
Luna
Aku tak bisa berkata-kata saat Noah kembali menghujaniku dengan sentuhan demi sentuhan yang membuat bagian intiku basah. Kecupan demi kecupan yang ia berikan di beberapa bagian tubuhku membuatku siap memberikan mahkota milikku demi Noah.
Tanpa aku sadar Noah sudah melucuti celana miliknya. Aku baru sadar saat kurasakan rasa sakit saat ada sesuatu yang hendak menerobos bagian intiku. "Aw, sakit," keluhku.
"Sabar ya, Sayang. Tahan sedikit. Sebentar lagi kamu akan merasakan penyatuan cinta kita berdua," bujuk Noah.
Aku mengangguk pasrah. Sudah kepalang tanggung, nikmati saja. Semua orang menyukai proses penyatuan ini, aku juga pasti akan menyukainya. Relax, aku pasti menyukainya.
Namun ternyata rasa sakit itu malah tambah sakit. Seakan ada bagian dalam tubuhku yang robek. "Sakit, Sayang!"
"Sst ... nikmati saja ya." Noah tak berhenti meski aku sudah merasakan sakit. Apa begini ya yang namanya penyatuan cinta? Kok rasanya sakit seperti ini?
Noah kembali mencium bibirku, menyentuh beberapa bagian tubuhku sampai akhirnya aku kembali rilex dan melupakan rasa sakitku. Noah akhirnya berhasil melakukan penyatuan dan aku kini merasakan kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Desaaahanku yang sebelumnya terhenti akibat rasa sakit kini kembali terdengar membuat Noah juga ikut mendesaah sambil menyebut namaku.
"Yes, Lun. Ya, begitu mmph ...." Noah terus bergerak di atas tubuhku sampai akhirnya kurasakan cairan hangat miliknya menyembur ke dalam tubuhku. Noah mengecup keningku dengan penuh cinta sebelum akhirnya terkulai lemas di sampingku.
"I love you, Lun. I love you," kata Noah dengan suara tersengal.
"I love you too," balasku.
Lelah sekali rasanya. Aku pun tertidur di samping Noah. Kami berpelukan dengan tubuh tanpa sehelai benang yang menutupi. Hanya bed cover tebal sebagai pelindung dari dinginnya udara malam sehabis hujan.
🤍🤍🤍
Aku terbangun dengan tubuh yang terasa sakit di bagian inti. Aku melihat jam dinding di kamarku, jam 6 pagi. Kulirik Noah yang masih tertidur di sampingku dengan pulas. Tampan sekali. Pantas banyak mahasiswi yang menyukai kekasihku ini.
Aku memindahkan tangan Noah yang memeluk tubuhku dengan erat seakan takut aku pergi. Kucoba bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah menahan perih.
Baru kali ini kurasakan bagian intiku sangat sakit. Seakan ada benda yang merobek milikku dan tak akan pernah bisa kembali utuh lagi. Aku mengambil handuk milikku di gantungan baju lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Tak seperti adegan dalam novel dimana saat pemeran utamanya kehilangan mahkota yang ia jaga seumur hidupnya akan menangis sesegukan, aku malah tersenyum. Beberapa tanda cinta yang Noah buat di tubuhku membuatku merasa kalau Noah benar-benar mencintaiku. Hanya aku yang Noah miliki. Aku wanita spesial yang pertama kali ditiduri Noah. Betapa beruntungnya aku bukan?
__ADS_1
Masih terbayang dalam ingatanku bagaimana Noah begitu menginginkanku semalam. Tatapannya begitu mengagumi tubuhku. Sentuhannya yang lembut membuatku ketagihan. Sekarang, aku tak akan kesepian lagi. Ada Noah, cinta kami sudah menyatu dan tak akan mudah terpisahkan.
Aku membersihkan tubuhku lalu keluar kamar mandi dengan rambut basah. Aku pikir Noah masih tertidur pulas, ternyata tidak. Ia sedang memakai pakaian miliknya dan tersenyum saat melihatku keluar kamar mandi.
"Sudah mandinya, Sayang? Sakit tidak?" tanya Noah dengan penuh perhatian.
Aku membalas senyumnya. Perhatian sekali dia padaku. Noah memang sayang padaku dengan tulus. Aku yakin itu. "Sakit sedikit," jawabku jujur.
Noah mendekat dan mengecup pipiku. "Nanti juga terbiasa. Menurut teman-temanku sih, awalnya sakit tapi nanti enak kok. Kita bisa menikmati setiap penyatuan cinta kita, kapanpun."
