Toxic Love

Toxic Love
Menjenguk Ariel


__ADS_3

POV Author


Keesokan harinya Luna mengatakan pada Bahri kalau dia sudah bicara dengan Mamanya. Bahri senang melihat respon positif dari Mama Luna. "Insya Allah weekend ini ya, aku akan bicara dengan Mama kamu. Oh iya, nanti sepertinya aku enggak bisa pulang tepat waktu. Aku harus lembur. Kamu mau menunggu atau pulang sendiri?" tanya Bahri pada Luna.


"Kayaknya aku pulang langsung aja ya ke rumah, Mas. Aku sudah janji mau ke kostan Ariel. Sebenarnya sudah sejak kemarin aku janjian dengannya tapi karena Mas mengajakku ke rumah Mas Bahri, aku jadi lupa dengan janjiku," jawab Luna.


Bahri mengerutkan keningnya mendengar perkataan Luna. "Mau ngapain kamu ketemu sama Ariel? Bukankah terakhir kali kalian bertemu hubungan kalian kurang baik?" tanya Bahri dengan nada khawatir.


"Iya sih. Memang hubungan kami sudah merenggang sejak aku tahu kalau dia selingkuh dengan Noah. Sekarang aku sudah tidak peduli dengan hubungan mereka. Aku malah khawatir mendengar kabar yang dikatakan oleh Rina. Kalau memang benar dia sedang hamil, dia pasti butuh teman. Meskipun dia sudah pernah menjahatiku dia tetap temanku. Aku ingin berada di sisinya di saat ia sedang jatuh. Mungkin aku tidak bisa membantu dalam bentuk uang tapi aku bisa menjadi teman curhatnya."


Bahri tersenyum seraya mengacak rambut Luna. "Kamu memang baik banget ya. Tidak sia-sia deh aku gerak cepat demi mendapatkan kamu. Sudah cantik, baik, pelukable banget lagi. Memang kamu layak untuk dimenangkan. Kalau kamu sampai menolakku, aku pastikan kalau aku akan nguber-nguber kamu terus. Selama aku belum mendapatkan kamu dan selama kamu belum dimiliki oleh lelaki lain, aku pastikan kamu akan menjadi targetku selanjutnya."


Luna ikut tersenyum mendengar perkataan Bahri. "Ah, Mas Bahri, masih pagi sudah membuatku berbunga-bunga saja."


"Lalu aku harus membuat kamu apa? Tersipu malu seperti habis mencium kamu malam itu? Aku sih ingin aja seperti itu tapi masih pagi. Bahaya untuk kesehatan jantungku. Aku takut kalau aku tak bisa menahan diri. Ingat, aku ini laki-laki normal. Dekat sama kamu aja sudah membuat aku deg-degan, karena itu aku tidak mau berlama-lama pacaran. Aku mau langsung eksekusi saja. "

__ADS_1


Luna tertawa mendengar pengakuan Bahri. "Eksekusi? Apa sih? Kamu tuh lucu banget tau Mas. Gemas aku jadinya."


Bahri mendekatkan dirinya ke arah Luna. "Nih, cubit aja. Katanya gemas?"


"Ih kok senang sih dicubit sama aku? Ya udah aku cubit nih ya!" Luna mencubit pipi Bahri yang tak terasa sakit sama sekali.


"Ingat ya, setiap cubitan kamu akan aku balas nanti setelah kita menikah!" ancam Bahri.


"Ih curang, kata kamu aku boleh cubit. Kok sekarang kamu ngamcem sih?"


Bahri tertawa melihat Luna yang ketakutan dengan ancamannya. "Tenang, ancaman aku bikin kamu enak kok. Bukan bikin kamu takut."


Bahri tertawa terbahak-bahak melihat Luna yang mudah sekali kena jebakannya. "Maksud aku tuh aku akan menyuruh kamu masak yang enak, mencuci piring, dan memijat aku tentunya. Enak bukan?"


"Itu mah enak di kamu, tidak di aku."

__ADS_1


"Ya udah, nanti aku pijitin balik deh, mau?" Kali ini Luna tidak menjawab karena wajahnya sudah terlanjur memerah. "Tuh 'kan baru begitu aja udah memerah. Ayo kamu mikir macam-macam lagi ya? Nakal ya, Luna!"


"Enggak, kok. Aku enggak mikir macam-macam," elak Luna.


Bahri mengacak rambut Luna dengan penuh kasih. "Nanti saja mikir macam-macamnya kalau kita sudah menikah, oke?"


Luna hanya menunduk malu. Mereka berpisah di parkiran mobil agar tak ada yang mencurigai hubungan keduanya. Luna menunggu lift sambil memainkan ponselnya. Senyumnya mengembang membaca pengumuman di group kantor kalau mereka sudah gajian.


Berbagai rencana ada di benak Luna, namun malam ini Luna harus menemui Ariel dulu. Luna menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu agar bisa pulang jam 5 sore. Dengan isyarat mata, Luna pamit pada Bahri.


Luna pulang dulu ke kostannya untuk mandi barulah ke kostan Ariel. Langkah Luna terasa berat saat berdiri di depan pintu kostan yang pernah menggoreskan luka di hatinya. Luka pengkhianatan yang dilakukan sahabatnya sendiri dengan kekasihnya.


Luna mengetuk pintu kamar Ariel. "Riel, ini aku, Luna."


Tak lama Ariel membuka pintu. Betapa terkejutnya Luna melihat wajah Ariel.

__ADS_1


"Ya ampun, Riel. Kamu kenapa?"


****


__ADS_2