
POV Author
Tedjo memang bukan sosok Papa yang baik. Jauh dari kata baik malah. Tedjo lebih asyik mengejar kesenangan dunia dibanding memperhatikan istri dan anaknya.
Tedjo berkeinginan memiliki anak laki-laki, karena itu dia mencobanya dengan wanita lain. Wulandari dirasa sudah terlalu tua untuk punya anak lagi, toh perasaan Tedjo untuk Wulandari sudah hilang, terganti oleh janda lain yang lebih menggoda.
Setelah usahanya memiliki anak gagal, harapan Tedjo hanya tinggal Luna. Luna adalah anak semata wayangnya. Tedjo memang suka bertengkar dengan Wulandari, bahkan beberapa kali menampar istrinya yang dianggap suka melawan tersebut. Namun tak pernah sekalipun ia berlaku kasar pada Luna. Hari ini adalah pertama kalinya ia menampar Luna.
Rasa kecewa karena kelakukan Luna tak jauh berbeda dari dirinya membuat Tedjo sedih dan menyesal. Ia yakin, antara Luna dan Noah pasti sudah melakukan sesuatu di luar batas. Tedjo menyesal, ia sudah gagal menjadi Papa yang baik buat Luna. Namun bukan Tedjo namanya kalau tidak menyalahkan orang lain atas kegagalannya.
Rencana awal Tedjo adalah membawa pulang Luna, namun Luna menolak. Ada rasa tak nyaman yang tergambar jelas dalam sorot mata Luna saat dirinya disuruh pulang ke rumah. Luna yang selama ini hanya diam bahkan berani melawan. Luna tak mau pulang ke rumah.
Tedjo menunggu Luna di warung klontong dekat kostan Luna. Tak lama datanglah dua wanita solehah yang sedang mengobrol tentang kostannya sambil membeli sabun cuci. Tedjo merasa tertarik dengan obrolan tersebut dan menanyakan tentang kostan yang mereka bicarakan. Itulah awal mula Tedjo mendapat kostan baru untuk Luna.
Selesai dengan Luna, Tedjo kini harus mengurus Wulandari. Ia akan mengomeli Wulandari karena dianggap tidak becus mendidik anak semata wayangnya sampai bisa dibodohi seperti itu. Dengan hati yang menahan emosi, Tedjo mengemudikan mobilnya pulang ke rumah yang mereka bangun dengan cinta namun kini tak ada cinta lagi yang tersisa.
Tedjo membuka pintu garasi dan memasukkan mobil miliknya. Dengan kesal ia membuka pintu rumah lalu memanggil nama Wulandari dengan kencang seperti biasa saat dirinya dilanda amarah.
__ADS_1
"Wulandari!" panggil Tedjo dengan suara kencang.
Wulandari baru saja mematikan telepon dari Luna. Ia sudah menduga kalau Tedjo datang pasti dengan emosi. Dengan tenang Wulandari berjalan keluar kamar. "Ada apa?"
"Tadi kamu bilang Luna pergi ke Bandung dengan Ariel, tahu tidak kalau anak kamu pergi sama pacarnya? Bagaimana sih cara kamu mendidik Luna? Tidak becus!" sembur Tedjo.
"Luna bilang pergi sama Ariel. Ariel pulang duluan karena ada urusan. Noah hanya menjemput Luna saja," jawab Wulandari.
"Kamu percaya dengan anak itu? Jelas-jelas aku lihat sendiri kalau Luna pulang dengan Noah, sedangkan Ariel ada di kostannya. Ariel pergi dari siang dengan temannya. Sadar tidak kalau kamu sudah dibodohi oleh anak kamu sendiri? Sekarang, bagaimana dengan masa depan Luna? Anak itu pasti sudah dirusak oleh pacarnya!"
"Mas! Jangan suka berkata seenaknya!" Wulandari mulai tersulut emosinya. "Ingat, perkataan adalah doa!"
