
POV Bahri
Aku sudah bertekad tak mau lagi mencampuri urusan tetangga sebelah kamarku. Sayangnya, lagi-lagi aku harus turun tangan karena ada saja ulah yang dilakukan tetanggaku yang cantik itu.
Saat mendengar ada keributan di samping kamarku, aku malah justru menajamkan telinga untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata yang datang adalah Papanya Luna dan malang sekali nasib Luna karena Papanya memergoki dirinya pulang dari Bandung bersama Noah.
Papanya marah besar, dari nada suaranya aku bisa tahu kalau Papanya sangat galak. Pantas ia begitu bahagia bisa lepas dari Papanya yang otoriter itu. Lalu aku mendengar suara tamparan dan tak lama kemudian terdengar suara tangis Luna. Bahaya. Kalau aku tidak datang, bisa terjadi tindakan KDRT nih.
Aku kembali mencampuri urusan Luna dengan berpura-pura ingin menumpang ke kamar mandi dan beralasan kalau kamar mandiku tak ada airnya. Luna terkejut saat tahu kalau aku adalah orang yang ia temui di Bandung. Bodoh sekali aku tak memakai masker untuk menutupi identitasku. Mau bagaimana lagi, keadaan mendesak. Aku harus menyelamatkan Luna dari amukan Papanya.
__ADS_1
Aku cepat-cepat pergi saat kulihat keadaan sudah aman dan Papanya Luna tak lagi marah-marah karena kini sibuk di luar. Kulihat ia sedang bertanya kepada beberapa orang mahasiswa tentang kostan yang bagus dan khusus putri.
Aku menghampiri Papanya Luna untuk memberinya saran. Aku tahu kostan yang bagus untuk Luna. Aku lalu memanggil Azizah yang kebetulan sedang lewat dan memperkenalkan kepada Papanya Luna. Aku merekomendasikan kostan miliknya yang cocok untuk anak putri karena ada berbagai aktivitas positif di dalamnya.
Papa Luna terlihat menyukai kostan yang kami rekomendasikan. Akhirnya Luna pun pindah dari sebelah kamarku. Aku pikir aku sudah tak lagi berhubungan dengannya, ternyata tidak.
Sore itu, si bodoh itu tiba-tiba datang dan mengintip ke kamar temannya. Aku baru saja pulang kerja dan masuk ke dalam kamar kostanku ketika aku lihat dia menangis lalu tiba-tiba kabur. Apa mungkin dia sudah ketahuan oleh temannya karena mengintip?
Setelah menjelaskan semuanya, Luna tak lagi menganggapku sebagai stalker. Ya semoga saja. Ia pun pulang ke kosannya. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya. Aku merasa kasihan, ia sudah mengorbankan banyak hal namun kekasihnya malah selingkuh dengan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Aku pun pergi ke kosan Azizah. Kebetulan kami bertemu di depan gang dan ia mengajakku mengobrol tentang pekerjaan. Aku melihat Luna yang terlihat ramah menyapaku. Syukurlah sama anak itu kini sudah tidak berpikir buruk lagi tentangku lagi. Dia juga dekat dengan Rina, adiknya Azizah yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri.
Seakan belum cukup untuk mempermainkan hidupku, takdir kembali mempertemukan aku dan Luna. Siapa yang menyangka kalau Luna akan menjadi anak baru di bagianku menggantikan anak lama yang resign?
Aku harus apa dong? Bersikap ramah? Kalau nanti rumor berkembang semakin tidak benar dan malah merugikan Luna bagaimana? Terpaksa deh aku pura-pura enggak kenal.
Sayangnya, anak itu terlalu memukau untuk diabaikan. Anak itu rajin dan aku kembali teringat dengan cerita Rina. Bagaimana kerasnya hidup Luna. Aku jadi teringat dengan diriku sendiri yang memulai segalanya dari nol. Saat aku berada di titik terendah seperti yang ia alami saat ini ada rasa kasihan yang timbul dalam diriku.
Melihat ia begitu menyayangi Mamanya aku merasa kagum. Ada rasa kesal dalam diriku saat melihat dirinya diperlakukan dengan kasar oleh kekasihnya. Kenapa aku sekarang jadi sering memperhatikannya? Satu lagi, kenapa aku tak suka melihat banyak rekan-rekan di kantor menanyakan statusnya padaku? Kenapa harus Luna sih? Kenapa juga aku harus peduli sama dia?
__ADS_1
Satu lagi ... kenapa sih aku jadi terus menatap ke arahnya? Ada apa sih denganku? Apa aku memiliki perasaan terhadapnya?
****