Tokoh Utama

Tokoh Utama
Kesedihan Yamakoto Di masa Lalu


__ADS_3

Yamakoto membalikkan badan, lalu menatap Hiro dan Jiro, "hahaha.. lihatlah diri kalian! berakhir menyedihkan memang pantas didapatkan oleh seorang penghianat..! " dia masih bisa tertawa walaupun kondisi tubuhnya dipenuhi dengan darah.


Hiro menoleh kearah Yamakoto, darah yang keluar dari mulutnya membasahi bibir dan dagunya, "hehehe.. pengkhianat katamu? kau membuat ku tertawa.. " Hiro menjawab sambil tertawa kecil.


Jiro mendekati dan merangkul Hiro agar tetap berdiri, matanya memandang perut Hiro yang masih tertancap sebuah pedang, "Hiro, bertahanlah..! " ucapnya penuh belas kasih.


"tenang saja! luka seperti ini tidak akan mungkin membunuh ku. " Hiro berucap dengan wajah menahan sakit.


Traang..


Hiro mencabut pedang yang menancap di perutnya, kemudian melemparkan kesamping, pedang tersebut tergeletak di tanah dengan linangan darah.


Utama dan Hajime mendekati saudara kembar itu, keempat pemuda itu berbaris dengan pandangan kearah Yamakoto.


Yamakoto memandang sekujur tubuhnya yang dipenuhi dengan luka serta darah, "hahaha.. ini sangat menyenangkan.. semua luka ini akan menjadi bukti perjuangan ku.. sebentar lagi.. sebentar lagi aku akan menguasai dunia ini..! " teriaknya sambil tertawa, "aku akan menciptakan keadilan.. tidak ada lagi yang namanya penderitaan.. aku akan membuat semua orang memiliki kedudukan yang sama..! " wajahnya menjadi begitu menakutkan.


"keadilan katamu?! " Hiro berteriak dengan kepala tertunduk, "menguasai dunia ini, ya... hehehe.. menghapus semua penderitaan.. berhentilah berkhayal.." lalu mengangkat kepalanya dengan sorot mata menakutkan, "memangnya kau pikir siapa yang membuat kami seperti ini?! hidup kami begitu menderita setelah kami kehilangan ibu kami! kami mulai kehilangan arah dan selalu mengikuti langkah mu! dan ternyata.. dan ternyata kaulah orang yang telah membunuh ibu kami! "


"anggap saja itu sebagai pengorbanan.. " ucap Yamakoto datar, "dunia ini begitu kejam.. selain hanya bisa berpedang.. aku bukanlah apa-apa.. aku hanyalah orang yang tidak pernah dihargai.. miskin.. menyedihkan.. aku juga tidak bisa melindungi orang yang begitu berharga bagiku.. aku sadar dengan kekurangan ku, aku membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan.. aku juga mengatur pola pikir kalian berdua.. tapi siapa yang menyangka setelah cukup lama tidak bertemu kalian malah berniat membunuh ku.. padahal aku hanya ingin menghancurkan rantai penderitaan.."


"tutup mulutmu.. dasar sialan..! " tiba-tiba Jiro berbicara dengan suara pelan dan tertahan, wajahnya memerah dengan urat-urat yang keluar, "aku sudah muak dengan omong kosong ini.. berhentilah berkata seolah kau yang paling benar.. "


"kalian masih anak-anak, kalian belum terlalu mengerti tentang makna sebuah kehidupan.. aku seperti ini juga ada sebabnya.. aku tidak perduli dengan cara sekotor apa aku meraihnya.. aku pasti akan menciptakan keadilan.. " ucap Yamakoto datar.


