
POV Luna
Tanpa kenal takut Rina menyiram Noah. "Jangan berani-berani sama perempuan!" kata Rina.
"Heh cewek rese! Basah nih! Bar-bar banget sih jadi cewek!" omel balik Noah.
"Pergi sana! Kalau kamu masih meracuni Luna, aku akan teriak sekarang juga!" ancam Rina.
Wajah Noah yang basah sehabis disiram Rina memerah menahan amarah. "Ayo, Lun. Ikut aku!"
Tangan Noah kembali hendak mencengkram lenganku namun aku dengan sigap menghindar. Aku berlindung di belakang Rina yang masih memegang ember berisi air.
"Yeh bukannya pergi malah masih mengganggu Luna. Enggak ada kapoknya ya!" Rina kembali mengisi gayungnya dengan air lalu menyiram Noah lagi. "Pergi sana setan! Kalau belum pergi juga akan aku siram pakai pasir!" ancam Rina.
Noah sudah basah kuyup disiram Rina. Wajahnya sangat marah. Dengan terpaksa Noah pergi meninggalkan kostan baruku.
"Aku akan kembali, Lun! Aku tak akan menyerah semudah itu. Ingat, kamu itu milik aku!" ancam Noah.
"Yeh udah diputusin masih belum move on! Sadar woy, sadar!" balas Rina mewakiliku.
"Bawel ye, awas aja!" ancam balik Noah.
"Awas apa ya, Bro? Mau kamu apakan adikku?" Suara laki-laki yang kukenal tiba-tiba muncul. Laki-laki yang mengenakan kemeja dan celana bahan namun terlihat sangat dewasa dan ganteng.
"Kak Bahri! Dia ngancem Luna tuh, Kak!" adu Rina pada Bahri.
"Berani sama perempuan? Kayak pengecut aja! Malu sama otot, gunain buat melindungi perempuan, bukan buat nyakitin!" kata Bahri dengan tenang.
Wow, dewasa sekali. Jarang loh ada laki-laki seusia itu dengan pemikiran dewasa. Papaku saja masih berpikir bak anak ABG yang sedang puber.
"Jangan ikut campur deh! Kamu siapa? Ini urusan antara aku dan Luna, pacarku," kata Noah dengan tatapan tak suka pada Bahri.
"Bohong, Kak. Dia udah Luna putusin!" kata Rina. "Sana pergi! Mau aku siram lagi?" ancam Rina yang semakin berani karena ada Bahri yang akan membelanya.
__ADS_1
Noah melihat Rina dan Bahri bergantian. Merasa tak akan menang melawan mereka berdua dan takut membuat kerumunan massa, Noah memilih pergi. Sebelum meninggalkan kostan, Noah kembali mengancamku.
"Ingat kata-kataku tadi, Lun. Hanya aku yang akan menikahi dan menerima kamu apa adanya!" Noah pun pergi meninggalkanku yang merasa takut.
Ya, apa yang Noah katakan benar. Aku ini sudah tidak suci lagi. Aku sudah menyerahkan mahkotaku pada Noah. Siapa yang mau dengan anak gadis yang tak lagi perawan?
"Luna! Lun!" Rina melambaikan tangannya, membuatku tersadar kalau aku asyik sendiri dengan pikiranku.
"Jangan dipikirkan, oke? Dia tuh jahat. Orang jahat macam dia tak usah didengar!" kata Rina menghiburku.
Ucapan Rina tak serta merta membuatku terhibur. Kini dalam diriku timbul ketakutan besar. Tak akan ada yang mau dengan wanita sepertiku.
"Lun! Ya ampun, kamu melamun lagi. Sudahlah, jangan dipikirkan!" kata Rina.
"Memang dia bilang apa?" tanya Bahri yang kini sudah berdiri di dekat Rina.
"Dia bilang-" Belum selesai Rina berbicara aku sudah memotong ucapannya. Jangan sampai Bahri tahu. Aku akan malu kalau dia tahu. Ya ... walau Bahri memang tahu kalau aku tidak suci lagi.
"Nanti aku bantu, Lun. Aku mau bicara dulu dengan Kak Bahri," kata Rina padaku.
"Kak Bahri kenapa ke sini? Kak Azizah masih di kantor tak ada di rumah," tanya Rina.
