
POV Luna
"Kapan ya? Aku sendiri bingung mau jawab apa," kata Luna terus terang.
"Bagiku begitu saja sudah cukup. Kamu tidak menolakku saja aku sudah bersyukur. Kayaknya weekend ini aku akan bicara sama Mama kamu, sekalian kamu temani aku ke acara resepsi Pak Rezvan ya!"
"Resepsi? Memangnya Pak Rezvan mau menikah? Kok secepat ini?" tanya Luna.
"Iya. Pak Rezvan tidak mau menunda pernikahannya. Aku jadi terinspirasi dengan Pak Rezvan, karena itu aku mau langsung mengajak kamu menikah. Tak perlu pacaran lagi. Kita pacaran nanti saja setelah menikah. Aku memang bukan orang kaya, kamu sudah lihat sendiri 'kan keadaan keluargaku seperti apa? Satu yang pasti, aku punya tekad yang kuat untuk membahagiakan kamu. Jadi kamu enggak usah khawatir kalau kita akan hidup susah. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membahagiakan kamu,"
"Satu lagi, aku tidak bisa mengadakan resepsi pernikahan yang besar seperti yang diidamkan oleh banyak orang. Buat apa? Sayang uangnya. Lebih baik uangnya aku pakai untuk membeli rumah. Nanti kamu tak perlu lagi ngekost bersama Mamamu. Ajak Mama kamu tinggal bersama kita bagaimana?" tanya Bahri.
__ADS_1
Luna terdiam mendengar rencana Bahri. Bahri benar-benar sangat dewasa sampai memikirkan di mana Mama Luna nanti akan tinggal. Rasanya keraguan dalam diri Luna hilang. Kalau belum menikah saja Bahri sudah memikirkan dirinya dan sang Mama, apalagi setelah menikah nanti? Hal yang Luna yakin tak pernah dipikirkan oleh Noah, karena Noah hanya menginginkan kebahagiaan dan kesenangan dirinya sendiri tanpa peduli dengan masa depan Luna.
"Terserah kamu saja deh, Mas." jawaban Luna membuat Bahri tersenyum lebar.
"Tuh 'kan, sudah aku duga kamu akan menerimaku. Aku tahu kok kalau kamu suka sama aku, buktinya kamu suka caper kalau aku datang ke kostan," kata Bahri dengan penuh percaya diri.
"Ih ... siapa yang caper? Enggak tuh!" Luna mengelak untuk menjaga harga dirinya, padahal sebenarnya memang Luna suka pura-pura ke depan hanya untuk bisa melihat Bahri yang sedang mengobrol dengan Rina.
"Masa sih? Aku tahu loh. Aku diam saja selama ini. Tak apa, aku senang kok melihat kamu suka caper di depanku. Kalau kamu enggak begitu, aku enggak bisa yakin kalau kamu sebenarnya suka sama aku. Aku tak akan berani melakukan perbuatan gila kayak gini. Jujur saja, aku tuh punya semacam trauma untuk mendekati perempuan yang aku suka. Takut ditolak. Kalau sama kamu aku yakin karena aku pernah melihat sendiri kamu penasaran saat aku datang. Kamu suka melirikku saat di kantor. Itu saja sudah cukup bagiku untuk maju melamar kamu. Apalagi kalau kamu lebih caper lagi?" Bahri senyum-senyum sendiri dengan perkataannya.
Mobil Bahri lalu berhenti di depan sebuah komplek perumahan yang lumayan terkenal. Rupanya penjual nasi goreng sudah kenal sekali dengan Bahri dan menyapa Bahri dengan Ramah.
__ADS_1
"Pak, aku mau 4 bungkus ya, sedang saja jangan pedas," pesan Bahri.
"Siap, Mas. Kok tumben Mas enggak pernah main ke rumah Baby lagi?" goda penjual nasi goreng.
"Enggak dong, dia udah jadi istri orang. Enggak enak. Aku 'kan sudah punya gebetan juga, nanti pacar aku marah!" kata Bahri dengan penuh percaya diri.
"Oalah beneran sudah punya pacar toh. Saya senang melihatnya. Sebentar ya, Mas. Saya lagi buatin nasi goreng buat Baby." Penjual nasi goreng terlihat sibuk dengan pesanan nasi gorengnya. Banyak juga yang sudah menunggu karena belum dibuatkan.
Tak lama seorang perempuan muda datang bersama suaminya. Perempuan itu memakai setelan baju tidur bergambar Doraemon namun terlihat sangat cantik bak bidadari di mata Luna. "Pak, Masih lama enggak? Aku laper nih!" kata perempuan itu dengan nada manja.
"Sebentar ya Mbak Baby, sedang saya dibuatkan. Dari tadi banyak yang antri," jawab penjual nasi goreng dengan ramah.
__ADS_1
Perempuan itu lalu melihat ke arah Luna dan Bahri lalu tersenyum lebar. "Bahri? Kemana aja kamu? Udah lama enggak kelihatan. Eh, kamu sama siapa tuh?"
****