
POV Author
"Papa!" Luna meneteskan air matanya. Ia sakit hati dengan perkataan Papanya. Bukan karena perkataan Papanya salah, tapi karena semua itu memang benar.
"Apa? Papa tak menyangka hidup kamu akan seperti ini! Apa ini didikan Mama kamu? Sok hebat karena bisa bekerja sambil mendidik anak, ternyata anaknya malah rusak!" Wajah Papa Luna memerah, amarahnya sudah diubun-ubun dan siap dimuntahkan sekarang. Luna kost tanpa peduli kalau dirinya melarang dan baru saja ia melihat putrinya pulang diantar pacarnya. Bagaimana Papa Luna tidak makin emosi?
"Jangan menyalahkan Mama, Pa! Mama tak salah. Aku juga tidak seburuk yang Papa pikir!" Luna berusaha membela dirinya.
"Oh ya? Mana ada anak baik-baik yang pergi dengan pacarnya sampai menginap segala?"
"Aku tidak pergi dengan Noah, aku pergi dengan Ariel, Pa." Luna menutupi semuanya dengan kebohongan. "Mama juga tahu, aku sudah ijin sama Mama."
"Cih, kamu pikir Papa kamu sebodoh Mama kamu? Kamu pikir Papa bisa kamu bohongi semudah itu? Papa itu laki-laki, sudah banyak Papa berurusan dengan wanita. Memangnya kamu pikir Papa tak bisa lihat kalau kalian habis liburan bareng?" cecar Papa Luna.
Deg
Luna terdiam. Air matanya terus mengalir. Papanya tak bisa dengan mudah ia bohongi. Papanya sudah pengalaman dengan wanita. Semakin Luna menjawab, semakin ketahuan semua kebohongannya.
"Kenapa kamu diam? Apa yang Papa katakan benar, bukan? Bikin malu saja kamu jadi anak! Kamu Papa biayai bukan untuk hidup urakan macam ini! Memang benar ternyata Mama kamu tak becus mendidik anak!" Papa Luna terus mengomel dan menghina istrinya.
Luna menghapus air matanya dengan kasar. Luna masih terima saat Papanya menghina dirinya, memang benar seperti itu kenyataannya. Namun saat mendengar Mamanya dihina, Luna tak bisa tinggal diam.
"Kenapa Papa merasa kalau semua ini salah Mama? Papa tidak bercermin? Mama mengorbankan dirinya untuk bekerja sampai lembur demi membiayaiku, Pa. Papa bilang apa? Papa bilang kalau Papa membiayaiku? Mama yang membiayaiku, Pa! Papa tidak berhak menghinaku dan Mama. Satu lagi, aku sudah ijin Mama. Aku pergi bersama Ariel dan karena Ariel ada urusan jadi aku dijemput Noah. Papa merasa kalau Papa tahu semua? Iyalah Papa tahu, sudah berapa banyak wanita yang Papa nikahi? Jangan samakan aku dengan Papa, aku tidak berganti-ganti pasangan macam Papa dan aku tidak seperti Papa yang tega menyakiti Mama terus menerus!" jawab Luna dengan penuh emosi.
Plakk
__ADS_1
Sebuah tamparan melayang mengenai pipi Luna. Papa Luna yang tak bisa mengendalikan emosinya melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya pada Luna, anak semata wayang yang amat dicintainya.
Papa Luna menatap tangannya yang sedikit bergetar. "Jangan pernah kamu berkata kurang ajar pada Papa! Kamu itu anak Papa, kalau tak ada Papa, tak akan pernah kamu lahir di dunia ini!"
Luna merasakan pipinya panas dan hatinya sangat sakit. Baru kali ini ada yang menampar wajahnya dan orang tersebut adalah Papanya sendiri. Betapa sakit hati Luna. Papa yang selama ini ia benci bahkan tega menampar wajah putri semata wayangnya.
"Ehem!" Suara laki-laki yang berdehem di depan kamar membuat Luna dan Papanya melihat ke asal suara.
Laki-laki tersebut mengenakan masker dengan rambut bak poni yang menutupi keningnya. Dari sorot matanya, Luna seakan mengenali cowok tersebut dan merasa tak asing. "Maaf, Mbak, saya penghuni kamar sebelah. Air di kamar saya mati, boleh numpang ke toilet?"
"I-iya. Pakai saja," kata Luna mempersilahkan.
