Toxic Love

Toxic Love
Bidadari Tanpa Selendang


__ADS_3

POV Luna


"Ma, aku sudah masak buat bekal Mama ya. Aku berangkat dulu, Ma, assalamualaikum!" Aku salim dengan Mama yang menjawab salamku dengan mengantuk. Sehabis sholat subuh Mama kembali melanjutkan tidurnya dan baru berangkat kerja jam 9 nanti.


Aku berjalan keluar kostan menuju tempat pemberhentian angkot. Masih ada cukup waktu sampai jam masuk kantor. Aku sengaja berangkat agak pagi agar tidak telat karena lalu lintas ibukota yang tak bisa diprediksi. Aku terhenyak saat ada yang membunyikan klakson padaku.


Tiin!


Aku menoleh dan melihat mobil Mas Bahri berhenti tepat di halte tempatku berdiri. "Luna, mau berangkat ke kantor?" tanya Mas Bahri sambil tersenyum ramah.


"I-iya, Pak."


"Naiklah! Bareng sama aku!" ajak Mas Bahri.


Kali ini aku tak langsung mengiyakan ajakan Mas Bahri. Rasanya tak enak kalau teman-teman satu ruanganku tahu aku pergi ke kantor bareng Mas Bahri. Posisi Mas Bahri kini atasanku di kantor. Ada rasa sungkan karena aku tak mau Mas Bahri yang baik jadi omongan orang satu kantor dan takur menimbulkan gosip tak sedap.


"Hei, Luna. Kok kamu malah melamun? Ayo, cepat! Nanti kita kesiangan!" ajak Mas Bahri lagi padaku.


"A-aku tak enak kalau bareng sama Bapak," kataku dengan pelan.


"Tak enak gimana? Sudah cepat naik!" perintah Mas Bahri dengan tak sabar. Di belakang mobil Mas Bahri sudah ada motor yang klakson.


Tak mau membuat Mas Bahri diomeli, mau tak mau aku naik ke dalam mobilnya. Aku tak bisa menolak. Di dalam mobil, aku bingung mau bicara apa. Mas Bahri fokus mengemudi karena jalanan sudah mulai macet.

__ADS_1


"Pak, maaf aku tadi menolak ajakan Bapak. Aku tak enak karena Bapak adalah atasanku. Aku tak mau sampai ... ada gosip tak enak tentang Bapak." Aku akhirnya membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Mas Bahri tersenyum dan menjawab kegelisahanku dengan santai. "Biarkan saja. Kamu cukup bilang kalau tempat kost kita berdekatan. Mereka tak akan bertanya apapun lagi."


"Aku ... tak enak. Aku banyak menyusahkan Bapak." Aku memilin jari jemariku, berusaha mengusir rasa gugup yang kurasakan.


"Kalau kita hanya berdua, panggil saja Mas, seperti kamu biasa memanggilku. Panggilan Pak hanya saat di kantor, panggil Mas juga tak apa sih kalau kamu siap ditanya sama yang lain." Mas Bahri tersenyum ramah. "Santai saja, toh kita sudah lama kenal. Kamu tak perlu merasa diri kamu menyusahkan, aku juga tak membantu banyak kok."


Aku melirik ke arah Mas Bahri dan teringat kalau ia adalah laki-laki yang pernah tersakiti hatinya. Apa Mas Bahri merasakan apa yang kurasakan sekarang?


"Mas baik sama aku karena Mas pernah berada di posisiku yang sekarang ya?" Tanpa sadar mulutku sudah mengatakan apa isi hatiku.


"Apa? Posisi yang sama?" Mas Bahri menghentikan mobilnya di lampu merah. Ia kini menatapku lekat. Aku semakin grogi, semakin sering memilin jari jemariku.


"Sahabatku tidak pernah mengkhianatiku seperti yang sahabat kamu lakukan. Dia ... hanya tidak mencintaiku dan menganggapku tak lebih dari teman."


Aku mengangkat wajahku dan mata kami kini bertemu. "Maaf, aku sudah sok tahu tentang Mas. Bukan sekali saja aku bersikap seperti ini. Waktu itu aku menuduh Mas sebagai stalker. Sekarang aku malah berbuat hal yang sama. Maafkan kebodohanku ya, Mas." Aku menepuk bibirku yang suka seenaknya saja kalau bicara.


