Toxic Love

Toxic Love
Semua Demi Uang


__ADS_3

POV Luna


Ariel yang semula hanya mengangguk dan menangis, kini terlihat emosi dengan ucapanku. "Kamu pikir aku mau melakukan semua ini, Lun? Aku terpaksa. Kalau bukan karena aku hampir putus kuliah karena panen Bapak dan Ibu di kampung gagal, aku tak akan mau melakukan ini! Aku butuh uang, Lun, untuk kuliah dan hidup di kota Jakarta yang keras ini. Aku tak mau melakukan semua ini. Aku tahu ini perbuatan dosa. Mau bagaimana lagi? Orang tuaku membutuhkan uang karena hutang mereka sudah banyak di kampung. Hanya pekerjaan ini yang bisa menghasilkan uang dalam waktu cepat."


Aku mengusap wajahku. Rasanya tak percaya saat mendengar dari Ariel langsung kalau dirinya adalah peliharaan om-om. Gila sih. Aku tak menyangka saja bahwa sahabatku sendiri ternyata melakukan pekerjaan serendah itu. Ya, semua karena uang. Untunglah imanku masih kuat, kalau tidak mungkin aku sudah mengikuti jejaknya dan menghancurkan masa depanku sendiri.


"Aku tidak seberuntung kamu meskipun keluarga kamu tidak harmonis, setidaknya ada Mama dan Papa kamu yang membiayai kamu kuliah. Tidak seperti aku. Kalau panen Bapak gagal, siapa lagi yang akan membayar kuliahku? Aku sudah semester akhir, kalau aku menyerah rasanya semua jerih payah Bapak dan Ibu sia-sia,"

__ADS_1


"Aku terpaksa mengambil pekerjaan ini. Hanya pekerjaan ini yang mau menerima tamatan SMA seperti aku. Berkat pekerjaan ini, hutang Bapak dan Ibu sudah lunas dan mereka punya modal untuk mulai bertani lagi. Berkat pekerjaan ini, aku hanya tinggal sidang skripsi saja. Aku sudah bayar semua uang kuliah dan aku bisa tinggal di kostan ini dengan tenang. Sayangnya, aku hamil. Aku tak tahu siapa Ayah dari bayi ini." Perkataan Ariel membuatku tambah terkejut.


"Apa? Kamu bahkan tak tahu siapa Ayah dari bayi yang kamu kandung? Bukankah kamu minta Noah bertanggung jawab? Itu artinya Noah memang ayah bayi itu bukan?"


"Aku melakukan itu karena Om tak mau bertanggung jawab. Kalau sampai istrinya tahu, Om bisa diusir dari rumah. Aku putus asa. Noah bilang kalau dia bukan Ayahnya dan Om tak mau bertanggung jawab. Dengan terpaksa aku mengiyakan permintaan Om untuk aborsi. Dua hari lalu, aku sudah aborsi. Aku tak perlu bingung lagi siapa ayah anak itu, karena anak itu sudah tiada," kata Ariel dengan suara lemah.


"Sudah gila kamu, Riel. Hanya karena uang kamu jadi seperti ini? Tadi kamu bilang apa, aku beruntung karena ada Mama dan Papa yang membiayai kuliahku? Kamu salah, Riel. Aku juga tidak beruntung. Papaku sudah lama tidak membiayaiku karena uangnya habis untuk bersenang-senang dengan janda di luaran sana. Mamaku yang kerja siang malam untuk membayar kuliahku. Aku juga butuh uang namun aku tidak segila itu untuk menjual diriku. Aku memang sudah melewati batas saat bersama Noah namun aku tidak mau sampai hamil karena aku tahu kalau aku belum siap untuk menjadi orang tua," kataku dengan kesal.

__ADS_1


Aku sampai menggelengkan kepalaku dan tak menyangka dengan pola pikir Ariel yang sudah kelewat batas. "Kamu sudah benar-benar gila, Riel. Sekarang terserah kamu deh mau kayak gimana. Percuma aku menasehati kamu, toh kamu enggak akan pernah mendengar apa yang aku katakan!" Aku berdiri dan hendak pergi meninggalkan Ariel namun tak lama kemudian namaku dipanggil oleh Ariel dengan suaranya yang lemah.


"Lun. Aduh ... sakit sekali, Lun!"


Aku awalnya tak peduli namun suara lemah Ariel kembali memanggilku. "Lun, aww ... sakit!"


Mau tak mau aku berbalik badan. Sisi manusiawiku lebih dominan di banding sisi egoisku. Kulihat Ariel kesakitan sambil memegang perutnya. Aku melihat kaki Ariel, ada darah segar mengalir.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Riel. Kamu kenapa? Kok pendarahan? Kita ke rumah sakit sekarang!"


****


__ADS_2