Toxic Love

Toxic Love
Persidangan Kedua


__ADS_3

POV Luna


Aku dan Mama bagai menghadapi persidangan kedua. Kami dikelilingi oleh keluarga Mama dengan Mbah yang duduk di tengah sebagai orang yang paling dituakan dan dihormati.


"Kamu bilang kalau kamu dan Tedjo sudah bercerai? Sejak kapan? Kenapa kamu tidak bicarakan dulu dengan kami, keluarga kamu?" tanya Mbah Uti dengan raut wajah marah bercampur kecewa.


"Maaf, Bu. Bukan Wulan tidak mau memberitahu, kami tak mau merepotkan orang lain. Masalah di rumah tangga kami sudah terjadi sejak lama. Kami menyembunyikan semuanya karena Wulan sebagai istri tentu harus menutup aib rumah tangga kami dengan rapat. Bukan karena emosi sesaat saja, setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya Wulan memutuskan untuk menggugat cerai Mas Tedjo. Proses sidang juga lumayan lama. Hari ini kami baru saja ketuk palu. Wulan dan Mas Tedjo sudah resmi bercerai." Mama menceritakan sambil sesekali mengusap air matanya yang terus menetes.


"Memangnya benar-benar tak bisa dibicarakan baik-baik, Lan? Kalian sudah tua. Luna sudah dewasa, apa kalian berdua tidak malu dengan keluarga besar dan tetangga kalian? Itulah kenapa Ibu mempertanyakan kenapa kamu tidak cerita dulu sama kami. Fungsi keluarga itu adalah sebagai teman curhat kalau terjadi masalah. Mendamaikan jika terjadi pertengkaran, bukan memutuskan sendiri suatu masalah dengan kepala panas," oceh Mbah Uti.


"Kamu punya Mas juga, Lan. Kenapa kamu tak cerita kalau kamu akan menggugat cerai Tedjo? Mas ini wali kamu loh, Lan, menggantikan Bapak yang telah tiada. Mas berhak tahu. Kamu tiba-tiba bercerai, alasannya apa? Tedjo mau poligami?" tebak Pakde Darto, Kakak Mama yang suka seenaknya kalau bicara.


Aku menatap tajam ke arah Pakde Darto. Aku tak suka caranya memojokkan Mama. Pakde Darto tahu kalau Papa memang pernah menikah siri dengan janda kampung sebelah. Sekarang Pakde Darto malah seakan membela Papa. Tahu apa dia tentang apa yang kami rasakan?


Mama berusaha tetap tenang menghadapi Kakaknya yang menyebalkan. Karena ucapan Pakde Darto, Mbah pasti jadi terpengaruh dan menganggap Mama yang egois makanya menggugat cerai Papa.


"Bukan karena itu. Kami memang sudah tak ada kecocokan lagi," jawab Mama.


Baik sekali Mama masih menyembunyikan keburukan Papa selama ini. Papa sungguh bodoh kehilangan Mama yang baik hati dan memilih janda tak jelas asal usulnya hanya demi kesenangannya sesaat.

__ADS_1


"Kalau tak cocok kenapa baru sadar sekarang, Lan? Luna sudah 20 tahun lebih kok baru sadar kalau kalian tidak saling cocok? Bilang saja kalau di antara kalian sudah ada orang ketiga," kata Bude Siti dengan pedas.


Bude Siti adalah kakak kedua Mama. Mulutnya lebih pedas dari mulut Pakde Darto. Mungkin karena terlalu pedas mulutnya, anaknya sampai sekarang takut menikah karena tak mau istrinya nanti ribut dengan ibunya sendiri.


Mama menghirup nafas dalam dan menghembuskannya. Ini yang membuat Mama sejak lama menahan diri agar tidak bercerai dengan Papa. Sikap keluarga yang memojokkan bukannya menghibur Mama yang tentu sangat sedih hatinya, membuat Mama jadi pegal hati.


"Ya ... begitulah, Mbak. Kadang ketidakcocokan itu baru bisa dirasakan setelah menjalani waktu bersama yang cukup lama," jawab Mama dengan sabar.


Ya Allah, Mama. Kalau aku ada di posisi Mama, aku sudah mencak-mencak mungkin. Aku akan berkata pedas agar Bude diam. Kalau perlu akan aku sumpal mulutnya dengan kaos kaki biar diam!


