Toxic Love

Toxic Love
Meyakinkan Mama


__ADS_3

POV Author


Wulandari menatap Luna dengan tatapan tak percaya. Informasi yang dikatakan oleh Luna rasanya seperti hal yang tak masuk akal, semua serba mendadak dan tak terduga.


"Kamu serius, Lun? Kamu baru lulus kuliah loh. Kamu saja baru sebulan bekerja, belum dapat gaji bulanan lagi. Kenapa kamu sudah memutuskan ingin menikah? Lamu tidak ingin menikmati masa muda kamu dulu?" tanya Wulandari pada putri kesayangannya.

__ADS_1


"Luna juga tak menyangka akan dilamar secepat ini, Ma. Mama tahu sendiri, Mas Bahri sudah terlihat dewasa, baik secara pola pikir maupun usianya juga sudah cukup untuk berumah tangga. Mas Bahri sangat sabar dan baik sama Luna. Rasanya semua tipe suami yang ingin Luna miliki ada dalam diri Mas Bahri. Luna juga tak mau secepat ini namun Mas Bahri meyakinkan Luna kalau menikah lebih baik daripada kami berpacaran yang hanya terus menumpuk dosa saja. Mama tahu sendiri bagaimana masa lalu Luna. Apa yang dikatakan Mas Bahri membuat Luna yakin kalau Mas Bahri memang lelaki yang sangat baik dan bertanggung jawab juga sayang sama Luna," jawab Luna.


"Mama akui, Nak Bahri itu memang terlihat dewasa. Saat mengantar kamu pulang dari rumah Rina pun terlihat begitu perhatian. Wajahnya menyiratkan kalau dia tak mau terjadi apa-apa sama kamu. Mama diam-diam memperhatikan namun tak menyangka saja kalau ternyata dia akan melamar kamu secepat ini. Lun, kamu tahu 'kan bagaimana keadaan perekonomian kita sekarang? Kita saja harus tinggal di rumah kosan berdua. Uang tabungan Mama juga habis untuk membayar pengacara dan juga persiapan kamu masuk kerja. Kita mau pindah ke kontrakan yang lebih besar saja masih mikir. Kalau memang kamu menikah dengan Bahri, bagaimana dengan masa depan kita nanti? Mama mau tinggal di mana?" Wulandari sebenarnya tak mau menyusahkan anaknya. Ia hanya ingin yang terbaik untuk Luna. Hanya Luna yang ia miliki saat ini.


"Mama sih tidak masalah kamu mau resepsi atau tidak, yang jadi masalah adalah Papa dan keluarganya. Kamu adalah cucu satu-satunya keluarga Papa. Papa kamu berasal dari keluarga yang lumayan berada. Kakek kamu dulu adalah mantan lurah yang lumayan terkenal. Kalau kalian memang jadi menikah dan tidak mengadakan resepsi, bukankah keluarga Papa akan protes nantinya? Mereka saja masih sebal sama Mama karena Mama menggugat cerai Papamu," keluh Wulandari.

__ADS_1


"Iya sih, Ma, tapi mau bagaimana lagi? Mau mengadakan resepsi besar-besaran pun kita tak punya uang. Aku enggak mau mengandalkan uang dari Mas Bahri. Aku sudah pergi ke rumahnya dan mengetahui bagaimana keluarganya. Mas Bahri itu bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Mereka berjuang agar bisa hidup dengan layak seperti sekarang. Rasanya tak etis kalau aku memintanya mengadakan resepsi yang besar sementara uang resepsi tersebut bisa kami gunakan untuk membeli rumah. Masalah keluarga Papa, nanti aku yang akan bilang sama Papa. Semoga saja Papa mau mengerti dan menerima Mas Bahri, ya, Ma?"


Wulandari menatap lekat ke arah Luna. "Mama kok menangkap kalau kamu setuju ya untuk menikah dengan Bahri? Mama pikir kamu ragu karena masih mencintai Noah? Dari cara kamu menjelaskan ke Mama kok sepertinya kamu memang sudah yakin dengan keputusanmu itu? Memang benar kamu sudah yakin untuk menerima lamaran Bahri?"


***

__ADS_1


__ADS_2