
POV Luna
Aku menghentikan langkahku saat mendengar namaku disebut. Aku berbalik badan dan melihat Ariel berlari dengan tergesa mengejarku.
Huft ... mau apalagi sih dia?
"Kamu ... dari mana?" tanya Ariel dengan nafas tersengal saat sudah berada di sampingku.
"Habis ketemu Noah," kataku dengan santai.
"Noah? Di mana?" tanya Ariel lagi.
"Di cafe. Kenapa?" tanyaku balik. "Langsung intinya saja deh, Riel, aku mau pulang ke kostan."
"Kamu kenapa sekarang jarang kelihatan sih, Lun? Kamu-" Belum selesai Ariel bicara, ada lagi yang memanggil namaku.
"Luna!" Noah berlari menghampiriku.
Ariel terlihat salah tingkah berada di sekitar kami berdua. "Kamu salah panggil, seharusnya kamu panggil Ariel, bukan memanggil namaku."
"Maksud kamu apa, Lun?" tanya Ariel dengan ekspresi bingung.
Aku balas tersenyum sinis. "Sudah ya, kalian hanya membuang-buang waktuku saja!"
Baru saja aku hendak pergi, lenganku dipegang oleh Noah. "Lun, please. Aku tak mau hubungan kita berakhir seperti ini. Aku sayang sama kamu!"
"Sst! Jangan ngomong begitu ah di depan Ariel. Kamu harus menjaga perasaannya!" sindirku.
"Jaga perasaanku, maksudnya apa ya, Lun?" tanya Ariel yang terlihat makin bingung dan mulai kesal.
"Ya jaga perasaan kamu. Kalian bukankah sudah selingkuh di belakangku ya?" Aku kembali memasang senyum meski saat mengatakannya hatiku terasa teriris.
Ariel terkejut karena aku tahu apa yang dilakukannya di belakangku. "Lun, aku-"
__ADS_1
"Tak perlu menjelaskannya, Riel. Aku pikir kamu sahabat baikku, ternyata kamu malah tega menusukku dari belakang. Sekarang aku sudah putus dengan Noah. Kalian bebas untuk menjalin hubungan, silahkan, kalian mau berbuat apa saja di kostan kamu, bebas." Aku mencoba melepaskan tangan Noah yang masih memegang lenganku.
"Kita belum putus. Aku tidak mau. Itu hanya keputusan kamu sepihak, Lun. Pokoknya aku tidak mau kita putus!" kata Noah tak mau kalah.
Aku melirik ke arah Ariel. Kulihat Ariel begitu kecewa dengan ucapan dari Noah yang seakan tak rela untuk melepasku pergi. "Terserah kamu, yang pasti aku sudah tak mau lagi punya hubungan dengan kamu!"
"Aku enggak mau!" kata Noah masih bersikeras dengan pendiriannya.
"Kalian mulai saja hubungan kalian secara terang-terangan. Tak perlu lagi bersembunyi karena sekarang kalian sudah bebas. Jangan ganggu hidupku lagi. Kamu, bukan pacarku lagi!" kataku pada Noah dengan tegas.
Aku kini menatap Ariel dengan tatapan kecewa atas apa yang ia lakukan padaku. "Dan kamu, Ariel. Aku kira kamu sahabat, ternyata kamu enggak lebih dari sekedar musuh dalam selimut. Lebih baik kita tak usah berteman lagi. Aku enggak bisa berteman dengan orang yang di depanku baik tapi malah menusukku di belakang!"
Kuhempaskan tangan Noah dengan sekuat tenaga lalu pergi meninggalkan dua pasangan sialan itu. Aku masih mendengar suara mereka. Noah yang ingin mengejarku dan Ariel yang menahan langkahnya. Sebelum aku berbelok ke arah kostanku, aku mendengar apa yang dikatakan Ariel.
"Sudahlah, lepaskan saja Luna pergi. Kamu tuh sekarang milik aku. Jangan lagi kamu mengharap dia," kata Ariel dengan nada penuh kemenangan.
Hatiku sakit sekali mendengarnya. Akhirnya Ariel mau membuka kedoknya di depanku. Sahabat yang selama ini aku pikir baik ternyata enggak lebih dari sekedar sampah yang tega merebut apa yang aku miliki. Jahat sekali mereka berdua padaku. Tak apa, aku akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih ikhlas lagi. Rina bilang, apa yang terjadi padaku saat ini adalah yang terbaik menurut Allah. Aku akan menerimanya. Semua demi masa depan yang lebih baik.
