
dibawah gedung-gedung yang penuh kehancuran, diantara orang-orang yang berlari dengan iringan teriakan kepedihan, terlihat dua orang pria sedang berlari dan terus berlari, sepertinya waktu mereka sangat mendesak. mereka berdua adalah Randa dan Arya yang sedang menuju tujuannya.
"paman, apa sebenarnya yang ingin kau berikan padaku!? " tanya Randa dengan nafas terengah-engah karena masih berlari.
"bukan saatnya untuk menjawab itu, sekarang.. lihat ke depan! " jawab Arya kemudian menunjuk ke arah depan.
Randa mengikuti arah telunjuk Arya, dia melihat seekor monster yang sepertinya menyadari keberadaan mereka, namun monster itu berada cukup jauh dari mereka.
"sial! sepertinya kita harus mencari jalan lain! " Randa berlari kearah kanan, Arya mengikuti dari belakang.
setelah cukup lama berlari, mereka menghentikan langkah dan menoleh ke kiri yang terdapat jalan sempit, disitu terlihat seorang gadis kecil sedang menangis, didepannya ada seekor monster yang siap menerkam.
"sial, ternyata di seluruh kota ini memang sudah berkeliaran monster-monster itu! " Arya menggertakkan giginya.
Randa menoleh Arya, "paman, sekarang apa yang harus kita lakukan!? " dia terlihat serius.
Arya menghela nafas, "memangnya apa yang bisa dilakukan pecundang seperti kita? " ucapnya.
Randa menatap gadis kecil itu yang semakin menangis keras, "jika aku memiliki waktu untuk bertanya.. kenapa tidak ku gunakan untuk menyelamatkan anak itu! "
Randa berlari ke arah gadis kecil itu, sepertinya dia berniat untuk menjadi pahlawan.
Arya terkejut, "tunggu! " teriaknya.
monster itu memperlihatkan taring yang dibasahi dengan air liur, kemudian melompat ke arah gadis kecil itu.
Tap
sebelum monster itu menyentuh gadis kecil itu, Randa lebih dulu menangkap dan memapah tubuh gadis itu, kemudian berlari menjauh.
Randa melewati Arya, "aku memang pecundang, tapi aku tidak berniat untuk menjadi pecundang selamanya, aku akan melawan rasa takut itu! " ucapnya, "ayo paman! " dia terus berlari.
Arya tertegun, kemudian tersenyum, "sepertinya Utama memiliki sahabat yang lumayan bernyali.. tidak salah aku memilih anak ini. " batinnya lalu berlari menyusul Randa.
gadis kecil itu menatap Randa, "Terima kasih kakak! " ucapnya mulai berhenti menangis.
Randa terus berlari, tubuh gadis kecil itu ternyata cukup berat dan membuatnya mudah lelah.
dibelakang Randa dan Arya,monster itu terus mengejar sambil mengeluarkan suara yang menakutkan, sepertinya dia sangat marah dan ingin menerkam Randa dan Arya.
Doorr..
Doorr..
tiba-tiba muncul sekelompok polisi, mereka langsung menyerbu monster itu dengan tembakan. namun, monster itu belum tumbang dan terus memberikan perlawanan.
Randa dan Arya melihat pertempuran itu, beberapa saat kemudian monster itu roboh setelah sebelumnya membunuh beberapa polisi.
Randa menyerahkan gadis kecil itu pada sekelompok polisi itu, kemudian kembali berlari melanjutkan perjalanan.
Randa dan Arya terus berlari dan berlari, kondisi kota membuat waktu mereka lumayan tersita. setelah cukup lama berlari, akhirnya mereka sampai di rumah Randa dan langsung masuk, kemudian menuju sebuah ruangan yang didalamnya terdapat alat-alat untuk melakukan eksperimen.
Randa menatap Arya yang tersenyum memandang sekeliling, "padahal paman baru satu kali ketempat, tapi aku merasa paman sangat menyukai tempat ini. " ucapnya.
__ADS_1
Arya menatap Randa bersama senyumannya yang menghilang, "peralatan ditempat ini sangat lengkap, selain itu.. tidak perlu kau tanyakan lagi! " ucapnya datar.
Arya merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan sebuah bola seukuran bola kasti berwarna putih kilat seperti kaca,"awalnya aku ingin memberikan ini pada Utama, tapi sepertinya dia tidak memerlukan ini. " Arya tersenyum.
