Toxic Love

Toxic Love
Sikap Tegas Bahri


__ADS_3

POV Luna


"Istighfar kamu, Zah. Aku tidak suka dengan sifat kamu yang seperti ini. Berbeda sekali sifat dan penampilanmu. Seharusnya kamu memberi contoh yang baik. Kalau pun memang seseorang memiliki kekurangan, bukan dicemooh tapi dibantu. Kamu bilang lebih baik aku belum move on? Kata siapa? Aku selama ini memang ingin fokus dengan pekerjaanku bukan karena aku gagal move on. Satu lagi, kalau sikapmu seperti ini terus, aku semakin yakin kalau keputusanku menolakmu adalah tindakan yang benar." Perkataan Mas Bahri tak kalah pedas. Bisa kubayangkan wajahnya pasti memerah karena marah.


Pegangan tangan Rina semakin kencang saja. Kami seperti dua orang anak kecil yang saling berpegangan tangan. Saling menguatkan dan membutuhkan.


Aku masih memejamkan mataku sambil mendengar apa yang terjadi. Tak lama terdengar suara isak tangis. Pelan tapi terasa menyayat hati.


"Maaf, aku tak bermaksud berkata jahat. Aku hanya ... tak suka melihat kedekatan kamu dan dia. Kamu menggendong dia di depan kedua orang tuaku, padahal selama ini aku selalu menceritakan semua tentangmu. Kedua orang tuaku berpikir kalau kamu adalah kekasihku. Ternyata hari ini kamu malah menggendong gadis lain pulang," kata Kak Azizah sambil menangis sesegukan.


"Kamu lihat sendiri kalau Luna kakinya terkilir. Jarak sungai ke rumah kamu lumayan jauh. Tak mungkin ia memaksa berjalan dengan satu kaki, bisa semakin bengkak nanti kakinya. Aku merasa bukan karena itu kamu tak menyukai Luna. Berhentilah bersikap seperti itu. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kalau Luna ternyata jodohku bagaimana? Apa kamu akan memusuhinya seumur hidupmu?" tanya balik Mas Bahri.


Ya ampun, Mas Bahri bilang kalau aku jodohnya? Aku jadi berbunga-bunga mendengarnya.


"Jangan berkata seperti itu. Aku tak rela kamu dengannya!" bantah Kak Azizah.


"Mengapa tidak? Aku single dan aku bebas menentukan dengan siapa aku memilih pasangan hidup. Belajarlah ilmu ikhlas, setidaknya kita masih bisa berteman jika kamu tidak bersikap keterlaluan dan mau introspeksi diri," kata Mas Bahri tenang namun seperti sedang melempar bom.

__ADS_1


Kak Azizah tak lagi berkata apa-apa. Mas Bahri sudah mengultimatum dirinya. Tegas sekali. Tak menyangka dibalik sikapnya yang suka menolong terselip sikap tegas. Pantas dia dipilih menjadi pimpinan dan dipercaya memegang proyek. Pak Rezvan memang orang yang bisa membaca karakter orang. Hebat.


"Aduh, pegal nih. Masih jauh tidak sih?" Rina berpura-pura baru bangun. Mencairkan suasana panas yang baru saja terjadi.


"Masih lama, Na. Lapar tidak? Mau mampir di rumah makan dulu? Sekalian kita sholat maghrib. Bangunkan Luna, sepertinya dia lelah sekali," kata Mas Bahri.


"Lun, bangun! Kita mau makan malam sekalian sholat maghrib!" Rina menggoyangkan tubuhku.


Perlahan kubuka mataku agar tak ada yang menyangka aku sejak tadi terjaga dan mendengarkan percakapan yang terjadi. Cukup Rina saja yang tahu.


"Tuh di depan ada rest area. Kita berhenti di depan saja ya!" kata Mas Bahri.


"Bisa, Mas. Terima kasih." Aku mencoba turun sendiri namun rasa nyeri masih kurasakan sedikit. Mas Bahri dengan sigap membantuku, takut aku terjatuh. Ia menggandeng tanganku dan membantuku berjalan ke rumah makan Padang yang menjadi tempat tujuan kami makan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Mas Bahri padaku. Perhatian sekali, pantas Kak Azizah seakan tak mau melepaskan orang sebaik Mas Bahri.


"Ayam pop saja," jawabku.

__ADS_1


"Oke. Biar aku pesankan." Mas Bahri lalu berbicara pada Rina dan Kak Azizah. "Kalian mau makan apa?"


"Rendang," jawab Rina cepat.


"Ayam bakar," jawab Kak Azizah agak malas.


"Oke. Aku pesan dulu ya!" Mas Bahri pun meninggalkan kami bertiga untuk memesan makanan.


Suasana canggung pun tercipta. Tatapan sinis Kak Azizah kini tak lagi disembunyikan dengan senyumnya seperti yang selama ini ia lakukan.


"Kak, besok kalau aku mau pulang, aku pergi berdua sama Luna saja. Ya syukur-syukur Kak Bahri mau ikut," kata Rina tiba-tiba.


"Kenapa kamu bicara begitu?" tanya Kak Azizah.


"Karena aku tidak suka mendengar Kakak mengobrol dengan Kak Bahri seperti tadi. Apalagi Kakak sampai bersikap seperti bukan Kakak yang kukenal."


Kutatap Rina dan Kak Azizah bergantian. Rina menatap Kakaknya dengan tatapan menantang. "Jangan ulangi lagi, Kak. Aku tak suka!"

__ADS_1


****


__ADS_2