Toxic Love

Toxic Love
Teman Baru


__ADS_3

POV Luna


"Digampar? Kenapa? Ya Allah Luna, pasti sakit ya?" Rina menatapku dengan tatapan khawatir dan kasihan. Aku baru mengenal Rina namun kenapa aku merasa kalau Rina begitu baik dan peduli padaku.


"Ada masalah di antara kami. Aku belum bisa cerita. Yang pasti, Papa minta aku pindah kost." Aku memang belum siap menceritakan kisahku pada Rina. Kami baru kenal belum sampai 2 jam. Tak mungkin aku menceritakan semua kisah hidupku pada Rina.


"Yang sabar ya, Lun. Oh iya, kamu sudah makan belum?" Rina tidak memaksaku untuk bercerita. Ini yang aku suka darinya.


Aku menggelengkan kepalaku. Niatku tadi begitu sampai kostan mau makan mie pedas pakai telur. Apa daya, baru turun dari mobil sudah dapat omelan. Apes sekali. Benar kata orang, hari apes itu tidak ada di kalender.


"Kita makan bareng yuk! Aku tadi masak agak banyak, kamu mau?" tawar Rina.


"Kamu ... masak apa?" tanyaku penasaran.


"Oncom dipedesin. Enak deh. Aku juga goreng tempe. Kalau mau, aku bawa ke kamar kamu. Kita makan bareng," ajak Rina.


Aku menganggukkan kepalaku. "Iya, aku mau. Ayo, aku bantu bawakan!"


Aku dan Rina lalu mempersiapkan makan malam kami. Rina mengambil makanan yang sudah ia masak dan membawanya ke kamarku. Rina bahkan membawa magic com miliknya agar aku bisa mengambil nasi sesukaku.


Rupanya masakan Rina sangat lezat. Aku makan dengan lahap sambil mendengarkan Rina bercerita tentang kostan ini.


"Kostan ini tuh punya Ibu dan Bapakku. Mereka mempercayakan kostan ini sama Kakak dan aku."


"Memang Ibu dan Bapak kamu kemana?" tanyaku.


"Di kampung. Mereka tak suka hidup di Jakarta. Kata mereka, lebih tenang hidup di kampung," jawab Rina.


"Iya sih. Jakarta terlalu keras. Kalau tidak disikut ya menyikut. Kalau tidak bertahan ya tergerus."


"Ih bicara kamu sok puitis deh. Oh iya, di kostan ini ada pengajian rutin setiap hari. Setelah sholat maghrib, kita akan ngaji bareng sambil koreksi bacaan masing-masing."


"Ngaji? Kayak tadi gitu?" Aku teringat saat tadi tiba di kostan ini dan melihat mereka sedang mengaji.


"Betul." Rina sudah selesai makan. Ia kini meminum air mineral dingin yang kuambil dari lemari es milikku.

__ADS_1


"Harus gitu?"


"Harus bin wajib. Kecuali kamu memang ada kesibukan dan belum pulang, kamu wajib ikut."


Waduh, aku tidak lancar mengaji. Bagaimana ini? Aku saja sudah lama tidak mengaji. Kalau aku salah dan ditertawakan bagaimana? Kayaknya aku akan kabur aja deh. Tapi kemana? Nongkrong di ruang senat sampai malam? Bisa diajakin indehoy lagi sama Noah. Aku tak mau. Kapok. Takut ketahuan.


"Luna! Lun!" Rina menyadarkanku yang sedang berpikir keras. "Malah melamun. Kenapa?"


"Enggak apa-apa."


Aku menyudahi makanku. Untung saja semua makanan sudah habis kulahap. Bisa tidak tertelan kalau aku tahu berita tentang wajib ikut ngaji saat makan.


"Peraturan berikutnya, kamu pasti sudah tahu kalau tidak boleh ada tamu laki-laki yang masuk ke dalam rumah. Kalau Noah mau bertemu kamu ya di teras." Rina kembali menjelaskan peraturan di kostan ini padaku.


"Iya, aku sudah tahu. Kakak kamu tadi menjelaskan saat aku dan Papa baru datang."


"Peraturan lain ya jaga kebersihan kamar. Kamu bisa pakai dapur bersama tapi jangan lupa dibersihkan lagi ya. Oh iya, kita juga ada acara makan bersama. Jadi nanti kita masak bergantian lalu semua menu kita makan bareng. Kita bisa saling mencoba masakan satu sama lain. Seru deh pokoknya," kata Rina dengan semangat.


