Toxic Love

Toxic Love
Transferan Dari Noah


__ADS_3

Luna


Aku tak menyangka Noah akan melakukan hal gila padaku. Ini siang hari loh tapi dia tanpa malu terus membangkitkan gairahku di siang hari.


"Sayang, kalau ketahuan gimana?" tanyaku sambil tetap menahan kewarasanku. Bagaimana aku bisa berpikir waras sementara Noah terus mencumbuku seperti ini?


"Tenang aja. Enggak akan ada yang masuk. Aman." Noah terus saja bermain dengan buah sintalku. Aku yang semula menolak kini kembali menyerahkan diriku.


"Kamu yakin?" tanyaku sekali lagi.


"Percaya sama aku, oke?"


Benar-benar hubungan yang memabukkan. Aku ingin menolak namun sisi lain diriku menginginkan setiap sentuhan Noah. Murahan sekali aku ini.


Kini aku pasrah, kubiarkan Noah melampiaskan gairahnya padaku. Toh aku juga menikmatinya. Ruang senat yang kuanggap kotor kini menjadi tempat kami memadu kasih di siang bolong. Setelah Noah mengunci pintu ruang senat dari dalam, ia pun mulai meniduriku lagi.


Rasa sakit yang beberapa hari lalu kurasakan kini hanya terasa sedikit saja. Benar yang Noah katakan. Kini aku merasakan kenikmatan setiap kali Noah menggerakkan tubuhnya.


Noah membuatku bergerak di atas tubuhnya. Kurasakan sensasi yang berbeda dibanding saat pertama kami kami melakukannya. Rasanya sungguh luar biasa. "Good, Lun. Hmm ... aku suka, teruskan!"


Ruangan gelap, agak kotor dan hanya kipas angin yang nempel di dinding menjadi saksi penyatuan cinta kami. Cinta yang penuh gejolak kawula muda yang dilandasi hasrat membara. Aku menahan suaraku yang ingin mendesaaah kencang, jangan sampai ada yang mendengar suara kami. Sampai akhirnya aku mendapatkan kepuasanku dan Noah juga, terbukti dengan ia yang terkulai lemas sambil memangkuku.


"Wow, Lun. Kamu memang luar biasa!" Noah mengecup dadaku. Memberikan satu tanda kepemilikan lagi di tubuhku. Tak terhitung berapa banyak Noah sudah memberi tanda kepemilikan padaku. Ini adalah bukti kalau kami saling memiliki.


"Benarkah?" Aku memakai kembali bra-ku yang tadi dibuang Noah. Aku juga segera memakai kemejaku yang sekarang agak kusut. Jangan sampai ada yang memergoki kami. Ruang senat adalah tempat umum, bisa jadi gosip hangat kalau kami sampai ketahuan berbuat seperti ini di ruang senat.


"Masa sih aku bohong? Aku selalu kepikiran kamu, Lun. Di rumah pun aku cuma mikirin kamu. Kangen terus sama kamu. Kalau bukan karena aku harus menemani Mama yang sakit, pasti aku sudah menghampiri kamu, Lun." Noah memintaku mengancingkan kemejanya. Manja sekali dia padaku. Setelah aku beres berpakaian, aku menuruti kemauannya.


"Aku juga kangen sama kamu. Tak ada teman curhat." Aku merapikan rambutku yang agak kusut. Kini kami sudah rapi kembali meski kemejaku masih sedikit kusut. Noah membuka kunci ruang senat dan membuka pintu seakan tak pernah terjadi apapun di dalamnya.

__ADS_1


"Hmm ... kasihan sekali Sayangku ini. Aku belum bisa ke kostan kamu ya. Aku harus menemani Mama, Papa yang suruh. Aku sebenarnya malas, apa daya, kalau aku menolak Papa akan memotong uang jajanku. Bagaimana aku bisa membelikan kamu makanan kalau uang jajanku dipotong?"


Perhatian sekali Noah padaku bukan? Bagaimana aku tidak semakin cinta padanya?


"Iya, tak apa-apa. Aku tahu kok kalau kamu juga ada urusan penting. Aku mengerti. Sayang, lapar nih. Makan yuk!" ajakku. Rupanya having fun di siang hari membuat perutku kerucukan minta diisi. Menguras tenaga sekali, apalagi aku hari ini harus menggerakkan tubuhku di atas Noah agar kami bisa sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa rasanya.