Randa terkejut menatap bola kristal itu, "ini.. benda ini untuk apa? kenapa paman membawa-bawanya!? "
"ini untuk mu! " ucap Arya. "walaupun bentuknya terlihat seperti bola kristal biasa, namun sebenarnya benda ini tidak ternilai harganya.. bola ini berasal dari luar planet bumi. "
"aku tidak mengatakan benda ini biasa saja. " ucap Randa sambil menerima bola kristal putih itu.
Arya terlihat serius, "dan bagian terpentingnya.. benda ini adalah benda yang membuat ketua Black Rose bisa melayang di udara. "
"maksud paman, benda ini bisa menolak daya gravitasi bumi!? " Randa terlihat serius.
"itu kemungkinan terbesarnya, tapi aku juga tidak tahu kepastiannya. " jawab Arya. "Keki itu sangat jenius, aku hanya menyelidikinya, setelah tahu aku mencari benda ini dengan susah payah. "
Arya membalikkan badannya, "kalau begitu aku serahkan padamu! " sepertinya dia berniat pergi.
Randa terkejut, "paman ingin pergi!? "
Arya tidak menoleh, "aku sudah kehilangan Jimmy karena kita terlalu lama di ruangan ini.. aku tidak akan membiarkan Utama menyusulnya. " dia terlihat serius
"jadi paman bermaksud meninggalkan ku sendiri di tempat ini, sementara aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan! " Randa terlihat bingung.
Arya melirik sambil tersenyum, "aku yakin kau bisa mendapatkan sesuatu yang berguna dari benda itu, karena kau.. sangat mirip dengan Keki.. " ucapnya.
Randa tertegun, "aku.. mirip dengan ketua Black Rose!? "
"oh, ya, benda itu terlihat sangat hebat, apa kau yang membuatnya? " Arya menoleh kearah sebuah baju besi yang sepertinya penuh dengan teknologi.
Arya tersenyum, "kau berkata itu tidak berguna karena kau belum mengetahui kegunaannya. satu hal yang perlu kau tahu.. Keki juga mengenakan benda seperti itu. "
Randa menatap Arya dengan dalam, "kenapa orang ini selalu menyamakan ku dengan orang yang sudah membuat kehancuran di kota ini? " batinnya.
Arya mengalihkan pandangannya dari Randa, "aku yakin semua anggota Black Rose sudah berkumpul, aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. " dia kemudian melangkah pergi.
Randa menatap kepergian Arya, kemudian menoleh kearah kristal putih itu, "benda ini.. apa benar sehebat itu!? kenapa aku tidak melayang saat menggenggamnya?" gumamnya.
Arya sudah berada di luar rumah Randa, dia terus berlari, "Utama.. tunggu ayah! " matanya berkaca-kaca.
*******
Utama, Hajime serta Jiro dan Hiro berbaris dengan pandangan kearah tim Black Rose yang berada di depan mereka, namun mereka berdiri dengan penuh gaya.
Hajime berada di sebelah kiri, dia tersenyum jahat yang menjadi kebanggaannya, sorot matanya tajam layaknya seekor serigala, kaki kanannya memijak gumpalan tanah dengan tubuh sedikit membungkuk.
Utama berada di samping Hajime, dia menatap kearah Black Rose dengan tatapan kosongnya seperti tidak melihat apa-apa, dan itu terlihat sangat menyebalkan.
Jiro berada di samping Utama, dia tersenyum dengan sebelah matanya yang tertutupi poni panjangnya, tangan kanannya menempel di pinggangnya pertanda rasa remeh yang berlebihan. sementara itu, Hiro berada di sebelah kanan, dia bergaya seperti Jiro namun hanya berbeda arah.
Miyu menatap keempat pemuda itu dengan wajah kesal, "lihatlah bocah-bocah tengik itu! bukankah mereka terlalu meremehkan kita? " ucapnya, namun tidak ada yang menyahut.
Jiro melirik kearah Utama, sepertinya dia merasa jengkel melihat ekspresi Utama.
__ADS_1
"bisakah kau tidak memasang wajah menyebalkan seperti itu? " ucap Jiro.
Utama tidak menggerakkan lehernya, bola matanya melirik kearah Jiro, tapi dia tetap tidak bersuara.
Jiro semakin kesal, "hey, kau! apa kau tidak bisa bersikap sopan terhadap yang lebih tua? memangnya usia mu berapa, hah!? " teriaknya tepat di telinga Utama.
"hanya beberapa episode saja. " jawab Utama datar tanpa menoleh.
"hah!? jawaban bodoh macam apa itu!? " Jiro terus berteriak.
