
POV Luna
Aku memang tumbuh jadi anak yang tertutup, aku akui itu. Dalam pergaulan pun teman-temanku tak banyak, bisa dihitung jari. Sikapku yang penyendiri dan malas berinteraksi dengan orang lain salah satu penyebabnya.
Hidupku hanya seputar kampus dan rumah. Monoton dan begitu-begitu saja. Semenjak mengenal Noah, duniaku berubah. Ada ruang senat dimana aku bisa duduk di sudut sambil mendengarkan Noah berdiskusi seru dengan teman-temannya. Ada Mall yang sering Noah ajak untuk jalan.
Berbagai warteg, cafe dan tempat tongkrongan mulai aku datangi. Aku mengenal berbagai tempat baru dan duniaku lebih berwarna. Aku juga mulai mengenal beberapa karakter orang dari anggota senat yang sering diajak diskusi dengan Noah, ya ... meski aku hanya duduk di sudut saja tapi aku memperhatikan mereka.
Namun di antara sekian banyak tempat yang aku datangi bersama Noah, aku baru tahu tempat ini. Tempat yang baru sekali aku datangi. Tempat yang tak pernah aku sangka akan menjadi rumah untukku.
Di depanku beberapa perempuan dengan kerudung panjang sedang mengaji. Mereka bergantian membaca Al-Quran dan saling mengoreksi bacaan masing-masing. Akrab sekali.
"Aku ... akan kost di sini? Papa yakin?" Aku beranikan diri menatap Papaku yang sangat menyeramkan hari ini.
Aku sering melihat Papa marah. Sangat sering malah. Namun baru kali ini aku melihat Papa yang teramat marah. Pantas saja, Mama kalau Papa marah hanya bisa nangis, ternyata memang benar-benar menyeramkan.
"Iya. Biar akhlak kamu benar! Biar kamu tidak dimanfaatkan oleh laki-laki brengsek itu!" omel Papa.
Akhlak?
Cih! Ngomong tentang akhlak, macam akhlak Papa sudah benar saja! Lupa kalau Papa hobby kawin cerai macam kucing oren? Ingin rasanya aku berkata seperti itu. Sayang, aku tak punya keberanian. Stok keberanianku kini sudah habis. Aku sudah mencoba melawan tadi dan aku mendapatkan tamparan di wajahku sebagai balasannya. Sakit sekali rasanya.
Papa mengucapkan salam yang dijawab kompak oleh semua penghuni kostan. "Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk, Pak!" Salah seorang perempuan yang kuyakin adalah pemimpin di rumah kost ini berdiri dan berjalan ke depan untuk menyambut kedatangan Papa. "Silahkan duduk, Pak!" Senyum perempuan itu begitu ramah dan teduh. Cantik sekali. Meski mengenakan baju dan kerudung panjang tak mengurangi kecantikannya.
"Ini putri saya, Luna!" Papa mendorongku pelan agar maju dan tidak berdiri di depan rumah saja.
"Oh ... ini putri Bapak yang akan kost di kostan ini ya? Sepertinya sebaya dengan adik saya." Perempuan itu memiliki senyum yang hangat. Aku tahu pasti orang baik. "Perkenalkan, saya Azizah, pengurus kostan ini."
Aku menyambut uluran tangan Azizah sambil menyebutkan namaku. "Luna, Kak."
"Nama yang bagus, artinya bulan. Bersinar terang di malam hari," puji Kak Azizah padaku. Aku memanggilnya Kakak untuk menghormatinya. Aku langsung menyukai wanita yang terlihat teduh ini.
__ADS_1
"Terima kasih," kataku sambil tersenyum. Aww, aku meringis saat kurasakan pipiku yang habis ditampar Papa terasa sakit saat tersenyum. Kusembunyikan rasa sakitku agar tak ada yang melihatnya.
Aku dan Papa lalu duduk di kursi plastik yang ada di teras rumah. "Luna akan kost di kostan ini seperti pembicaraan kita tadi."
Tadi?
Papa sudah bertemu dengan Kak Azizah sebelumnya? Kapan? Apa semua ini rencana Papa?
Seakan tahu kalau banyak pertanyaan yang ada di benakku, Kak Azizah tersenyum dan menjelaskan semuanya padaku. "Tadi kami tidak sengaja bertemu. Papa kamu sedang bertanya ke warga sekitar sini tentang kostan khusus perempuan. Kebetulan aku lewat dan aku menawari kostan ini. Aku pengurus di kostan ini, ada mahasiswi yang belum lama pindah dan kamarnya masih kosong, saat aku tawari ternyata Papa kamu mau."
