Toxic Love

Toxic Love
Panik


__ADS_3

POV Luna


Aku panik. Aku tak tahu harus bagaimana. Melihat ada darah di kaki Ariel membuatku tak bisa berpikir jernih. Andai ada Mas Bahri, pasti aku akan memintanya membawaku ke rumah sakit.


Aku terus menemani Ariel. Wajahnya semakin pucat. Aku takut Ariel kenapa-napa.


Dalam kepanikanku, hanya Mas Bahri yang ada dalam benakku. Aku harus menghubungi kekasihku, Mas Bahri punya pemikiran dewasa. Pasti bisa membantu di saat genting.


"Kenapa, Lun?" tanya Mas Bahri saat aku meneleponnya.


"Mas, aku mau bawa Ariel ke rumah sakit," tanyaku dengan panik.


"Memang Ariel kenapa? Tunggu Mas ya. Mas sudah mau sampai kostan. Mas tidak jadi lembur. Pak Rezvan tak jadi menyuruh Mas kerja karena mau temani istrinya jalan-jalan. Tenang, jangan panik!" kata Mas Bahri menenangkanku.


"Iya, Mas. Cepatlah!" Setelah menutup telepon, otakku mulai berpikir jernih. Aku membuka lemari Ariel dan memasukkan beberapa pakaian untuk baju ganti ke dalam tas.


"Kartu asuransi dan KTP kamu dimana?" tanyaku.

__ADS_1


Ariel menunjuk dompet miliknya yang berada di tas kecil miliknya sambil meringis kesakitan. Kuambil dompet dan memastikan kalau KTP dan kartu asuransi miliknya sudah lengkap. Tak lama kudengar suara klakson mobil.


"Mas Bahri sudah sampai. Sabarlah sebentar lagi. Kita ke rumah sakit ya," kataku menenangkan Ariel.


Suara langkah kaki terdengar. Aku cepat-cepat membuka pintu kamar. Nampak Mas Bahri terlihat ngos-ngosan sehabis menaiki anak tangga. "Ayo, Mas. Kita bawa Ariel ke rumah sakit!"


Mas Bahri masuk ke dalam kamar dan langsung mengangkat tubuh Ariel yang lemah tak berdaya. Air mata Ariel terus menetes bersama rintihan kesakitan yang ia rasakan. Rasanya pilu sekali saat mendengarnya.


Aku mengambil pakaian dan dompet milik Ariel yang sudah aku siapkan lalu mengikuti Mas Bahri keluar dari kamar. Aku dengan sigap membuka pintu mobil dan Mas Bahri menaruh Ariel di kursi belakang. Aku menemani Ariel dan duduk di sampingnya.


Aku terus menggenggam tangan Ariel selama perjalanan kami ke rumah sakit. Saat ini yang ada dalam pikiranku adalah aku harus menyelamatkan nyawa Ariel, jangan sampai dia kenapa-napa karena telat mendapat pertolongan.


Aku ingin menemani Ariel di dalam, namun security melarangku. Aku diminta mengurus administrasi agar Ariel bisa secepatnya ditangani.


Tanganku bergetar saat memegang pulpen. Aku benar-benar panik. Mas Bahri yang mengambil alih tugasku. Mengurus administrasi sementara aku mondar-mandir karena panik.


Saat nama Ariel disebut, aku reflek berdiri dan masuk ke dalam. Kulihat Ariel begitu lemah. Selang infus sudah terpasang di tubuhnya.

__ADS_1


"Mbak siapanya pasien?" tanya perawat yang memanggilku.


"Temannya," jawabku.


"Tak ada keluarganya?"


Aku baru sadar kalau aku belum menghubungi keluarga Ariel. "Keluarganya jauh di kampung. Akan aku hubungi secepatnya," jawabku.


"Mbak ditunggu dokter. Ada yang mau dibicarakan. " Perawat tersebut menunjuk meja tempat dokter jaga bertugas. Aku berjalan mendekat dengan rasa takut. Tak lama kurasakan tanganku digenggam. Aku menoleh dan melihat Mas Bahri sedang berjalan di sisiku. Kurasakan keberanianku kembali terisi.


"Kami temannya Ariel, Dok." Mas Bahri mewakiliku berbicara.


"Silahkan duduk." Dokter yang memeriksa Ariel terlihat begitu serius. Aku jadi takut dengan apa yang akan dikatakannya.


"Teman kalian mengalami pendarahan hebat. Apa kalian tahu kalau dia habis melakukan aborsi?" tanya Dokter pada kami.


"Hah? Aborsi?" Mas Bahri begitu terkejut mendengarnya.

__ADS_1


***


__ADS_2