan lehernya, dia mencoba melirik Hiro.
"aku kalah.. padahal aku baru saja akan memperlihatkan kemampuan ku.. " batin Felisa.
"aku akan membawa mu mati bersama ku! " Felisa masih bisa berteriak.
"eh!? " Hiro terkejut dan menoleh kebelakang.
sebelum tangan itu mencengkram leher Hiro, Jiro yang masih berada di dekat Felisa memotong lengan wanita itu dengan kejam, dia memotong sampai batas bahu, sekali lagi darah muncrat ke segala arah.
tangan Felisa yang hampir menyentuh Hiro terhenti, sepertinya lengannya itu sudah tidak berguna lagi karena sudah terpisah dengan tubuh Felisa.
saat ini Felisa sangat menyedihkan, dia tidak memiliki kedua tangan sama sekali, dia menatap tanah sambil tersenyum, sepertinya dia mencoba menikmati nafas nafas terakhirnya.
"mati tanpa kedua tangan.. aku rasa itu tidak terlalu buruk.. dari awal aku memang manusia yang cacat. " Felisa tersenyum.
Jiro sepertinya masih belum puas, dia meletakkan ujung pedangnya di tubuh Felisa, "manusia modifikasi seperti mu.. tidak pantas disebut sebagai petarung! " ucapnya kemudian menekankan ujung pedangnya ke tubuh wanita itu sampai tembus ke tanah.
Hiro melihat kelakuan Jiro, "Jiro, kau tidak perlu menyiksanya seperti itu! " ucapnya.
Jiro tersenyum jahat, kemudian mencabut pedangnya yang diikuti dengan cipratan darah, "baiklah, akan ku persingkat penderitaan wanita ini. "
Jiro mengangkat pedangnya tinggi, kemudian mengayunkannya ke bawah dengan sangat cepat.
Zraashh...
tebasan Jiro mendarat di leher Felisa, seketika kepala wanita itu terpisah dari tubuhnya, darah tumpah dan menggenang di tanah.
Jiro tersenyum lepas, "akhir yang menyedihkan! " dia menendang kepala Felisa, kepala itu gelinding seperti bola. saat ini Jiro terlihat sangat kejam dan tidak memiliki rasa belas kasihan.
Hiro tidak bisa berkata apa-apa melihat kekejaman saudaranya, "anak ini benar-benar kejam, mungkin saat ini hatinya sudah membeku. " batinnya.
Miyu tersenyum memandang mayat Felisa, "kau terlalu meremehkan mereka Felisa.. akhirnya kau berakhir sangat menyedihkan! " batinnya.
__ADS_1
Yamakoto memandang Hiro dan Jiro dari kejauhan, "Hiro, kau terlihat begitu dewasa dan mampu menghadapi semua situasi dengan tenang.. dan kau Jiro, siapa yang menyangka kau akan tumbuh menjadi orang yang begitu kejam.. tapi itu yang kuharap kan..! " batinnya sambil tersenyum jahat.
di waktu yang sama dan masih ditempat yang sama, hanya saja cukup berjarak, terlihat Hajime dan Artan terus bertarung. keduanya terlihat sangat kelelahan dan ngos-ngosan dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh.
Hajime tersenyum, "sekuat apapun kau berusaha, jika tujuan mu itu buruk.. kau akan tetap tenggelam dalam kegagalan. "
Artan memperlihatkan wajah bengisnya, "baik dan buruknya seseorang tergantung mata siapa yang memandang.. orang yang tidak mengerti tentang penderitaan seperti mu.. tidak pantas mengatakan seseorang buruk! jika kau berada diposisi ku mungkin kau akan memilih jalan yang sama! " ucapnya, "dimata orang yang penuh penderitaan seperti ku.. orang yang berlagak baik seperti mu lah yang dipandang buruk! " lanjutnya berteriak.
Hajime tersenyum, "berbicara dengan seseorang yang tidak mengerti arti kosakata memang menyebalkan! "
Sraak..
Artan melemparkan jubahnya yang selama ini menutupi tubuhnya, jubah itu terbang diterpa angin. disitu terlihat hampir semua tubuh Artan dilapisi dengan alat-alat modern, hanya leher dan kepalanya yang tidak tertutup logam.
