
POV Author
"Aku datang!" Rina membawa seblak dan martabak yang ia beli. "Wah seblak buatan Luna sudah jadi ya? Kak Bahri suka?"
"Apanya?" tanya Bahri sambil memakan seblak buatan Luna sedikit demi sedikit.
"Ya seblaknya, Kak, bukan Luna-nya," sindir Rina.
Bahri tertawa kecil. "Oh, enak kok. Pedas tapi enggak mau berhenti makannya."
"Kalau makan sekali sih enak, aku sudah beberapa kali dibuatin makanya aku bosan." Rina duduk di teras dan membuka makanan yang ia beli. "Lun, martabak nih, ambil!"
Luna mengambil martabak keju dan memakannya. "Enak."
"Iyalah, gratis, Kak Bahri yang beli." Rina memakan seblak buatannya dan teringat sesuatu. "Oh iya, Lun. Aku tadi ketemu teman kamu, Ariel."
"Biarkan saja, aku sudah tak peduli padanya," jawab Luna dengan acuh.
"Aku lihat dia bertengkar sama Noah, mantan pacar kamu. Seru loh, Lun!" Rina meneruskan ceritanya.
"Biarkan saja." Luna tetap tak peduli.
"Ariel bilang ... dia hamil."
__ADS_1
Perkataan Rina membuat Luna yang semula bersikap acuh kini mengangkat kepalanya. "Hamil?"
"Ya ... Noah bilang itu bukan anaknya."
"Bagaimana bisa? Bukankah Noah yang menghamilinya?" Mata Luna menyiratkan rasa sakit saat mengatakannya.
"Aku tak tahu, Lun. Aku hanya mendengar sedikit pertengkaran mereka," kata Rina dengan jujur.
"Huft ... beginilah pergaulan bebas jaman sekarang." Kak Azizah datang sambil menghela nafas. Ia ikut duduk dan mengambil sepotong martabak tanpa ditawarkan kembali berkomentar. "Bercocok tanamnya sama siapa, hamilnya sama siapa. Atau ... bercocok tanamnya lebih dari satu orang?"
Luna menatap Kak Azizah dengan tatapan tajam. "Maksud Kak Azizah apa?" tanya Luna.
"Enggak ada maksud apa-apa. Aku hanya pernah melihat teman kamu itu jalan dengan om-om di Mall. Aku juga pernah melihat mantan pacar kamu masuk ke dalam kostan teman kamu. Karena alasan itu kalian putus? Heran aku, lingkungan sekitar sini tuh gampang banget angin berhembus. Ada masalah sedikit juga nyebar deh tuh berita. Sekarang dia hamil kok bingung dengan siapa ayahnya? Memangnya sudah bercocok tanam dengan berapa orang? Kok sampai bingung begitu?" sindir Kak Azizah.
Kak Azizah kini menatap ke arah Rina. "Jaga pergaulan kamu, Rin. Zaman udah semakin edan!"
Luna masuk ke dalam kamarnya dan menatap pesan terakhir yang Ariel kirimkan padanya. "Lun, bisa kita ketemu sebentar? Ada sesuatu yang mau aku bicarakan."
Luna mengetik balasan atas pesan Ariel yang dikirimkan beberapa hari lalu. "Kapan kamu mau ketemu?"
****
Luna tersenyum manis saat Bahri datang menjemputnya. "Nanti aku bilang sama yang lain, jangan ada yang nyuruh kamu antar dokumen ke bagian lain. Biar OB saja!"
__ADS_1
"Iya, Mas. Terima kasih."
"Kamu bawa makan siang? Jangan ke kantin dulu deh, banyak orang. Nanti kamu ketabrak yang lain, bisa sakit lagi kaki kamu nanti!" pesan Bahri. "Toh banyak lelaki centil di sana. Nanti mereka kebanyakan nanya yang enggak penting!"
Luna menahan senyumnya mendengar pesan yang Bahri ucapkan. Luna merasa Bahri terlalu ove protected padanya, mereka bukan sepasang kekasih namun Bahri bertindak melebihi kekasihnya.
"Iya, Mas. Aku bawa makan siang kok."
"Bagus. Lebih sehat kalau bawa dari rumah," jawab Bahri sambil mengemudikan mobilnya dengan fokus.
"Mas Bahri sendiri bawa makan siang tidak?" tanya balik Luna.
"Aku ... nanti beli saja." Bahri garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Malu ditanya balik sama Luna.
Luna mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag miliknya. "Buat Mas Bahri. Aku kemas dalam bentuk bento agar tak ada yang curiga kalau bekal itu dari aku. Lebih sehat bawa bekal dari rumah bukan, Mas?"
Luna menaruh bento yang ia bawa di atas dashboard mobil Bahri. Ia melirik sekilas dan melihat Bahri sedang senyum mendengar sindirannya.
Sesampainya di parkiran mobil, Bahri membukakan pintu untuk Luna dan membantunya berjalan. "Aku bisa kok, Mas. Aku jalan sendiri saja sampai ruangan," tolak Luna.
"Tak apa. Aku bantu."
"Mm ... aku tak enak, Mas. Nanti banyak yang ngomongin Mas Bahri. Aku tak mau membuat Mas Bahri malu," tolak Luna lagi.
__ADS_1
"Tak mau membuat aku malu atau tak mau fans kamu berkurang?"
*****