"Ayo. Aku juga lapar. Kamu mau makan apa?" Noah merangkulku dengan mesra. Kami kembali jadi pusat perhatian selama berjalan ke kantin. Aku suka melihat tatapan iri banyak mahasiswi lain ke arahku. Mereka pasti ingin berada di posisiku saat ini. Digandeng cowok paling populer di kampus, siapa yang tak mau coba? Sayangnya, aku wanita yang beruntung itu, bukan mereka.


"Apa saja. Kamu yang pilihkan ya!"


"Tentu, Sayang. Pilihlah tempat duduk, biar aku pesan makanan untuk kita berdua."


Aku memilih tempat duduk yang kosong di kantin. Masih saja banyak pasang mata yang melihat ke arahku. Saat aku mengangkat wajahku, mereka akan membuang muka dan tak mau ketahuanku. Aku menahan senyumku. Enaknya jadi ikutan populer karena punya pacar terkenal.


Noah datang dengan dua porsi makanan di tangannya. Ia menaruh di meja lalu pergi lagi untuk mengambil dua jus yang sudah dipesan sebelumnya. Jus alpukat untukku dan jus jeruk untuknya. Saat sedang asyik makan, Ariel datang menyapa kami.


"Hi, Lun, Noah!" sapa Ariel dengan senyum riang di wajahnya.


"Kamu kemana sih Lun, tadi aku cari kamu loh tapi kamu enggak ada?" tanya Ariel. Ia duduk di kursi kosong yang ada di depanku.


"Ada kok. Aku di ruang senat," jawabku dengan jujur.


"Bantuin aku ngetik dia," tambah Noah.


"Masa sih? Aku lihat ruang senat tertutup rapat." Rupanya Ariel tak mudah percaya dengan jawaban kami.


"Oh ... berarti kamu datang setelah kita pergi, iya 'kan Sayang?" Aku mengajak Noah berbohong. Noah menjawabnya dengan anggukkan. Pacarku itu kini sedang asyik membalas pesan di ponselnya.


"Mungkin juga sih. Habis ini kamu mau kemana, Lun? Ke Mall yuk!" ajak Ariel.

__ADS_1


"Ke Mall? Tanggal segini? Memangnya kamu sudah dapat kiriman uang dari orang tuamu, Riel?" tanyaku.


"Iya. Aku ada rejeki sedikit. Temani aku beli baju yuk!" ajak Ariel.


Jika tidak ngekost, aku pasti tak akan pikir panjang dan langsung mengiyakan ajakan Ariel. Kini saat aku ngekost, aku harus pikir panjang. Harus irit, kalau tidak uangku akan cepat habis.


"Pergilah!" Noah seakan tahu kegelisahanku. Ia membuka dompet miliknya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan lalu memberikannya padaku. "Buat kamu jajan. Nanti aku transfer ke rekening kamu sisanya. Aku belum ambil uang."


"Wow ... baik sekali sih pacar kamu, Lun!" puji Ariel. "Kapan ya aku punya pacar sebaik pacar kamu?"


Aku tersenyum bangga. "Iya dong, pacar aku gitu loh!" Aku menyandarkan kepalaku di bahu Noah yang tersenyum mendengar aku begitu membanggakannya. Noah mengusap rambutku dengan penuh kasih sebelum sibuk kembali dengan ponsel miliknya.


"Pamer deh mentang-mentang aku jomblo!" Ariel memanyunkan bibirnya sebentar lalu tertawa pelan. Aku dan Noah ikut tertawa bersama.


"Sudah aku transfer ya!" Noah menunjukkan bukti transfer lewat mobile banking miliknya. Tiga ratus ribu sudah dikirimkan ke rekeningku. Wah, bisa ikutan beli baju juga aku kalau begini.


"Makasih ya, Sayang. Kamu baik sekali sih!"


"Enak ya yang punya pacar, ada yang transfer," sindir Ariel lagi.


Aku tersenyum sambil terus merangkul lengan kekasihku tercinta. Rasa bangga dan sayangku terhadap Noah semakin bertambah. Memang benar apa yang Noah katakan, setelah melakukan penyatuan, cinta kami semakin besar dan akan sulit dipisahkan. Keputusanku memang tepat menyerahkan mahkotaku pada Noah.


"Aku nanti langsung pulang ya, aku antar kalian sampai Mall saja, mau?" tawar Noah.


"Mau!" jawabku dan Ariel kompak.


"Oke." Noah lalu membisikkan sesuatu di telingaku. "Sayang, nanti beli baju yang agak seksi ya. Kalau kurang akan aku tambahkan. Biar kamu semakin seksi saja di mataku!"


Wajahku sontak memerah mendengar permintaan Noah. "Iya. Tenang saja. Apa sih yang enggak buat kamu?"

__ADS_1


****


__ADS_2