Hajime terlihat kesal, "kau berbicara seolah kau tahu segalanya.. apa kau pernah memikirkan tentang perasaan orang lain..? semua orang memiliki sudut pandang berbeda.. dan itulah


yang menjadi pembatas bagi semua orang..! "


"kau benar! " jawab Yamakoto, "setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda.. sebelum mengambil keputusan, manusia selalu menoleh kebelakang.. mereka belajar dari pengalaman di masa lalu.. " ucapnya serius, "seperti juga dengan ku.. aku selalu menoleh kebelakang.. aku sangat senang di dunia yang damai ini.. tapi apalah artinya kedamaian tanpa keadilan.? "


Yamakoto memandang kebawah, tiba tiba raut wajahnya terlihat sangat sedih, sepertinya dia mengenang masa lalunya yang mungkin menyedihkan.


bertahun-tahun yang lalu...


"hey, Yamada! apa kau sama sekali tidak tertarik untuk belajar berpedang? " tanya seorang remaja, usianya sekitar tujuh belas tahun, wajahnya memancarkan kebahagiaan dengan pakaian yang begitu sederhana, di punggungnya terlihat sebilah pedang lengkap dengan sarungnya. dia adalah Yamakoto dimasa silam.


"berpedang?! kenapa kakak selalu menanyakan soal itu? negara ini sudah damai dan tidak ada lagi peperangan.. dunia ini terasa menyenangkan.. " jawab remaja di samping Yamakoto, usianya sekitar dua belas tahun, wajahnya sangat mirip dengan Yamakoto dan terlihat begitu polos, kebahagiaan juga terpancar diwajahnya. remaja laki-laki itu adalah Yamada, adik dari Yamakoto.


Yamakoto mengelus kepala Yamada, "baiklah, baiklah! kakak tidak akan memaksamu lagi.. sepertinya kau sudah bosan dengan pertanyaan kakak, ya.. " ucapnya lembut.


Yamakoto dan Yamada berjalan beriringan diantara orang-orang yang cukup ramai di jalan kota, bangunan-bangunan disini terlihat begitu klasik, kota ini terlihat begitu tenang karena memang hanya kota kecil.

__ADS_1


"baiklah.. kita berhenti sejenak.. kakiku terasa pegal.. " ucap Yamakoto lalu duduk di bawah pohon yang ada dipinggir jalan.


"kenapa harus berhenti? aku belum lelah.. " ucap Yamada, "kalau begitu.. aku ingin keliling-keliling sebentar.. kakak tetaplah disini! " setelah itu Yamada pergi meninggalkan Yamakoto.


"cepatlah kembali! kalau tidak, kakak akan meninggalkan mu.! " Yamakoto tersenyum tipis.


setelah cukup lama menunggu, Yamakoto tidak melihat adiknya muncul, dia mulai terlihat gelisah.


"kenapa dia lama sekali.. apa mungkin terjadi sesuatu padanya.. " gumam Yamakoto.


"pencuri..! pencuri...! " tepat di saat itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan, semua orang berbondong-bondong menuju asal suara.


Yamakoto terkejut, "pencuri!? " dia menarik pedangnya setengah, kemudian kembali memasukannya, wajahnya terlihat sangat pucat dengan tubuh gemetar, sepertinya dia memiliki firasat buruk.


Yamakoto berlari ke suatu arah, di sana terlihat segerombolan orang sedang mengerumuni sambil mencaci maki, diantara mereka ada yang membawa tongkat untuk memukul.


"*pencuri sialan! "


"beraninya mengusik! akan ku habisi kau*! "


"dasar manusia hina! kau tidak pantas hidup! "


Orang-orang itu terus mencaci, pandangan mata mereka kearah bawah, sepertinya orang yang mereka hakimi itu sudah tergeletak lemas.


"Ya.. mada.. " ucap Yamakoto lalu mendekati orang itu yang ternyata Yamada, adiknya sendiri.


Yamada sudah tergeletak lemas, di sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka, terlebih di bagian wajahnya yang di banjiri darah serta kepalanya bocor akibat benda tumpul. melihat kondisi yang sekarang, sepertinya sulit untuk bertahan hidup lebih lama lagi.


