
Luna
Aku kembali menyerahkan diriku. Aku memang bodoh. Tak boleh dipancing sedikit sudah luluh.
Aku menghela nafas dalam. Sejak tadi aku terus mengguyur tubuhku dengan air dingin yang ada di kamar mandi. Aku ingin membuat otakku sadar kalau aku sudah kembali melakukan perbuatan yang salah.
Sampai kapan aku begini?
Ah sudahlah! Kepalang tanggung. Jalani saja! Toh aku seperti Mama yang begitu takut kehilangan Papa. Aku melarang Mama tapi malah aku yang mengikuti jejaknya. Ternyata kehilangan lelaki yang dicintai tak semudah yang kukatakan. Mulai sekarang, aku tak akan memaksa Mama meninggalkan Papa, karena aku sendiri pun sulit jika harus meninggalkan Noah.
Hubunganku dengan Noah kembali membaik. Noah mulai rajin datang ke kostanku. Aku tak perlu bingung memikirkan akan makan apa. Noah sudah menyediakan semuanya.
"Lun, aku membawakan kamu sesuatu," kata Noah. Ia datang sehabis maghrib dengan sebuah kotak pizza di tangannya.
"Bawa apa? Pizza bukan?"
"Bukan. Aku bawa sesuatu yang penting buat kamu." Noah lalu mengeluarkan sebuah benda dari saku jaketnya dan memberikannya padaku.
"Apa ini? Pil KB?" tanyaku sambil mengerutkan keningku.
Noah mengangguk. "Kamu harus minum setiap malam. Jangan sampai lupa."
"Maksudnya, kamu takut aku hamil?" kataku langsung ke intinya. Aku mulai tersulut emosi.
"Bukan begitu, Lun. Kita tuh laki-laki dan perempuan dewasa yang sehat. Kita sering melakukan penyatuan cinta. Kita sedang menikmati indahnya hubungan kita. Kita juga sedang menyelesaikan pendidikan kita. Jalan kita masih panjang, Lun. Percayalah, ini demi masa depan kita. Aku sayang sama kamu, Lun. Kita bisa memiliki anak setelah kita selesai kuliah, oke?" bujuk Noah.
Sebenarnya aku masih kesal karena Noah menyuruhku minum pil KB. Aku berpikir Noah takut aku hamil makanya aku dibelikannya pil ini. Namun perkataan Noah kalau kami bisa memiliki anak setelah selesai kuliah membuat amarahku mereda. Noah masih akan terus bersamaku, tak akan meninggalkanku. Kami akan menikah selesai kuliah dan memiliki anak-anak yang lucu.
"Baiklah. Akan aku minum setiap hari," kataku.
Noah tersenyum puas dengan jawabanku. Ia mengusap kepalaku dengan lembut karena aku sudah menuruti perkataannya. "Nah begitu dong, pintar namanya. Kita libur UTS kapan ya? Aku bosan nih di Jakarta terus. Bagaimana kalau kita ke Bandung? Jalan-jalan sekalian cuci mata?"
Tentu saja aku senang dengan ajakan Noah. Jalan-jalan ke Bandung saat libur UTS. Siapa yang mau nolak. "Minggu depan kayaknya. Aku sih mau saja. Aku juga bosan di kostan terus."
__ADS_1
"Oke. Kita liburan bareng ya. Aku akan cari hotel dulu." Noah membuka ponselnya dan sibuk membuka aplikasi travel untuk membooking hotel.
Aku mengambil pizza yang Noah bawa lalu menyalakan TV di kamarku. Sehari-hari kami memang seperti ini. Noah yang rajin bermain di kostanku dengan membawa aneka makanan dan terkadang kami berakhir dengan permainan panas di ranjangku.
Mumpung ingat, aku mengambil pil KB yang Noah berikan lalu meminumnya. Aku harus minum rutin agar aku tidak hamil. Benar yang Noah bilang, kami masih ada kuliah yang harus diselesaikan. Jangan sampai kehamilanku merusak masa depan kami sendiri.
"Kalau hotel ini bagaimana, Lun?" Noah menunjukkan foto hotel yang terlihat nyaman dengan fasilitas kolam renang. "Pemandangannya keren. Dekat dengan keraiamaian jadi kita bisa jalan-jalan. Toiletnya keren, ada bathup. Kita bisa nyoba tuh di bathup."