"Ah alasan saja kamu Lan, kamu mungkin yang tak bisa mengurus suami, makanya suami kamu mencari kesenangan di luar. Ups ... aku keceplosan. Masmu pernah cerita kalau suamimu sudah nikah siri dengan janda kampung sebelah, karena itu akhirnya kamu gugat cerai, Lan? Kenapa? Kamu tak mau dimadu? Suami kamu itu tampan, Lan. Pekerjaannya juga lumayan enak. Wajar kalau banyak yang suka. Terima saja kalau memang dia mau poligami. Kenapa harus menuntut cerai sih?" Rupanya Bude Siti masih kurang puas menyerang Mama.


Aku jadi emosi mendengarnya. Aku ingin menjawab namun tangan Mama menggenggam tanganku dengan erat. Membuatku urung melakukannya. Aku berusaha sabar demi menghargai Mama. Jangan sampai aku membuat keributan.


"Betul itu, Tedjo itu 'kan anak keluarga yang lumayan terpandang. Bapak mertuamu itu dulunya Lurah. Tanahnya banyak. Rumahmu sekarang pun tanah pemberian mertuamu. Tedjo pun bisa mendapatkan pekerjaan yang lumayan karena koneksi orang tuanya. Kurang apa coba? Kamu malah memilih bekerja keras tak kenal waktu, makanya Tedjo kabur dan menikahi janda. Kamu sih terlalu sibuk dan tak bisa mengurus suamimu!" Bude Siti benar-benar keterlaluan. Bicaranya semakin menyakiti hati Mama.


Tangis Mama di rumah Mbah Uti malah lebih menyedihkan daripada saat di persidangan tadi. Benar-benar toxic family. Semuanya beracun!


Aku kini menatap Mbah Uti dengan tatapan kesal. Anak-anaknya memojokkan anaknya yang sedang sedih loh, kenapa Mbah Uti malah diam saja? Mbah Uti ada andil loh membuat keluarganya jadi menyebalkan seperti sekarang. Bukannya menasehati anak-anaknya malah dibiarkan saja menyakiti Mama seenaknya.

__ADS_1


"Luna, jangan menatap Mbah dengan tatapan seperti itu. Tidak sopan!" omel Bude Siti padaku.


"Kamu tidak mengajarinya sopan santun, Lan? Menatap orang yang lebih tua seperti itu!" Bude Siti malah jadi mengomeli Mama. Aku kali ini tak bisa menahan kesabaranku. Kalau menyangkut Mama, aku akan menjadi Super Luna agar tak ada yang menyakiti hati Mama.


"Maaf, Bude. Mama mengajariku kok tentang sopan santun. Aku memang menatap Mbah Uti dengan tatapan sebal, semua karena Mbah Uti tak bisa mengajari anak-anaknya agar memiliki rasa empati. Saudara Bude dan Pakde sedang ada masalah loh, Mama sedang sedih, kalian bukannya memberi dukungan malah menyudutkan Mama. Makanya aku melihat Mbah Uti dengan tatapan kecewa akan kelakuan Bude dan Pakde!" kataku yang tak bisa lagi menahan emosi.


"Lun, sudah. Tenanglah." Mama berusaha meredam emosiku.


"Benar-benar ya didikan kamu, Lan. Tak sopan dengan orang tua!" kata Pakde Darto dengan nada marah.


"Maaf, Mas. Aku akan suruh Luna minta maaf," jawab Mama.


"Kenapa aku yang harus minta maaf, Ma? Mereka yang harus minta maaf sama Mama. Apa yang mereka katakan sudah menyakiti hati Mama loh!" kataku membela diri. Aku tak terima kalau aku harus meminta maaf pada dua orang jahat itu.


"Luna, jangan begitu ah. Ayo minta maaf," bujuk Mama.


"Pantas suami kamu memilih bercerai, Lan. Mendidik anak saja kamu tak bisa. Lihatlah anakku, Ardi. Sopan, pintar dan pekerjaannya bagus. Semua karena aku mendidiknya dengan benar, tidak seperti kamu," kata Bude Siti dengan pedas.


"Oh ya? Mas Ardi memang sukses dalam karir tapi karena watak Bude yang kejam, Mas Ardi jadi takut nikah. Lihat saja Mas Ardi sampai sekarang masih jomblo. Bude mau anak Bude jadi perjaka tua?" balasku tak mau kalah.

__ADS_1


"LUNA!"


****


__ADS_2