Aku mengangguk sambil tersenyum malu. "Iya."
"Aku pulang dulu ya, takut Papa marah karena aku tak pulang semalaman. Kamu mau beli sarapan apa? Aku pesankan makanan online ya? Mau ayam crispy?" tawar Noah.
Perhatian sekali bukan kekasihku ini? Aku yakin kalau aku tak akan menyesal menyerahkan mahkotaku untuknya.
"Boleh. Kamu enggak masuk kelas hari ini?" tanyaku.
"Dosennya ijin. Aku mau tidur saja di rumah. Mengembalikan tenagaku yang terkuras habis sama kamu semalam." Naoh mencubit hidungku pelan sambil tersenyum.
"Peluk dulu!" Noah membuka tangannya lebar-lebar.
Aku masuk ke dalam pelukannya dan memeluk Noah dengan erat. Noah mengecup keningku dan menatapku penuh cinta. "I love you, Luna."
"I love you too," balasku.
Aku mengantar Noah sampai depan pintu. Menatap punggung tegapnya yang pergi di pagi hari sebelum penghuni lain bangun.
Aku baru saja hendak masuk saat mataku beradu dengan mata Ariel yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku tersenyum kecil ke arahnya lalu masuk ke dalam.
Baru saja aku menggantung handuk basah milikku ketika suara ketukan terdengar di pintu kamarku. Aku menghela nafas dalam. Pasti Ariel, tak mungkin ayam crispy pesanan Noah sudah datang dalam waktu secepat ini?
Dengan langkah malas aku membuka pintu kamarku. Ariel berdiri dengan tatapan ingin tahu. "Lun, Noah baru pulang?"
__ADS_1
Aku tak menjawab dan mempersilahkannya masuk. Aku mengambil air mineral dan membasahi tenggorokanku yang terasa kering sebelum menjawab pertanyaan Ariel.
Ternyata Ariel tak sabar menunggu jawabanku. Ia kembali mengajukan pertanyaan padaku. "Noah menginap di kamar kamu, Lun?"
Ariel terus mengikuti langkahku dan kini ikut duduk di lantai seperti yang kulakukan. Kunyalakan laptop milikku yang semalam dipindahkan oleh Noah.
"Iya," jawabku singkat.
Kening Ariel nampak berkerut. "Ngapain?"
"Ngerjain skripsi."
"Hanya mengerjakan skripsi?" tanya Ariel sambil menelisik ke dalam mataku. Nampak jiwa detektifnya keluar dan haus akan informasi dariku.
"Memangnya mau apalagi?" tanyaku balik. Tak mungkin aku memberitahu apa yang kami lakukan semalam. Untuk apa? Ariel hanya orang luar dalam hubunganku dengan Noah. Tak perlu ia tahu apa saja yang sudah kami lakukan.
Aku merapikan kamarku dengan tatapan mata Ariel yang selalu mengawasiku. "Noah sering menginap di kamar kamu, Lun?" tanya Ariel lagi.
Aku tersenyum kecil. "Ya enggaklah, Riel. Aku saja baru beberapa hari tinggal di kostan."
"Maksud aku ... menginap di rumah kamu, Lun."
"Memang kenapa sih, Riel? Kok kamu sepertinya ingin tahu sekali tentangku dan Noah?" Kuhentikan kegiatanku merapikan tempat tidur dan menatap balik ke arah Ariel.
"Bukan itu maksudku, Lun. Aku hanya memikirkan tentang kedua orang tua kamu. Bagaimana jika mereka tahu-"
Kupotong ucapan Ariel sebelum ia selesai berbicara. "Mereka tahu apa? Memangnya apa yang aku lakukan? Sudahlah, Riel. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku turun ke bawah dulu, Riel. Makanan yang Noah pesankan untukku sudah datang."
Secara halus aku mengusir Ariel dan mengunci pintu kamarku sebelum turun ke bawah. Kutinggalkan Ariel yang penuh rasa ingin tahu padaku. Jangan sampai Ariel tahu kalau aku dan Noah sudah melakukan sesuatu yang diluar batas.
****
Hi Semua!
__ADS_1
Maaf sempat lama, insya Allah kita mulai lagi up rutinnya ya. Yuk yang belum add favorit, add dulu biar tidak ketinggalan notif dari aku.
Oh iya, novel ini memang diadaptasi dari kisah nyata pergaulan anak muda jaman sekarang, tentu semua butuh proses dong. Ambil sisi positifnya dan buang sisi negatifnya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Luna, Noah dan Ariel ya. 😘😘