Toxic Love

Toxic Love
Berpisah


__ADS_3

POV Luna


Mas Bahri tiba-tiba ngerem dadakan pendengar pertanyaanku yang tiba-tiba. "Sayang kamu beneran ngagetin aku loh. Kenapa kamu tiba-tiba nanya kapan aku nikahin kamu? Udah nggak sabar ya?" Mas Bahri menatapku dengan lekat


"Iya, Mas. Aku sangat takut. Aku takut orang-orang seperti Kak Azizah datang dan merebut kamu dari sisiku. Jujur, aku ini seperti malaikat yang hanya memiliki satu sayap saj. Aku sudah tidak sempurna. Perbedaanku dengan kamu sangat jauh berbeda, sayap kamu masih kokoh dan terlihat kuat untuk melindungiku dari orang-orang yang menyakitiku. Aku takut kamu akan tergoda dengan malaikat lain yang memiliki dua sayap sempurna."


Mas Bahri memberhentikan mobil di pinggir sebentar. Ia mengusap rambutku dengan penuh kasih dan ia pun tersenyum dengan hangat. "Tenanglah, aku takkan seperti itu. Walaupun kamu hanya memiliki satu sayap, namun sayapku ini cukup kuat kok untuk mengajak kamu terbang bareng bersamaku. Masalah pernikahan, aku saja belum bicara dengan Mama kamu. Lusa aku baru bicara dengan Mama kamu dan secepatnya aku akan menemui Papa kamu. Doakan ya! Malaikat dengan dua sayap kokoh ini sedang berusaha memperjuangkan kamu. Hanya doa kamu yang membuat aku jadi tambah semangat menghadapi semuanya."


"Tentu saja, Mas. Aku harus mendoakan kamu demi kebahagiaan kita. Semangat calon suamiku!" kataku sambil tersenyum.


"Semangat calon istriku!" balas Mas Bahri.


Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan aku sudah melihat rumah sakit tempat Ariel dirawat. Sambil menggenggam tanganku dengan erat, kami masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju kamar Ariel.


"Assalamualaikum!" salamku saat membuka pintu ruangan.


"Waalaikumsalam!" jawab yang di dalam ruangan Ariel.


Kulihat kini sudah ada Ibu Ariel dan adiknya. Tentu saja tak ada Noah di sana. Laki-laki pengecut itu mana mau bertanggung jawab. Aku jadi semakin bersyukur putus darinya. Kalau aku hamil karena Noah, sudah pasti laki-laki itu tak akan bertanggungjawab dan aku akan hancur seorang diri. Beruntung aku berhasil lepas dari jeratannya.


"Eh ada Luna, masuk Lun!" kata Ibunya Ariel dengan ramah.

__ADS_1


Aku berjalan mendekat dan salim pada Ibu dan Bapak Ariel.


"Bagaimana, Ril, keadaan kamu hari ini?" Aku menaruh makanan yang kubawa di atas meja tempat menaruh minum.


Ariel tersenyum dan terlihat lebih segar hari ini. Ia sudah bisa duduk sambil bersandar di tempat tidur. "Alhamdulillah, Lun, sudah lebih baik. Terima kasih ya, kamu sudah menyelamatkan nyawaku!"


"Ish ... ngapain kamu ngomong kayak gitu? Aku sudah pasti nyelamatin kamu. Enggak mungkin aku ninggalin kamu seorang diri saat kamu kesakitan seperti itu. Sekarang, kamu pulihkan kesehatan kamu lalu kamu memulai hidup baru yang lebih baik lagi ya," kataku dengan lembut, tak mau Ariel tersinggung dengan perkataanku.


Ariel tersenyum dan mengangguk. "Oh iya, aku dari kemarin mau tanya, dia siapa?" tanya Ariel seraya menunjuk Mas Bahri yang berdiri di belakangku.


"Oh ... ini Mas Bahri, calon suamiku. Kamu tidak kenal memangnya?" tanyaku pada Ariel. Mas Bahri dan Ariel lalu berjabat tangan saling memperkenalkan dirinya masing-masing.


Aku tersenyum mendengarnya. "Mas Bahri ini tinggalnya di sebelah kostan aku dulu. Dia adalah karyawan kantor yang selama ini kita pikir enggak pernah ada di kamar dan selalu pulang malam. Nyatanya, Mas Bahri sedang bersemedi di dalam kamar dan terus memantau gerakanku."


"Oh ya? Kok kalian bisa akrab sih dan bahkan sampai memutuskan untuk menikah?" tanya Ariel penasaran.


"Kebetulan Mas Bahri itu atasanku di kantor. Jadi ya ... berawal dari kostan dan berlanjut di kantor. Insya Allah selanjutnya kami akan membina hidup rumah tangga berdua," kataku dengan bahagia.


"Amin aku doakan semoga kalian lancar. Oh iya, Lun, aku dan keluargaku sudah memutuskan untuk pulang kampung," kata Ariel.


"Pulang kampung? Lalu kuliah kamu bagaimana?"

__ADS_1


"Aku hanya tinggal sidang skripsi saja. Aku ingin memulihkan kondisi tubuhku dulu baru nanti kata Bapak kalau aku mau sidang Bapak sendiri yang akan mengantarku ke Jakarta."


"Yah ... aku jadi enggak bisa sering-sering ketemu kamu dong?" kataku dengan sedih.


"Doakan saja semoga aku bisa punya pekerjaan di Jakarta. Aku juga berencana mau pindah dari kostan itu. Aku mau berubah. Aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu dan memperbaiki hidupku mulai sekarang."


Aku terharu mendengar perkataan Ariel yang sungguh-sungguh dari hati. "Aku akan mendukungmu, Riel. Masa lalu kita yang buruk akan menjadi pelajaran untuk kehidupan kita yang lebih baik lagi."


Aku memeluk Ariel dan meneteskan air mata haru. Entah kapan kami bisa bertemu lagi, semoga saat aku menikah nanti Ariel bisa datang.


****


Sesuai janji, Mas Bahri datang ke kostanku untuk berbicara dengan Mama. Rina mempersilahkan Mas Bahri masuk ke ruang tamu karena ada aku dan Rina yang menemani.


"Bu, niat saya datang ke mari adalah untuk melamar anak Ibu, Luna. Apakah Ibu ijinkan?" tanya Mas Bahri.


Sayup-sayup kudengar suara derai tangis dari dalam kamar Kak Azizah. Ya, dibalik kebahagiaanku, ada tangis sedih wanita di dalam kamar. Mau bagaimana lagi, semua yang kita kehendaki terkadang tak bisa kita raih.


"Kalau Ibu ... mengijinkan. Ibu tahu bagaimana kamu, Bahri. Selanjutnya, silahkan kamu minta ijin pada Papanya Luna. Minta restu padanya karena beliau yang akan menikahkan kalian nanti."


****

__ADS_1


__ADS_2