"Nyoba?" Aku paham maksudnya Noah adalah mencoba tempat baru untuk melakukan penyatuan. "Boleh saja. Aku sih ikut saja apa yang kamu mau," kataku sambil memakan pizza yang masih hangat. Enak. Sejak bersama Noah aku jadi sering makan enak. Noah sangat royal dan tak pelit. Apapun yang aku minta pasti ia berikan.
"Oke. Aku booking sekarang ya!"
****
"Kamu tidak pulang Lun? Bukankah kamu libur sehabis UTS?" tanya Mama padaku ditelepon.
"Tidak, Ma. Aku mau jalan-jalan ke Bandung" jawabku jujur. Kuambil baju yang akan aku pakai selama di Bandung lalu kumasukkan dalam tas. Tak lupa lingerie seksi juga aku bawa. Noah sangat senang kalau aku memakai lingeri seksi ini di depannya.
Aduh gawat, kenapa aku pakai jujur segala dan bilang kalau aku mau ke Bandung. Mama jadi bertanya deh sama aku. Hmm ... kalau bilang sama Ariel kayaknya Mama tak akan curiga deh.
"Sama Ariel, Ma."
"Oh sama Ariel ... ya sudah, hati-hati. Jaga diri kamu. Karena kamu tak pulang, Mama mau ambil lemburan saja deh. Lumayan uangnya buat kamu jajan."
"Lembur lagi? Kenapa Mama tidak istirahat di rumah saja sih?" protesku.
"Bosan, Lun. Nanti Papa kamu nyari ribut terus sama Mama. Oh iya, kamu sudah dengar berita baru belum? Papa kamu katanya sudah menceraikan istri yang baru 3 bulan dinikahinya loh. Cuma 3 bulan saja, Lun!" cerita Mama dengan nada biasa saja.
Aku menghela nafas dalam. "Mama sedih?" tebakku.
"Tidak. Biasa saja. Mama bahkan sudah tak ingat berapa banyak mantan istri Papa kamu, Lun." Jawaban Mama membuatku semakin miris mendengarnya. Terlalu sering merasakan sakit membuat hati Mama jadi kebal. Mama terlihat biasa saja karena rasa sakit yang dirasakannya sudah terlalu menyakitkan. Otak Mama membuatnya jadi biasa saja, itu adalah cara Mama melindungi dirinya dari rasa sakit yang terus menerus dirasakan. Miris sekali.
"Kalau Mama sedih dan mau menangis, Luna siap kok mendengarkan curhatan Mama." Aku tahu yang dibutuhkan Mama adalah tempat berkeluh kesah. Hanya ini yang bisa kulakukan.
__ADS_1
"Curhat apa? Mama baik-baik saja, Lun. Sudah ya, Mama mau siap-siap ke kantor dulu. Nanti kalau uang lemburan Mama cair lagi, Mama akan transfer kamu. Ingat, jangan makan mie instan terus ya, makan sayur!" pesan Mama sebelum mengakhiri panggilan kami.
Huft ... Poor Mama ....
Aku memasukkan parfum, aneka skincare dan make up milikku ke dalam tas selempang yang kubawa. Siap semua. Kami hanya dua hari di Bandung, tak perlu membawa banyak baju.
Oh iya, hampir saja lupa!
Aku membuka lemari es dan mengambil pil KB yang kusimpan di lemari es. Bahaya kalau sampai lupa. Kumasukkan pil KB milikku dalam tas selempang yang kubawa. Semua sudah siap, hanya tinggal menunggu Noah dan kami pergi deh.
"Lun! Kamu ada di dalam?" Suara Ariel mengetuk pintu kamarku.
Aku membuka pintu kamar dan melihat Ariel yang terlihat agak kacau. "Kamu kenapa, Riel?" tanyaku dengan khawatir.
"Tak apa. Kamu mau kemana, Lun? Pulang ke rumah?" Ariel masuk ke dalam kamarku dan melihat sebuah tas agak besar berisi pakaian yang sudah kupacking.
"Itu ... aku mau ke Bandung, Riel."
"Sama siapa? Mama kamu?" tanya Ariel lagi.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ariel, Noah datang dengan senyum lebar di wajahnya. "Sayang, sudah siap?"
Aku dan Ariel saling tatap. "Oh ... sama Noah." Ariel menatapku dengan tatapan curiga.
"Riel, aku boleh minta tolong sama kamu?"
"Minta tolong apa, Lun?" tanya Ariel.
"Kalau Mama aku tanya, kamu mau 'kan bilang ke Mama kalau aku pergi ke Bandung sama kamu? Please ...."
"Kalau aku enggak mau gimana?"
****
__ADS_1