"kakak.. " ucap Yamada pelan.


begitu mendengar itu, semua orang disekitar mulai berisik, mereka mencaci maki Yamakoto yang sebagai kakak, mereka juga berniat menyerang Yamakoto.


"apa yang dicuri adikku? " Yamakoto melirik kearah segala penjuru, tatapannya sangat menakutkan dan memancarkan aura membunuh yang kuat, semua orang langsung terdiam.


"di-dia mencuri.. se-potong roti.." jawab salah seorang terbata-bata, matanya memandang kearah pedang dipunggung Yamakoto sambil menelan ludah, sepertinya dia sangat ketakutan.


Yamakoto memangku kepala adiknya, "Yamada.. jika kau lapar.. kenapa kau tidak mengatakannya padaku? aku adalah kakak mu.. aku adalah saudara mu yang akan menggantikan ayah dan ibu.. " dia mengelus wajah adiknya sekalipun itu penuh darah, air matanya semakin deras mengalir.


"uhuk.. uhuk..! " Yamada terbatuk saat mencoba berbicara.


"kau tidak perlu menjawab.. " ucap Yamakoto, "bertahanlah.. kau harus tetap hidup.. "

__ADS_1


"tidak kakak.. aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.. " ucap Yamada kemudian memandang ke suatu arah, "sekalipun aku kelaparan.. aku memang tidak akan mengadu padamu.. tapi bukan berarti aku akan mencuri..kelaparan sudah biasa bagiku.. tapi aku tidak akan membiarkan orang lain kelaparan.. aku tidak ingin gadis kecil itu kelaparan.. " ucapnya terdengar memaksa.


Yamakoto mengikuti arah mata Yamada dan begitu juga dengan semua orang, mereka melihat sesosok gadis kecil yang berumur sekitar enam tahun, dia terlihat sangat tidak terurus dengan pakaian yang lusuh, matanya memandang kearah Yamada dengan linangan air mata yang sudah membanjiri, tapi suaranya tangisnya hanya isak isak saja.


semua orang memandang gadis kecil itu, kemudian memandang Yamada, air mata mereka juga mulai menetes, sepertinya mereka merasa sangat menyesal, sebagian besar dari mereka langsung meninggalkan tempat itu, sementara sisanya terus berdiam diri ditempat tanpa sepatah kata pun berbicara.


Yamakoto memeluk erat wajah adiknya, "aku tahu.. kau tidak mungkin melakukan itu.. kau adalah adikku.. kau adalah kebanggaan ku.. " dia tersedu-sedu, "sekarang, ayo kita pergi! kau pasti masih bisa terselamatkan.. " dia bersiap memapah tubuh adiknya.


"tidak perlu kakak.. aku tidak mungkin bisa terselamatkan.. seluruh tubuhku sudah hancur.. " Yamada menahan, pandangannya kearah langit yang terlihat gelap.


"jangan berbicara seperti itu! kau adalah satu-satunya orang yang berharga bagiku.. tetaplah hidup.. adikku.. " Yamakoto menangis semakin keras.


"aku bisa melihat ayah dan ibu sudah menunggu ku.. sebelum menyusul mereka.. sepertinya aku akan banyak bicara.. " Yamada mencoba tersenyum, "kakak.. selama ini.. aku selalu berkata tentang keadilan.. aku selalu menganggap dunia yang damai ini sudah benar-benar adil.. tapi sekarang aku sadar.. keadilan hanyalah sebuah kata tanpa makna.. keadilan itu tidak memiliki arti apa-apa.. omong kosong yang tidak mungkin digapai.. walaupun kau memiliki alasan untuk melakukan sedikit kesalahan.. hanya kesalahan mu saja yang dilihat.. aku sudah mencoba menjelaskan pada orang-orang tadi.. tapi mereka langsung memukuli ku.. dunia ini sangat kejam.. kau mencuri sedikit karena kelaparan.. kau mencuri untuk biaya pengobatan ibumu.. apapun alasannya.. salah tetaplah salah.. tapi.. bagaimana dengan orang-orang yang memiliki derajat tinggi.. aku rasa mereka tidak mungkin berada di dalam situasi ku sekarang sekalipun mereka sudah membuat rakyat kelaparan.. " ucap Yamada terputus-putus.


