Tokoh Utama

Tokoh Utama
Kematian Arya


__ADS_3

hari sudah malam, tapi pertarungan antara Utama dan yang lain menghadapi Black Rose masih belum berujung, mereka pun bertempur di bawah langit yang gelap.


walaupun langit begitu gelap dan asap menutup cahaya bulan, tapi lokasi pertempuran ini cukup terang, api yang menyala di sisi kanan dan kiri cukup memberikan cahaya, tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan pertempuran.


lokasi pertempuran yang awalnya adalah kota, kini berubah menjadi puing-puing yang menyatu dengan tanah dan terlihat seperti lapangan cukup luas.


di sekeliling lapangan tersebut dan cukup jauh, terlihat gedung-gedung yang tegak namun sudah mengalami kehancuran, banyak pemadam kebakaran mencoba menghentikan si jago merah yang terus melahap bangunan kota.


di tepi tanah lapang itu dan cukup dekat dengan gedung-gedung, terlihat Hajime terduduk dengan nafas yang kelelahan, sepertinya dia sudah kehabisan tenaga.


"sial, ini sangat melelahkan! aku sudah terlalu lama bertarung dan sudah hampir mencapai batas. " gumam Hajime di sela-sela nafasnya, matanya terpejam sebelah memandangi luka di sekujur tubuhnya.


cukup dekat dengan Hajime dan lebih tepatnya di depannya, terlihat sosok monster yang berteriak ganas, dia adalah Arya yang sudah berubah wujud. disekitar monster itu sangat banyak cairan merah bercucuran, sepertinya itu adalah darah Artan yang mati tanpa menyisakan mayat.


tepat di atas kedua orang tersebut, terlihat Keki sedang melayang, matanya melirik tajam kearah Arya yang dalam bentuk monster.


"sudah membunuh salah satu anggota Black Rose.. jangan berpikir kau masih bisa bernafas.. " gumam Keki dingin. "kita lihat! apakah kau masih bisa bertahan setelah aku menusuk jantungmu. " dia tersenyum jahat.


Keki mengarahkan ujung telunjuknya kearah monster itu, kemudian melesat sinar merah yang begitu pekat terlihat dimalam hari.


Hajime melihat itu, kemudian menoleh monster itu "paman! " teriaknya.


Csss...


Arya yang sudah menjadi monster jelas tidak menggubris, sinar merah itu menusuk dari belakang dan menembus tubuhnya sampai ke depan lalu menabrak tanah, tepat di bagian jantungnya terlihat darah mulai mengalir.


Hajime terkejut, "gawat! tubuhnya tidak beregenerasi..?! "


Keki tersenyum, "aku tidak akan meleset dan sepertinya regenerasi tubuhnya tidak bekerja setelah aku menusuk jantungnya. " gumamnya.


Grooo...


monster itu terus menjerit sambil menggeliat kesakitan, asap putih tipis mulai muncul dari tubuhnya, perlahan tubuhnya kembali berubah menjadi manusia.


"paman..! " Hajime berteriak lalu berlari mendekati Arya.


"uhuk.. uhuk..! " Arya sudah seutuhnya menjadi manusia dan terkapar, dia memuntahkan darah, tepat di bagian jantungnya juga mengalir darah.


Hajime sudah berada di dekat Arya, dia memangku kepala Arya.


"paman, luka mu sangat parah! ayo kita pergi dari sini! " Hajime sedikit berteriak.

__ADS_1


Arya mencoba tersenyum, "tidak! aku tidak akan selamat, jantungku sudah tertusuk..lagipula.. setelah mengubah wujud menjadi monster itu..aku memang harus kehilangan nyawaku. " Arya masih sanggup berbicara.


"jadi, maksud paman!? " Hajime tertegun.


"ya.. walaupun jantungku tidak tertusuk.. aku akan tetap mati.. regenerasi itu.. menekan pertumbuhan sel-sel dengan sangat cepat.. itu memaksa tubuh sampai diluar batas.. " Arya tetap mencoba tersenyum, "walaupun seperti itu.. aku juga tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan.. tidak ku sangka hanya sebatas ini.. "


"kau tidak pantas berkata seperti itu, paman.. berkat kau kita sudah berhasil mengalahkan satu musuh.. " Hajime tersenyum, namun senyuman mengundang kepedihan.


"hehehe,hanya satu musuh, ya.. ternyata nyawaku memang tidak berharga.. " Arya tertawa kecil.


"uhuk.. uhuk..! " Arya kembali memuntahkan darah.


"paman..! " Hajime sedikit cemas.


"sepertinya aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.. " Arya menoleh ke sekeliling, "dimana Utama!? " tanyanya.


Hajime menoleh ke suatu arah, dia melihat Utama sedang bertarung menghadapi Toyo, namun mereka lumayan jauh. sementara Hiro dan Jiro sedang menghadapi Miyu.


"dia masih bertarung, sepertinya dia dalam kesulitan. " jawab Hajime.


"jika kau tidak keberatan.. bisakah kau membawaku ke tempatnya? ada yang ingin aku sampaikan padanya.. " ucap Arya, dia terlihat semakin lemah saja.


Keki tersenyum, "baiklah, aku tidak akan menghalangi mu bertemu dengan putra mu untuk yang terakhir kalinya. " gumamnya, dia masih melayang di udara.


