
"LUNA!" bentak Pakde Darto padaku.
"Biasa aja, Pakde. Tak perlu membentak segala. Pakde sejak tadi bicara sama Mama tidak pakai hati nurani saja, aku santai. Pakde jangan sok ceramahin Mama deh seakan Pakde adalah wali yang baik buat Mama. Apa? Poligami? Pakde tahu tidak berapa janda yang sudah Papa nikahi siri? Lebih dari 4, Pakde. Mama masih sabar menerimanya." Aku terus bicara mesti Mama menyuruhku diam dan terus menangis sedih.
"Ma, Mama tetap menjadi istri yang menutupi aib suaminya. Tenang saja. Aku yang akan membuka aib Papa agar keluarga Mama yang tak punya hati nurani ini bisa mikir kalau saudara mereka lagi kesulitan, lagi ada masalah. Bukannya dihibur malah diserang dengan kata-kata tidak berotak!" kataku pada Mama.
Sudah terlanjur basah, sekalian saja aku guyur dengan air. "Kalau Bude Siti punya suami seperti Papa yang suka kawin siri dengan janda kampung sebelah, apa Bude akan tetap bertahan?" tanyaku pada Bude Siti.
"Ih, ogah. Amit-amit deh. Kamu jangan doakan suami Bude seperti itu dong!" jawab Bude Siti.
"Nah, Bude takut bukan? Mama yang mengalaminya, Bude. Papa gonta ganti istri seperti ganti mobil. Kalau tak cocok tinggal ditalak. Mamaku sabar menghadapi suami seperti itu. Kurang apalagi coba, Mama?" kataku semakin seenaknya saja.
"Sekarang Pakde, kata menurut Pakde keputusan Mama bercerai adalah keputusan yang bodoh? Asal Pakde tahu, kalau Mama tak gugat cerai, bisa-bisa Mama hanya tinggal nama saja." Aku tak kuasa menahan air mataku. Bayangan Mama dicekik Papa masih membekas dalam benakku. Menjadi memori kelam yang susah sekali aku hapus.
"Papa pernah mencekik Mama, aku saksinya. Demi Allah, aku lihat Papa mencekik Mama. Kalau aku tak pulang malam itu, mungkin Mama sudah tiada. Pakde bilang Mama bodoh? Tak apa Mamaku bodoh, asal masih bisa hidup sampai saat ini!" Aku memeluk Mama dan bersyukur Mama masih bisa kupeluk.
Kulepaskan pelukan Mama dan kuhapus air mataku. Semua belum selesai. Kalau bukan aku yang membela Mama, siapa lagi?
__ADS_1
"Mama datang hari ini hanya untuk menjelaskan kepada kalian tentang status barunya. Mama tak minta apa-apa. Kenapa sih kalian begitu kejam sama Mama. Kalian menghakimi dan menuduh Mama padahal kalian sendiri tidak tahu apa yang sudah Mamaku alami. Kalian berkata dengan kejam, tak punya empati dan rasa peduli, padahal kalian adalah saudara kandung Mama. Kalian dilahirkan dari rahim yang sama. Kenapa tidak ada sedikit saja rasa kasihan terhadap Mamaku ini?"
"Mama sudah kehilangan semuanya. Mama tak pernah minta sama kalian sama sekali. Mama kerja keras dari pagi sampai malam demi apa? Demi aku. Demi menghidupiku. Asal kaliam tahu, bukan Papa yang menurut kalian hebat itu yang membiayaiku selama ini, Mama yang membiayaiku. Sudah lama Papa tidak pernah menafkahi Mama. Memberi nafkah aku saja sangat jarang. Semua habis karena Papa sibuk dengan istri siri barunya. Kalian mengatakan kalau mama tak bisa mengurus Papa? Kalian salah, Papa yang tak pernah bisa mengurus rumah tangganya dengan Mama dan asyik menggoda para janda."