"Oh ... Kakak bukan mau mencari Azizah kok. Kakak mau titipin ini buat kamu, dari Rina Ratnawati adikku untuk Rina adiknya Azizah." Bahri memberikan sebuah kunci dengan gantungan bergambar Mickey Mouse pada Rina.
"Ya ampun, itu kunci kamar kostku! Aku lupa tadi tertinggal waktu lagi laundry!" Rina menerima kunci yang Bahri berikan.
"Masih muda sudah pikun!" Bahri tersenyum ramah. "Ada kain pel lagi tidak? Kamu menyiram orang sampai basah kuyup begitu kayak lagi mandiin si meong saja. Mana sini, biar aku bantu!"
"Tak perlu, Kak. Kak Bahri duduk saja. Aku saja yang bantu Luna. Aku ambil kain pel dulu di dalam kamar mandiku!" Rina masuk ke dalam meninggalkanku dan Bahri dalam diam.
Rupanya air yang Rina tumpahkan lumayan banyak juga. Rasanya tak habis-habis aku memeras air yang membasahi teras rumah kost ini.
"Kamu ... akhirnya memutuskan pacar kamu, Lun?" tanya Bahri padaku.
__ADS_1
Aku menjawab pertanyaan Bahri dengan menganggukkan kepalaku.
"Kenapa? Karena di selingkuh?" tanya Bahri lagi.
Aku mengangkat wajahku dan menatapnya. Kedua mata kami kini saling bertaut. Aku bisa melihat wajah Bahri yang belum bercukur namun masih terlihat tampan. "Karena kesehatan mentalku lebih penting," jawabku dengan tegas.
Bahri terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum. Senyumnya manis sekali. Senyum yang enak sekali dipandang. Bahri memang tidak setampan Noah, namun entah mengapa Bahri terlihat lebih enak dilihat dan tidak membosankan.
"Alasan yang bagus. Terkadang kita harus menyingkirkan lumpur yang kotor agar sepatu kita tetap bersih. Good. Kamu sudah berubah lebih baik. Kamu cocok berteman dengan Rina. Dia membawa perubahan besar dalam hidup kamu," kata Bahri yang seakan tahu semua tentang apa yang terjadi dengan hidupku.
"Ya, kami benar." Aku kembali melanjutkan pekerjaanku mengepel lantai.
****
"Mama akan pindah, Lun. Rumah ini tidak bisa dijadikan harta gono gini di pengadilan," kata Mama dengan raut wajah lelah.
Sejak memasukkan gugatan cerai dengan Papa, wajah Mama terlihat lelah dan kusut. Ternyata bercerai tidak semudah yang aku pikir. Apalagi Papa tidak mau menceraikan Mama begitu saja. Papa bahkan beberapa kali melakukan teror pada Mama. Halaman depan rumahku saja jadi berantakan dengan banyak pot kembang yang rusak sama Papa.
"Kenapa tak bisa, Ma?" tanyaku yang tak mengerti tentang perceraian.
"Karena rumah ini adalah warisan dari kakek kamu. Rumah ini sudah Papa kamu miliki sebelum kami menikah. Tidak bisa dijadikan harta bersama," jawab Mama.
"Lalu ... Mama dan Papa hanya ada mobil sebagai harta bersama gitu?" tanyaku lagi.
Mama mengangguk lemah. "Iya, hanya mobil Papa. Itu pun tak besar jumlahnya kalau dijual. Mama dan Papa tak punya aset lain. Kamu tahu sendiri kemana habisnya uang Papa."
Aku mengusap lembut punggung Mama. "Tak apa, Ma. Nanti Luna yang akan belikan Mama rumah. Kita sudah berjanji memulai hidup baru, Ma. Jangan mundur. Jangan menyerah. Ingat, kesehatan mental kita lebih utama."
Mama mengangguk dengan matanya yang menatap kosong ke depan. "Pada akhirnya kita kehilangan semuanya ya, Lun."
"Kata siapa, Ma? Kita bukan kehilangan tapi kita sedang mengumpulkan. Mengumpulkan semangat dan tekad untuk hidup yang lebih baik lagi. Ada aku yang akan temani Mama. Semangat, Ma!" Aku memeluk Mama bukan karena ingin memberi semangat. Aku butuh kehangatan Mama karena saat ini aku pun rapuh.
****
__ADS_1