"hosh.. hosh..! " Toyo terengah-engah, sudah berulang kali dia memukul Utama hingga tergeletak, namun Utama selalu bangkit dan bangkit lagi.


Toyo menatap Utama yang berada di depannya, "anak ini benar-benar membuatku lelah.. padahal tubuhnya biasa saja, tapi.. dia memang sangat kuat.. " batinnya.


Utama menatap datar Toyo, "jika kau lelah.. aku akan memberi mu waktu untuk mengatur nafas.. " ucapnya.


Tap


Tiba-tiba Hajime muncul sambil memapah tubuh Arya, dia kembali membaringkan tubuh Arya di tanah.


Hajime menoleh Utama, "maaf mengganggu mu, Utama.. tapi sebaiknya kau melihat ini! "


Utama menoleh, dia melihat Arya yang sudah terluka parah, "begitu, ya.. baiklah! " dia berjalan mendekati Hajime dan Arya.


Toyo tersenyum, "jadi monster itu sudah dapat diatasi, ya.. aku mengerti perasaan mu.. kehilangan seseorang yang kita sayangi memang sangat pahit, tapi.. salah sendiri kenapa kalian berlagak kuat dan mencoba melindungi kota ini! " ucapnya.


Utama menghentikan langkah lalu melirik Toyo, "mengerti perasaan ku?! tahu apa kau tentang ku!? " ucapnya.

__ADS_1


Toyo tersenyum, "sepertinya kau tidak seperti yang aku pikirkan.. kau melihat orang tuamu sudah sekarat, tapi kau masih bisa memasang wajah datar.. sepertinya hatimu sudah membusuk dari dalam, lalu.. untuk apa kau bertarung dan melindungi semua orang..? "


"hanya untuk mencari hiburan..walaupun aku tidak bisa merasakan dan mengerti apa itu arti kata senang.. " jawab Utama lalu kembali melangkah.


Arya yang sudah diambang maut menoleh Toyo, "hatinya membusuk!? apakah diasingkan dari keluarga membuatnya kesepian.. apakah hilang kasih sayang penyebab sikap dinginnya itu? " batinnya.


Utama menatap Arya, dia tetap berdiri dan tidak mau bertanya, wajahnya tidak melukiskan kesedihan sama sekali.


Arya menatap Utama, "Utama.. aku minta maaf... aku minta maaf karena selama ini aku tidak bisa berada di samping mu.. "


"oh, jadi hanya itu.. " ucap Utama, namun dia mulai berjongkok.


Arya memegang pipi putranya, "Utama.. setelah ini.. uhuk.. uhuk..! " kondisinya semakin parah. "setelah ini..kau akan menjadi satu-satunya laki-laki di keluarga kita.. berjanjilah padaku.. berjanjilah pada ayah kau akan menjaga ibumu dan kakakmu..! "


"jika mengiyakannya bisa membuat mu tenang.. aku akan melakukannya.. " jawab Utama datar.


"masalah pertempuran ini.. aku juga mempercayakannya padamu.. aku tidak akan bertanya dari mana kau mendapatkan kekuatan.. karena tugas seorang ayah hanya percaya pada anaknya.. " Arya masih bisa tersenyum. "sebelum aku mati.. ada hal yang harus kalian tahu.. diantara mereka ada yang memiliki Sikiniky.."


"Sikiniky!? apa itu!? " Hajime terkejut.


"uhuk.. uhuk.. Sikiniky sama saja dengan formula yang lainnya.. hanya saja ini jauh lebih dahsyat.. aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada penggunanya.. jika kalian melihat salah satu dari mereka mengeluarkan cairan berwarna oranye.. kalian harus menghentikannya! " Arya terus memuntahkan darah.


"baiklah.! " Utama dan Hajime mengangguk.


"dan satu lagi.. " Arya menatap mata Utama dalam sambil mengelus pipinya, "jika mata mu terus seperti itu.. selain semua orang akan menjauhi mu.. kau juga tidak bisa melihat dengan sudut pandang yang baik..tidak! kau tidak bisa melihat apa-apa.. kau harus menatap orang dengan tatapan hangat, putraku. "


Buukk..


setelah berucap seperti itu, tangan Arya yang mengelus pipi Utama terjatuh ke tanah. matanya mulai terpejam, sepertinya ini adalah nafas terakhirnya.


Utama kembali berdiri, dia tidak terlihat sedikitpun bersedih, "kalau begitu.. ayo kita selesaikan semua ini! " dia menatap Toyo.


Toyo tersenyum, "kau benar-benar anak yang unik.. sepertinya hatimu benar-benar sudah membeku.. "


Hajime melirik Utama, "Utama, apa kau tidak merasa sedih sedikitpun? "


Utama menoleh, "tidak, aku tidak memiliki alasan untuk bersedih. " ucapnya datar.


"kau bahkan tidak pernah memanggilnya dengan kata ayah.. aku tahu ini semua hanya didalam cerita.. tapi disini, dia benar-benar ayahmu.. " ucap Hajime serius.


"benar-benar,ya.." Utama memalingkan wajahnya dari Hajime, "...semua ini hanyalah ilusi yang aku sendiri tidak tahu dimana tepinya.. mencari kebenaran dalam kepalsuan.. selain rumit, sepertinya juga akan mendapat jawaban yang salah. "

__ADS_1


__ADS_2