Toxic Love

Toxic Love
Kamu?


__ADS_3

POV Author


Jantung Luna terus berdegup kencang, suara pintu kamar Ariel yang dibuka kuncinya membuat Luna takut ketahuan mengintip. Luna belum siap saat ini. Apa yang dilihatnya sudah membuatnya shock dan tak mampu berkata-kata.


Pandangan mata Luna yang kabur karena terlalu banyak air mata yang menetes membuat pandangan Luna tak melihat dengan jelas ke depan. Ketika ada sebuah tangan yang menariknya masuk ke dalam kamar, Luna hampir saja menjerit namun tangan tersebut dengan sigap menutup mulutnya dan juga menutup pintu di belakang Luna dengan rapat.


Luna pun selamat, Ariel keluar dari kamar dan tak menemukan siapapun. Ariel kembali masuk ke dalam kamarnya dan melanjutkan kegiatannya kembali bersama Noah.


Kini pandangan Luna sudah mulai jelas. Ia bisa melihat siapa yang menarik tangannya. Mata Luna terbelalak melihat siapa yang ia lihat. Lelaki itu melepaskan tangannya agar Luna bisa berbicara.


"Loh? Kamu?" Luna menunjuk lelaki yang kini malah membuka lemari es kecil miliknya dan mengambil air mineral dingin dari dalamnya. Lelaki itu memberikan air yang diambilnya untuk Luna.


Luna tak mungkin lupa dengan lelaki menyebalkan yang sempat makan seblak bareng dengannya saat di Bandung dulu. Lelaki yang awalnya ia pikir sangat baik mau mentraktir dirinya eh ternyata zonk. Dengan santainya laki-laki itu duduk di atas kasur kecil beralaskan karpet.


Luna melihat keadaan sekitar dari jendela kamar yang ada di sampingnya dan sadar kalau dirinya berada tepat di sebelah kamar kosnya dulu. "Jadi ... kamu itu ternyata karyawan kantoran yang tinggal di samping kamarku dulu?"


"Iya. Minum dulu. Muka kamu pucat seperti habis melihat hantu saja!" Ternyata karena terlalu terkejut, Luna sampai lupa dengan apa yang dilihatnya tadi.


Luna membuka segel kemasan air mineral yang diberikan laki-laki itu lalu meminum air mineral tersebut banyak-banyak. Semua ini terlalu mengejutkan untuk Luna. Perselingkuhan sahabat dan pacarnya yang dilihatnya dan keberadaan laki-laki yang tak pernah disangkanya sama sekali ternyata adalah tetangganya. Semua terlalu aneh untuk dicerna otak Luna.

__ADS_1


"Kamu selama ini menguntit aku ya? Kok kamu bisa tinggal di samping kosan aku? Kamu bahkan mengikuti aku sampai ke Bandung loh dan tinggal di hotel yang sama denganku. Apa mau kamu? Kamu penjahat ya? Apa kamu punya koleksi foto aku?" tanya Luna bertubi-tubi.


Laki-laki itu tersenyum kecil mendengar pertanyaan Luna. "Ngapain aku foto setiap kegiatan kamu? Kayak nggak ada kerjaan aja! Kalau kamu enggak percaya, geledah saja tuh kamar aku. Aku pastikan kamu tak akan menemukan satupun foto kamu di kamar ini. Periksa handphone aku juga kalau kamu tak percaya. Buat apa juga aku nyimpan foto kamu, memangnya kamu artis?" jata laki-laki tersebut dengan pedas.


"Lalu, kenapa kamu bisa tinggal di samping kosan aku?" tanya Luna.


"Kenapa nanya sama aku? Aku tuh udah tinggal duluan di kosan ini sebelum kamu tinggal di sini. Kamu yang ngikutin aku," kata cowok itu dengan ketus.


"Ya ... aku 'kan nggak kenal kamu. Oh iya, kenapa waktu di Bandung kita bisa satu Hotel? Kamu juga ngikutin aku sampai ke tukang seblak loh, apa namanya kalau bukan menguntit?" kata Luna tak mau kalah.


