
Luna
"Aku?" Ariel menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja tidak, Lun. Aku tadi bilang sama kamu kalau aku pernah ditawari, bukan berarti aku mengambil setiap pekerjaan yang ditawari untukku, Lun."
"Oh syukurlah. Masih ada banyak pekerjaan halal lagi, Riel. Aku mau coba melamar di mini market saja. Jadi kasir pun tak apa," tolakku.
"Selamat mencoba ya, Lun. Aku balik ke kamarku dulu. Aku mau mengerjakan tugas kuliah." Ariel membawa piring miliknya, bekas puding yang sudah kosong kumakan.
"Iya. Terima kasih ya, Riel. Puding kamu enak!" Aku tersenyum dan setelah Ariel pergi, aku kembali fokus mengerjakan skripsi.
Aku tak sadar kalau hari sudah tengah malam. Begitulah aku kalau fokus mengerjakan sesuatu. Aku meregangkan tubuhku dan teringat kalau pintu kamarku belum aku kunci.
Aku berdiri dan berjalan ke dekat pintu. Niatku menutup jendela dan pintu urung kulakukan saat aku melihat Ariel keluar kamar seperti sedang mengendap-endap.
Aku mengintip dari jendela kamarku. Ariel mengenakan pakaian yang rapi. Dress tangan buntung dengan panjang sebetis yang ditutupi dengan jaket jeans. Aku tahu sekali dress itu karena dulu ia membelinya bersamaku di Mall.
Mau kemana Ariel malam-malam begini?
Ariel berjalan sambil celingukan ke kiri dan ke kanan lalu berbelok dan menuruni tangga. Aku membuka pintu kamar dan ingin melihat dari balkon karena penasaran.
Nampak Ariel turun dan masih celingukan. Aku terpaksa bersembunyi karena takut ketahuan. Saat dirasa aman, aku kembali mengintip. Aku lihat Ariel masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari kostan.
Siapa yang menjemput Ariel malam-malam begini? Mau kemana dia?
Karena penasaran, aku masuk ke kamar dan mengambil ponsel lalu mengirimkan pesan untuk Ariel.
"Riel kamu sudah tidur belum? Aku mau pinjam tip ex." Sebuah pesan kukirimkan. Ternyata Ariel menonaktifkan status onlinenya. Aku jadi tak tahu apakah pesanku sudah dibaca atau tidak olehnya. Yang pasti, pesanku tidak dibalas.
🤍🤍🤍
__ADS_1
Keesokan pagi, aku berniat membeli nasi uduk sekalian membuang sampah. Kulihat lampu kamar Ariel masih mati sejak semalam. Apa anak itu belum pulang ya? Pergi kemana? Seingatku, dia anak perantauan yang tak memiliki sanak saudara di Jakarta.
Karena penasaran, aku mengetuk pintu kamarnya. Tak ada yang menjawab. Kamar kostan Ariel sepi. Aku yakin sekali kalau anak itu belum pulang sejak semalam.
Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku. Membuang sampah dan pergi membeli nasi uduk untuk sarapan. Saat aku kembali, aku berpapasan dengan Ariel yang juga hendak menaiki tangga.
"Dari mana kamu, Lun?" tanya Ariel dengan mata mengantuk.
"Beli nasi uduk, Riel." Aku mengangkat sebungkus nasi uduk yang kubeli. "Kamu sendiri dari mana, Riel?" tanyaku berbasa-basi.
"Aku ... habis membuang sampah. Iya, buang sampah."
Aku tahu Ariel berbohong. "Kok rapi sekali?" Mataku menatap Ariel dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Rapi? Enggaklah, Lun. Habis bangun tidur begini kok rapi? Aku pakai jaket karena malu keluar dengan dress seperti ini. Oh iya, semalam aku sudah tidur jadi tak sempat baca pesan kamu, Lun. Jadi pinjam tip ex?" tanya balik Ariel.
"Enggak jadi, Riel. Aku terlanjur coret saja. Aku balik ke kamar dulu ya, Riel. Bye!" Kami berpisah di lantai atas. Aku ke kamarku dan Ariel ke kamarnya.
🤍🤍🤍
Hari ini aku ada jadwal kuliah siang. Sebenarnya hanya tinggal beberapa semester saja yang harus aku ambil sambil mengerjakan skripsi.