Aku tersenyum kecil. Semua kegiatan bersama ini membuatku insecure. Aku selama ini terlalu menutup diri. Aku lebih asyik sendiri dan agak sulit membaur dengan banyak orang. Kenapa semua kegiatan di sini malah membuatku harus membaur dengan orang lain?


Aku baru membuka ponselku setelah mandi dan saat merebahkan tubuhku di atas kasur. Ada banyak pesan dari Noah yang begitu mengkhawatirkan keadaanku.


"Sayang, bagaimana Papa kamu? Marah banget ya? Maaf aku tak bisa membantu. Kalau kamu tak menyuruhku pergi, aku pasti akan membela kamu."


"Sayang, aku bisa telepon kamu tidak?"


"Sayang, Papa kamu sudah pulang belum? Aku tak tenang sebelum kamu menjawabku."


"Kamu diomelin habis-habisan ya? Kamu belum baca pesanku sama sekali. Hubungi aku secepatnya!"


"Sudah malam. Kamu dimana? Aku ke kostan kamu sekarang ya? Papa kamu sudah pulang 'kan?"


"Sayang, bagaimana? Aku ke kostan kamu saja nih?"


"Sayang, jawab aku!"

__ADS_1


"Sayang, balas dong pesan aku!"


"Sayang, aku telepon ya sekarang? Sudah aman belum?"


Aku tak membalas Noah. Aku capek. Aku menghela nafas dalam. Sial. Memang aku sial hari ini. Semua karena perbuatanku. Aku mengusap pipiku yang masih cenat-cenut terkena tamparan Papa. Jangan bilang lebay, Papa itu laki-laki, tenaganya luar biasa. Saat terkena tamparan, sakitnya teramat sangat.


Aku jadi kepikiran Mama. Aku pernah lihat Papa menampar Mama. Bukan hanya sekali. Pasti sakit sekali pipi Mama kena gampar Papa. Kasihan Mama.


Aku mencari nama Mama dan menelepon Mama. Aku meminta Mama pulang agak malam dan sebisa mungkin menghindari Papa. Aku tak mau Mama kena omel dan bahkan sampai diperlakukan kasar oleh Papa.


"Maafin Luna, Ma. Luna hanya menambah penderitaan buat Mama," kataku sambil terisak setelah menceritakan semuanya pada Mama.


"Tidak, Nak. Sudah, kamu tenang saja. Mama akan membicarakan semuanya baik-baik sama Papa kamu. Mama tak akan kabur lagi. Semakin Mama kabur, Papa kamu akan semakin marah," kata Mama dengan tenang.


"Jangan, Ma. Papa bisa marah besar sama Mama." Rasa khawatirku kembali datang. Takut Mama kenapa-napa.


"Tenanglah, Luna. Kamu fokus saja dengan skripsi kamu. Biar Papa jadi urusan Mama ya." Mama pun mengakhiri sambungan telepon kami. Aku mendengar suara Papa dari kejauhan.


"Ma! Mama!" Sia-sia aku mencegah Mama, telepon sudah diputus. Aku khawatir dengan Mama.


Aku memasukkan ponsel dan dompetku ke dalam tas kecil. Aku akan pulang ke rumah malam ini. Aku tak bisa tidur tenang sementara Mama menanggung hukuman karena kesalahanku. Rupanya hari sialku belum berakhir.


Aku mengunci pintu kamarku dan berpapasan dengan Rina yang hendak masuk ke dalam kamarnya. "Loh, Luna. Mau kemana malam-malam begini?"


"Aku ... mau pulang, Rin."


"Pulang? Ke rumah orang tua kamu? Ada apa?" tanya Rina dengan khawatir.


"Aku ... khawatir sama Mamaku, Rin. Aku takut Mamaku akan diomelin Papa. Aku pulang sekarang ya, Rin. Mungkin aku akan menginap di rumah Mama malam ini," pamitku.


"Aku pesankan ojek online ya buat kamu. Kamu tunggu sebentar. Tenangkan diri kamu dulu." Rina memesankan ojek online untukku. Aku yang sedang kalut malah tak berpikir mau pulang naik apa.


Tak lama, ojek online yang Rina pesankan datang. Aku menatap teman baruku yang sangat baik tersebut. "Terima kasih, Rin. Aku pamit dulu."


****

__ADS_1


__ADS_2