Toxic Love

Toxic Love
Super Rina


__ADS_3

POV Luna


"Kamu nih meledek aku saja!" Bahri tersenyum ramah pada Rina.


Akrab sekali mereka. Aku bak obat nyamuk di antara mereka. Jika bukan karena rasa penasaranku pada sosok Bahri, aku sudah masuk ke dalam kamar.


"Kak, sebenarnya Kak Bahri dengan Kak Azizah pacaran tidak sih?" tanya Rina sambil melihat ke belakang, takut Kak Azizah datang.


"Kamu pengen tahu banget ya? Oh iya, Rin, kamu disalamin sama adik Kakak. Katanya kamu kapan nyuci di laundry lagi?" tanya Bahri.


"Salam balik ya, Kak, buat Rina. Nanti kalau aku sudah dikirim uang sama Ibu dan Bapak aku ke sana. Sekarang tanggal tua, lebih baik nyuci dan setrika sendiri dibanding laundry," jawab Rina dengan jujur.


"Tenang saja. Mau aku mintakan koin gratis sama Kak Dewi buat kamu?" tanya Bahri.


"Enggak usah, Kak. Terima kasih. Aku tak mau merepotkan Kak Bahri. Kakak belum beli makan malam bukan? Aku masak loh, mau tidak makan masakanku?" tawar Rina.


"Masak apa? Enak enggak?"


"Masak tumis kangkung sama ayam goreng. Enak dong, masakan aku enggak ada yang enggak enak," jawab Rina.


"Iya, Kakak percaya. Terima kasih, tak usah repot-repot. Kakak mau beli mie tek tek saja. Mumet banyak laporan yang harus Kakak selesaikan," jawab Bahri.


"Dek, sudah, jangan diganggu terus, Kak Bahri dan Kakak mau melanjutkan pekerjaan kami," tegur Kak Azizah yang sudah selesai sholat.


"Ih Kak Azizah posesif sekali. Sudah ah, aku mau masuk ke kamar. Ayo, Lun! Kita makan malam di kamar kamu saja!" ajak Rina.


Aku mengikuti Rina yang menarik tanganku masuk ke dalam. Aku melirik sekilas dan melihat Bahri dan Kak Azizah membicarakan sesuatu dengan serius.


Saat sudah sampai di kamar, aku menanyakan pada Rina tentang hubungan Kak Azizah dan Bahri. "Mereka pacaran ya, Rin?"


"Aku enggak tau, Lun. Mereka terlihat saling suka tapi entahlah, Kak Azizah tak pernah menjawab kalau aku tanya," jawab Rina.


"Lalu, kamu kok akrab banget sih sama Mas Bahri?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Karena namaku sama dengan nama adiknya Kak Bahri. Kebetulan juga aku suka ke usaha laundry milik kakaknya. Di sana yang jaga Rina. Aku akrab dengan adiknya."


"Usaha laundry?"


"Iya. Laundry koin yang ada cafe di bawahnya. Namanya unik, Bisnis Plus Plus. Kapan-kapan kita main ke sana ya! Ada yang mau kamu laundry tidak?"


"Ada, bedcover."


"Oke, besok kita ke sana naik motorku ya!"


****


Aku langsung menyukai konsep laundry milik kakak Mas Bahri. Baru kali ini aku melihatnya, mungkin karena cabangnya belum banyak jadi aku kurang tahu. Rina mengajakku masuk ke dalam dan aku langsung mendapat sambutan ramah dari penjaga laundry.


"Selamat datang di Laundry koin Bisnis Plus Plus!" sapa gadis manis yang berdiri di belakang meja kasir. "Oh, Rina! Apa kabar kamu?"


"Baik, Rin. Kenalin, ini teman satu kostku, Luna!" Rina mengenalkanku pada adiknya Bahri.


"Luna."


Aku tersenyum saat menyadari nama mereka sama. "Sekarang tahu 'kan kenapa Kak Bahri suka menggodaku? Nama kami sama."


Aku lalu membeli koin untuk kumasukkan ke mesin cuci. Sambil menunggu cucian kering, kami mengobrol akrab. Ternyata Rina -adiknya Bahri- anaknya asyik. Aku lebih tua sedikit darinya namun dia tetap sopan terhadapku. Benar-benar didikan yang baik.


"Kenapa Mas Bahri ngekost sih, Rin? Bukankah rumahnya tak jauh ya dari kantor?" tanyaku pada Rina saat kami di perjalanan pulang.