Aku sudah berada di kelas dan menunggu dosen datang ketika Noah masuk dan menghampiriku dengan senyum di wajahnya. Seisi kelas kini menatap ke arah kami, terutama ke arahku dengan tatapan iri.
Jelas saja mereka iri, Noah itu mahasiswa paling terkenal di kampus ini. Ia setia hanya padaku, pacarnya. Banyak yang menatap iri padaku namun aku acuhkan. Merupakan suatu kebanggaan memiliki kekasih seperti Noah.
"Buat kamu, Lun. Nanti setelah selesai kelas, aku tunggu di ruang senat ya! Kita makan siang bareng!" Noah meletakkan kantong plastik di atas mejaku dan pamit setelah tersenyum. Tampan sekali kekasihku itu.
"Iya." Aku balas tersenyum dan melambaikan tangan malu-malu saat Noah pergi. Tatapan mata dari teman-teman masih tertuju padaku. Aku tak peduli, sudah biasa aku diiringi tatapan mata ingin tahu dari teman-temanku.
__ADS_1
Kubuka kantong plastik pemberian Noah. Isinya adalah beberapa roti manis yang Noah beli di Toko Kue Ibu. Tahu sekali Noah kalau aku sangat menyukai roti yang dijual di toko tersebut. Ada susu kotak rasa macha juga di dalamnya, salah satu kesukaanku.
Aku tersenyum dan merasa senang dengan perhatian yang Noah berikan. Aku merasa beruntung dan bersyukur memiliki Noah sebagai kekasihku. Aku memakan roti buatan Noah sampai dosenku datang dan fokus mendengarkan materi kuliah yang diberikan.
Sesuai janji, selesai kuliah aku menghampiri Noah di ruang senat. Tempat biasa Noah nongkrong bersama teman-teman senat mahasiswa lain. Kuketuk pintu ruang senat sebelum masuk.
"Masuk, Sayang!" jawab Noah dari dalam ruangan.
Aku heran, bagaimana Noah bisa tahu kalau aku yang datang?
Aku masuk ke dalam ruangan senat yang hanya berisi sofa dengan busa tipis dan sarung busa yang beberapa bagiannya bolong terkena sundutan rokok, lantai ruangan yang tak pernah bersih dan lemari kayu tempat anggota senat menaruh arsip kegiatan dan sebagainya. Kenapa Noah betah sekali berada di ruangan yang agak kotor begini? Lebih enak di teras ruang auditorium, lebih bersih dan ada angin sepoy-sepoy yang membuat nongkrong jadi terasa adem.
"Kok kamu tahu aku yang datang sih?" tanyaku sambil tersenyum. Tak ada siapapun di ruangan senat ini. Hanya Noah seorang.
"Tau dong. Tolong tutup pintunya ya, Sayang!" perintah Noah.
Dengan patuh aku menutup pintu ruang senat dan berjalan mendekati Noah. Aku baru saja hendak mendudukkan bokongku di kursi ketika Noah menarik tanganku dan menepuk pahanya. "Duduk di pangkuan aku saja!"
"Jangan ah, malu. Kalau ada yang lihat gimana?" tolakku.
"Tenang saja. Tak akan ada yang lihat kok. Kami akan rapat nanti sore. Mereka semua sibuk dengan kelasnya sendiri. Sini, duduk di pangkuanku. Memangnya kamu tidak kangen denganku?" Noah kembali menepuk pahanya.
Aku menurut apa yang Noah perintahkan. Aku duduk di atas pangkuannya. Noah lalu melingkarkan tanganku di lehernya. "Aku kangen sama kamu. Sehari saja tak ketemu, sudah kangen sekali."
Noah memegang daguku dan mencium bibirku dengan lembut. Aku membalas ciumannya. Aku juga merindukan Noah. Benar yang ia katakan, sehari saja tak bertemu rasanya sangat rindu.
Ciuman kami memanas. Tak lagi lembut, sudah bercampur dengan gairah anak muda yang membara. Aku membalas setiap pagutan Noah.
Tangan Noah mulai menjelajah, dimulai dari mengusap lembut wajahku. Kini tangan itu sudah memegang buah sintalku dan memainkannya, membuat aku terbakar gairah dalam sekejap.
__ADS_1
"Aku mau coba susu Neng Luna boleh?"
****