
POV Author
Sudah dua hari Luna tak masuk kerja karena kakinya terkilir. Besok Luna memutuskan untuk masuk kerja. Tak enak dirinya belum sebulan bekerja sudah tidak masuk kerja dua hari. Luna hendak mengabari Mas Bahri kalau dirinya akan masuk besok.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, saat sedang memikirkan Bahri eh yang dipikirkan tiba-tiba datang. Alasannya mau mengajari Rina cara membuat CV -curriculum vitae- yang menarik agar mudah diterima bekerja di perusahaan lain.
"Lun!" panggil Rina yang melihat Luna turun ke bawah hendak membuang sampah.
Luna tersenyum saat melihat Bahri. "Sudah pulang kerja, Mas?" sapa Luna. Ia membuang plastik sampahnya di tempat sampah lalu duduk bergabung di teras bersama Rina dan Bahri.
"Sudah. Belum lama. Nih, Rina bawel minta diajari membuat CV yang bagus," ujar Bahri. "Kaki kamu bagaimana? Sudah sembuh?"
"Alhamdulillah sudah enakkan, Mas. Besok aku bisa masuk kerja," jawab Luna.
"Syukurlah. Besok aku jemput jam 6 pagi ya!" kata Bahri.
"Yeh ... main jemput aja! Luna mau enggak dijemput sama Kakak?" ledek Rina.
"Udah jangan bawel. Kerjakan seperti yang aku ajari!" kata Bahri malu-malu. Bahri merasa langkahnya terlalu terburu-buru.
"Aku naik angkot saja, Mas. Aku tak mau merepotkan Mas Bahri," tolak Luna halus.
"Kata siapa merepotkan? Enggak kok. Justru kalau kamu naik angkot, kaki kamu yang baru sembuh bisa keinjek sama penumpang lain. Kalau tambah parah dan bengkak lagi gimana?" bujuk Bahri.
"Iya juga sih. Yaudah deh, maaf ya merepotkan Mas Bahri terus," kata Luna tak enak hati.
__ADS_1
"Bisa aja Kang Galon kalo usaha. Makin terang-terangan aja nih," ejek Rina sambil tertawa.
Bahri mencubit pipi Rina yang meledeknya dengan gemas. "Bawel lagi aku tidak jajanin kamu seblak loh!" ancam Bahri.
"Aww! Sakit, Kak!" Rina mengusap pipinya yang habis dicubit Bahri. "Ih mainnya ngancem-ngancem nih sekarang. Awas ya!"
Luna tersenyum melihat interaksi Bahri dan Rina. Benar-benar seperti kakak beradik. Akrab sekali.
"Assalamualaikum," ucap Azizah yang baru pulang kerja.
"Waalaikumsalam," jawab ketiganya kompak.
Azizah menghela nafas dalam melihat adiknya dan Luna sedang tertawa akrab dengan lelaki yang disukainya. Azizah pun mengusap dadanya seraya istighfar agar rasa amarah dan iri dalam hatinya pergi. "Aku ke kamar dulu ya!"
Bahri tersenyum melihat perubahan Azizah. "Memang ya Ustadzah Rina kalau sudah berkata tak ada yang berani membantah," kata Bahri pada Rina setelah Azizah masuk ke dalam rumah.
"Memang Luna jago bikin seblak? Aku belum pernah coba," tanya Bahri.
"Mas Bahri mau? Kalau mau, aku buatkan. Mumpung bahan-bahan membuat seblak masih ada," tawar Luna.
"Kalau kamu mau buatkan sih aku mau saja," jawab Bahri sambil tersenyum.
"Oke. Aku buatkan dulu ya!" Luna pun masuk ke dalam untuk membuat seblak Mang Rapael kesukaannya.
"Yah ... gagal deh ditraktir seblak," gerutu Rina.
__ADS_1
Bahri tersenyum melihat Rina yang menggerutu. Dikeluarkannya dompet miliknya dari saku belakang lalu mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribu. "Nih, beli seblak dan martabak kesukaan kamu sana!"
"Asyik!" Rina menyambar uang di tangan Bahri dan pergi secepat kilat membeli seblak dan martabak yang terletak tak jauh dari kostan mereka.
Bahri memainkan ponselnya seraya menunggu Rina dan Luna datang. Tak lama Luna datang membawa cobek berisi seblak buatannya. "Loh, Rina mana?"
"Beli seblak. Sudah jadi seblaknya? Sini aku coba!" jawab Bahri.
Luna mendekat dan menaruh cobek yang dibawanya di atas meja. "Semoga suka ya, Mas," kata Luna malu-malu.
"Udah suka kok, eh, maksudnya aku udah suka seblak sejak lama. Rina yang buat aku suka makan seblak." Hampir saja Bahri keceplosan. Untung dia bisa mengelak. Bahri mencoba seblak buatan Luna. Baru satu suapan Bahri terbatuk-batuk.
Uhuk ... uhuk ...
"Ya ampun, Mas. Minum dulu!" Luna dengan sigap mengambil gelas milik Bahri di atas meja dan memberikan padanya. Tangan Luna dan Bahri saling bersetuhan saat menyerahkan gelas.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung keduanya bertalu kencang. Bahri terdiam, batuknya tiba-tiba hilang berganti rasa grogi.
"Mi-minum dulu, Mas!"
Bahri kembali batuk-batuk. Cepat-cepat diminumnya air yang Luna berikan.
"Kepedesan ya, Mas? Jangan dimakan deh takut Mas sakit perut." Luna hendak memasukkan kembali cobek berisi seblak buatannya namun tangan Bahri mencegahnya.
__ADS_1
"Tak apa. Aku suka rasanya kok. Pedas sih tapi bikin nagih."
****