"Kak Bahri itu dulu suka ditempatkan di luar kota, Lun. Jarang pulang ke rumah. Ada yang bilang, Kak Bahri itu pernah patah hati sampai malas pulang. Mungkin karena sudah kebiasaan tinggal sendiri Kak Bahri lebih suka ngekost."


Patah hati?


Aku jadi merasa tak enak hati dengan Mas Bahri. Aku sudah menuduhnya menguntitku. Aku juga sudah menuduhnya punya perasaan lebih padaku. Ternyata semua itu salah. Aduh, aku malu sekali padanya.


"Lun, tuh ada yang mencari kamu!" Rina menunjuk Noah yang sedang berdiri di depan kostanku.

__ADS_1


"Malas aku, Rin. Kamu temani aku ya!"


"Iya, Lun. Tenang saja. Aku masukkan motor ke dalam dulu ya!"


Aku turun dari motor. Melihatku datang, Noah langsung menghampiriku. "Lun, aku mau bicara sama kamu!" Noah memegang pergelangan tanganku dan langsung aku tepis.


"Bicaranya di teras saja dan tak usah pegang-pegang tanganku segala!" kataku dengan pedas.


Noah mengikutiku masuk ke kostanku dan duduk di teras rumah tempat biasa kami menerima tamu. "Ada apa?"


"Lun, mengenai hubungan kita. Aku tak mau kita putus, Lun. Sumpah demi apapun, hanya kamu yang aku cintai. Ariel ... dia hanya pelampiasanku saja. Aku tak benar-benar mencintainya, Lun. Please ... kamu pertimbangkan lagi keputusan kamu. Kemarin kamu memintaku menikahi kamu bukan? Baik, ayo kita menikah. Kamu mau kapan?" Noah benar-benar terlihat putus asa.


Sebelum melihat sendiri perselingkuhannya dengan Ariel, aku pasti akan luluh dan melakukan apa pun yang Noah minta. Sekarang, jangan harap. Hatiku sudah tersakiti dan tak mudah kembali utuh lagi.


"Aku ... tak mau lagi dinikahi sama kamu," jawabku tegas. "Aku juga tak mau pacaran sama kamu. Kita sudah putus. Aku tak akan merubah apa yang menjadi keputusanku."


"Lun, tolonglah. Aku tak bisa kalau tidak dengan kamu. Aku sayang sama kamu, Lun. Kamu segalanya buat aku. Aku janji sama kamu, aku tak akan berhubungan dengan Ariel atau wanita lain. Aku janji! Kamu minta apapun akan aku kabulkan, Lun. Please, pikirkan keputusan kamu ya!" bujuk Noah.


"Aku sudah bilang kalau aku tak akan merubah keputusanku. Tak perlu datang lagi mencariku. Aku mau membenahi hidupku." Aku hendak berdiri namun tangan Noah mencekal pergelangan tanganku dengan kencang. "Aw! Sakit!" protesku.


"Aku tak akan lepaskan sebelum kamu mau kembali sama aku, Lun. Aku sayang sama kamu. Hanya aku yang sayang kamu. Hanya aku yang akan menerima kamu yang sudah tak lagi suci, Lun. Apa kamu lupa siapa yang sudah kamu berikan mahkotamu? Aku, Lun! Aku! Memangnya kamu pikir masih ada lelaki lain yang mau pada perempuan yang sudah tidak perawan lagi?" ancam Noah.


Bagai tertampar, aku mendengar perkataan Noah yang membuat hatiku down. Ya, aku sudah tak perawan. Benar yang Noah katakan, siapa yang mau pada perempuan yang kotor dan tak lagi suci sepertiku? Kurasakan mataku memanas dan air mataku tak lagi bisa kubendung.


"Benarkan? Coba kamu pikir. Aku akan menikahi kamu. Aku yang tulus mencintai kamu. Hanya aku, Lun! Aku akan terima keadaan kamu karena aku tahu betapa kamu amat mencintaiku sampai memberikan mahkotamu yang paling berharga." Noah melepaskan pergelangan tanganku dan kini memegang tanganku dengan tersenyum penuh maksud.


"Jangan didengar, Lun!" Rina datang dengan meneteng ember berisi air. "Heh, cowok sialan, kalau kamu masih berani meracuni pikiran Luna, akan aku teriaki kamu maling biar kamu digebuki! Pergi sana!"


Rina mengambil satu gayung air.


Byuuurr!


Tanpa kenal takut Rina menyiram Noah sampai bajunya basah.

__ADS_1


"Masih berani sama perempuan? Pergi sekarang!" Rina mengambil lagi satu gayung berisi air dan siap menyiram Noah.


****


__ADS_2