Luna baru tahu kalau karyawan yang tinggal di sebelah kamarnya adalah seorang laki-laki dan bukan perempuan seperti yang ia pikir selama ini. Papa Luna geleng-geleng kepala melihat semua pemandangan di depan matanya. Ia menunggu sampai tetangga sebelah kamar Luna keluar lalu melanjutkan lagi pembicaraannya dengan Luna.
"Jadi begini ya, kostan kamu adalah kostan campuran antara laki-laki dan perempuan. Bagus sekali, Luna. Bagus. Kamu beralasan ingin pindah dari rumah karena Papa dan Mama yang bertengkar terus, kenyataannya apa?" Papa Luna mengusap wajahnya sambil menghela nafas dalam. "Sejak kapan kamu berubah jadi urakan macam ini?"
"Hari ini cepat berkemas dan pindah dari kostan ini!" perintah Papa Luna.
"Tapi, Pa-"
"Tak ada alasan lagi! Pindah atau Mama kamu yang akan Papa beri hukuman karena sudah tidak becus mendidik anak!" ancam Papa.
Luna tak lagi melawan. Ia takut Mamanya akan mendapat hukuman berat dari Papanya jika ia berani melawan. Bayangan akan tinggal bersama Papa dan Mamanya lagi dengan keadaan rumah yang tak pernah tenang membuat Luna memberanikan diri untuk melakukan negosiasi.
"Aku akan pindah tapi aku tetap tidak akan tinggal di rumah. Aku akan cari kostan yang lebih baik dari kostan ini," kata Luna.
__ADS_1
"Tak bisa, tetap pulang ke rumah kamu!" tolak Papa Luna.
"Kalau begitu aku tak mau!" tantang Luna. "Aku tidak mau melihat Papa dan Mama bertengkar terus. Kalau Papa memaksa, aku akan pergi dari hidup Papa dan Mama." Luna tak tahu darimana keberaniannya berasal. Membayangkan kalau dirinya akan melihat pertengkaran Papa dan Mamanya lagi membuat keberaniannya terbangun. Ia mau melawan.
Papa Luna terdiam sejenak. Ia kembali menghela nafas dalam. Ancaman Luna membuatnya takut. "Kamu itu ya!" Papa menunjuk ke arah wajah Luna dengan emosi. Kalau tidak mikir Luna adalah putri satu-satunya, sudah ia paksa Luna mengikuti apa perintahnya. Papa Luna takut putrinya akan berbuat nekat.
"Baiklah. Kamu boleh kost. Papa yang tentukan dimana kamu kost. Siapkan barang-barang kamu sekarang!" Papa Luna lalu pergi keluar dari kamar Luna, tak tahu pergi kemana.
Dengan kesal Luna menghapus air matanya. Lagi-lagi ia kalah dengan Papanya. Ia tak bisa melawan. Bisa apa dia kalau Papanya sudah berkehendak? Luna benar-benar ingin pergi dari hidup Papanya. Hanya dengan selesai kuliah dan bekerja, ia akan bisa lepas dari Papanya.
Luna memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Sebenarnya Luna lelah, baru saja pulang dari Bandung sudah kena omelan dan kini harus packing barang. Lelahnya double.
Luna tiba-tiba teringat dengan apa yang didengarnya di toilet tempat outbound. Jika ada yang berbuat mesum, maka akan sial. Bulu kuduk Luna meremang. Ternyata benar, ia langsung sial. Lagi-lagi Luna menyesali perbuatannya. Penyesalan yang sia-sia, karena terus saja mengulangi perbuatannya.
Hampir semua barang-barang di kostan sudah Luna rapikan. Tidak banyak memang karena Luna pergi dari rumah juga tidak membawa banyak barang.
"Sudah?" tanya Papa yang kembali datang ke kamarnya.
Luna mengangguk tanpa menjawab. Ia masih kesal dengan ancaman Papanya yang seenaknya saja akan menghukum Mamanya. Mamanya tak salah namun harus kena hukuman karena ulah Luna.
"Ayo kita pergi sekarang!" Papa lalu membantu mengangkat barang-barang Luna. Rupanya Papa Luna sudah minta ijin dengan pemilik kostan kalau Luna akan pindah. Dengan mobil yang Papa kendarai, mereka pindah ke kostan yang tak jauh dari kostan sebelumnya.
"Ayo turun!" perintah Papa.
Luna menatap penghuni kostan yang sedang mengaji dengan pintu yang dibuka lebar. "Aku ... akan kost di sini? Papa yakin?"
__ADS_1
*****