Toxic Love

Toxic Love
Kang Galon


__ADS_3

Aku bukannya sok tahu saat mengatakan kalau Kak Azizah menyukai Mas Bahri. Aku melihat sendiri bagaimana Kak Azizah menatap Mas Bahri dengan tatapan yang mendamba saat Mas Bahri mengobrol dengan Ibunya. Kak Azizah bahkan terus menatap Mas Bahri tanpa berkedip.


Waktu di mobil juga Kak Azizah terlihat terang-terangan kurang menyukaiku yang terlihat kompak dengan Mas Bahri. Aku juga bisa merasakan aura ketidaksukaan Kak Azizah padaku sekarang. Sebelum aku bekerja di perusahaan yang sama dengan Mas Bahri, Kak Azizah sangat ramah padaku. Dia pula yang sering mengajakku mengaji bareng. Sekarang, saat tahu kalau aku sudah menjadi anak buahnya Mas Bahri, Kak Azizah seakan menjaga jarak denganku. Aku tidak tahu kenapa Kak Azizah melakukan hal itu padaku. Aku tak ada hubungan apa-apa dengan Mas Bahri, kecuali rasa kagum yang terus menerus tumbuh dalam diriku.


Selesai shalat subuh Rina mengajakku berjalan-jalan di sekitar rumahnya. Udara pagi yang segar langsung memenuhi paru-paruku. Beda sekali saat aku berada di Jakarta yang penuh dengan polusi, seringkali aku sakit batuk dan pilek karena udara Jakarta yang semakin hari semakin memburuk.


"Rumah kamu enak banget, Rin Aku suka deh tinggal di kampung kayak begini. Tenang dan damai. Pantas ya kedua orang tua kamu tidak suka tinggal di Jakarta," kataku pada Rina.


"Iyalah, Lun. Tinggal di kampung itu paling enak. Segalanya masih alami, kalau di Jakarta, bakso saja dibuat pakai boraks dan bahkan ada yang membuat dagingnya dari daging tikus. Persaingan hidup di Jakarta itu keras, Ibu dan Bapak memutuskan tinggal di kampung karena mereka tidak suka dengan hingar-bingar kota Jakarta yang kejam. Lebih baik di kampung menikmati masa tua mereka dengan bahagia," jawab Rina.


"Setuju. Aku suka banget loh bisa menginap di rumah kamu. Nggak nyesel aku ikut sama kamu. Awalnya aku takut mengganggu kalian yang mau pergi tapi kok kayaknya pergi ke luar kota sama kamu itu seru. Aku jadi ikut deh, ya walau kita pada akhirnya kayak obat nyamuk ya ha ... ha ... ha ...."


Rina tidak ikut tertawa bersamaku. Ia malah menatapku lekat. "Lun, Kak Azizah sama Mas Bahri itu tidak pacaran. Memangnya kamu tidak tahu?"


Tidak pacaran? Bukannya mereka pacaran ya?


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak tahu."


Rina lalu mendekat dan berbisik di telingaku. "Mas Bahri itu galon."

__ADS_1


"Galon?"


"Gagal move on."


"Hah?"


"Hah hoh aja nih anak! Sst! Tuh, Kang Galon ada di depan. Jangan sampai ketahuan kita ngomongin dia!"


Aku menutup mulutku rapat. Gagal move on, kalau memang mereka tak pacaran berarti Kak Azizah yang naksir duluan dong? Pantas saja Kak Azizah tak menyukaiku yang kini satu kantor dengan Mas Bahri.


"Kalian habis darimana? Kok enggak ngajak aku sih?" protes Mas Bahri pada Rina dan aku.


"Mau dong, ayo!" Mas Bahri terlihat bersemangat sekali mengiyakan ajakan Rina.


Kami bertiga lalu berjalan menuju sungai yang terletak tak jauh dari rumah Rina. Sungainya bersih dan tak dalam. Bisa dilewati untuk sampai ke seberang.


"Lun, hati-hati. Licin!" teriak Rina padaku yang sudah mengeksplorasi sungai ini. Aku berjalan duluan untuk sampai ke ujung.


"Iya, Rin. Tenang saja." Langkahku terhenti di tengah jalan karena melihat seekor ikan yang lumayan besar. Aku berusaha menangkapnya namun kakiku menginjak batu berlumut.

__ADS_1


Gubrak!


"Aww!"


"Luna!" teriak Mas Bahri dan Rina bersamaan. Keduanya berlari ke arahku.


Aku jatuh duduk dan bajuku basah semua. Kurasakan rasa sakit di pergelangan kakiku. Nyeri dan sulit digerakkan, karena itu aku tak langsung bangun.


"Bagaimana? Apa yang sakit?" tanya Mas Bahri dengan penuh perhatian.


"Ih! Kamu sih dibilanginnya bandel!" omel Rina bak Mama yang sedang mengomeliku.


Aku meringis kesakitan karena posisi jatuhku yang membuat kakiku keseleo. Rina dan Mas Bahri membantuku berdiri namun rasa sakit yang kurasakan membuatku kembali meringis. "Aww!"


"Kayaknya keseleo deh. Sudah biar aku gendong saja!"


Tanpa aba-aba dan dalam hitungan detik Mas Bahri sudah mengangkat tubuhku. Aku reflek melingkarkan tanganku di lehernya karena takut terjatuh untuk kedua kalinya. Kurasakan jantungku bertalu kencang. Oh My God, aku digendong Mas Bahri dong ....


****

__ADS_1


__ADS_2