Aku menghapus air mataku dan melanjutkan langkahku menuju kostanku yang nyaman dan tenang. Aku sekarang malah lebih menyukai berada di kosan ini dibanding di rumahku sendiri. Seringnya penghuni kosan mengaji dan melakukan beberapa kegiatan bersama membuatku merasa betah sekali tinggal di tempat ini. Rasanya teman kostku lebih seperti saudaraku sendiri.
Aku tersenyum dan tanpa sungkan ikut ngerujak bersama mereka. Sekarang aku sudah tidak menjadi pribadi yang tertutup seperti sebelumnya. Aku bisa membaur dan mendengarkan cerita mereka. Aku bisa melupakan sejenak masalahku.
Kami bubar untuk sholat ashar dan nanti akan kumpul kembali untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah dan pengajian rutin setelahnya. Aku mengacuhkan panggilan dan pesan yang Noah tujukan padaku. Antara aku dan Noah sudah berakhir. Semua bagaikan masa lalu kelam yang harus aku kubur dengan rapat.
Adzan maghrib sudah berkumandang. Kuambil wudhu dan membawa mukenaku ke lantai bawah. Ruang tamu sekaligus ruang santai yang lumayan luas kami jadikan tempat untuk sholat maghrib berjamaah. Selesai sholat, kami bergantian membaca Al-Quran. Bacaanku sekarang sudah lebih baik dan mengalami kemajuan. Sudah tidak gugup lagi dan terbata-bata saat membacanya.
"Assalamualaikum!" sapa Kak Azizah yang baru pulang kerja.
"Waalaikumsalam," jawab kami semua dengan kompak. Kami baru saja selesai mengaji dan sedang melipat mukena saat Kak Azizah datang.
"Yah aku telat lagi ya? Maaf ya aku hanya bisa gabung kalau libur kerja saja," kata Kak Azizah.
"Tak apa, Kak. Santai saja. Eh, Kakak pulang bareng Kak Bahri ya?" tanya Rina sambil melongokkan kepalanya ke pintu.
__ADS_1
Bahri?
Aku yang penasaran ikut melongokkan kepalaku dan melihat lelaki yang mengenakan kemeja sedang duduk di kursi depan kostan tempat kami bisa menerima tamu yang bukan mahromnya. Aku terkejut saat mendapati ternyata Bahri yang bersama Kak Azizah adalah Bahri tetangga kostanku dulu.
"Tolong ambilkan air minum ya, Rin. Kakak mau sholat maghrib dulu." Kak Azizah masuk ke dalam.
Aku mengikuti Rina karena penasaran. "Rin, itu siapa?"
"Oh, itu rekan kerja Kak Azizah, Kak Bahri namanya. Kenapa? Ganteng ya?" Rina mengambil segelas air dan membawakannya ke depan. Aku mengikuti Rina karena masih penasaran.
"Loh, kenapa kamu ikutin aku, Lun?" tanya Rina yang menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Mau bilang terima kasih."
"Hah? Bilang terima kasih sama siapa? Kak Bahri? Memangnya kamu kenal?" tanya Rina.
"Kenal, karena itu aku mau bilang terima kasih." Aku berjalan duluan dari Rina dan menyapa Bahri dengan ramah.
"Mas Bahri," sapaku.
"Hi Lun!" Bahri tersenyum ramah padaku.
Rina memperhatikanku dan Bahri bergantian dengan tatapan penuh tanda tanya. "Kok kalian saling kenal sih? Kenal dimana?" Rina menaruh air minum untuk Bahri lalu duduk di kursi.
"Mas Bahri ini tetangga samping kostan aku kemarin, Rin. Mas Bahri juga yang sudah menolongku, Rin. 2 kali!" kataku.
"Mas Bahri terima kasih banyak ya sudah menolongku," kataku dari hati yang terdalam.
"Sama-sama, Lun. Itu tugasku sebagai sesama manusia," jawab Bahri dengan tenang.
"Mas Bahri kok bisa bareng Kak Azizah? Cie ... pulang bareng nih ceritanya?" goda Rina.
Pulang bareng? Maksudnya Mas Bahri adalah pacarnya Kak Azizah?
__ADS_1
****