"sudah.. kau jangan berbicara lagi.. " Yamakoto memandangi Yamada.


"hari ini aku belajar.. keadilan itu sebenarnya tidak ada.. tapi sayang.. pelajaran yang ku dapat hari ini harus berakhir di hari ini juga.. " Yamada meneteskan air mata, "jika aku memiliki kesempatan hidup untuk kedua kali.. aku akan meminta kakak mengajarkan ilmu berpedang.. aku akan mengangkat pedang ku..aku akan menentang semua orang yang bersikap tidak adil.. karena sampai saat ini.. keadilan yang baru saja ku katakan tidak ada.. pasti memiliki sisi yang nyata.. " setelah berucap, Yamada mulai kehilangan kesadaran.


"Yamada! Yamada! jangan tinggalkan kakak! " Yamakoto berteriak sambil menangis.


"kakak.. raihlah keadilan itu.. anggap saja ini permintaan terakhir ku.. " Yamada mulai memejamkan matanya, "sampai jumpa kakak.. jangan terlalu cepat menyusul ku.. " sepertinya ini adalah nafas nafas terakhirnya.


"Yamada..! " teriak Yamakoto sambil menepuk-nepuk pipi adiknya, tapi Yamada sudah tidak bereaksi.


Glegarr...


tepat di saat itu, halilintar menyambar, setelah itu hujan datang dengan lebatnya, sepertinya alam juga bersedih menyaksikan kejadian itu.


semua orang pergi meninggalkan tempat itu, air mata juga membasahi pipi mereka. kini tinggallah Yamakoto serta gadis kecil yang hanya bisa memandangi Yamada sambil menangis di bawah derasnya hujan.


Yamakoto mengangkat tubuh Yamada dan memapahnya, dia berjalan tak tentu arah, matanya sejenak memandang langit, wajahnya diguyur tetesan air yang mencoba menyamarkan air matanya, "keadilan.. kau benar Yamada.. saat mendengar kata pencuri.. aku langsung bersiap mengangkat pedang ku.. tapi setelah aku sadar itu kau.. aku.." batinnya.


"sial..! aku gagal menjaga mu! aku berjanji.. aku akan meraih keadilan dan menghapus semua penderitaan! " teriaknya.


★★★★★


"jadi begitu, ya.. aku rasa kau memang sangat menyedihkan.. " ucap Utama datar, sementara Hajime dan yang lainnya hanya terdiam.


Yamakoto menatap tajam kearah Utama dan yang lain, "sebelum pergi meninggalkan ku dia berkata, keadilan hanyalah sesuatu yang tidak nyata.. tapi di lubuk hatinya dia masih percaya keadilan masih bisa digapai.. " ucapnya datar, "tapi bagiku.. selain keadilan yang tidak nyata.. kenyataan ini juga tidak adil.. " tiba-tiba wajahnya terlihat menakutkan.


"kau benar.. kenyataan ini memang tidak adil.. " Hiro menundukkan kepalanya, "Satu-satunya alasan aku sulit menerima kenyataan ini adalah kau! orang yang dulu ku kagumi tapi ternyata kau yang membunuh ibuku..! " dia mengangkat kepalanya, saat ini wajahnya terlihat sangat menakutkan.

__ADS_1


"hehehe.. siapa yang menyangka kau akan melakukan permainan sekotor ini.. " Jiro tertawa kecil, "seberapa pedih masa lalu mu, itu bukan urusan kami.. kau adalah orang yang telah menghancurkan masa lalu kami.. sebagai gantinya, kau harus membayar dengan kepala mu! " dia menunjuk Yamakoto dengan pedangnya.


__ADS_2