Toxic Love

Toxic Love
Canggung


__ADS_3

POV Luna


Kenapa aku mengiyakan ajakan Rina? Andai aku tak mengiyakan ajakan Rina, aku tak akan berada di situasi canggung macam ini.


Di dalam mobil hanya ada aku dan Mas Bahri saja. Rina dan Kak Azizah pergi ke toilet meninggalkan kami berdua dalam suasana yang canggung.


Aku bingung mau mengajak Mas Bahri mengobrol apa. Mau membahas pekerjaan, anak baru sepertiku mau bahas apa? Pasti Mas Bahri lebih jago.


"Kamu belum pernah ke rumah Rina sebelumnya ya, Lun?" tanya Mas Bahri.


Untunglah Mas Bahri yang berinisiatif mengajakku mengobrol duluan. "Belum, Mas. Ini baru pertama kali."


"Enak deh di sana pemandangannya. Memang sih agak jauh perjalanan kita tapi terbayar dengan suasana pedesaan yang sejuk dan udaranya yang bersih," ujar Mas Bahri.


"Mas Bahri sering ya ke rumahnya Rina?" tebakku.


"Baru beberapa kali sih. Kebetulan aku suka mencari tempat healing yang nyaman buat ngilangin suntuk. Rina yang mengajakku pertama kali dan aku ketagihan untuk balik lagi ke rumahnya."


"Rina? Bukan Kak Azizah?" tanyaku dengan heran.


"Iya, Rina. Memangnya kenapa? Kok kamu nanya begitu?" tanya balik Mas Bahri padaku.

__ADS_1


"Oh tak ada maksud apa-apa kok, Mas. Biasanya 'kan kalau orang berpacaran suka memperkenalkan kekasihnya pada keluarganya, apalagi kalau hubungannya sudah serius," kataku.


"Pacar? Pacaran? Oh ... kamu pasti berpikir kalau aku pacaran sama Azizah ya?" tebak Mas Bahri. "Siapa yang bilang? Rumor di kantor yang mengatakan kalau aku dekat dengan karyawan pajak?"


Aku jadi tak enak hati dan takut Mas Bahri berpikir kalau aku suka membicarakannya di belakang. Aku tahu karena ada yang memberitahu bukan karena aku bertanya.


"Ya ... aku hanya mendengar saja sih, Mas. Aku pikir Mas Bahri dan Kak Azizah-" Belum selesai aku berbicara, pintu mobil sudah dibuka. Rina dan Kak Azizah masuk ke dalam mobil. Kak Azizah kembali duduk di depan bersama Mas Bahri dan Rina di sampingku.


"Maaf ya lama. Aku sakit perut. Terpaksa deh Kak Azizah aku suruh tunggu. Rujak kita tadi terlalu pedas, Lun. Perutku bereaksi jadinya," kata Rina seraya memegang perutnya.


"Masih sakit?" tanyaku dan Mas Bahri kompak.


"Mau pakai minyak kayu putih?" tanyaku dan Mas Bahri lagi dengan kompak.


Aku dan Mas Bahri kembali saling menatap. Kini kami tertawa dengan kekompakan kami yang tak disengaja.


"Kalian berdua ya, kok bisa kompak begitu sih nanyanya? Aku udah enggak sakit lagi. Udah lega. Kak Azizah sudah belikan aku obat diare dan minyak kayu putih. Insya Allah aman. Ayo kita berangkat lagi," ajak Rina.


"Oke. Bismillah!" Kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali.


Aku tak sengaja melihat ke arah Kak Azizah yang kini ekspresi wajahnya berubah. Apa aku buat salah ya? Atau apa mungkin Kak Azizah tak suka denganku?

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Rina berceloteh dengan riang. Mas Bahri sering menanggapi ocehannya. Bisa dibilang Rina ada penghidup suasana. Aku jadi bisa ikut dalam percakapan berkat Rina. Memang ya orang tertutup macam aku tuh butuh banget sahabat macam Rina.


Kak Azizah tak banyak bicara. Wajahnya masih terlihat murung, beda sekali dengan saat kami awal berangkat tadi. Aku melirik ke arah Mas Bahri yang duduk di depanku. Lagi-lagi tanpa sengaja mata kami bertemu saat Mas Bahri sedang melirik ke arah spion. Kurasakan wajahku memanas. Ya ampun, kenapa denganku?


Perjalanan kami lumayan jauh ternyata. Meski sudah melewati jalan toll tetap saja masih harus melewati jalan kampung yang kadang tak mulus. Rina tertidur pulas di sampingku. Kurasakan ponselku terus bergetar. Ada panggilan masuk.


"Angkat saja, Lun. Siapa tahu penting," kata Kak Azizah.


"Iya, Kak."


Aku membuka ponselku dan melihat nama Noah memanggilku. Dengan malas aku mengangkat ponselku dan merasakan tatapan tajam Mas Bahri sesekali menatap ke arah spion seraya melirikku.


"Iya, kenapa?" tanyaku dengan malas.


"Lun, aku di depan kostan kamu. Bisa keluar sekarang? Aku kangen sama kamu, Lun," kata Noah dengan nada memelas.


"Aku sedang pergi ke luar kota. Jangan telepon aku lagi!" Kuputuskan sambungan teleponku dengan kesal.


"Siapa, Lun? Pacar kamu?"


****

__ADS_1


__ADS_2