"Benar kostan ini khusus perempuan ya? Anak laki-laki tidak boleh masuk, bukan?" tanya Papa dengan sengaja. Pasti Papa mau memastikan apakah Noah bisa main ke kostanku atau tidak.
"Benar, Pak. Anak laki-laki tidak boleh masuk ke dalam. Kalau mau berkunjung boleh saja tapi di teras seperti kita saat ini. Rumah kost kami terletak di jalanan yang lumayan ramai. Insya Allah kalau mengobrol di teras seperti ini tidak akan menimbulkan fitnah," terang Kak Aisyah.
Papa tersenyum puas mendengar penjelasan Kak Azizah. Memang kostan ini yang Papa cari agar aku tidak pacaran terus dengan Noah. "Baiklah, saya percayakan anak saya untuk kost di kostan ini. Saya akan membayar uang kost langsung dan hari ini anak saya langsung pindah. Kami sudah bawa barang-barangnya."
"Baik, Pak."
Setelah membayar kostan, aku pun diajak ke kamarku. Kamarnya lumayan, bersih dan ada jendela yang membuat kamarku terlihat terang dari luar. Aku juga bisa menatap pemandangan luar. Aku suka. Papa hanya bisa membantu sampai teras, sisanya aku dan Kak Azizah yang mengangkatnya ke kamarku.
"Luna, perkenalkan ini adik Kak Azizah, Sabrina. Kamu bisa panggil Rina."
Aku mengulurkan tanganku pada gadis seusiaku yang juga memakai jilbab panjang. Tubuhnya agak berisi. Senyum ramahnya mirip sekali dengan Kak Azizah, namun Kak Azizah lebih cantik.
"Luna."
"Rina."
"Rin, yuk bantu Kakak pindahin barang-barangnya Luna!" ajak Kak Azizah.
"Iya, Kak."
Aku merasa terbantu dengan adanya Kak Azizah dan Rina. Tak terbayang aku harus mengangkat semua barang-barangku ke lantai 2 sendirian. Bisa encok pinggangku. Apalagi saat mengangkat lemari es kecil milik Noah. Nyerah deh aku.
__ADS_1
"Sudah selesai. Banyak juga ya barang-barang kamu!" kata Rina.
"Iya, ternyata banyak. Terima kasih ya kamu sudah membantu aku," kataku dengan sungguh-sungguh.
"Sama-sama. Oh iya, Kakak nyuruh aku jelasin tentang kostan ini sama kamu." Rina membantu menata kamarku sambil menjelaskan tentang kostan ini. Kak Azizah tadi pamit duluan karena mau mengerjakan pekerjaannya.
"Jadi, kostan ini tuh khusus putri. Kamu enggak bisa bawa pacar kamu, Noah, ke kostan ini!" kata Rina terus terang.
"Kamu ... kenal pacar aku?" Aku terkejut saat Rina menyebut nama Noah.
"Iyalah. Kita 'kan satu kampus cuma beda jurusan saja. Kamu tuh terkenal karena berpacaran dengan Noah. Banyak mahasiswi yang iri sama kamu karena bisa mendapatkan Noah," jawab Rina.
"Masa sih? Biasa aja ah. Kami memang saling suka makanya bisa jadian," jawabku merendah.
"Kok aku jadi ngomongin yang lain ya? Aku 'kan mau menjelaskan tentang kostan ini. Aduh Rina, suka melebar kemana-mana nih!" Rina terlihat berbicara sendiri.
Aku tersenyum melihat ulah Rina. Kembali kurasakan pipiku yang sakit saat tersenyum.
"Kamu kenapa? Sakit gigi?" Rupanya Rina peka. Rina tahu kalau aku merasakan sakit. "Eh ternyata pipi kamu bengkak loh, sebentar ya aku ambilkan kompresan."
Rina pergi meninggalkanku dan kembali dengan kompres air es. "Coba pakai. Biar bengkak kamu hilang."
"Terima kasih." Baru kali ini aku melihat ada yang benar-benar peduli denganku.
"Kayaknya bengkak kamu bukan karena sakit gigi ya, Lun? Aduh, maaf, aku malah kepo sama urusan kamu lagi. Maaf ya, Lun. Aku tuh orangnya suka ceplas ceplos kalo ngomong. Jangan diambil hati." Rina merasa tak enak hati padaku.
Aku kembali tersenyum. Rina memang lucu. Aku yakin sekali kami bisa berteman akrab. Tak ada salahnya kalau aku berkata jujur. "Kamu benar, Rin. Aku bukan sakit gigi."
"Tuh 'kan benar. Lalu kenapa? Kepentok gitu?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Bukan juga, tapi digampar Papaku."
"Astaghfirullah, Luna!"
__ADS_1
****