Wulandari mengepalkan tangannya sampai memerah. Bukan hanya karena anak kandungnya dihina juga karena kesal dirinya terus dianggap seperti wanita murahan yang suka menggoda rekan kantornya. Wulandari selalu dikatai seperti itu oleh Tedjo. Di mata Tedjo, Wulandari bukanlah ibu yang baik, padahal kenyataannya apapun akan Wulandari lakukan demi kebahagiaan Luna. Justru Tedjo-lah yang selama ini lebih asyik dengan dunianya sendiri.
"Terus saja Mas berkata seperti itu. Terus saja Mas menyalahkanku atas apa yang terjadi dengan rumah tangga kita. Mas sadar tidak, apa yang terjadi pada keluarga kita, semua karena Mas. Kemana saja Mas selama ini? Mas hanya asyik dengan dunia Mas sendiri! Mas asyik bersenang-senang dan melupakan kami, keluarga Mas yang masih tanggung jawab Mas! Sekarang, Mas sudah menyumpahi anak kita eh datang-datang meminta pertanggungjawaban. Seharusnya aku yang minta pertanggungjawaban sama Mas!" kata Wulandari sambil menangis karena rasa amarah yang menggelegak. Selama ini ia tahan, saat Tedjo berkata jelek tentang Luna, Wulandari tak terima.
"Minta saja pertanggungjawaban sana sama pacar kamu yang suka mengantarmu di tengah malam. Ngaku istri orang tapi setiap malam pulang sama laki-laki lain!" kata Tedjo tak mau kalah.
__ADS_1
"Masih enggak capek Mas nuduh aku? Enggak ada fitnah lain apa selain nuduh aku selingkuh? Yang jelas-jelas selingkuh tuh Mas Tedjo. Aku tanya, sudah berapa banyak janda-janda muda yang Mas nikahi? Kalau dikumpulkan, sudah bisa buat kesebelasan bola, Mas, bukankah itu yang namanya selingkuh? Sekarang, Mas melimpahkan semuanya sama aku. Mas mengangkat lagi cerita aku diantar teman kantorku, kami hanya berteman, Mas. Mas Eko baik dan kasihan melihatku pulang lembur tanpa ada suami yang jemput. Kemana suamiku? Apa harus aku katakan ke seluruh dunia kalau suamiku sedang berburu janda?" balas Wulandari tak mau kalah.
Plakk!
Tamparan yang sudah keberapa kali diterima Wulandari selama menikah dengan Tedjo. Selama ini dia diam, saat dirinya protes sedikit padahal Tedjo jelas-jelas selingkuh malah Wulandari yang ditampar. Kini, Wulandari tak mau tinggal diam. Amarahnya sudah diubun-ubun. Ia merasa kalau tidak melawan maka selamanya dia akan direndahkan oleh suaminya sendiri.
"Cuma ini yang bisa Mas lakukan sama istri Mas? Tampar aku, tendang aku, pukul aku, macam aku ini babi di kandang yang bisa Mas perlakukan kasar saja! Hanya karena aku diam, bukan berarti aku takut sama Mas!" kata Wulandari dengan suara lantang. Dikeluarkannya semua keberanian yang selama ini tersembunyi dalam dirinya.
Tedjo tak kalah emosi. Ditendangnya meja ruang tamu sampai membentur dinding. "Oh ... jadi kamu berani melawan sekarang? Kenapa? Si Eko sialan itu akan menikahi kamu, hah?"
"Kalau iya, kenapa?" tantang Wulandari. Sudah kadung emosi, lebih baik ia tambah sekalian bara api agar terbakar semua. Toh tak ada Luna yang selama ini Wulandari selalu jaga perasaannya.
Diamnya Wulandari selama ini karena ia mau mengajarkan Luna untuk menjadi istri yang berbakti pada suami, meski suaminya tak layak dihormati. Wulandari pula yang membentuk mental Luna untuk menurut saja apa kemauan Noah. Baik Wulandari maupun Tedjo, keduanya sudah salah dalam mendidik Luna. Tak ada yang mau mengakui, karena ego di atas segalanya.
Tedjo maju dan tangannya memegang leher Wulandari. "Jangan kamu pernah berani melakukan itu, atau kamu akan menyesal!"
"Papa! Hentikan!" teriak Luna yang datang dengan bercucuran air mata.
__ADS_1
****