"Ck ... ck ... ck ... pantas saja kamu dikhianati oleh sahabat kamu. Otak kamu enggak dipakai sih! Memangnya Hotel itu milik kamu pribadi? Memangnya tukang seblak itu cuma menjual barang dagangannya untuk kamu saja? Aku tuh ada tugas kantor, kebetulan saja aku menginap di sana. Mengenai kita makan seblak bareng, memangnya cuma perut kamu saja yang lapar di jam segitu? Enggak lah! Aku juga lapar. Bandung tuh dingin bos, bawaannya lapar terus. Kebetulan ada tukang seblak ya aku beli saja," jawab cowok tersebut dengan santai.


Luna merasa tak mau kalah dengan cowok tersebut. Luna kembali bertanya untuk menyudutkan cowok aneh di depannya. "Terus kenapa kamu narik aku ke kamar kamu? Ayo, kamu mau berbuat mesum ya?"


"Kamu ada masalah apa sih sama aku? Bawaannya curigaan terus jadi orang! Aku tadi melihat kamu lagi ngintip. Aku baru saja pulang kerja. Aku juga lihat kamu kabur sambil membungkuk. Kayaknya kamu ketahuan sama mereka. Kalau kamu lari dan tertangkap, kamu mau ngomong apa? Ya ... aku hanya inisiatif aja sih nyelamatin kamu daripada kamu ketahuan oleh sahabat dan pacar kamu yang selingkuh itu, pasti rasa sakitnya jadi double!"


Luna terdiam mendengar ucapan yang dikatakan oleh lelaki misterius ini. Apa yang dikatakannya memang benar 100%. Dia harus menjawab apa saat kalau Ariel memergokinya mengintip?


Luna tiba-tiba teringat dengan pertemuan terakhir mereka yang mencurigakan. "Satu pertanyan lagi, kenapa kamu numpang ke kamar mandi aku dengan alasan air tidak keluar? Aku tahu kamu bohong!"

__ADS_1


Laki-laki misterius itu menghela nafas dalam. "Harus aku jawab jujur nih?"


"Iyalah!"


"Oke. Aku tuh lagi istirahat pulang dari Bandung. Baru saja aku mau tidur aku dengar kamu bertengkar dengan Papa kamu. Aku ... juga mendengar kamu ditampar. Aku takut terjadi tindakan KDRT di samping kamarku karena itu aku pura-pura mau meminjam kamar mandi. Baik sekali bukan aku ini?"


Luna menatap lelaki yang berada di depannya. Laki-laki itu duduk santai sambil berbicara dengannya. Wajahnya sesekali kesal karena Luna terus menuduhnya melakukan perbuatan aneh.


"Ya, kamu memang baik. Kamu berniat menolongku tapi karena kamu datang Papa aku jadi tahu kalau kostan ini bebas dan aku disuruh pindah. Enggak berguna pertolongan kamu!" kata Luna dengan kesal.


"Bagus dong kamu pindah kostan. Aku senang. Aku tak perlu lagi mendengar tetangga sebelah kamarku berisik tanpa mengenal waktu. Asal kamu tahu ya, tembok kostan ini tidak terlalu tebal. Meski aku tak mengintip seperti yang kamu lakukan tadi, aku bisa tahu apa yang kamu lakukan sama pacar kamu di kamar sebelah."


Wajah Luna berubah pucat. "Berarti kamu ...."


"Ya ... aku mendengar semua. Kenapa? Kaget?"


Luna terduduk lemas. Ternyata apa yang dilakukannya dengan Noah ada yang mendengarnya selama ini. Betapa malunya Luna. Luna semakin menyesali kebodohannya selama ini.


"Aku ... memang bodoh ya?" gumam Luna pelan.

__ADS_1


"Yoi. Baru sadar?"


****


__ADS_2