Toxic Love

Toxic Love
Berubahnya Rasa Kagum


__ADS_3

POV Luna


Mas Bahri mengantarku sampai depan kostan. Hari sudah menunjukkan pukul 02.00 malam. Aku kasihan padanya, besok ia akan pergi bekerja. Aku pun demikian, namun tugas Mas Bahri di kantor lebih berat daripada tugasku yang hanya seorang karyawan biasa. Kasihan. Pasti lelah.


"Maaf ya Mas, karena menolongku kamu jadi pulang larut malam seperti ini," kataku dengan sungguh-sungguh.


"Tak apa, aku sudah biasa kok pulang malam, sampai larut pagi juga sudah biasa. Besok kamu mau masuk siang atau tetap masuk seperti biasa?" tanya Mas Bahri.


"Kayaknya aku masuk pagi deh, Mas. Aku enggak enak, aku sudah tidak masuk 2 hari lalu. Baru sehari gajian masa' sih aku sudah tidak masuk kerja lagi? Aku berangkat sendiri saja, tak apa, Mas Bahri tidur saja lebih lama."

__ADS_1


Mas Bahri tersenyum mendengar perkataanku. "Aku memang masuk agak siang besok. Bukan karena aku kurang tidur, Pak Rezvan baru saja memberikan tugas padaku untuk mengerjakan laporan pajak yang diminta oleh Azizah. Karena tidak membawa laptop, aku tak bisa mengerjakannya di rumah sakit saat senggang. Laptop aku taruh di kamar, rencananya aku mau kerjakan dulu nanti baru istirahat sebentar dan berangkat ke kantor agak siang. Kamu tak apa ya berangkat sendiri besok pagi?" tanya Mas Bahri padaku.


Aku merasa terharu mendengar perhatian yang Mas Bahri berikan padaku. "Tak apa, Mas. Aku sudah biasa kok. Lagi pula jarak dari kostan ini ke kantor cuma setengah jam. Istirahatlah! Mas lebih membutuhkan istirahat dibandingkanku."


"Iya, calon istriku! Aku pulang dulu, besok kita pulang bareng ya!" janji Mas Bahri padaku. Aku mengangguk sambil melambaikan tanganku melepas kepergian lelaki baik yang sejak tadi menemaniku.


Aku membuka kunci cadangan rumah kostan tempat aku tinggal, suasana kostan sudah sepi. Maklum, sudah jam 02.00 pagi. Saat aku mengunci pintu kembali, aku terkejut mendengar suara Kak Azizah di belakangku.


"Iya, Kak. Tadi aku ada urusan penting," jawabku. Aku sengaja tidak memberitahu kalau aku habis dari rumah sakit mengantar Ariel yang sakit setelah melakukan tindakan aborsi. Tak perlu terlalu banyak orang yang tahu.

__ADS_1


"Ke mana saja kamu sama Bahri sampai jam segini baru pulang? Jangan samakan ya Bahri dengan mantan pacar kamu. Bahri itu lelaki baik-baik, jangan kamu ajak untuk berbuat yang tidak baik. Mungkin kalau aku bicara langsung di depan Bahri, dia akan membela kamu habis-habisan. Aku memberitahu ini demi kebaikan Bahri. Terserah kamu mau hidup seperti apa, namun jangan mengajak Bahri dengan gaya hidup kamu yang kurang baik," kata Kak Azizah dengan pedas padaku.


"Gaya hidup apa ya, Kak? Aku tidak mengajak Mas Bahri ke tempat yang kurang baik. Kami pergi karena memang ada keperluan penting yang tak bisa kami tinggalkan. Maaf Kak, ini urusan pribadi aku kayaknya. Kak Azizah tak perlu ikut campur deh," kataku tak kalah pedas. Sudah lebih dari sekali Kak Azizah memperlakukanku seperti ini. Kalau aku diam saja dia akan semakin berkata pedas padaku.


Jujur aku tak menyangka sifat asli Kak Azizah sungguh bertolak belakang dengan penampilannya. Dulu saat pertama kali pindah ke kosan ini aku begitu mengaguminya. Wajahnya yang cantik dengan pakaiannya yang tertutup. Sangat jauh dibandingkan denganku yang masih mengumbar aurat. Rasa kagumku bertambah saat aku tahu kalau di kostan ini ada pengajian setiap habis maghrib.


Cara Kak Azizah mengajakku membuatku merasa semakin kagum pada dirinya namun setelah mengenalnya lebih jauh, aku merasa Kak Azizah juga salah satu orang yang Toxic. Rasa sukanya terhadap Mas Bahri sekaan menghapus semua kebaikanku di matanya. Masa laluku yang buruk terus menerus ia ingatkan. Aku jadi tahu sikap aslinya seperti apa kini.


Aku mau melawan bukan karena aku saat ini berada di atas angin namun karena aku juga manusia biasa yang punya batas kesabaran. Kalau aku merasa diriku benar aku akan terus maju, contohnya saat ini. Aku dan Mas Bahri pulang pagi karena habis menjaga Ariel di rumah sakit. Terserah Kak Azizah mau berpikir apa, aku tak peduli.

__ADS_1


"Ya ... gaya hidup kamu seperti yang mantan kamu katakan. Jangan kamu ajak Bahri dan kamu goda dia seperti kamu menggoda mantan kamu!"


***


__ADS_2