
POV Luna
Aku merasa kasihan melihat Papa yang memohon maaf padaku. Seharusnya di usia Papa saat ini, Papa tinggal menikmati hidup. Tak perlu memikirkan uang kuliahku lagi karena aku sudah lulus. Sayang Papa dan Mama bercerai. Mama memutuskan mengakhiri semuanya karena sudah tak tahan lagi.
"Luna ... sedang mencoba untuk memaafkan Papa. Bukan karena Luna pendendam, bukan. Luna hanya manusia biasa. Saat Luna berharap banyak pada Papa dan harapan Luna tak terwujud, ada rasa kecewa yang sulit dilupakan. Papa bukan hanya menghancurkan harapan Luna tapi juga kepercayaan,"
"Luna percaya kalau Papa baik. Luna percaya kalau Papa sangat menyayangi Mama. Luna percaya kalau Papa dan Mama akan terus bersama dan Papa tak akan mungkin tega mengkhianati Mama. Nyatanya Papa berkhianat. Papa melupakan tanggung jawab Papa terhadap kami berdua sampai Mama memutuskan bekerja keras untuk membiayaiku,"
"Saat Mama sibuk bekerja, Papa malah menyalahkan Mama seakan Mama tak pernah becus menjadi seorang istri. Papa bahkan menuduh Mama berselingkuh. Padahal kita semua tahu kalau yang tak becus menjadi kepala keluarga dan sering menikah siri adalah Papa. Kekecewaan itulah yang membuatku sulit memaafkan kesalahan Papa,"
"Satu-satunya yang kusyukuri adalah Papa menyuruhku pindah ke kostan ini. Dengan tinggal di kostan ini aku jadi mengerti kalau aku sudah salah melangkah. Aku tak ubahnya dengan Papa, tanpa sadar terus berbuat dosa. Berada di kostan ini membuatku tersadar dan mau memperbaiki kesalahanku."
Aku menatap Papa yang sejak tadi terlihat berlinang air mata. Rasa tak tega dalam diriku kembali hadir. Bagaimanapun, Papa adalah orang tuaku. Aku tak akan hadir di dunia ini tanpa Papa.
__ADS_1
"Setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah. Papa pun demikian. Mungkin pintu hati Mama sudah tertutup, namun pintu maaf Mama pasti akan terbuka sedikit demi sedikit. Pintu maaf Allah pun demikian. Perbaikilah diri Papa dahulu lalu perbaiki hubungan Papa dengan orang sekitar. Papa seharusnya bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan Papa. Banyak orang di luar sana tak diberi kesempatan sama sekali. Manfaatkan kesempatan ini ya, Pa." Hanya nasihat baik yang bisa kukatakan. Mungkin inilah baktiku untuk orang tuaku. Semoga hati Papa tergerak dan mau mengikuti saran yang kuberikan.
"Papa ... akan mencobanya, Lun. Papa akan berubah. Papa janji!" Papa lalu mengeluarkan amplop dari dalam tasnya dan memberikannya padaku. "Buat kamu dan Mamamu. Pergilah jalan-jalan ke Mall dan makan enak. Maaf Papa sudah melupakan kalian. Mulai sekarang Papa akan mencicil sedikit demi sedikit maaf dari kalian. Papa pulang dulu. Terima kasih kamu masih mau peduli sama Papa."
Aku mengantar Papa sampai di depan gerbang dan menatap kepergiannya dengan hati yang mencelos. Kasihan dan iba, ini yang kurasakan. Biarlah dahulu, semoga menjadi pelajaran untuk Papa nanti ke depannya.
Baru saja aku hendak masuk ke dalam kostan saat kulihat Kak Azizah berjalan berdua dengan Mas Bahri sambil tersenyum. Mereka terlihat begitu akrab. Iri rasanya. Mas Bahri memang cocok dengan Kak Azizah yang baik hati dan solehah. Bukan dengan aku yang penuh dosa.
"Waalaikumsalam, Kak. Habis mengantar Papa pulang," jawabku jujur. Aku melirik ke arah Mas Bahri yang sedang menatapku. Jantungku berdegup kencang, tak biasanya begini. Aku putuskan untuk masuk ke dalam dan tak mengganggu Kak Azizah dan Mas Bahri. "Aku masuk dulu ya, Kak."
Kutinggalkan Kak Azizah dan Mas Bahri lalu kembali ke kamarku. Rina sampai ketiduran dengan masker yang kupakaikan. Aku merebahkan tubuhku di samping Rina dan menghela nafas dalam. Aku tak bisa bersaing dengan Kak Azizah. Aku bukan saingannya.
"Lun, ada Rina?" tanya Kak Azizah di luar pintu kamarku.
__ADS_1
"Ada, Kak. Sebentar Luna bangunkan!" Kugoyangkan tubuh Rina agar ia terbangun.
Rina membuka matanya dengan malas. "Kenapa, Lun?"
"Dipanggil Kak Azizah!" Kutunjuk pintu kamarku yang masih tertutup.
Rina bangun dan membuka pintu kamar. "Kenapa, Kak?"
"Kita pulang yuk ke kampung. Kak Bahri mau antar kita mumpung libur!" ajak Kak Azizah.
"Pulang? Asyik! Boleh ajak Luna sekalian, Kak?"
****
__ADS_1