"tidak, tidak! " Hajime menengahi, "dia masuk sekolah usia enam tahun, di sekolah dasar enam tahun, SMP tiga tahun, dan sekarang dia kelas dua SMA. " lanjutnya cepat.
Hajime melirik Utama, "dasar bodoh! memangnya akan ada yang percaya dengan kata-katamu itu. " batinnya.
Jiro terbodoh mendengar jawaban Hajime berada, mulutnya terus menganga, " kau sengaja memberikan ku soal matematika, ya.? " ucapnya.
"tenanglah! untuk sekarang kita bekerja sama, setelah ini kita selesaikan urusan kita. " Hiro mulai angkat bicara.
Hiro melirik Utama, "jika kau tidak keberatan, jawablah pertanyaan ku!" ucapnya. "darimana? dan kenapa kau bisa sekuat itu? "
Utama menoleh Hiro, "sejujurnya aku sedikit keberatan.. tapi baiklah karena kau sudah bertanya. " dia menghembuskan nafas panjang seolah banyak menanggung beban, "aku kuat karena ini mimpiku, aku.. tidak mengingat entah kapan aku tertidur, tapi tiba-tiba aku sudah berada di dunia mimpi ini, ya, itu bermula di episode pertama.. seperti saat kau sedang tertidur dan bermimpi, semuanya bisa saja terjadi, tapi.. " utama berucap dan itu terdengar sangat dalam, "tapi.. aku tidak akan membiarkan tidurku mengatur jalan mimpiku! karena sebelum ketempat ini aku tidak pernah tertidur! " dia sedikit berteriak.
Hajime menatap Utama dalam, kemudian menundukkan kepalanya, "dia benar.. ini semua hanya mimpi..sampai kapan pun kami tidak akan pernah keluar dari ilusi ini sebelum novel ini tamat. " batinnya terlihat sedih.
Hiro dan Jiro menatap Utama dengan wajah bingung, "baiklah, anggap saja aku tidak pernah bertanya! " ucap Hiro, sepertinya dia menganggap Utama orang gila.
Utama kembali menatap tajam kearah tim Black Rose, "walaupun semua ini hanya mimpi.. aku juga ingin semuanya berakhir indah! " dia sedikit berteriak.
Hajime kembali menatap Utama, "sekali lagi dia benar, kami hanya perlu menikmati peran kami di dunia mimpi ini.. cara pikir anak ini sangat sulit untuk ditebak! " batinnya tersenyum.
Keki mulai bergerak, dia kembali melayang tinggi di udara, kemudian menatap keempat remaja itu, "sudah cukup omong kosongnya, sekarang sudah saatnya untuk membunuh kalian! " dia mengarahkan sebuah rudal sambil tersenyum jahat.
"datang! " Utama dan yang lainnya juga bergerak, mereka melompat berpencar ke segala arah dan dapat menghindar.
Booomm..
rudal itu menghancurkan tanah, ledakan dahsyat kembali menimbulkan asap bersama hawa panas yang menyebar ke sekeliling, namun ledakan kali ini tidak sedahsyat yang sebelumnya.
Miyu menutupi wajahnya dari debu yang berterbangan,"semakin lama ledakan ketua semakin melemah saja . " ucapnya.
"sepertinya dia ingin bermain-main terlebih dahulu. " ucap Felisa sambil tersenyum.
Tap
Utama mendarat di tanah, saat ini dia dalam posisi jongkok dengan mata menatap kearah Keki.
Keki menatap Utama, "pertama-tama.. kau yang akan ku bunuh.. tidak! aku akan menyiksamu didepan Arya, aku ingin lihat ekspresi menyedihkan seperti apa yang ditunjukkannya. " dia tersenyum jahat, "atau mungkin pecundang itu tidak memiliki keberanian untuk menyelamatkan putranya. " dia kemudian tertawa.
Keki mengarahkan telapak tangannya kearah Utama, seketika sebuah rudal melesat cepat membelah angin.
Utama melompat tinggi mundur ke belakang, dia berputar-putar di udara memperlihatkan gaya penuh keindahan, kemudian mendarat di sebuah gedung yang sudah setengah hancur.
Utama menatap Keki yang berada di hadapannya, saat ini mereka sudah berada di ketinggian yang sama.
__ADS_1
"apakah kau tidak memiliki mainan yang lebih menakutkan lagi!? " Utama bertanya datar.
Keki terlihat kesal, "cih, anak ini sangat gesit! " batinnya.