Tak disangka Mas Bahri menahan tanganku. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi. Kamu bukan menuduh tapi kamu tak tahu. Seharusnya kamu bertanya saat tak tahu sesuatu bukan menyimpulkan sendiri. Tak apa, tidak semua hal di dunia ini bisa kita ketahui."


Mas Bahri melepaskan tanganku dan kembali melajukan mobil. Meninggalkanku dengan jantung yang berdegup kencang.


"Mas, turunkan aku di sana saja. Jangan sampai ada yang lihat aku berangkat bareng sama Mas Bahri." Aku menunjuk halte yang terletak tak jauh dari kantorku.

__ADS_1


Mas Bahri tak mendengarkan perkataanku dan tetap membelokkan mobil memasuki parkiran gedung. "Kamu tuh terlalu takut akan hal yang belum pasti. Kalau kamu turun di sana, kemungkinan kamu bertemu dengan teman-temanmu semakin besar. Lebih baik di parkiran mobil. Jarang ada orang."


"Maaf, Mas," kataku lagi.


Mas Bahri memarkirkan mobilnya dan tak langsung membukakan pintu mobil untukku. Aku melirik ke arahnya dan melihat wajah Mas Bahri yang terlihat kesal.


"A-aku buat kesalahan lagi ya, Mas? A-aku minta maaf kalau aku sudah salah bicara," kataku semakin merasa bersalah.


Kudengar Mas Bahri menghela nafas kesal. "Luna, kenapa sih kamu harus selalu meminta maaf sama orang lain?" Mas Bahri lalu memegang daguku dan mata kami pun bertemu.


"Lihat aku, kenapa kamu jadi seperti ini sih? Kenapa kamu berubah? Dulu kamu tidak seperti ini? Kenapa kamu sekarang jadi sering menyalahkan diri kamu sendiri sih?"


"Dulu?"


"Ya, dulu. Waktu awal kamu pindah ke samping kostanku. Kamu suka bernyanyi, kamu begitu bahagia bisa bebas dari Papamu. Kenapa sekarang kamu jadi pribadi yang semakin tertutup dan minder? Kamu itu hebat, Luna. Kamu berani. Rina banyak cerita tentang kamu. Come on, berhenti minta maaf padahal kamu tak salah. Diri kamu tuh berharga, jangan membuat diri kamu seakan selalu salah. Itu yang membuat mantan pacar kamu selalu memaksamu menuruti kemauannya!"


Aku menundukkan pandanganku. Aku tak kuasa menatap Mas Bahri yang terlihat begitu tampan dan mempesona dengan kata-katanya yang bijak. Aku malu karena kini aku seperti malaikat yang tak lagi memiliki sayap. Aku seperti bidadari yang tak lagi memiliki selendang. Mahkotaku sudah hilang. Aku tak berharga lagi, seperti yang Noah katakan. Sejauh aku pergi, aku akan kembali pada Noah karena dia yang telah mengambil mahkotaku. Tak ada yang mau denganku yang dianggap wanita murahan karena dengan mudahnya menyerahkan mahkotaku pada lelaki lain.


Mas Bahri kembali mengangkat daguku. Kami saling bertatapan kembali. "Aku ... malu, Mas. Diriku ... tak berharga lagi, seperti yang mantanku katakan waktu itu. Mas dengar sendiri bukan. Mas juga tahu apa saja yang kami lakukan dulu. Aku merasa diriku sudah tak berharga. Aku hanya menjalani hidupku sekarang dengan tujuan membahagiakan Mama."


"Kata siapa kamu tak berharga? Kamu cantik. Kamu pintar. Kamu baik. Berhenti meminta maaf padahal kamu tak salah, oke? Kalau kamu bersikap seperti itu lagi, akan aku tunjukkan betapa berharganya kamu!" Mas Bahri membukakan kunci mobil dan membiarkanku keluar.


Aku keluar setelah berterima kasih. Jantungku bertalu kencang. Kami tadi begitu dekat. Aku bisa melihat ke dalam mata Mas Bahri. Ucapannya terlihat serius, apakah benar aku berharga?

__ADS_1


****


__ADS_2