"Kalau kalian ada di posisi Mama, apa kalian masih bertahan? Punya suami yang suka gonta-ganti istri, tidak dikasih nafkah, setiap hari selalu disakiti hatinya dan terakhir malah dicekik dan hampir meninggal. Apa masih mau bertahan dengan rumah tangga yang gila seperti itu? Kalau kalian bilang harus bertahan, aku sumpahin kalian akan merasakan apa yang Mama rasakan!" kataku tanpa kenal taku.
Pakde dan bude wajahnya langsung pucat setelah mendengarku berkata seperti itu. Biarkan saja, berani mereka menghina dan menyakiti Mama, aku yang akan maju! Aku tak peduli mau dikeluarkan dari keluarga besar Mama karena aku tak salah. Aku hanya ingin membela Mamaku dari orang-orang jahat di sekitarnya.
"Lun, sudahlah," kata Mama dengan suara serak karena sejak tadi terus menangis.
Aku memegang kedua bahu Mama dan berkata dengan tegas. "Maafin Luna, Ma. Luna hanya tak bisa diam melihat Mama disakiti seperti ini. Sudah cukup Papa yang menyakiti Mama, jangan ada lagi yang menyakiti Mama. Mama berhak bahagia!"
"Mbah, Mama begitu sayang sama Mbah. Alasan Mama bertahan dengan rumah tangganya yang tak sehat adalah karena tak mau Mbah kecewa. Mama harus menjadi anak yang berbakti sama Mbah meski harus menahan perasaan setiap kali Papa mengamuk dan merusak barang-barang di rumah. Tolong jangan menghakimi Mama lagi. Sudah cukup takdir kejam yang menghakimi Mama. Jangan salahkan Mamaku lagi. Biarkan Mamaku hidup bahagia dengan kebebasannya kali ini. Seumur hidup itu terlalu lama jika Mama habiskan dengan Papa."
Mbah Uti menghapus air matanya. Wajahnya nampak menyesali perbuatannya yang sudah memojokkan Mama tanpa tahu apa yang sudah terjadi..
"Wulan, kasihan kamu, Nak. Maafin Ibu ya, Nak. Ibu memang bodoh. Ibu hanya mementingkan nama baik padahal kamu hidup menderita menjadi istri Tedjo. Maafkan Ibumu yang bodoh ini ya, Lan." Mbah Uti perlahan berdiri dan menghampiri Mama. Mbah Uti memeluk Mama dengan erat membuat air mata Mama tumpah ruah di pelukan ibunya.
__ADS_1
Biar bagaimana pun Mama adalah seorang anak yang memerlukan pelukan ibunya saat ada masalah. Kubiarkan Mama menangis di pelukan Mbah Uti sampai Mama tenang.
"Maafin Wulan ya, Bu. Wulan sudah membuat Ibu malu," kata Mama di sela isak tangisnya.
"Tidak apa, Lan. Ibu lebih memilih kamu bahagia. Benar yang Luna katakan. Kamu sudah cukup menderita selama ini. Mama tak mau menambah penderitaan kamu lagi. Hiduplah bahagia mulai sekarang." Mbah Uti mengusap punggung Mama dengan penuh kasih.
Sekarang aku tatap bergantian kedua Om dan Tanteku. Kalau mereka masih bicara kejam, lihat saja, aku akan balas. Kalau perlu aku akan ambil air dan menyiram otak mereka yang tak beres. Super Luna tak akan kalah menghadapi para penjahat tak tahu diri macam mereka!
"Pakde dan Bude tak mau minta maaf sama Mama? Mau aku sumpahin lagi biar kalian sadar?" ancamku.
"Tak perlu. Kami sadar kok. Kami hanya tak tahu apa yang sudah terjadi saja," jawab Bude Siti tak mau kalah.
"Maaf ya, Lan. Aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Beruntung deh kamu cerai dari Tedjo. Jangan mau punya suami seperti itu," kata Bude Siti meminta maaf pada Mama.
Mama mengangguk dan masih menyandarkan kepalanya di pelukan Mbah Uti.
"Aku juga minta maaf, Lan. Maafkan aku."
__ADS_1
****