Toxic Love

Toxic Love
Orang Toxic Ada Di Sekitar Kita


__ADS_3

POV Luna


"Aku sudah pesan. Kalian mau minum apa?" Kedatangan Mas Bahri membuat aura tegang pun lenyap seketika.


"Teh tawar hangat saja," jawabku cepat.


"Aku juga, Kak." Rina mengikuti pesananku.


"Aku juga," kata Kak Azizah sambil terus menatap Rina dengan tajam.


Mas Bahri akhirnya sadar dengan apa yang sedang terjadi. "Ada apa ini? Kok kalian terlihat seperti saling bermusuhan sih?"


"Aku mendengar apa yang Kak Bahri dan Kak Azizah bicarakan tadi di mobil. Aku tak suka dengan sikap Kakakku. Jadi mulai sekarang kalau aku mau pulang, aku bareng Luna saja. Kak Bahri kalau mau ikut boleh kok." Rina berkata terus terang.


Mas Bahri terkejut dengan apa yang Rina katakan. "Rin, maaf, Kak Bahri-"


"Kak Bahri tak salah kok. Kakakku saja yang menyimpan iri hati karena Kakak tak pernah membalas perasaannya. Mulai sekarang aku mau Kakakku menerima kenyataan. Mengenai Ibu dan Bapak, biar aku yang menjelaskannya," kata Rina dengan tatapan kesal.

__ADS_1


"Jangan ikut campur kamu!" balas Kak Azizah.


"Aku harus ikut campur. Aku tak mau Kakak memiliki sifat toxic. Aku sayang sama Kakak, kalau aku membiarkan Kakak berbuat seperti itu berarti aku tak sayang sama Kakak. Berhentilah atau aku akan menceritakan semuanya sama Ibu dan Bapak!" ancam Rina.


"Wow ... aku tak menyangka kamu akan bersikap tegas seperti ini. Keren," puji Mas Bahri pada Rina.


"Tuh dengar adik kamu, Zah. Sayang dia sama kamu. Kalau dia tak sayang kamu, dia akan diam saja dan membiarkan kamu menghancurkan diri kamu sendiri," kata Mas Bahri pada Kak Azizah.


Kak Azizah terlihat memanyunkan bibirnya. Hilang sudah wajahnya yang biasa terlihat manis dan murah senyum. Ternyata orang-orang yang toxic itu banyak. Ada di sekitar kita, orang yang tidak kusangka ternyata juga memiliki sifat seperti itu, contohnya Kak Azizah. Aku tak pernah menyangka Kak Azizah yang selama ini terlihat alim dan baik ternyata malah iri hati padaku padahal aku jelas banyak kekurangan dibanding dirinya.


Betapa kagumnya aku dengan Rina. Anak itu begitu berani dan sayang pada kakaknya. Dia mencegah kakaknya berbuat lebih jauh lagi dengan langsung menegurnya terus terang. Aku pikir tadi ia memegang tanganku hanya untuk menguatkanku saja, ternyata tidak. Selain menguatkanku Rina juga ingin aku bersabar dan seolah berkata kalau ia sendiri yang akan selesaikan.


"Sudah ya kita membahas hal seperti ini. Kita jalan-jalan untuk bersenang-senang bukan untuk saling sindir menyindir atau menyakiti yang lainnya, oke?" Mas Bahri lalu menyatukan tangan Azizah dengan tangan Rina. "Salaman biar akur."


"Kak Azizah juga harus bersalaman dengan Luna biar adil dan akur, betul tidak? Rina tersenyum ke arahku dan Kak Azizah yang masih menatapnya dengan tatapan sebal.


Setelah menghela nafas dalam Kak Azizah lalu mengulurkan tangannya untuk mengalamiku setelah sebelumnya menyalami Rina. Mas Bahri terlihat tersenyum melihat kami saling berjabat tangan.

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Akur, 'kan enak dilihatnya. Ayo habiskan makan kalian setelah itu kita pulang."


Mas Bahri mengantar kami sampai di depan kosan. Ia lalu berpesan padaku untuk izin sakit selama kakiku masih sakit. "Kamu besok enggak usah masuk saja, kalaupun memang mau masuk, kabari aku. Biar aku jemput!" kata Mas Bahri dengan ramah padaku.


Aku melirik ke arah Kak Azizah yang memilih untuk masuk ke dalam kostan tanpa sepatah kata pun. Terserahlah, aku tak peduli. Kalau memang ia membenciku biarkan saja dia hidup bersama rasa bencinya


"Iya, Mas. Aku lihat keadaan besok ya. Kalau aku kuat dan kakiku baik-baik saja, aku akan masuk kerja dan mengabari Mas Bahri."


Mas Bahri tersenyum mendengar jawabanku. "Istirahatlah! Jangan lupa dipakai obat gosoknya biar cepat sembuh!" pesan Mas Bahri sebelum pergi meninggalkan kostan kami.


Rina tersenyum ke arahku seraya membantuku berjalan ke kamar. Sesampainya di kamar, Mama belum pulang. Mama sengaja mengambil lembur di weekend ini agar uang tabungan yang pernah dipakai untuk keperluan awal aku bekerja bisa kembali lagi.


Aku dan Mama memang berencana pindah dari kostan ini. Mama mau tinggal di rumah yang lebih besar. Mama juga tak nyaman terus-menerus tinggal bersama di kamar yang kecil ini.


"Maafin Kakak aku ya, Lun. Aku sebenarnya malu untuk menceritakannya sama kamu. Kak Azizah itu sudah sejak lama menyukai Kak Bahri namun sayang Kak Bahri seperti yang aku bilang, gagal move on. Kak Bahri tak pernah memberi harapan ke Kakak Azizah, kakakku saja yang selalu kegeeran. Aku sebenarnya berharap mereka bakal menjadi pasangan namun saat melihat Kak Bahri tak memberi harapan sama sekali pada Kak Azizah, lama-lama aku menyerah untuk menjodohkan mereka berdua. Aku lihat Kak Bahri begitu perhatian sama kamu. Kayaknya, Kang Galon itu suka sama kamu deh."


"Masa sih? Enggak ah, kamu salah kali, Rin," kataku tak percaya dengan ucapan Rina.

__ADS_1


"Aku tuh sudah kenal Kak Bahri lumayan lama, Lun. Aku tahu sifatnya. Kak Bahri memang baik pada siapa saja makanya banyak yang salah paham, termasuk Kakakku sendiri. Kalau memang Kak Bahri menyukai dan mencintai kamu bagaimana Lun? Apa kamu akan menerima cintanya?"


****


__ADS_2