Artan tersenyum jahat dengan iringan angin yang berhembus, "aku tidak perduli dengan kegagalan.. dari awal aku lahir dimuka bumi ini memang sangat menyedihkan.. aku juga berniat mengakhiri hidupku dengan membuat penderitaan bagi orang lain. "
"ayo kita selesaikan semua ini! " ucap Artan sambil mengepalkan tinju yang seolah dia menggenggam sesuatu.
"jika berbicara tidak bisa menyelesaikan masalah.. jalan yang paling sederhana dan singkat adalah baku hantam. " Hajime tersenyum.
Tap
Hajime melesat cepat, saat dia cukup dekat dengan Artan dia melompat sambil menyiapkan tinju untuk meremukkan lawan.
"matilah, dasar sialan! " teriak Hajime, dia terlihat sangat bersemangat.
Artan tersenyum jahat, kemudian dari perutnya yang sudah dimodifikasi itu keluar alat dari besi berwarna hitam berbentuk tangan dengan ukuran besar dan lumayan panjang, hanya saja benda itu memiliki tiga jari dan penghubung dengan tubuhnya itu seperti tali dari logam.
Kraak..
tangan besi itu menangkap Hajime saat masih di udara dan mencengkram Hajime dengan erat.
"hahaha.. berjuanglah! bukankah kau ingin menjadi pahlawan.. bukankah kau ingin menghentikan ku?! " Artan terlihat sangat kejam.
"akh.. sial! " cengkraman tangan besi itu membuat Hajime tidak bisa bergerak dan sangat kesakitan serta memuntahkan darah. "tubuhku.. tulang ku.. seperti patah semua.. "
"ini masih belum seberapa.. aku akan membagi rasa sakit itu padamu! " Artan semakin menggila.
Artan mengayunkan tubuh Hajime ke atas, kemudian membanting tubuh Hajime kebawah sehingga tanah hancur berserakan. Artan terus melakukan hal yang sama, dia terus menyiksa Hajime yang hanya bisa pasrah karena tidak bisa bergerak.
Baamm...
tubuh Hajime terus menghantam tanah, entah sudah berapa kali kepalanya membentur bumi yang langsung remuk.
Hajime memejamkan sebelah matanya pertanda menahan rasa sakit, "sial, akan ku bunuh kau! "
Hajime memejamkan matanya, "sepertinya aku harus memperlihatkan wujud asli ku.. " sepertinya dia berniat untuk menjadi serigala.
tepat disaat itu, monster Arya muncul dan langsung menyambar tubuh Artan dari titik buta. Artan mencoba menghadapi, namun monster itu sangat ganas dan langsung mencabik cabik tubuh Artan.
"sialan! " Artan kewalahan.
Artan semakin melemah, tali penghubung tubuhnya dengan tangan besi yang mencengkram Hajime terputus.
Craakkh..
monster itu mengoyak tubuh Artan dengan menarik kedua arah yang berlawanan, seketika tubuhnya terpisah dengan anggota tubuh yang lainnya. darah yang tumpah dari tubuhnya sangat deras, pemandangan ini benar-benar sangat menakutkan.
Artan sudah diambang kematiannya, namun matanya masih terbuka, "jadi.. hanya sampai disini, ya.. dari awal hingga akhir.. aku tetaplah seseorang yang menyedihkan.. " walaupun mulutnya tidak terbuka, namun hatinya masih bisa berbicara.
Craakh..
monster itu mengoyak kepala Artan, kemudian meremukkan segalanya, tubuh Artan benar-benar hancur lebur, kematiannya seolah dicincang dengan senjata tajam.
tubuh Hajime mulai menumbuhkan bulu, dia membuka matanya dan terkejut, "ini... apa yang terjadi..!? " dia hanya melihat monster itu, di samping monster itu terlihat logam-logam berserakan.
__ADS_1
Hajime melepaskan cengkraman tangan besi yang saat ini sudah terputus dengan penggunanya, dengan mudahnya dia keluar dari benda yang sempat mengunci pergerakannya itu.
Hajime tersenyum, "sepertinya aku tidak perlu memperlihatkan wujud asli ku! " bulu ditubuhnya mulai menghilang, sepertinya dia tahu kalau Artan sudah tewas.