Toxic Love

Toxic Love
Meredam Kemarahan


__ADS_3

POV Luna


Aku tersenyum senang karena kami sudah mendapat restu dari Mama. Rina menatapku dan ikut bahagia dengan kebahagiaanku. Rina lebih mendukungku menjadi istrinya Mas Bahri dibanding kakaknya sendiri.


"Iya, Bu. Rencananya besok saya akan meminta restu Papanya Luna," kata Mas Bahri membuatku terkejut.


Hah? Besok? Serius? Secepat ini?


"Ibu akan mengabari Papanya Luna. Datanglah ke rumahnya," jawab Mama.


Suara tangis Kak Azizah masih terdengar. Aku sesekali menengok ke arah pintu kamar. "Sudah, biarkan saja. Nanti juga diam sendiri," kata Rina yang sebal dengan kelakukan Kakaknya sendiri.


Mama dan Mas Bahri masih bercakap-cakap sebentar, memberi nasihat pada Mas Bahri sekaligus bertanya beberapa hal tentang Mas Bahri. Aku melihat bagaimana Mas Bahri dengan sabar namun tegas menjawab pertanyaan Mama satu per satu. Kulihat Mama menyukai jawaban yang Mas Bahri berikan.


Setelah pembicaraan selesai, Mas Bahri pun pamit pulang. Aku mengantar Mas Bahri pulang dengan senyum di wajahku. Saat aku masuk ke dalam rumah, kulihat Kak Azizah yang baru keluar kamar dengan matanya yang bengkak. Aku yakin, penghuni kostan ini pasti akan membicarakan semua kejadian hari ini. Terserahlah. Aku tak peduli.


"Azizah, bisa Ibu bicara dengan kamu?" tanya Mama tiba-tiba.

__ADS_1


Aku melihat ke arah Mama dan Kak Azizah bergantian. Mama yang tiba-tiba mengajak Kak Azizah bicara dan Kak Azizah yang mengangguk namun menatapku sebal. Kak Azizah lalu duduk di kursi tempat Mas Bahri tadi duduk.


"Lun, kamu duduk dulu. Dengarkan Mama bicara dengan Azizah!" perintah Mama.


Aku menurut dan duduk kembali di tempatku. Rina masih duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Tatapan mata Rina seakan memberitahuku kalau ia akan mendukungku dibanding Kakaknya sendiri.


"Azizah, Ibu tahu kalau rencana Luna dan Bahri membuat kamu kecewa. Membuat kamu sedih dan patah hati. Mau bagaimana lagi, jodoh, rejeki dan maut bukan kuasa kita manusia melainkan semua kuasa Allah. Ibu tahu betapa kecewanya Azizah saat ini. Di balik kebahagiaan Luna, ada tangis kamu yang mengiringi." Mama lalu mengambil tangan Kak Azizah dan menggenggamnya erat.


"Maafkan kami ya, Azizah. Kamu sudah sangat baik hati pada kami berdua. Kamu sudah mengajak Luna ikut mengaji, membuat hidup Luna sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik dan mau menampung Ibu yang tak punya tempat tinggal. Ibu mengucapkan banyak terima kasih sama kamu. Maaf sekali kami banyak mengecewakan kamu. Yuk, belajar ikhlas. Ibu yakin kamu bisa. Kamu wanita hebat. Kamu pintar. Kelak, akan ada jodoh yang baik untukmu." Ucapan Mama membuat Kak Azizah kembali menangis, lebih pilu daripada sebelumnya.


Mama mendekat dan memeluk Kak Azizah, seperti Mama memelukku di saat aku sedih. "Ikhlas ya, Nak. Insya Allah ada ganti yang lebih baik."


****


Keesokan harinya Mas Bahri datang menjemputku. Mas Bahri berpakaian rapi dan siap menemui Papa untuk meminta restu padanya. "Kamu siap?" tanya Mas Bahri.


Aku mengangguk. "Siap."

__ADS_1


Mas Bahri tersenyum padaku. Tatapannya begitu teduh dan melindungi. "Ayo, kita pergi. Bismillah!"


Mas Bahri mengemudikan mobilnya dengan santai, tak terlihat beban sedikitpun dalam dirinya. Tidak tegang dan gugup. Kulirik ke bagian belakang mobil, sudah ada kue dan buah yang ia siapkan sama seperti yang semalam diberikan pada Mama.


"Kenapa sih? Kok menatap aku terus? Ganteng ya?" tanya Mas Bahri sambil tersenyum.


"Iya. Aku terpesona sama kamu, Mas. Rasanya aku tuh kagum terus menerus sama kamu," jawabku dari hati.


"Ah, masa sih? Aku jadi besar kepala nih mendengar pujian kamu. Aku tak sehebat itu, percayalah."


"Iya ... kamu memang tak sehebat itu tapi kamu itu hebaaaat banget," pujiku.


Mas Bahri tertawa mendengar pujianku. "Bisa saja kamu, Sayang. Kalau Papa kamu sudah merestui, nanti antar aku ke sebuah tempat ya!"


"Kemana?" tanyaku penasaran.


"Ada deh. Sudah ah, aku mau berdoa dalam hati. Kamu tak tahu saja di balik wajah tenangku ada hatiku yang sejak tadi deg-degan dan terus berdoa." Mas Bahri tertawa membuat rasa tegang kami mereda. "Semoga Papa kamu merestui kita ya?"

__ADS_1


****


__ADS_2